Cinta Pria Kejam

Cinta Pria Kejam
Mansion Becker


__ADS_3

Len langsung melepaskan seatbelt nya saat mobil sudah berhenti, dan langsung memeluk gadis kecilnya tapi tak semulus yang Len bayangkan, Anya terus memberontak di dalam pelukannya.


"Tenang baby!! jangan seperti ini, hati daddy juga sakit sayang!! maafkan daddy baby! " kata Len terus memeluk Anya.


"Lepaskan Anya sialan! " umpat Anya dengan berani.


"Siapa yang mengajarimu bicara kasar seperti ini baby? " kata Len dengan dingin karena tak suka kata-kata kasar yang keluar dari mulut gadisnya.


"Anya tak peduli, hiks!! Anya tak akan pernah peduli hiks, hiks.. I hate you!! huhuhuhuuuu!! " tangis Anya semakin pecah dengan di barengi memudarnya berontakan Anya.


Belum selesai dengan rasa sakit perkataan Anya, Len sudah kembali di berikan kata-kata kebencian yang menambah rasa sakitnya.


"Apa tidak ada kesempatan sedikit untukku? " tanya Len dengan kesedihannya.


Anya mendorong Len saat lengah, membuat pelukan mereka terlepas, menatap Len dengan derai air mata penuh luka.


"Kau bertanya sebuah kesempatan?? Bukankah dulu kau sendiri yang memilih tak mengenalku? pantaskah sekara...! "


Kata-kata Anya terpotong karena ciuman Len dengan tiba- tiba, memegangi tengkuk leher Anya dengan kedua tangannya, Len sudah tidak tahan dengan perkataan menyakitkan untuk mereka berdua.


Anya terus memberontak di sela-sela ******* yang Len lakukan dengan mulut Anya yang tertutup rapat tak membiarkan lidah pria itu masuk kedalam mulutnya.


"Buka mulutmu baby! " kata len setelah melepaskan lumayan nya.


Lalu kembali ******* bibir kecil Anya, dan lagi- lagi tak bisa masuk ke dalam rongga mulut gadis kecilnya, Len melepaskan lumayan nya lagi dan beralih pada leher putih mulus milik Anya.


Menyesapnya di beberapa bagian leher Anya, membaut tubuh gadis itu sedikit bergetar.


"S.. st.. op!! " kata Anya yang merasakan desiran lebih dari ciuman. Mencoba melerai bibir Len dari lehernya.


Hingga sang pemilik bibir melepaskannya, terakhir mencium bibir yang sedikit bengkak itu sekilas.


" Kita pulang! " kata Len dengan senyum cerahnya.


Anya marah se marah marahnya, sampai tak bisa mengatakan apapun, mengelap kasar bibir yang basah karena air liur Len yang tertinggal, dan memalingkan wajahnya ke jendela samping mobil.


Mobil yang mereka tumpangi kembali melaju dengan kecepatan sedang, tak ada percakapan sedikitpun di perjalanan, hanya wajah mereka yang sangat berbanding terbalik.


Len dengan wajah sumringah nya sedangkan Anya dengan wajah marahnya. Hingga sampai di mansion milik Len yang sama seperti dulu, di tengah hutan milik pribadi, dengan puluhan binatang buas.


Sebuah gerbang besar yang otomatis terbuka saat sang pemilik datang, memarkirkan mobilnya di teras rumah yang cukup jauh dari gerbang utama.

__ADS_1


Len dan Anya turun dari mobil, dengan Anya yang memandangi sekitar yang terlihat sama saat pertama dan terakhir ia melihat.


Pelayan yang berjejer menyambut kedatangan mereka, sisi juga masih ada di sana, hanya bear dan bird yang tak ada.


Anya mengikuti langkah Len sampai di ruang tamu sangat mewah, mengumpulkan semua pelayan yang ada, membuat Anya bingung di buatnya.


"Aku akan mengatakan, bahwa nona kecil di sampingmu akan tinggal di sini, di lantai paling atas bersamaku, orang tuanya menitipkan nya padaku agar tak terluka sedikitpun, jangan sampai dia terluka dan perlakukan dia seperti kalian memperlakukanku, mengerti??!!!! " Perintah Len pada seluruh pelayan yang sudah berkumpul.


"Mengerti tuan!! " jawab pelayan serempak.


"Bubar! " kata Len dengan dingin langsung di patuhi para pelayan.


