
Tak ada sedikit rasa kebencian untuk putranya dari wanita lain, padahal Anya merasakan rasa sakit melihat kenyataan yang ada saat ini, rasa mempertahankan Anya semakin hari semakin kuat, tapi ada rasa khawatir kehadiran Dante akan menghambat restu orang tua Anya.
Tapi Len tak se pengecut dulu, ia akan memastikan terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan, dan dia akan terus memperjuangkan jika itu pantas di perjuangkan.
"Jangan banyak-banyak, Dante belum sarapan pagi ini! " kata Anya perhatian.
"Baik nyanya! " patuh Dante.
" Papanya tidak di kasih? " tanya Len pada Anya.
"Ini untuk papa! satu saja karena papa belum sarapan! " malah Dante yang menjawab, Len hanya tersenyum tipis menatap Anya tapi sambil menerima cookies dari tangan kecil Dante.
"Terima kasih sayang! " kata Len yang ikut duduk di samping anaknya.
Melihat Anya yang begitu serius membuat cakenya dan tak lupa mengkoordinasi pelayan yang membantunya. Berjalan seirama tanpa ada kesalahan hingga suara Dante membuyarkan konsentrasi Anya, Len dapat melihat dari raut wajah Anya, tapi tak ada sedikit kemarahan yang di wajah Anya.
"Apa ini khusus untuk papa mama nyanya? " tanya Dante, Anya menatap pria kecil itu sambil tersenyum menghentikan aktifitasnya sejenak.
"Iya!! dan cookies ini khusus juga untuk Dante! " jawab Anya dengan sabar.
"Ternyata ada malaikat tanpa sayap, dan kau orangnya baby!! bodohnya aku dulu sempat meninggalkanmu! " batin Len yang masih betah menatap objek cantik di depannya.
"Apa Dante boleh mencicipi yang lain nanti? " tanya Dante.
" Tentu saja boleh! " kata Anya dengan senang hati.
"Biarkan nyanya fokus pada kuenya dulu, dan di sambung nanti pembicaraannya ya! " kata Len pada sang anak, yang di angguki Dante.
Cukup menghabiskan waktu stengah jam cake yang tersisa sudah jadi, Anya sedikit meregangkan tubuhnya menghilangkan rasa pegal, karena sekian lama ia sudah tak membuat cake.
"Timi, kau suka coklat atas keju? " tanya Anya pada Timi yang mulai membersihkan dapur.
"Keju nona! " jawab jujur Timi.
Anya mulai memotong bagian kecil cheese cake yang mereka buat untuk ia berikan pada Timi pelayan yang membantunya, hal itu tak luput dari pandangan dua pria beda generasi yang sedari tadi setia menemaninya.
"Ini untukmu! " Anya memberikan sepotong cheese cake.
"Ti.. tidak perlu nona! " tolak Timi yang merasa tak enak.
"Kenapa?? ayo cicipi hasil karya kita!! nanti cake nya nangis kalau tidak di Terima! " kata Anya pura pura sedih.
" Ba.. baik nona! Terima kasih! " kata Timi yang sebenarnya ada rasa ingin mencicipi nya.
__ADS_1
"Kenapa memberikan cake untuk orang tua Anya pada pelayan itu nyanya? " tanya pria kecil super polos itu.
"Karena Anya mau berbagi, dan berbagi bisa pada siapapun, termasuk hewan!! dan nanti pasti akan di berikan hadiah hal baik lo sama Tuhan! " Jawab Anya .
"Dante juga mau!! Dante nanti akan mengikuti apa yang Anya bilang! " kata Dante dengan semangat.
"Tuhan!!! Terima kasih sudah menurunkan malaikat di tengah tengah kami! " Batin Len terharu dengan didikan Anya pada sang anak.
"Sepertinya sudah tidak pagi lagi!! ayo kita sarapan sekarang!! " kata Anya sambil menggendong Dante tanpa menghiraukan papanya, berjalan menuju meja makan.
"Jangan di gendong! tubuh Dante berat! " kata Len merebut Dante dari gendongan Anya.
Jika di lihat sekilas, mereka terlihat seperti keluarga bahagia, menuju meja makan yang hanya di lakukan mereka berita. Tak ada hambatan di sarapan pagi ini, Dante juga bukan anak yang pemilih makanan.
"Dante mau cookies lagi! " kata Dante yang sudah menghabis kan satu potong roti dan segelas susu.
"Apa perut kecilmu masih muat hm? " tanya Anya yang di angguki Dante.
"Oke, nyanya ambilkan sekarang! " kata Anya yang akan beranjak dari duduknya.
"Biarkan pelayan saja!" kata Len pada Anya.
