Cinta Pria Kejam

Cinta Pria Kejam
Keresahan Len


__ADS_3

Di kediaman Becker, Len dengan setia mendengarkan perdebatan ayah di sambung video call yang di sembunyikan, sesekali terdengar suara seorang wanita yang Len yakini adalah mama Anya.


Len kembali mendengarkan kata demi kata yang terlontarkan papa Anya di dalam ponselnya. "Kenapa Anya melakukan hal seperti itu? " kata Len demam hati, bingung sedikit ada raut kekecewaan di wajah Len.


Terdengar suara bentakan di akhir perkataan papa Anya yang membuat Len menatap tajam ponselnya yang hanya berwarna hitam itu. "Kenapa harus membentak baby ku, " kata Len dalam hati, yang marah. "Apa separah itu yang kamu lakukan baby. " kata Len dalam hati, mendengar kata-kata kekecewaan papa Anya.


Setelah mendengarkan bentakan, Len mendengar perkataan Anya yang menyayat hati, dengan suara pelan dibarengi tangisan kecil Anya, membuat Len tertegun.


"Kau menangis baby". kata Len yang pastinya tak terdengar di sebrang sana. Kata-kata Anya yang juga penuh kekecewaan pada papanya itu membuat Len terdiam ikut merasakan sakit yang di rasakan gadis kecilnya.


" Jadi kamu korban di sini baby, " kata Len dengan rasa bersalahnya. "Maafkan aku , yang sempat meragukan mu baby. " Kata Len dalam hati, yang ikut merasakan kekecewaan papa Anya tanpa tau alasan di balik tindakan yang Anya lakukan.


Len terus mendengarkan perdebatan hingga suara pintu Anya tertutup, seketika menjadi hening yang Len dengar. Dan tiba-tiba suara tangisan Anya kembali terdengar yang sangat dekat. Tapi yang Len lihat hanya warna hitam yang sama dan tak bergerak sama sekali.


"Baby, baby sayang. " kata Len lembut yang tidak ada jawaban dari Anya. Lagi-lagi hanya tangisan yang Len dengar. "Apa dia lupa dengan sambungan videonya. " kata Len dalam hati.


Len terus menunggu berharap Anya ingat bahwa Len menunggunya di sambungan video mereka, menanyakan keadaan gadis kecilnya yang sebenarnya, menghiburnya, hingga mengembalikan senyum indah di bibir manis milik gadis kecil itu.


Semua itu hanya tinggal harapan bagi Len , karena suara tangisan Anya tadi, berubah menjadi dengkuran halus yang masih terdengar di sambungan video mereka.


"Kau tidur baby, " kata Len yang menaruh ponselnya di samping tempat dia rebahan telentang di ranjang mewahnya. "Apa kamu juga akan marah dan kecewa, jika kamu tau aku juga sempat meragukan mu tadi baby! " kata Len sambil melihat langit langit kamarnya.


Len memiringkan badannya menghadap ponsel yang iya taruh di sampingnya tadi, mengambil dan melihat layar yang masih berwarna hitam, mengusap pelan layar ponselnya , lalu mematikan panggilan videonya.


"Apa kamu baik-baik saya baby, " Kata Len setelah mematikan panggilan video dan kembali ke posisi telentang. "ck, sudah pasti tidak baik-baik saja bodoh. " kata Len pada dirinya sendiri. "Kenapa kau jadi bodoh, kau sangat bodoh, sampai sampai meragukan gadis mu bodoh. " kata len lagi pada dirinya, merutuki kebodohannya yang kembali mengingat wajah polos gadis kecilnya.

__ADS_1


Memikirkan gadis kecilnya, membuat Len mengingat sesuatu, dan langsung mengubungi sekertaris Norbert yang sekaligus seorang hacker handal.


"Bagaimana pencarian mu? " tanya Len di sambungan telpon.


