
Hal itu juga sama yang di rasakan Mike, dengan Mike yang juga melongo dan menatap kagum gadis yang beberapa hari ini berseliweran di otaknya, karena tak bisa ia pungkiri setelah kejadian terakhir di mobil dulu dan curhatan tangisan gadis di depannya itu membuatnya tak bisa berhenti memikirkan Senta, tapi saat tau akan status gadis itu, Mike mencoba untuk tak memikirkannya walaupun begitu sulit, walaupun begitu, matanya tetap tak bisa lepas dari wajah cantik dan teduh nya Senta.
Bahkan matanya tak berkedip sedikitpun saat menatap wajah ayu Senta, tapi hal itu tak berlangsung lama ketika ia harus kembali di ingatkan dengan kenyataan yang ada, rasa kagum yang di miliki Mike bukanlah rasa kagum biasanya, dan saat itu juga ia harus mengubur dalam-dalam rasa itu segera.
"Semoga kau bahagia! aku harap malam itu adalah malam terakhir tangisan kesakitan mu, tapi jika dia kembali menyakiti mu lagi, mungkin aku tak akan menahan perasaan ini lagi, tak peduli kau milik siapa, status atau keadaanmu seperti apa nantinya!!" batin Mike dengan menatap kagum Senta untuk yang terakhir kalinya, sembari menghela nafas untuk mengatasi rasa berat dan tak rela di hatinya.
"Kau Senta? " Tanya konyol Anya menatap kagum sahabatnya.
"Menurutmu?? " jawab Senta yang malah kembali bertanya dengan memutar bola matanya malas mendengar pertanyaan aneh Anya.
"Sepertinya kau bukan sahabatku Senta!!! " jawab Anya dengan wajah jahilnya, jika orang melihat pasti akan gemas tak terkecuali Mark dengan umurnya yang baru 5 tahun gemas pada orang dewasa.
Dengan santainya Mark mencubit kecil pipi Anya penuh kegemasan, tapi tak berlangsung lama saat sang pemilik wanita imut itu melepaskan paksa cubitan tangannya, yang tentu saja hal itu membuatnya cemberut penuh kekesalan menatap Len.
Len yang di tatap seperti itu terlihat biasa saja, apa lagi yang menatapnya jauh lebih kecil dari anaknya sendiri, tak berefek apapun untuknya, sampai ia juga menatap Mark dengan tatapan tajam untuk memperingatkan pria kecil itu.
"Dia milikku!!! " ucap Len tanpa suara sembari memperlihatkan aura mafianya.
"Dad!!! " tegur Anya, sebenarnya ia tak begitu masalah saat Mark mencoba mencari perhatian padanya, ataupun bermusuhan dengan konteks bercanda dengan sang suami, tapi saat melihat tatapan mengerikan Len, Anya dengan cepat menegur suaminya yang takutnya akan membuat Mark yang notabennya hanyalah anak-anak itu menangis ketakutan karenanya.
"Ya baby? " jawab Len yang menurutnya sang istri itu memanggilnya.
Tapi saat melihat Anya geleng-geleng kepala, ia baru sadar kalau itu sebuah teguran, dan memilih melengos tak menatap anak kecil yang menatapnya dengan kepuasan.
Senta yang mendengar jawaban Anya tadi, harus kembali memutar bola matanya malas dan memilih duduk di sebelah Rica, yang membuat Rica otomatis duduk ditengah-tengah di antara pacar dan Senta.
__ADS_1
"Ck, kalau kau tak mengakui, masih ada Rica di sini!!!! " jawab sewot Senta yang duduk bersebrangan dengan Anya.
"Eh, mana bisa seperti itu, tidak, tidak!!! " kata Anya dengan wajah paniknya.
"Dih, dia yang bicara, dia sendiri yang panik!!! " ucap Rica yang nimbrung.
"Tepat sekali!!! " ucap Senta mendukung ucapan Rica, dan saat itu juga pandangannya salah fokus pada pria yang dulu pernah masuk ke dalam mobilnya.
