Cinta Pria Kejam

Cinta Pria Kejam
Cinta Yang Sangat Besar


__ADS_3

"Hehehehee!! kau juga mau ikut mati bersamaku hm?? " ucap Senta tersenyum lebar tapi dengan mata yang menyiratkan kesedihan.


"Ya, apapun jika bersamamu!! " jawab Carl dengan menatap wanita yang sangat menyedihkan di depannya.


"Heheheee!!! " tawa sumbang Senta sembari mengarahkan ujung kaca di tangannya tepat ke arah dada Carl, hanya tinggal menekan benda tajam itu Carl pasti akan terluka, hanya saja senta seolah tak mampu untuk melakukannya. " Hiks, hiks!!!! tidak bisa!!! " ucapnya sembari Menggeleng-gelengkan kepalanya, hatinya tak akan pernah bisa mampu untuk melukai pria yang ia cintai, walau sudah banyak sakit yang dia torehkan.


"Kenapa tidak bisa!!! lakukan seperti ini!!! " ucap Carl yang memang sedari tadi memegang pergelangan tangan Senta mulai menekan ke arah dadanya sendiri seperti yang di mau kekasih tercintanya tadi.


"Ti.. tidak!!! hiks, hiks!!!! " ucap Senta benar-benar tak bisa membuat kekasihnya terluka, dengan penuh tenaga ia menahan tangannya yang menggenggam kaca tak melukai dada Carl, yang malah berakibat tangannya sendiri yang terluka karena terlalu erat menggenggam pecahan kaca itu.


Hati Carl semakin kesal saat melihat luka baru Senta yang pastinya mengeluarkan darah, tekanan di tangan Senta seketika memudar untuk tak membuatnya semakin terluka.


"Buang kacanya kalau tak mau aku terluka!! apa tak cukup luka di punggung tanganmu?? buang sekarang juga!!! " perintah Carl dengan tegas dan rasa kesal melihat darah di tangan Senta yang terus mengalir, dari punggung tangan dan luka bru di telapak tangannya.


Tapi Senta hanya diam semakin menggenggam pecahan kaca yang juga semakin dalam melukainya.


"Tidak terlalu sakit!!! lebih sangat sakit hati ini ternyata!!!! " ucap Senta menatap kaca yang semakin dalam melukai telapak tangannya, rasa sakit hati, kecewanya, dan hancur akan hidupnya membuatnya mati rasa akan luka yang baru ia rasakan saat ini.


"Buang atau aku juga akan melukai diriku sendiri!!! " ucap Carl mengancam dengan tatapan marahnya, berniat merebut pecahan kaca di tangan Senta yang pastinya nanti akan juga melukai tangannya sendiri, sebenarnya ia tak keberatan jika harus terluka juga, tapi rasa ragu Senta tadi yang tak ingin melukainya membuatnya tau seberapa besar cinta Senta untuknya, dan semakin ingin tau sebesar apa lagi cinta wanita di depannya dengan mendengarkan atau tidak ucapannya.


"Tidak, Kau akan terluka nanti!! " ucap Senta membuang asal pecahan kaca yang berlumuran darahnya, agar Carl tak terluka dengan benda tajam itu.


Melihat itu Carl langsung memeluk tubuh rapuh kekasihnya, memberikan kenyamanan, kekuatan yang sebisa mungkin ia berikan, dengan tangisan Senta yang semakin pecah.


"Jangan seperti ini lagi sayang!!! berkali-kali sudah ku katakan kalau aku sangatlah mencintaimu dan akan bertanggung jawab dengan apa yang terjadi saat ini!! aku mohon jangan tinggalkan aku, aku tau kau sangat-sangat mencintaiku, aku tau itu!!! maaf, maafkan aku membuatmu harus merasakan hal seperti ini!! maaf!! " ucap Carl dengan erat memeluk tubuh kekasih yang sangat ia cintai itu.

__ADS_1


Tapi tak lama tubuh ringkih Senta berlahan melemas di pelukan Carl yang ternyata Senta tak sadarkan diri, yang tentu saja hal itu membuat Carl panik, apa lagi darah di tangan Senta yang semakin mengalir.


Dengan pakaian seadanya begitu juga Senta, Carl berjalan keluar rumah Senta untuk cepat membawanya ke rumah sakit.


Mobil yang di tumpangi Senta dan Carl melaju dengan kecepatan tinggi dengan sesekali Carl menatap kearah jok samping tempat Senta tak sadarkan diri.


