
Di kamar yang bernuansa pink, Bastian yang tadi di panggil ke rumah papa Oscar mulai mengobati luka yang Anya dapatkan, untuk kali ini tak ada kecemasan di diri Anya saat berdekatan Bastian, yang mungkin ia merasa kenal dan bukan orang yang perlu di waspadai.
Luka di kepala atas Anya tak terlalu parah di banding di pelipisnya yang harus menerima beberapa jahitan, di akhiri berban kecil menutupi luka agar tak terinfeksi udara luar.
"Mom! " ucap Dante orang yang pertama kali mendekat dan memeluk mamanya setelah mendapatkan penanganan barusan.
"Mommy tak apa! " kata Anya yang tau kekhawatiran anak sambungnya itu, memberikan ruang sedikit untuk sang anak berbaring di sebelahnya.
"Aku akan tuliskan resep untuk penyembuhan lukanya, untuk perban ganti satu hari sekali, dan lukanya jangan sampai terkena air untuk dua hari ini termasuk yang di kepala! " ucap Bastian bersamaan dengan menuliskan resep di kertas kecil.
"Ya, Terima kasih! " ucapan langka dari Len.
"Hah? " melongo Bastian, tapi saat melihat situasi di mana ia berdiri, ia kembali menetralkan ekspresi kagetnya. " Sama-sama! " ralatnya, sembari memberikan kertas kecil tadi pada pria yang memberikannya jekpot barusan.
"Baiklah, saya permisi dulu tuan nyonya! " pamit Bastian setelah tugasnya selesai. " Bye Dante!" tak lupa pada Dante. " cepat sembuh sebelum hari pernikahanmu! " dan juga pamit pada Anya.
"Ya, Terima kasih bas, Hati-hati di jalan! " ucap mama Rosa tersenyum hangat.
"Aku mengantarkan Bastian dulu pa ma! " pamit Len juga di angguki kedua calon mertuanya itu.
Setelah kepergia Len dan Bastian, tinggal papa Oscar, mama Rosa, Dante, dan Anya di kamar itu, tapi mama Rosa memperlihatkan wajah seriusnya pada sang anak dan suaminya bergantian, karena memang belum ada yang menjelaskan apa yang terjadi pada Anya sedari tadi.
Anya yang juga bingung harus menjelaskannya seperti apa, apalagi ada Dante yang tak mungkin Anya menjelaskan, walau anak kecil itu sudah menunjukkan kedewasaannya, tapi tetap saja tak baik peristiwa buruk itu di dengar oleh anak se umuran Dante.
"Pa! " ucap Anya memberikan kode pada papa Oscar untuk menjelaskan di luar, dengan mata menujuk ke arah pintu keluar.
"Mama temani papa kedapur! " ucapnya menarik sang istri tanpa menunggu jawaban dari mama Rosa, yang tentunya mama Rosa paham dengan maksud sang suami.
Tinggal Dante dan Anya di dalam kamar itu, memeluk tubuh kecil putra sambungnya yang sedari tadi masih menatapnya dengan wajah sedihnya.
Dante tau mommy nya tak akan mengatakan apa yang sebenarnya terjadi apa lagi grandma dan grandpa nya, tapi baginya tak masalah selagi masih ada daddynya yang pasti akan menjawab jujur semua pertanyaannya.
Anak laki-laki yang dewasa sebelum waktunya itu juga memahami maksud mommynya tak mengatakan apa yang terjadi pada dirinya, yang ia tahu semua demi kebaikannya sendiri, walau ia ingin protes merasa sudah besar untuk tau, tapi hal itu ia tahan dan memilih menemani mommy nya yang masih terluka itu.
__ADS_1
"Dante ganti baju dulu sayang! " perintah Anya yang baru sadar sang putra masih memakai seragam sekolahnya, tapi malah mendapatkan jawaban celengan kepala kecilnya. " kenapa hm? " tanya lembutnya menatap putranya yang rebahan di sampingnya.
"Daddy tak becus menjaga mommy kan? " tanya Dante tak terduga yang malah menyalahkan daddy nya .
"Itu sangat tidak benar, malah kalau tidak ada daddy, mommy tak akan pulang sekarang! " jawab Anya dengan kelembutannya.
"Tetap saja mommy terluka sekarang, karena daddy yang sebagai pelindung tak becus melindungi ! " kata Dante yang masih menyalahkan daddy nya.
