
Di depan kediaman Waber, Anya tersenyum saat kembali melihat rumah yang sudah lama tak ia tempati walau beberapa kali sempat berkunjung di rumah itu, tapi hari ia benar-benar akan menempatinya sebelum benar-benar akan keluar dari rumah masa kecilnya itu juga.
Begitu banyak kenangan indah masa kecil Anya sampai ia akan di bawa keluar oleh pria yang akan mempersunting nya, tak henti-hentinya ia menatap haru dan bahagia rumah yang sempat menjadi pelindung dari teriknya matahari, derasnya hujan, sampai dinginnya salju, sampai suara pria yang ia cintai seketika membuyarkan lamunannya.
"Kau bahagia akan meninggalkanku malam ini! " ucap Len yang berbanding terbalik dengan ekspresi Anya.
"Kenapa sensitif sekali sih?? aku tadi udah minta maaf lo, aku tau aku salah!! tapi kenapa masih sedih gini hm?? kita udah mau menikah tau, masih aja bilang hal itu! " ucap Anya merangkul lengan besar calon suaminya.
"Aku benar-benar tak bisa jauh darimu!! rasanya seperti kau akan meninggalkanku saja, apa lagi tadi senyum-senyum lihat rumah ini! " ucap Len yang manja sedikit lebay.
"Hey! hanya untuk sementara, Aku tersenyum bahagia karena bisa tinggal di rumah ini sebelum aku pergi dari rumah ini!! jangan sedih ya! " ucap Anya.
Dengan satu tangan yang menyentuh rahang berbulu milik calon suaminya, dan Len mengangguk manja menjawab ucapan Anya .
"Kenapa berlama-lama di luar, cepat masuk kalian! " teriak papa Oscar tiba-tiba dari dalam rumah yang tertuju pada Len dan Anya.
Sedangkan Anya dan Len dibuat kaget mendengar teriakan papa Oscar, apa lagi Len yang tadinya bermanja-manja langsung gelagapan merubah eksperisnya menjadi Len dengan image nya beredar di luar.
"Kita masuk sekarang! " ucap Len dengan ekspresi seriusnya.
Menggandeng Anya yang tersenyum lucu melihat perubahan pria di sampingnya yang begitu cepat, ia merasa menjadi orang spesial karena tau sifat pria nya yang sebenarnya.
"Bagaimana dengan persiapan acara pernikahan kalian? " tanya papa Oscar pada sang calon menantu.
Len yang baru saja mendudukkan bokongnya di sofa tak jauh dari papa Oscar duduk itu mulai menghela nafas cukup panjang, seolah tak di berikan kesempatan bernafas oleh papa Oscar, bagaimana tidak, baru saja duduk ia sudah di todong dengan pertanyaan penting walau dengan siap Len akan menjawabnya.
"Sudah 97% , Hanya tinggal fitting gaun pengantin wanita saja karena Anya maunya di temani mama pa! tak perlu waktu yang lama untuk mempersiapkan segalanya pa, hanya saja aku perlu beberapa kali prepare untuk keamanannya! " jawab Len yang di angguki papa Oscar.
"Jangan biarkan media manapun meliput, cukup mereka tau kau akan menikah saja! jangan tunjukkan wajah putriku di publik!" pinta papa Oscar yang sebelumnya juga sudah di bicarakan bersama. " Bukan aku meragukan kemampuanmu, tapi jika Tuhan sudah berkehendak kita bisa apa sebagai manusia walau kau orang terkuat di bumi sekalipun, kita sebagai manusia hanya bisa mencegah sebelum itu terjadi! kau paham maksudku? " ucap bijak papa Oscar.
"Ya pa, aku sangat paham dan sangat-sangat setuju tentang keputusan itu! " jawab Len yang tentu saja sangat setuju yang notabennya adalah pria posesif.
"Bukan berarti kau akan mengurung putriku di rumahmu! biarkan orang-orang di sekelilingmu tau, tapi hanya sejauh itu! " ralat papa Oscar.
__ADS_1
"Iya pa! " jawab Len sambil menatap jam di tangannya yang ternyata sudah hampir jam makan siang kantor. " sepertinya aku harus pulang dan kembali ke kantor sekarang pa, setelah jam makan siang aku ada pertemuan penting! " ucap Len berniat pamit yang di hentikan gadisnya yang sedari tadi sibuk di dapur dengan mamanya.
"Tidak, sebelum makan siang dulu! " ucap Anya pada Len dan beralih pada sang papa. " makan siang sudah siap pa! " ucap Anya yang di angguki papa Oscar
"Makan siang dulu, baru kembali ke kantor! " ajak papa Oscar pada calon menantu.
Len yang di hadapkan dengan ucapan papa Oscar tak akan bisa menolak walau waktunya mepet sekalipun, melangkah kakinya beriringan dengan pria yang satu satunya membuatnya segan di dunia ini, padahal kau dia sudah berulah tak akan memandang usia sedikitpun.
