
Pagi menjelang, Len dan Anya di sibukkan dengan kegiatan masing- masing. Len yang bersiap untuk kantornya dan Anya yang bersiap untuk kuliah paginya.
Len dengan setelan jas tapinya, dan Anya dengan setelan casual nya khas anak kuliah, hanya saja Anya akan terlihat sangat cantik memakai apapun bahkan masih terlihat montok memakan apapun.
Di umurnya yang masih 18 tahun, ia masih dalam masa pertumbuhan, tumbuh lebih di beberapa bagian sebenarnya.
Ceklek, ceklek. Dua suara pintu terbuka hampir bersamaan, keluarlah dua anak manusia dengan beda jenis itu, yang satu tersenyum hangat dan yang satu terlihat cuek saja.
"Pagi baby! " sapa Len dengan senyum hangatnya.
Ia bisa bertemu gadis kecilnya kapanpun ia mau, meski sikat gadisnya tak se hangat seperti dulu, dia akan berjuang bukan, ada rasa penyesalan tak mau berjuang dari awal saat kesempatan itu terbuka sangatlah lebar, tapi karena sifat pengecut nya menimbulkan masalah sekarang.
"Kau sudah siap? " tanya Len yang sapa Anya tak di jawab tadi.
"Menurutmu! " kata Anya yang tak ada lembut- lembutnya.
Anya mulai berjalan semakin dekat ke arah Len, tujuannya adalah lift, karena memang harus melewati pintu kamar Len, terus berjalan sampai melewati Len yang masih berdiri di depan pintu kamarnya dengan menatapnya penuh puja.
"Kamu cantik sekali baby! " kata Len yang juga mengikuti langkah Anya saat melewatinya tadi, dan lagi tak ada jawaban dari sang gadis.
Saat keduanya masuk ke dalam lift, Len mulai menyadari sesuatu.
"Tunggu! Kenapa ke kampus harus secantik ini!! tidak!! tidak, ganti pakaianmu! " kata Len protes.
Anya mulai memandangi cara berpakaiannya, tapi tak ada yang salah dengannya, bahkan tak mencolok, malah terkesan sederhana, tertutup juga pasti.
"Tidak ada yang salah dengan penampilanku!! jangan ngarang!!" kata Anya.
Len mulai menelisik penampilan Anya yang memang sederhana meski body wow nya masih terlihat, tapi ia masih bingung kenapa terlihat sangatlah cantik dan bukan soal baju.
Mata Len mulai naik ke atas, menatap wajah dengan make up tipis itu, sangat lah cantik.
"Hapus make up mu!! jangan cantik-cantik!! lipstikmu juga!! hapus-hapus!! " kata Len penuh keposesifan, membuat Anya geram melihatnya.
Hari masih pagi, sudah di ributkan hal-hal yang tidak masuk akan menurut Anya, ia tak pernah berlebihan dalam hal apapun, tapi kenapa pria kejam ini berlebihan sekali.
"Apa sih!! " kata Anya dengan wajah juteknya.
"Hapus gak?? " kata Len sambil menangkup wajah kecil Anya dengan kedua tangan besarnya.
******* bibir pink mengkilap milik Anya, agak tak terlalu menggoda dan terlalu pink, menghapus yang menurutnya lipstik berlebihan.
Sedangkan Anya yang belum siap harus menerima cium panas itu di pagi hari, ia terus meronta ronta di sela-sela hisapan Len.
__ADS_1
Suara engahan napas Len terdengar saat ciumannya terlepas, tapi tidak untuk Anya, Anya menatap Len dengan tajam dengan satu tangan terkepal di bawah, memukul bahu pria itu cukup keras.
"Akhhh sakit baby! " keluh Len yang sebenarnya tak sakit di tubuh kerasnya.
Tanpa menoleh ke belakang, Anya meninggalkan Len saat pintu lift sudah terbuka. Ia marah, kenapa pria kejam itu selalu seenaknya menciumnya, bodohnya ia terkadang juga menikmatinya.
"Aku benci perasaan ini! " kata Anya dalam hati.
Anya duduk di kursi meja makan yang sudah ada Norbert dan Noberto di sana, dengan sisi kanan meja makan yang di biarkan kosong oleh mereka, Anya tak ambil pusing untuk itu.
"Pagi kak bear!! pagi kak bird! " sapa Anya dengan senyuman.
"Pagi nona! " jawab mereka serempak.
