
Sedangkan Len hanya tersenyum, karena menang atas perdebatan mereka barusan, menunggu sang gadis selama apapun, tanpa khawatir sang anak terbangun mencarinya, karena ia yang obat yang terakhir di minum anaknya sedikit mengandung obat tidur di dalamnya.
Tak butuh waktu lama, Anya keluar dari ruang ganti, lengkap dengan pakaian tidurnya, berjalan menuju meja rias tak jauh dari Len duduk dengan santai tanpa menghiraukan pria yang sedari tadi memperhatikannya.
Len bisa melihat betapa menggairahkan gadis di depannya, padahal tak memperlihatkan asetnya sedikitpun, mungkin aura wanita perawan memang terpancar tanpa memperlihatkannya.
Ia memandangi setiap gerakan Anya yang sedang melakukan rutinitasnya, hanya mengoleskan lotion saja terlihat erotis di mata Len, memang kalau otak sudah mesum, orang diam pun terlihat seksi. Ia mulai tak tahan dengan pemandangan di depannya, langsung menghampiri Anya yang masih melakukan rutinitasnya.
"Kenapa? " tanya Anya saat melihat dari cermin, Len yang sudah berdiri di belakangnya.
Tak ada jawaban dari Len, tapi ia mulai mengelus pundak mulus milik Anya yang terbuka, tersenyum mesum yang membuat sang pemilik menepis tangan besar Len.
"Stop!!! lebih baik keluar jika masih berniat melakukan hal aneh-aneh, dan cuci otakmu biar pikiran kotor mu menghilang dari otakmu itu! " kata Anya yang mulai paham senyuman sama yang beberapa kali Anya lihat.
Sekali lagi tak ada jawaban dari Len, tapi tangannya mulai memegang leher bagian depan Anya, naik ke atas menangkup wajah Anya sedikit memaksa mendongakkan kepalanya menatap Len yang berdiri di belakangnya.
Setelah berhasil menengadahkan kepala Anya tanpa protes, Len dengan cepat menurunkan kepalanya, mencium Anya dari arah berlawanan, ******* nya hingga habis tak tersisa.
Sedangkan Anya yang tak berekspektasi seperti sekarang, ia kaget dan mencoba melerai ciuman mereka dengan membebaskan wajahnya dari kedua tangan besar Len yang sangat kuat, merasa tak membuahkan hasil, Anya pun hanya bisa pasrah di ciumi tanpa mau membalas.
"Balas baby! " kata Len yang tak kunjung mendapatkan balasan tapi mendapatkan celengan kepala oleh pemilik bibir.
Len yang tak sabaran dan di selimuti gairah, mengangkat tubuh kecil Anya dengan mudah saat duduk di depan meja rias, membawanya ke atas ranjang milik Anya, sedikit membanting dan melepaskan kemeja kantor yang sedari siang belum ia ganti.
Lain halnya dengan Anya yang mulai panik saat singa jantan mulai menampakkan birahi nya, apalagi dengan santainya Len membuka baju atasan miliknya, memperlihatkan tubuh atletis nya, dengan cepat Anya beranjak dari ranjang miliknya, berusaha kabur dari situasi berbahaya.
Belum juga beranjak dari ranjang, Len menarik kaki jenjang Anya agar tak turun dari ranjang, membalikkan badan Anya dengan cepat, sedikit membuka baha dan menindih Anya di sela-sela paha yang terbuka tadi.
"Jangan seperti ini! " marah Anya yang tak bisa melawan kekuatan tubuh Len.
__ADS_1
"Kenapa baby? " tanya Len dengan suara serak terdengar seksi, dengan wajah Anya yang begitu dekat di bawahnya.
"Aku akan marah jika paman melakukan aneh-aneh padaku!! " ancam Anya dengan tangan kedua tangannya yang terus memberontak, karena memang hanya tangannya yang bisa.
"Marah?? bukannya dulu kamu suka!! " kata Len sambil menangkap kedua pergelangan tangan Anya yang tak bisa diam, menguncinya di atas kepala Anya dengan hanya satu tangannya.
Lengkap sudah kuncian di dua anggota tubuh Anya yang ia gunakan untuk memberontak, hanya mata yang Anya andalkan sekarang, menatap tajam pria di atasnya dan mulut untuk terus menolak.