Dengan begitu banyak menu di meja makan, Len mulai mencicipi satu persatu sambil sesekali menatap anaknya yang begitu nyaman dengan keluarga ibu tirinya, apa lagi dengan papa Oscar dan mama Rosa yang selalu menganggap Dante cucunya tanpa memandang dimana dia berasal membuat aura kasih sayang mereka juga Len rasakan tanpa ia ikut mengalaminya.
Haru dan bahagia yang tak ternilai selalu diam-diam Len rasakan jika bersama keluarga kecil itu, Len sangat-sangat bersyukur bisa ikut masuk menjadi bagian dari keluarga kecil di depannya, dan menjadi bagian dari mereka adalah balasan yang sangat layak untuknya setelah beberapa kali mendapatkan ujian bertubi-tubi.
Selesai dengan makan siang masing-masing orang di meja makan, len lebih dulu berpamitan karena memang ada pekerjaan penting setelah ini.
"Dante ikut pulang daddy? " tanya Len karena sempat mendapatkan gelengan kepala saat Len menatapnya barusan.
"Tidak mau, aku mau di sini! " ucap Dante dengan menundukkan kepalanya seolah menutupi kesedihannya.
"Biarkan dia di sini saja! " ucap mama Rosa pada calon menantunya.
"Tidak bisa ma, dia tak bawa baju ganti! " ucap Len yang sebenarnya tak mau di tinggal sendiri di rumahnya oleh dua orang yang ia cintai, walau sering adu mulut dengan putranya.
"A.. aku masih betah di sini! " ucap Dante terdengar sedikit bergetar dengan masih menundukkan kepalanya.
"Kau seperti orang miskin saja!! tinggal perintahkan orangmu untuk membawakan baju untuk cucuku, kalau perlu aku yang akan belikan! " ucap papa Oscar yang tentu saja tak bisa Len bantah
"Ck, kau licik sekali untuk mendapatkan kasih sayang dari keluarga ini!! kau seperti bukan dante yang biasanya mengajakku berdebat, dan sialnya kau adalah putraku, aku jadi takut sifat manipulatif mamamu menurun padamu!!! " batin Len menatap anaknya yang seolah jadi anak yang lemah itu.
Sedangkan Anya yang sedikit banyak tau dengan sifat Dante tak terlalu memusingkan itu selagi tak merugikan orang lain, yang tanpa ia sadari bapak kandung dari putranya sendiri yang merasa di rugikan.
"Kenapa? jika tak mau memerintahkan orangmu untuk mengantarkan baju cucuku, aku akan membelikannya saja!! aku bukan orang miskin yang masih harus berfikir untuk sebuah baju saja! " ucap papa Oscar menyindir keterdiaman Len.
"Ti.. tidak pa!! biar anak buahku mengirimkannya nanti, tak perlu beli-beli! " ucap Len gelagapan meluruskan kesalahpahaman papa Oscar.
__ADS_1
"Baguslah kalau begitu! " jawab papa Oscar.
"Baiklah, aku pamit dulu pa ma, dan titip putra cengeng ku itu! " ucap Len sedikit menyindir pria kecil yang malah tersenyum padanya.
"Ya, Hati-hati Len! " ucap mama Rosa yang di angguki Len.
Len keluar dari kediaman mertuanya itu dengan di temani sang tunangan, yang tadi ia dengan sengaja tak berpamitan dengan Anya karena tau sang gadis akan menemaninya sampai di depan pintu masuk rumah.
"Aku kerja dulu, baik-baik dirumah ini hm?? " ucap Len di angguki Anya dengan mereka yang saling berhadapan. " jangan lupa besok untuk fitting gaun pernikahan kita! " ucap Len yang di angguki Anya lagi dengan senyum bahagianya. " Dan kabari aku kalau putra kita itu nakal tanpa aku di sini! " lanjutnya.
"Tidak, dia tak akan nakal jika denganku, beda halnya saat bersamamu!! " ucap Anya membela sang putra.
"Aku selalu lupa kalau kalian adalah Sekutu! " kata Len membuat Anya tertawa kecil. " Sebelum aku kerja, berikan aku energi dulu! " ucap Len dengan memonyongkan bibirnya.
Cup, cup, cup.
"Sudah!! " ucap Anya setelah memberikan ciuman di bibir tebal Len.
"Terima kasih baby! aku pergi dulu!! " ucap Len yang tak lupa mencium kening gadisnya sebelum pergi dari sana.
Anya hanya menatap kepergian calon suaminya dengan tersenyum hangat sesekali melambaikan tangannya ke arah mobil yang berjalan menjauh dari kediamannya, Setelah mobil yang di tumpangi Len tak terlihat lagi, Anya kembali masuk ke dalam rumahnya, bergabung dengan keluarga kecilnya yang sempat terpisah sebelumnya.
.
.
.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...----------------...
__ADS_1