"Aku masih bisa melakukan sendiri! " jawab Anya sambil beranjak mengambil cookies yang tersisa.
"Suka sekali dengan cookies nya! " sindir Anya yang sedari tadi di cuekin Dante.
"Ini pertama kalinya Dante makan cookies nyanya, dan rasanya sangat enak!! dulu Dante pernah lihat kue ini saat di jalan! tapi dante tak berani meminta pada mama, karena mama selalu mengatakan Dante sangat menyusahkan, Dante tak mau menyusahkan mama!! tapi sekarang Dante bisa memakannya dengan puas nyanya!! " kata Dante tanpa beban.
Tapi tidak dengan kedua orang dewasa yang mendengar perkataan Dante, miris sekali hidup pria kecil itu, padahal ibunya tak kekurangan uang sedikitpun.
Seketika Anya menatap wajah Len, yang saat ini menatap sang anak dengan wajah sedihnya, meski begitu kejam Len sangat lah menyayangi Dante, Anya mengakui Len adalah ayah yang baik tapi kenapa buruk dalam hal percintaan.
"Nyanya akan buat cookies untuk Dante setiap saat Dante ingin! " kata Anya secara tak langsung menghibur seorang ayah yang sedih akan nasib anaknya.
"Apa tidak akan menyusahkan! " kata Dante dengan pelan.
"Tidak akan menyusahkan jika Dante jadi anak yang baik lohhh!!! " kata Anya yang selalu menyelipkan hal baik di setiap kata-katanya pada Dante.
"Dante akan selalu jadi anak baik, biar bisa makan cookies setiap hati!! " kata Dante dengan binar bahagia.
"Tapi jangan lupa rajin gosok gigi!! kalau tidak nanti gigi Dante akan di makan cookies yang tertinggal di gigi Dante!! gigi Dante akan sakit dan tidak bisa makan cookies lagi deh!! " kata Anya menasehati Dante.
Sedangkan Len tak bisa berkata apa-apa mendengar setiap perkataan Anya, yang tak lupa mengajarkan hal baik di setiap tindakannya, di umurnya yang masih muda sudah memancarkan aura ke ibuan dan memberikan aura positif pada sang anak dan dirinya sendiri, menambah terus menerus rasa cinta di hati Len.
__ADS_1
"Dante juga akan rajin gosok gigi kok! " janji Dante tanpa di minta, sambil menerima usapan kepala dari tangan besar papanya.
"Apa Dante sudah ijin pada papa? " tanya Anya sambil mengingatkan Dante.
Yang otomatis membuat Dante menatap sang papa yang juga menatapnya dengan hangat.
"Apa Dante boleh makan cookies setiap hari pa? " ijin Dante seperti yang Anya katakan.
"Boleh, asal tidak banyak-banyak, dan dengarkan kata nyanya!! harus rajin gosok gigi!! meski tak makan cookies tetap harus rajin, karena anak yang baik akan selalu rajin dalam segala hal! " kata Len dengan tersenyum senang.
"Itu sudah pasti!! Dante akan jadi anak yang baik! kata Dante membanggakan dirinya.
" Bukankah hari ini dante akan belajar!! " ingatkan Len.
"Iya, tadi pagi Dante juga melihat meja belajar dengan buku-buku di atasnya! " kata dante dengan semangat.
"Kenapa tidak siap-siap dari tadi! " kata Anya yang kaget Dante sekolah hari ini, dan bukannya sudah telat jika berangkat kesekolah.
"Dante homeschooling, aku sudah menyiapkan ruang belajar untuknya! " kata Len yang tau maksud paniknya Anya.
"Homeschooling?? kenapa? " tanya Anya tak mengerti, "Bukankah anak se usianya harus banyak berinteraksi di luar? kenapa homeschooling?? " pikir Anya yang belum berani menyimpulkan.
"Dante belum mengenyam pendidikan sedikitpun!! makanya harus homeschooling dulu, kalau sudah siap Dante akan sekolah bisa! " terang Len yang membuat Anya lega.
Tapi ada terbesit rasa kasian pada Dante, yang bahkan pendidikan saja tidak dia dapatkan, bersamaan rasa kesal sang ibu yang tak memiliki hati sedikitpun, menatap sinis pria yang juga terlibat pembuatan Dante yang sampai membuat pria kecilnya mendapatkan perlakuan tak layak.
"Apa ada yang salah dengan perkataanku! " batin Len bingung yang malah mendapatkan tatapan sinis dari Anya. Sampai terdengar suara orang yang Len dan Anya kenal.
"Papa! " kata Anya lalu berlari menuju ruang tamu.
Di ikuti Len yang berjalan santai sambil menggandeng Dante dengan cookies di tangan yang tak di genggam Len.
.
.
.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...----------------...
__ADS_1