"Kenapa ada selalu cantik nona! kapan jeleknya? " puji Norbert yang hanya berani dalam hati
Anya duduk dan mulai memikirkan perut laparnya sekarang, di susul Len yang saat ini duduk di meja kebesarannya.
"Kenapa malah semakin merah bibirnya!! Tuhan, aku ini lagi!! " kata Len yang menatap bibir Anya yang ia ***** tadi.
Bukannya menghilangkan warna pink yang di kira lipstik tadi, lumayan Len malah membuat bibir ranum Anya memerah.
Lamunan itu buyar saat sisi pelayan yang selalu melayaninya saat makan mulai melakukan tugasnya, sedangkan Anya tak peduli akan itu.
Anya akan melakukan apapun jika ia mampu, termasuk mengambil makanannya sediri, Anya mulai makan tanpa bersuara sedikitpun.
Sisi ingin menunjukkan interaksinya dengan Len pada Anya, rival yang bertemu kembali setelah 6 bulan yang lalu, terus mengoceh dengan sopan tanpa ada niat Len menghentikannya.
"Apa pelayan mu tak di ajarkan adab saat makan tuan becker! " kata Anya marah untuk pertama kali berbicara saat makan.
Anya tak suka acara makannya terganggu dengan ocehan tak berhenti dari tadi.
Pria kembar yang sedari tadi diam sekarang menatap sumber suara yang di penuhi kemarahan di ikuti Len.
"Kalau marah seram juga ternyata! " ucap Norbert dalam hati. Saudara kembar itu tak ingin ikut campur hal pribadi tuanya, memilih melanjutkan makan mereka seolah tak terjadi apapun.
Sedangkan Len baru ingat gadis kecilnya di ajarkan tak ada percakapan saat makan, gadisnya pasti terganggu saat ini, kenapa ia sampai lupa, Len bisa melihat wajah Anya yang melanjutkan makannya dengan mood yang buruk.
"Pergi sekarang! " usir Len pada sisi yang masih berdiri di sana.
"Tapi bukannya setiap hari saya melakukan hal ini tuan! Agar ada tak kesepian saat makan. " kata sisi yang menunjukkan jika ia pelayan istimewa di sini pada sang rival yang bahkan tak peduli sekarang.
"Sekarang sudah tidak, tak ada pembicaraan di meja makan!! dan ini berlaku untuk siapapun! " kata Len tegas.
__ADS_1
"Baik tuan! " kata pelayan yang ada di sekitar meja makan, termasuk pria kembar yang ikut makan sekarang.
"Bukannya ada bilang kesepian saat makan tuan!! bisa di pikirkan kembali perkataan ada tuan!! " kata sisi ngeyel. "Sialan kau gadis kecil! " umpat sisi dalam hati.
"Kau menentang perkataan... "
Brakkk
Ucapan Len terhenti saat mendengar suara sendok garpu di taruh dengan cukup keras.
"Saya selesai!! permisi!! " kata Anya dengan suara super dingin.
Beranjak dari duduknya yang membuat perhatian semua orang tertuju padanya.
"Tidak baby, selesaikan makananmu! " kata Len dengan tegas saat melihat makanan Anya yang belum habis, sambil memenangi tangan kecil Anya agar tidak pergi.
"Maaf, perut saya sudah kenyang mendengar ocehan kalian tuan! " sarkas Anya.
Menarik lengan tangannya yang di tahan Len cukup kuat hingga memberikan rasa sakit yang membekas, dan berlalu pergi.
"Berhenti baby, berhenti kataku! " kata Len tegas tapi tak di dengarkan Anya, " Aku tunggu di mobil! " kata Len pada dua pria kembar itu, sebelum menyusul Anya.
Padahal Len baru menyuapi beberapa sendok makan yang pada akhirnya ia tinggalkan saat ini.
"Ke mobil sekarang!" kata Len yang sudah menangkap pergelangan tangan Anya yang sakit saat ini. Menariknya cukup kuat untuk menggiring Anya menuju mobil yang akan mereka tumpangi.
Anya tak bisa menolak karena sibuk dengan rasa sakitnya sekarang, jika melawan pergelangannya akan terasa semakin sakit.
"Masuk! " kata Len yang sudah membukakan pintu belakang jok mobil.
Tanpa ada penolakan Anya masuk yang di ikuti Len dari belakangnya.
"Kenapa? " kata Len sambil menetralkan kemarahannya, menatap Anya yang sedang menyembunyikan sakitnya, tapi hal itu tak bisa mengecoh seorang mafia kelas kakap seperti Len.
.
.
.
Lanjut
...****************...
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...----------------...