"Semua akan baik-baik saja!!! semua akan baik-baik saja!!! " sepanjang jalan Carl selalu menyakinkan dirinya akan hal itu, ia merasa sangat takut harus di tinggalkan wanita di sampingnya dalam bentuk apapun.


Hingga dalam waktu yang cukup singkat, Carl sampai ke rumah sakit yang ia tuju, lalu menggendong Senta menuju ruang UGD dengan wajah paniknya.


Dari kejauhan, Bastian melihat orang yang ia kenal begitu panik dengan membawa wanita yang berlumuran darah itu , segara menghampirinya ruang UGD yang di masuki Carl.


"Biar aku saja!!! " ucap Bastian pada dua suster yang akan mengobati Senta, yang tentu saja membuat semua orang menatap ke sumber suara itu tak terkecuali Carl yang masih dalam wajah paniknya.


Berlahan Bastian mendekat, memeriksa keadaan wanita yang sempat ia kenal dengan kekasih Carl di acara pernikahan Len kemarin-kemarin, sampai ia tau apa yang terjadi pada wanita yang berbaring dengan wajah pucat itu dari dalam tubuhnya, dan mulai membersihkan luka di luar tubuhnya.


"Tak ada luka serius!! dia dehidrasi ringan yang sepertinya terlalu banyak mengeluarkan air matanya dengan lambung yang kosong di tambah darah yang terus mengalir!!! dia juga memiliki riwayat penyakit lambung!!! " ucap Bastian yang sedikit membuat Carl lega.


Mendekatkan duduknya di sisi samping tangan Senta yang tak terluka karena Bastian masih melakukan tugasnya, mengusap pelan pucuk kepala kekasihnya itu dengan sayang, dengan raut wajah yang sangat sedih.


"Jangan biarkan lambungnya kosong lagi nanti!! " ucap Bastian sembari menjahit luka yang cukup dalam di telapak tangannya. " Aku dengar kebiasaan lamamu muncul kembali!! dia korban tak sengaja mu??? " tanya Bastian dengan sedikit menebak.


"Bukan!!" ucap Carl menjeda, bibirnya begitu berat untuk mengatakan kejadian yang seolah menghantam hatinya dengan batu besar. " Bunuh Diri!!? " jawab Carl dengan memejamkan matanya, saat ia mulai marah akan dirinya sendiri, karena kejadian yang ia ingat barusan itu terjadi karena perbuatannya.


"Bukan tanpa alasan kan?? " tanya Bastian yang sedikit mengorek apa yang terjadi pada wanita yang berbaring itu.

__ADS_1


"Karena aku!! aku memperkosanya!!! " jawab jujur Carl.


Seketika tangan Bastian terkepal mendengarnya, ia tau pria di depannya adalah player, tapi selagi suka dan sama sama mau bukanlah masalah, tapi pemerkosaan adalah sebuah paksaan dan ia juga yakin wanita yang berbaring itu adalah seorang gadis, dan dengan kata lain Carl merenggut paksa hal berharga yang di miliki wanita ini dan jalan terakhirnya ya itu mengakhiri hidupnya.


"Huuufffttttt!!! " Bastian mencoba mengontrol emosinya saat ia begitu dengan jelas melihat emosi Carl yang naik turun sendiri walau hanya mengucapkan apa yang terjadi. " Kau harus ke psikiater!! mau aku buatkan jadwal?? " tanya Bastian memberikan solusi.


"Nanti saja!!! " jawab Carl.


"Lakukan dengan cepat sebelum terlambat, dan nantinya secara tak sadar malah melukai orang-orang yang kau cintai, terutama dia!!! " Bastian menasehati.


"Biarkan aku berfikir sebentar dan fokus dengan penyembuhannya!!! " ucap Carl terus menatap wajah kekasihnya yang masih betah dalam tidurnya, apa lagi sempat di berikan bius untuk menjahit telapak tangannya.


"Ya, aku harap kau akan dengan cepat menghubungiku!! dia akan sadar 2 sampai 3 jam ke depan, jangan khawatir dia baik baik saja sekarang!! " ucap Bastian dengan menepuk bahu temannya untuk memberikan kekuatan. " aku tinggal mengurus pasien lain!!! " lanjutnya berpamitan yang di angguki Carl dengan pandangan masih pada kekasih hatinya.


.


.


.


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2