
Lain halnya dengan para wanita yang berbahagia di dalam kamar, para pria yaitu William atau papa Will dan Carl yang tak ada bahagia-bahagianya sama sekali, terutama Carl yang merasakan aura mencekam di sekelilingnya.
Tepatnya di basement mansion yang memang di buat untuk hal-hal mendesak untuk melindungi keluarga dari musuh atau terjadinya bencana alam, tapi dengan interior yang gelap dan basement yang minim pencahayaan membuat ruangan itu terlihat sedikit menyeramkan hingga sengaja ruangan itu di pergunakan untuk mengintrogasi orang-orang yang bersalah di mansion ini.
Cukup jauh dengan fungsi yang sebenarnya, tapi tak bisa di pungkiri kalau suasana menyeramkan di basement itu cukup membantu karena orang-orang yang salah akan lebih mudah mengakui perbuatannya dari pada harus tinggal berlama-lama di basement menyeramkan itu.
Sayangnya hal itu tak berlaku untuk dua pria dewasa yang berdiri saling berhadapan sekarang, bahkan papa Will terlihat biasa saja meski dengan pencarian yang cukup minim, sedangkan Carl sama halnya dengan papa tirinya, tapi khusus hari ini hatinya cukup takut bukan karena suasana ruangan itu, tapi tatapan seorang Duke di dalam diri papa tirinya yang tak main main.
Walaupun papa Will hanya bergelar Duke, tapi sikap tegas dan kerasnya jauh melampaui seorang king itu sendiri terhadap sebuah kesalahan yang di sengaja, apa lagi hal itu terjadi pada anaknya sendiri, tanpa peduli anak yang memiliki darahnya tau anak yang tak memiliki darahnya, semua ia perlakuan sama.
"Kau mempercayaiku sebagai papa penggantimu bukan? " tanya papa Will dengan tegas dan tangan mengepal kuat menatap mata putra pertamanya, yang di jawab anggukan oleh sang anak. "Jawab Carl? " lanjutnya dengan penuh penekanan.
"I.. iya pa! " jawab Carl penuh kegugupan, karena aura seorang Duke tak main main jika di hadapi. "Kau jauh lebih pantas menjadi raja sesungguhnya pa!!! " batin Carl yang masih sempat-sempatnya mengomentari sifat papa sambungnya di suasana yang sangat mencekam ini.
"Kau keberatan papa sambung mu ini mendidik mu dengan caranya sendiri? " tanya papa Will lagi.
"Tidak!! " jawab Carl yang memang tak keberatan selagi itu di jalan yang baik.
"Kau tau kesalahanmu sekarang? " tanya papa Will yang mulai masuk pada inti pembicaraan mereka, dan kali ini Carl menjawab dengan anggukan kepala saja, " Jawab papa bilang!!! " lanjut papa Will dengan sedikit meninggikan suaranya saat mengingat kelakuan putra pertamanya.
Sebenarnya papa Will sangat tau akan kebiasaan burung putranya, tapi selama hal yang di lakukan atas sadar sama-sama mau bukan masalah baginya karena ia percaya putra pertamanya itu tau kalau perbuatannya memang salah, dan saat tau akan kejadian pemerkosaan tentu saja papa Will tak akan mentolerir perbuatan sang putra, apa lagi di lakukan pada wanita yang begitu menjaga kehormatannya yang semakin membuat nya sangatlah murka.
"i.. iya, tah... "
__ADS_1
Bugh, bugh, bugh, bugh....
Ucapan Carl terpotong dengan pukulan yang di berikan papa Will secara tiba-tiba hingga tak bisa membuatnya mengelak, tapi kalaupun bisa ia sendiri tak akan berani melakukannya.
"Kau mencintainya? " tanya papa Will lagi menatap sang anak yang baru saja bangkit dari tumbangnya saat setelah mendapatkan pukulan darinya.
"Ya pa! " jawab singkat Carl yang sudah siap mendapatkan hukumannya lagi.
Bugh...
