
Menjelang pagi dengan matahari yang sudah membumbung tinggi, Len merasakan sebuah pergerakan yang membuatnya terbangun yang ternyata sang anak sedang bersiap akan menciumnya, menatapnya dengan senyuman kecil.
Tapi saat Dante akan mencium Anya Len langsung mencegahnya, bukan masalah cemburu walau ia memiliki masalah dengan kecemburuan berlebihan tapi melihat begitu lelapnya Anya tidur yang membuat Len tak tega harus di ganggu Dante.
Semalam Anya beberapa kali terbangun dan terjaga karena ulah pria kecil yang sedang sakit, hanya mau dengan mommy tak membiarkan daddy nya menyentuhnya yang padahal merek baru saja melakukan perjalanan panjang, yang semakin membuat Anya lelah.
Bahkan Anya yang biasanya bangun lebih awal, hari ini masih tertidur walau di luar matahari sudah tak hangat lagi.
"Kenapa? jangan bilang kau cemburu! " ucap dante kembali ke setelan awal.
"Ck, mommy mu lelah menjagamu tadi malam! biarkan dia tidur dulu! bagaimana dengan tubuhmu apa masih ada yang sakit atau pusing mungkin? " tanya len yang menyentuh pipi sang anak dengan sedikit rasa khawatir.
"Tidak! aku sudah tidak apa-apa! ucap dante.
" Kau sangat manja saat sakit, bagaimana dulu kalau kau sakit jika seperti itu? " tanya len yang membuat Dante terdiam, secara tak sengaja Len kembali mengorek luka lamanya, len yang melihat respon Dante langsung memeluk anak laki-laki nya itu. " Tak udah di jawab, jangan dengarkan omongan daddy tadi! " ucapnya lagi.
"Aku hanya diam! mau manja juga dengan siapa! jangankan manja berobat juga tidak! tidak ada yang peduli jadi ya hanya diam saja! " ucap Dante jujur, membuat len menghela nafas panjang.
"Seperti di pesawat kemarin? " tanya len lagi yang di angguki Dante.
"Dan mommy terus memelukku yang membuatku sangat nyaman berada di pelukannya! " ucap Dante jujur.
"Kau sekarang tidak dengan mamamu, kau ada daddy dan mommy yang peduli dengan kesehatanmu, jangan membiasakan hal-hal lamamu yang pernah kamu lakukan di sini, kau harus mengatakan apa yang kamu rasakan walau bukan sakit sekalipun, jangan seperti tadi malam menunggu mommy mu sadar dengan keadaanmu, bagaimana jika mommy mu tak sadar dengan keadaanmu tadi malam? kau mau membuat mommy dan daddy yang sangat sayang padamu ini menjadi khawatir, dan semakin khawatir dengan kondisimu yang tak kami tau, menyalahkan diri sendiri karena tak bisa memahami mu! come on, bisakah kita bekerja sama dengan baik, saling berkata jujur agar kita sama-sama saling mengerti dengan ke adaan masing-masing! kau paham dengan kata-kataku Dante? " tanya Len dengan wajah serius.
"iya! maaf karena tindakanku yang salah! " ucap Dante yang paham maksud daddy nya.
"Ya, tak masalah, tapi nanti akan jadi masalah kalau kau mengulanginya! " ucap Len di angguki Dante. " Kau benar-benar sudah tidak sakit? " tanya Len lagi memastikan yang di jawab anggukan lagi. " Daddy mandikan kamu! " ucap Len mengajak anaknya mandi.
"Tidak, aku bukan anak kecil lagi dan aku bisa melakukan sendiri! " ucap Dante yang membuat Len tertawa lucu.
__ADS_1
"Apa kau lupa seperti apa kau tadi malam ha? begitu manja maunya di gendong, merengek tak jelas kau tau itu! kau sangat MANJA karena kau masih kecil bahkan sangat manja seperti bayi yang baru menetas! " cibir Len.
"Aku tak peduli dengan ucapan mu! dan satu lagi aku di lahirkan bukan di tetaskan! bye!!! " ucap Dante dan beranjak menuju kamarnya sendiri.