Tak terkecuali sisi yang ada di barisan pelayan, menatap tajam gadis di samping tuannya, yang ternyata selama ini sisi masih berharap lebih pada sang tuan, padahal Len menganggap ia sama dengan pelayan yang lain, tak ada perlakuan khusus sekecil pun.


Anya yang di tatap tajam malah tersenyum manis pada sisi, yang malah di artikan mengejek oleh sisi. Sampai semua bubar pun sisi masih menatap tajam Anya dari tempat bersembunyi nya, Anya tau itu tapi ia sama sekali tak peduli.


Karena menurut Anya pelayan adalah lawan yang tak sepadan untuknya, bukannya sombong tapi merupakan sebuah fakta yang ada.


"Aku antar ke kamarmu! " kata Len menggandeng tangan Anya.


Anya saat ini membiarkan tangannya di gandeng, karena masih ada sisi yang sedang mengintip sedati tadi, ia ingin menyadarkan posisi pelayan tak tau diri itu, tapi tentunya sangat lah sia-sia.


Saat Len mulai menutup rapat, Anya langsung melepas genggaman tangan Len, membuat Len bingung.


Sampai di lantai paling atas, Anya berjalan mengikuti langkah Len yang ada di depannya, menuju sebuah pintu kamar yang Anya sang tau kamar siapa di sana.


"Bukankah mengantar ke kamar Anya, kenapa kemar itu? " tanya Anya.


"Bukankah memang tidur sekamar dengan ku?!! " goda Len membalikkan badannya menatap Anya.


"Tidak mau!!! Anya tidak mau satu kamar dengan paman! " kata Anya tegas.


"Daddy Anya bukan paman, daddy tak suka! " kata Len dengan memelas, tapi tak di hiraukan oleh Anya.


Belum selesai dengan menggoda Anya, len dengan sengaja berhenti di depan pintu kamarnya.


"Anya tidak mau!!! " jerit gadis di belakangnya.


Dengan senyum-senyum sendiri, Len melanjutkan langkahnya melewati pintu kamarnya, hingga berhenti di satu pintu di samping kamarnya.


Anya yang melihat Len berhenti di pintu lain, ia bergegas menghampiri pria itu, ia yakin itu kamarnya saat ini.

__ADS_1


"Ini kamar kamu sekarang baby! Bersebelahan dengan kamar ku. " kata Len sambil membuka pintu kamar yang akan di tempati Anya.


Kamar dengan nuansa hampir sama dengan kamar Len, hanya saja tidak se dark kamar Len.


"Warnanya tidak seru!! " cletuk Anya melihat kamar yang bukan dirinya sama sekali.


"Kau bisa merubahnya baby! " kata Len dengan santainya duduk di ranjang mewah di kamar Anya.


"Tidak!! Anya tak punya hak untuk itu. " kata Anya sambil memperhatikan setiap sudut kamar yang akan ia tempati.


"Tidak!! Anya hanya numpang di sini! " kata Anya yang selalu dingin sekarang.


"Tidak baby!! kau akan jadi nyonya di rumah ini. " kata Len dengan tegas menatap gadisnya.


"Jangan mengatakan omong kosong di depanku, Anya bukan anak SMA lagi yang mudah di bohongi! " kata menatap tajam pria yang duduk di ranjangnya.


Len yang gemas melihat wajah lucu sok judes Anya, apa lagi kata-kata pedas Anya, ia langsung menarik tubuh kecil anya ke dalam pangkuannya, memeluk gadis kecil itu dari belakang, dengan kepala di bersender di pundak menghadap leher anya.


Yang tentu saja mendapatkan penolakan oleh anya. "lepas!! ja.. jangan seperti ini! " kata Anya memberontak risih dengan bibir Len yang menciumi lehernya.


Karena kekuatan Anya kalah jauh dari Len, akhirnya Anya menyerah dan diam di pangkuan Len.


Len yang merasa menang, semakin memperdalam pelukannya, melahap leher jenjang Anya dengan tangan yang meraba - raba perut rata Anya, semakin naik hingga ke gunung kenyal cukup besar.


Pemilik tubuh yang di gerayangi, juga menikmati hal aneh di tubuhnya, hingga tersadar dengar rekaman cukup kuat di gunung kenyalnya.


"Cukup! " kata Anya yang akan berdiri, reflek langsung di tahan oleh Len.


Menekan sesuatu yang keras di bawah bokong Anya, tidak sampai di situ, berontakan Anya menciptakan gesekan-gesekan yang semakin membuat Len gelisah.


Yang pada akhirnya melepaskan Anya dalam pangkuannya.


.


.


.


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2