"itu caramu mencintainya? " tanya papa Will setelah mendaratkan pukulan terakhirnya, walaupun hanya sekali pukulan, tapi itu bisa di bandingkan dengan 5 pukulan orang biasa.
Carl hanya bisa meringis saat beberapa bagian wajah dan tubuhnya di buat babak belur oleh papa sambungnya, ia tau konsekuensi yang harus ia dapat dengan tindakannya sebelumnya, tapi baginya itu bukan masalah besar sekalipun nyawanya yang menjadi taruhannya selagi itu bukan kehilangan senta nya.
"Kau terobsesi padanya bukan? " tanya papa Will merasa cinta yang putranya miliki itu terdengar seperti hanya menginginkan kepuasan dalam dirinya.
"Tidak, aku benar-benar mencintainya!! " ucap Carl yang merasa memang begitu mencintai Senta.
"Kau tak belajar bagaimana cara mendiang papamu mencintai mama mu?? kau tak belajar bagaimana papa sambung mu ini mencintai mama mu hm? kau tau seberapa kecewanya mama mu mendengar perilaku keji putranya itu, bahkan sehari penuh kau membuat wanita yang aku cintai menangis tanpa henti, melihatnya seperti itu ingin rasanya membunuh orang yang menyebabkannya menangis!! pikirkan dulu orang-orang yang menyayangimu sebelum bertindak macam-macam, atau aku akan benar-benar membunuhmu jika membuat wanita yang aku cintai menangis seharian!! " ucap Papa Will menatap tajam putra pertamanya.
"Ma.. maaf!!! " ucap Carl merasakan rasa bersalah saat mendengar ucapan papa Will tentang mamanya, apa lagi beberapa hari ini mamanya tak mau berbicara sedikitpun dengannya.
"Lakukan pada mama mu saja, papa bisa kapan saja menghajar mu jika kau salah! tapi mama mu, dia hanya bisa menangis menyalahkan dirinya sendiri akan putra yang ia lahirkan, itu sangat menyakitkan untuk, dan aku yakin kau juga merasakan hal yang sama!! " ucap papa Will
__ADS_1
"Pasti, aku akan meminta maaf pada mama! dan maaf sudah membuat ketenangan hidup kalian terganggu karena Carl!! " ucap Carl yang merasa bersalah dengan menundukkan kepalanya, dan rasa haru saat mamanya kembali menemukan orang yang tetap untuk dicintai dan mencintai.
"Muliakan wanita yang kau cintai nak, jangan menyakitinya dengan tindakan tak benar seperti itu, papa tau papa tak selamanya menjadi orang yang baik, tapi contoh hal-hal baik mendiang papa mu dan papa(dirinya sendiri) saat mencintai mamamu untuk bekal kehidupan percintaan mu kedepannya, kelak tak ada hal-hal menyakitkan seperti ini terulang lagi! " ucap papa Will mengatakan yang terbaik untuk anaknya.
"Ya pa!! aku akan mencobanya, dan berfikir matang sebelum bertindak, terimakasih pa!! terimakasih!!! " ucap Carl dengan meneteskan air matanya.
Tanpa berbasa-basi, papa Will memeluk tubuh putranya yang sedang menangis itu, ia paham kalau putranya terpaksa melakukan pemerkosaan itu karena cinta yang begitu besar dan rasa takut kehilangan yang jauh lebih besar saat sang wanita tak ingin mempertahankan hubungan mereka.
Papa Will juga tau kalau itu bukanlah sifat putranya, dan hari ini tebakannya memang benar adanya dengan penyesalan terlihat sangat jelas di wajah, setelah memberikan hukuman dan Carl yang tau akan kesalahannya, papa will memberikan kekuatan putranya untuk kembali bangkit untuk memperbaiki segalanya.
papa Will terus memeluk tubuh yang sama kekarnya dengan dirinya dan membiarkan Carl meluapkan kesedihan dan rasa sakit yang selama ini ia pendam, sampai ruangan yang sunyi itu menggema dengan tangisan putra pertamanya.
.
.
.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...----------------...
__ADS_1