Membuat Len melongo dengan kepergian sang anak yang menganggap serius perkataannya, tapi tak berlangsung lama saat matanya menatap tunangannya yang masih terjaga di tidurnya, menggeser tubuhnya lebih dekat, dan berlahan memasukkan gadisnya ke dalam pelukannya, menciumi beberapa bagian di wajahnya, yang padahal ia sendiri tadi melarang sang anak dengan alasan tak boleh menganggu tidur anya.
Anya yang merasa terganggu dengan ciuman di wajahnya, mulai membuka matanya berlahan menatap pria yang ada di atasnya, tersenyum kecil dan berniat menutup matanya kembali, tapi rencana itu gagal karena serangan tiba-tiba di bibirnya.
Len ******* bibir Anya bahkan dengan nyawanya yang belum terkumpul, entah kenapa Len melihat Anya yang begitu seksi saat bangun tidur membuatnya tak bisa mengontrol bibirnya yang suka sekali membuat serangan tiba-tiba.
Bibir mereka terus menyatu sampai teriakan Dante sebelum masuk ke kamarnya yang memaksa Len menghentikan ciumannya, menatap kesal pria kecil yang menganggu kesenangannya.
Sedangkan Anya menatap bingung Dante yang terlihat sudah mandi dengan pakaian rumahannya.
"Pagi mom! " ucap Dante dengan tersenyum cerah di wajah tampannya.
"Pagi sayang! kenapa sudah bangun, dan ini?!!! kenapa mandi hm! bukankah masih sakit! " ucap Anya beranjak menghampiri putra sambungnya itu, Tapi tiba-tiba kepalanya terasa berdenyut membuatnya sedikit oleng.
"Ada apa? " bingung Len yang tak menyadari oleng nya Anya tadi.
"Tidak! hanya sedikit pusing saja! " ucap Anya yang membuat Len meloncat dari ranjang, dan menghampiri Anya yang sebenarnya tak jauh dari ranjangnya.
" Mommy sakit!
"Kau sakit? " ucap Len hampir bersamaan dengan putranya.
Lalu menuntun tunangannya untuk kembali berbaring di ranjang, di ikuti sang putra yang terlihat sangat khawatir sama sepertinya.
"Aku akan hubungi bastian! " ucap Len yang bergegas mengambil ponselnya.
__ADS_1
"Tak perlu, mungkin ini hanya kelelahan saja! " ucap Anya.
"Tidak bisa! kau sakit harus di periksa! " ucap Len mulai menghubungi bastian tanpa mendengarkan penolakan Anya.
"Daddy benar mom! kau harus di periksa dokter, kami tak mau mommy sakit-sakit seperti ini! pasti semua karena Dante semalam! " ucap Dante dengan sedih.
"Ya! karena kita sehati! Dante sakit mommy akan ikut sakit juga, hati kita sudah menyatu sayang! karena kau adalah putraku! " ucap Anya mengibur Dante agar tak menyalahkan diri sendiri.
"Apa daddy tak di ajak? " tanya Len yang mendengar perkataan Anya di sela-sela menelpon tadi.
"Tidak! kau tak di ajak karena tidak sakit seperti kami! " ucap Anya yang di sambut tawa kecil Dante.
"Huss, Huss, sana jauh-jauh! kau tak di ajak tau! " ledek dante pada daddy nya yang sepertinya akan menjadi hobi barunya.
"Oh Tuhan!! aku sakit sekali! " ucap Len dan memegangi hatinya, berpura-pura sakit.
"huuuuuuuu!!! huuuuu! " sorak Dante dan Anya.
"acting mu jelek dad!!! " ledek Dante yang semakin membuatnya bahagia bisa meledek daddy nya. " Tapi mommy kenapa cantik sekali meski baru bangun tidur! " ucap Dante tiba-tiba dengan menatap wajah ibu sambungnya.
Len malah melongo dengan sikap random anaknya, yang tiba-tiba memuji kecantikan wanitanya, tapi kalau di lihat Anya memang cantik dengan situasi apapun, apa lagi saat membuka matanya tadi, membayangkannya saja sudah membuat tubuh Len berdesir hebat.
.
.
.
...****************...
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...----------------...