"Ihhhhhh!! aku tak mau seperti ini! " kata Anya melotot kan matanya tak cukup dengan mata tajam nya.
Tapi malah terlihat lucu bagi Len, mata bulatnya semakin besar menggemaskan, bibir yang mengoceh pedas tak berpengaruh dengan rasa manisnya, dengan berlahan Len kembali ******* bibir kecil yang sudah membengkak tadi.
Meski tak ada balasan dari Anya Len terus ******* bibir manis Anya, yang sekali-kali mencoba membuka bibir kecil yang ada di dalam mulutnya dengan lidahnya yang tak bisa dia sedari tadi.
Sedangkan nasib si boy sudah berdiri sejak Anya keluar dari ruang ganti, di tambah ciuman dan pertemuannya dengan sarangnya walau terhalang kain masing masing.
Anya tetap teguh pada pendiriannya yang terus menutup mulutnya walau gairah juga melanda di dirinya, hingga sebuah gerakan tangan besar yang mulai masuk dari bajunya, mengusap perut datanya, yang membuat Anya memejamkan matanya sejenak.
"Emmm!! emmm!! " berontak Anya tak jelas karena ciuman Len. " sshhoohhgggppp. " kata Anya lagi-lagi tak jelas.
Otomatis membuat bibirnya terbuka, yang langsung Len isi dengan lidahnya tanpa ampun, Len mulai menggila dengan gairahnya dengan posisi yang sempurna saat ini, si boy yang juga tak tahan mulai menggoyangkan pinggul Len dengan pelan dan teratur.
"Shhhhhhtttttt!!!!! " desah Anya tanpa sadar di sela ciuman Len.
Di rasa Anya sudah mengikuti alur, Len mulai menurunkan ciumannya di leher Anya, tapi tak sesuai ekspektasinya saat mendengar perkataan Anya.
"Stop!! atau aku akan pergi dari rumah ini! " kata Anya sambil mencoba menetralkan gairahnya.
Ia tak akan memberikan kesempatan apapun saat ini, terlalu sakit menerima sikap Len yang beberapa waktu lalu.
__ADS_1
"Kau tak merasakannya baby! " kata Len mencoba menggoda Anya dengan menggesek-gesekkan si boy pada sarangnya.
Benar saja, Anya langsung memejamkan matanya merasakan hal baru yang jauh lebih enak dari sebelumnya, bahkan tak ada jawaban dari mulut Anya, membuat Len tersenyum senang.
Len juga memejamkan matanya juga, merasakan kenikmatan walau hanya di luar.
"Dari luar sudah senikmat ini, apa lagi jika kau masuk boy! " batin Len yang merasakan hal luar biasa dari sebelum-sebelumnya. Ia juga tak segila ini saat bersama wanita yang melahirkan putranya.
"Aku tak tahan jika terus bersamamu!! aku akan menikahi mu secepatnya baby! " kata Len menghentikan gerakannya.
"Lepaskan tubuhku! " kata Anya dengan nafas yang naik turun, baju setengah terbuka, dan bibir bengkaknya yang basah.
Menambah gairah Len yang sebenarnya tak terbendung, tapi otak warasnya masih berjalan yang tidak anak merusak gadis kesayangannya sebelum ada ikatan pernikahan.
Len langsung mengabulkan permintaan Anya yang sebelumnya mencium kening Anya terlebih dahulu dengan sayang, berbaring di samping gadisnya untuk mengatur gairahnya, hal sama yang di lakukan Anya.
" I love you baby! " kata Len yang tak ada jawaban dari lawan bicaranya, Anya malah memejamkan matanya dengan nafas masih naik turun.
Anya juga menyadari status yang penting sebelum melakukan hal lebih, karena ia merasa di manapun dan bagaimanapun wanita lah yang rugi nantinya, walaupun negara bebas tempat ia di lahirkan tak terlalu memikirkan hal seperti itu.
Tapi ia tidak, terdengar seperti pikiran kolot bagi beberapa pihak, tapi itu sebuah kehormatan yang sebenarnya bagi setiap perempuan.
.
.
.......
...****************...
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...----------------...