
Pletak...
Suara sentilan pelan di mulut Anya yang tiba-tiba membuat pemilik bibir kaget sampai menghentikan tangisannya, dan sebuah badan besar memeluknya dengan begitu erat.
"Tidak boleh bicara seperti itu, Kamu emang tak akan menikah kalau bukan dengan daddy!!" kata len berubah lembut. " Daddy tak akan meninggalkanmu sampai kapanpun, Audrey juga tak akan pernah bisa menyentuh rumah tangga kita nantinya, apalagi akan menganggu, daddy menjamin semuanya baby, tak perlu khawatir tentang itu! " kata Len terus memeluk gadis yang masih menangis walau tak ada balasan darinya.
"Bagaimana dengan Dante, dia pasti menyayangi ibunya, aku tak tega memisahkannya dari mamanya nanti? " Tanya Anya sambil sesekali sesenggukan.
Ada rasa haru muncul di hati Len, mendengar gadis kecilnya begitu khawatir dengan ke adaan anaknya, Anya selalu mementingkan perasaan anaknya ketimbang dirinya sendiri, siapa pria yang tak jatuh cinta dengan wanita penyayang seperti Anya, Len si pria tak tersentuh di buat tergila-gila dengan gadis kecil itu.
" Daddy sangat mencintaimu baby!" kata Len tiba-tiba sambil mempererat pelukannya. "Lain kali katakan saja apa yang mengganjal dihatimu, kita cari solusinya bersama bukan di pendam dan berasumsi sendiri yang berujung pertengkaran yang akan membuat kamu semakin sakit nanti!! kau harus terbuka pada daddy! " kata Len dengan lembut.
"Kamu tak menjawab pertanyaan ku! " jawab Anya singkat sambil mencoba melepaskan pelukannya yang tentu saja tak Len biar akan, pria itu terlalu nyaman di pelukan Anya.
"Dante anak yang kuat, dia tau cara bersikap nantinya! jangan terlalu khawatir dan kamu hanya perlu percaya padaku. " jawab Len santai.
"Sekuat-kuatnya Dante, dia hanya lah anak berusia 8 tahun, aku tak akan membiarkannya dia menyikapinya sendiri! " jawab Anya tak setuju ucapan Len.
"Tentu saja ada campur tangan kita baby! jangan khawatirkan apapun lagi oke! " Kata Len meyakinkan Anya.
Anya hanya mengangguk walau masih ada keraguan di hatinya tapi setidaknya lebih berkurang dari sebelumnya, merek terus berpelukan yang lebih tepatnya Len yang tak melepaskan pelukan mereka.
Kruuukkkk... Kruuuukkkk...
Tiba-tiba terdengar suara perut lapar yang cukup keras, yang langsung terlepas pelukan mereka.
"Kau lapar baby! " tanya Len pada pemilik perut yang bersuara.
"Hehehehe.. iya, dari siang belum makan! " kata Anya yang teringat sesuatu. " Dante juga belum makan kan! " kata Anya mengingat mereka bertiga yang tertidur dari siang.
"Kau hanya mengingat Dante? kau lupa daddy juga belum makan! " kata Len protes walau di hatinya senang, Anya selalu mengutamakan sang anak.
"Kau kan sudah dewasa bisa cari makan sendiri! tapi Dante, dia tak bisa melakukannya sendiri! " kata Anya sambil berjalan menjauh. " aku mau masak dulu! " lanjut Anya sambil membuka kenop pintu kamar Len.
Yang ternyata masih di kunci, Anya menatap pria yang masih berdiri di tempatnya sambil melipat tangannya di dada tersenyum mesum padanya.
"Buka kuncinya! " perintah Anya.
"Cium dulu! " kata Len sambil memanyunkan bibirnya.
"Tidak mau! " singkat anya.
"ya sudah!" jawab Len yang malah duduk di ranjang tak jauh dari ia berdiri.
"Aku lapar tau! kau mau Anya kelaparan!! kurus, kering, jelek, tinggal tulangnya saja, tak punya tenaga dan berjalan seperti zom.... "
__ADS_1
"Stop! " kata Len menghentikan ocehan tak masuk akan Anya, bagaimana bisa orang telat makan sekali bisa kurus kering. " kita keluar sekarang! " kata Len sambil membuka kunci kamarnya.
Cup.
Satu kecupan mendarat di bibir manis Anya yang tanpa permisi Len menciumnya saat Anya berada di sampingnya, di barengi dengan pintu yang Len buka dengan berlahan.
"Dasar pencuri! " cibir Anya lalu berjalan menjauh dari pria yang tersenyum konyol setelah mendapatkan ciuman yang ia dapat tadi.
"Tunggu baby! " panggil Len sambil mengikuti langkah Anya yang sudah jauh di depannya.
Namun langkahnya terhenti saat sudah ada di depan kamar Dante, membalikkan badannya menghadap pria yang sedari tadi mengikuti langkahnya di belakang.
"Bangunkan putramu! dia harus makan! atau akan bangun tengah malam dan menahan laparnya nanti! " perintah Anya sok serius.