"Hei, kenapa aku yang di salahkan?? semua di laut kendali ku ya!! " ucap Len yang baru datang sudah mendengar ucapan yang menyudutkan nya.
Dengan langkah cepat ia mendekat pada dua manusia yang sangat ia cintai, dan ikut berbaring di sisi kosong di sebelah Anya, sembari menatap tajam sang putra yang juga menatap marah padanya.
"Jika kau tak bisa menjaganya dan malah membuatnya terluka, jangan nikahi dia!! " marah Dante yang semakin tak terduga.
Dengan Anya yang melotot kan matanya kaget dengan ucapan putra sambungnya, yang terdengar sangat peduli, sangking pedulinya Dante tak menginginkan ia menikah dengan orang yang menurut Dante tak bisa menjaganya, yang notabennya adalah pria yang sangat ia cintai.
"Mana bisa!! " tak Terima Len, dan mengeluarkan ponselnya menunjukkan satu foto pada sang anak. " Kau tau dia? " tanya Len yang memang menebak sang anak tau foto pria ponselnya.
"Dia pernah menyakitimu? " tanya Len dengan serius.
"Tidak! tapi uncle tyga tak pernah peduli dan menganggap keberadaanku! " jujur Dante.
"Tapi dia yang menyakiti mommy mu! dan berniat membawanya pergi dari kita! " ucap Len pada sang anak.
"Daddy! " cegah Anya untuk tak menceritakan penculikan nya di usia putranya sekarang.
Dante yang tau itu langsung memandang kearah mommy nya sesaat dan kembali memandang daddy nya.
"Karena mama? " tanya Dante pandangan takutnya, ia tak ingin wanita yang melahirkannya menyakiti ibu sambungnya, yang bagaimanapun ia mencintai keduanya.
"Bukan! karena mommy mu terlalu cantik, membuat pria-pria di luar sana tak tahan untuk menculiknya, termasuk kekasih mama mu ini! " terang Len.
"Ya, mommy begitu cantik, tapi kenapa mau dengan pria tua seperti daddy! " kata Dante yang sedikit bercanda sembari mengangungkan kecantikan ibu sambungnya.
__ADS_1
"daddy bukan tua, tapi matang! dan aku juga masih pantas bersanding dengan mommy mu. " jawab Len yang tak mau mengalah.
"Tapi apa ada keterlibatan mama di penculikan ini? " tanya Dante yang memastikan.
"Tidak, mama mu sudah tak bersama Pria jahat itu, mamamu memilih pergi dari negara ini! " ucap Len tanpa sadar membongkar rahasianya sendiri walau tak semuanya.
"Huuufftttt!!! syukurlah! " ucap Dante lega, walau di hatinya terbesit kesedihan ibu kandungnya pergi tanpa mengatakan apapun pada dirinya.
"Duh, mulut sialan tak bisa di rem!! " batin Len baru menyadari ucapannya.
Sedangkan Anya mengernyitkan dahinya mendengar ucapan Len yang sangat tau tentang mantannya itu, membuat hatinya sedikit tersentil merasakan Len yang masih peduli dengan tau semua yang di lakukan mantannya.
"Mommy ngantuk! mau tidur dengan mommy hm? " tanya Anya yang di angguki kecil sang putra.
Tanpa mempedulikan pria yang sedari tadi diam setelah mengucapkan kata yang menyentil hatinya, Anya mulai menutup matanya dengan tidur memeluk Dante dan memunggungi calon suaminya.
Mungkin insting seorang wanita benar adanya, dengan Anya yang merasa Len masih banyak menyembunyikan sesuatu darinya, membuat hati kecilnya sedikit resah dengan segala pikirannya.
Sama halnya dengan Len, yang gelisah dengan ucapan keceplosan tadi, apa lagi Anya yang memilih tak mempedulikannya membuat semakin tak nyaman juga di hatinya, walau begitu Len juga mencoba menutup matanya untuk tidur, meski tak di ajak tadi, dengan tangannya yang panjang memeluk kedua orang yang ia cintai yang juga saling berpelukan.
"I love you!! jangan khawatirkan apapun! karena hati dan pikiran ini hanya untukmu! " bisik len di telinga Anya sebelum benar-benar ikut tidur.
.
.
.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...----------------...
__ADS_1