"Masih sama tuan, saya mencurigai seseorang, hanya satu orang yang bisa melampaui kemapuan hacker saya tuan, pasti ada paham siapa orang yang saya maksud, " kata Norbert di dalam telpon, yang membuat dia tertegun. "Dan sepertinya beliau belum tau kalau itu perbuatan kita. Kata Norbert lagi


Len baru ingat dengan suara papa Anya yang tak asing baginya, dan dengan apa yang di katakan Norbert. Memberikan bukti cukup kuat siapa orang kuat yang menutupi identitas keluarga gadis kecilnya itu.


"Benarkah! " kata Len yang masih mencoba menyangkal fakta baru yang dia dapat.


Len mulai di ingatkan kembali di mana restoran A tempat Anya bekerja. Keanehan kembali Len ingat saat Anya bekerja setelah pulang sekolah dan pulang jam 6 sore, yang tentunya belum waktunya para karyawan pulang. Barang-barang dengan marek merek besar yang Anya pakai saat itu. Membaut Len yakin kalau Anya bukanlah karyawan di tempat itu.


"Kenapa aku sebodoh itu selama ini. " Kata Len dalam hati.


"Jangan teriak-teriak sialan. Aku masih bisa mendengar. " kata Len dengan marah, telah selesai dengan lamunannya.


"Maaf tuan, anda hanya diam saja dari tadi, apa masih ada yang di tanyakan tuan? " Tanya Norbert pada sang tuan.


"Tidak." kata Len singkat, tanpa berterimakasih Len mematikan sambungan telpon mereka.


"Benarkah itu baby, jika benar, apakah aku harus melepaskan mu baby? " kata Len yang mulai bimbang itu, " Kau kah bayi kecil yang baru bisa merangkak itu baby. " Pikiran Len kembali melayang pada saat Anya kecil. " jika benar, aku harus bagaimana. " kata Len dengan raut sedihnya.


Tiba-tiba Len kembali sadar dengan masalah yang gadis kecilnya akan hadapi nanti. "Siapa yang berani-beraninya mengusik mu baby, " gumam Len sendiri. " Entah aku biasa mendapatkan mu atau tidak nanti, tapi aku tidak akan membiarkanmu di lukai oleh siapapun." gumam Len lagi


"SMA Tunas Bangsa. Ya, kau pernah mengatakan sekolahmu baby. " kata Len dalam hati, mengingat percakapannya dengan Anya saat bertemu yang kedua kalinya.

__ADS_1


Dengan cepat Len kembali mengambil ponselnya yang dia taruh di laci samping ranjang, dan menelpon asisten Noberto.


"Beli Sma Tunas Bangsa malam ini, besok semua harus selesai. " kata Len saat sambungan telponnya sudah di angkat oleh asisten Noberto.


"Maaf tuan, apa yang sebenarnya sedang terjadi? " tanya asisten Noberto di sebrang sana, yang bingung dengan perintah aneh tuannya.


"Gadisku bersekolah di sana, dan dia dalam masalah sekarang. " terang Len, yang tau kebingungan asistennya itu.


"Kita bisa menyelesaikannya tanpa membeli Sekolah itu tuan. " kata asisten Noberto yang frustasi, menjadikan ia saksi kegilaan tuannya karena jatuh cinta kembali.


"Tidak, aku mau memberikan kenyamanan untuk gadisku, aku tidak mau kejadian yang di alami gadis ku terulang lagi, lakukan sekarang! " perintah Len tak terbantahkan.


"Tapi ini sudah tengah malam tuan. " kata asisten Noberto dengan suara memelas nya.


"Aku tidak mau tau, " kata Len lagi- lagi tidak bisa di bantah. "kau MENJIJIKKAN! " kata Len di akhir, yang memang jijik mendengar suara asisten Noberto yang sedikit bernada tadi. Dan dengan cepat mematikan sambungan telponnya, sebelum asistennya itu memprotes tindakannya di waktu istirahat seperti sekarang.


"Aku tidak akan membiarkan mereka yang mengganggumu hidup dengan tenang baby, aku akan membuat mereka menyesal menyeret mu dalam masalah baby, aku pastikan itu! " gumam Len dengan menyeringai menyeramkan.


Lalu Len melangkahkan kakinya ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dan berganti pakaian sebelum ia benar-benar akan tidur setelah seharian bekerja.


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2