"Baik bu boss! " kata Len sambil hormat layaknya prajurit.
"hihihiihiihhiii! " tawa kecil Anya dan berbalik lagi akan melanjutkan perjalanannya, tapi sebelum itu terjadi Len memandang pergelangan tangannya untuk menghentikan langkah Anya.
"Mau ke mana? " tanya Len
"Masak lah, apa lagi! cepat bangunkan Dante, lebih cepat lebih baik, biar dia bisa tidur lagi nanti! " jawab Anya.
"Tunggu di sini! kita kebawah bersama! " kata Len sebelum meninggalkan anya di depan pintu tanpa menunggu jawaban darinya.
Tak berlangsung lama Len keluar lagi dengan Dante yang ada di gendongannya, seperti koala dengan kepala di senderkan di bahu lebarnya sambil menutup matanya rapat.
"Bangun dulu sayang, kita makan!! nanti di lanjutkan tidurnya! " kata Anya sambil menyisir rambut Dante yang sedikit berantakan dengan jari-jari tangannya.
"Oke! " jawab Dante tapi masih menutup matanya.
Yang membuat Anya geleng-geleng kepala dengan tingkah lucu Dante, berjalan bersama menuju dapur yang ada di bawah, Mereka sengaja tak menggunakan pelayan malam ini selain permintaan Anya juga untuk menikmati waktu bersama.
"Mau masak apa? " tanya Len saat sudah di dapur dengan Dante yang masih betah di gendongannya.
"Pasta! biar lebih cepat jadi, karena putramu itu sepertinya tak tahan ingin cepat kembali ke ranjang barunya! " sindir Anya pada pria kecil yang betah menutup matanya.
"Dante mendengarnya! " kata Dante yang memang tak tidur.
"Come on! jangan tidur terus, buka matamu! " kata Anya tertawa kecil sambil sibuk dengan masakannya.
"Dante tidak tidur, hanya matanya saja tak mau di buka! " jawab Dante konyol, mengundang tawa dua orang manusia di sana.
"Kamu lucu sekali sih! " gemas Anya. " kalian tunggu di meja makan sana! " usir Anya pada ayah dan anak itu.
"Tidak mau! aku mau menunggumu sampai selesai masak! " kata Len tak bisa di bantah.
__ADS_1
"Tepat sekali! " kata Dante menimpali yang sudah memulai membuka matanya.
"Oke, oke! tapi jangan ada yang mengganggu nyanya masak! " kata Anya.
"Oke! " jawab ayah dan anak bersaman.
Setelah mendengar perkataan Len dan Dante Anya kembali fokus pada masakannya, hanya butuh waktu 15 menit pasta buatan Anya sudah jadi, dengan 3 piring pasta terjadi di sana.
"Kalian duduk!! aku bawakan pasta nya ke sana! " perintah Anya menunjuk meja makan.
"Aku bawakan satu! " kata Len yang tak mungkin anya membawa 3 piring dengan dua tangannya.
"Baiklah! " kata Anya memberikan satu piring di tangan Len yang kosong karena tangan satunya masih menggendong sang anak.
"Aku ikut bawa! " kata Dante yang ikut-ikutan, piring adalah benda yang melekat pada dirinya dulu, karena dulu ia yang bertugas memberikan dapur saat masih bersama mamanya.
"Tidak boleh! ini panas !! tetap di gendongan papamu! " peringatkan Anya yang selalu memprioritaskan keselamatan Dante.
"Ck, Dante tak selemah itu! " cibir Dante, walau ada rasa bahagia di hatinya mendapatkan perhatian kecil dari calon ibunya begitu juga dengan papanya yang tersenyum kecil merasakan perhatian wanita di depan mereka.
Tak ada jawaban apapun dari Anya, lebih memilih berjalan ke meja makan dan segera mengisi perut kosongnya, apalagi melihat makanan lezat buatannya yang sudah menari-dari di pikirannya.
"Hati-hati makannya karena masih panas! " kata Anya sebelum dua pria beda generasi itu menyuapkan makanan merek kedalam mulut.
Tak butuh waktu lama mereka mengisi perut dengan satu porsi pasta masing-masing, dengan perut kosong sampai terisi kembali.
"Kenyangnya! " kata Dante sambil memegangi perutnya yang kenyang. " sepertinya Dante tidak bisa tidur sekarang! " kata Dante lagi yang rasa kantuknya tadi sudah menghilang.
"Sama!! " jawab Anya, tapi tiba-tiba ia memiliki ide untuk mengisi waktu mereka malam ini. " Bagaimana kau nonton saja! " lanjut Anya mengeluarkan idenya.
"Setuju! " jawab Dante semangat dengan ide Anya.
"Bagaimana? " tanya Anya pada Len yang tak kunjung mengatakan pendapatnya.
"Emmmm...!! " gumam Len sambil berfikir sok keras. " Lets go!!!!! " jawab Len yang berlari lebih dulu menuju lift.
"Tunggu!!!!!! " kejar Dante yang ikut berlari mengejar papanya.
.
.
.
...****************...
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...----------------...