Ia ingat betul pria yang duduk di single sofa itu adalah orang sama yang mendengarkan curhatannya dulu, memang ia dulu sempat melihat pria itu sekilas di hari pernikahan Anya, tapi ia juga tak menyangka pria itu benar-benar sahabat sang suami.
Setelah kaget dengan satu pria yang sibuk dengan ponselnya, Senta milih menatap kearah lain, tak peduli juga akan kejadian yang lalu, karena nyatanya curhatannya dulu adalah sebuah kenyataan yang ada, bahkan ia tak menyapanya sedikitpun.
"Hai Mark!!! " ucap Senta yang malah menyapa adik kecil dari suaminya.
"Kak!!! " jawab Mark, yang tadinya terlalu fokus pada Anya kini beralih pada Senta yang begitu cantik, membuatnya berlahan berdiri dari duduknya, seolah ada magnet yang akan menyatukan nya dengan istri kakaknya, hingga membuat langkah kecil untuk mendekati wanita yang ia panggil kakak barusan.
Dengan rasa kaget Mark menatap orang yang menggendongnya dan menjauh dari bidadari cantik satunya lagi yang ternyata itu adalah papa nya sendiri.
"Papa!!!!! " ucap Mark dengan merengek pada pria paruh baya yang sebenarnya cocok menjadi kakeknya di banding papanya.
"Apa??? jangan centil-centil jadi cowok!!" ucap papa Will memberikan peringatan untuk sang anak, lalu menatap orang-orang yang hadir di pesta putra pertamanya dengan senyum kecilnya. " Maaf membuat kalian mengunggu lama, kalian bisa minum dan makan sesuka lain dulu!!! " ucap papa Will yang begitu ramah.
"Ya, terimakasih... emmmm.. duke! " ucap Anya mewakili semua orang di sana, tapi ia sedikit ragu dengan panggilan yang benar.
"Panggil papa Will saja! ini bukan kerajaan yang mengharuskan kamu atau kalian memanggilku Duke!! " ucap papa Will yang di angguki kecil Anya, Rica, dan Brian kekasih Rica . " Nikmati minum dan makan kalian sembari menunggu mempelai pria dan mamanya yang masih siap-siap!! " lanjut papa will yang di anggunki semua orang.
__ADS_1
Hingga perbincangan seru tak terhindarkan lagi, sesekali di seling ini pembicaraan bisnis yang di lakukan pria-pria dewasa di sana.
"Papa will anak ke berapa? " tanya Anya tiba-tiba dengan berbisik pada sang suami membuat percakapan yang hanya di dengar oleh mereka berdua, di saat suara menggema canda tawa keseruan perbincangan orang-orang di sekitarnya.
"Memang kenapa? " jawab Len yang juga berbisik tanpa menatap Anya yang mengajaknya berbicara.
"Bukankah dia duke? jadi anak ke berapa beliau? " tanya Anya yang begitu penasaran, padahal dengan browsing pun ia juga bisa mendapatkan jawaban dari pertanyaannya.
"Anak pertama!! " jawab Len yang sangat tau, dan begitu tau jawabannya akan membuat istrinya bingung.
"ha? " bingung Anya. " bukankah anak pertama yang harusnya menjadi King, kenapa duke? "lanjutnya dengan semakin berbisik takut papa will mendengar ke kepoannya.
"Kau benar-benar tak tau baby? " tanya Len yang merasa tak enak menjawabnya karena orang yang mereka bicarakan berada tak jauh dari mereka, walau sebenarnya orang yang ia bicarakan tak mendengar apapun dari percakapannya dengan istri tercintanya.
"Bagaimana aku bisa tau kalau hidupku hanya untuk belajar dan memikirkan kamu, tak pernah terlintas di otak ku untuk memikirkan silsilah keluarga kerajaan kalau bukan Senta hadir di keluarga ini!!! " bisik Anya dengan nada sewot nya.
.
.
.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
...----------------...