
"I hate you bajingan! Kenapa muncul lagi, huhuhuhuu!! Apa salah Anya!!!" rancau Anya saat sudah di kamar mandi. "Anya rindu daddy!!! hiks.. hiks.. Kenapa harus muncul di saat Anya mulai melepaskan semuanya?? kenapa!!! hikss... hikss. " Benci tapi rindu yang anya rasakan saat ini.
Sedangkan Len, hatinya teriris-iris mendengar semua rancauan Anya, begitu besar rasa cinta Anya untuknya bersamaan begitu besar rasa sakit yang ia torehkan.
Penyesalan? bolehkah Len menyesali tindakannya? di saat Anya mulai tak mengharapkannya.
"Ini yang terakhir baby. " Kata Len sedih dalam hati, dan masih berdiri di balik tembok kamar mandi yang Anya tempati.
Tak ada suara lagi dari balik kamar mandi, hanya suara gemericik air, yang tak lama pintu kamar mandi itu terbuka, memperlihatkan gadis cantik dengan mata dan hidung memerah khas orang baru menangis.
Dua anak manusia berbeda gender itu saling mematung menatap satu sama lain, yang tak lama Anya menurunkan pandangannya.
"Permisi tuan. " sopan Anya memilih tak mengenal orang di depannya. Berjalan santai tanpa mau menoleh.
"Anya! " Panggil Len yang sudah berbalik menatap punggung Anya yang sedang berjalan, hati yang sangat sakit mendengar gadis yang ia cintai menganggapnya orang asing.
"Anya?? bahkan panggilan itu sudah berubah pria kejam! " kata Anya dalam hati, dengan air mata yang kembali keluar.
"Baby! " Panggil Len sekali lagi, sambil mengejar langkah kecil anya.
Memeluk tubuh kecil Anya dari belakang, menenggelamkan kepala Len di leher gadisnya, membuat Anya tenggelam dalam dekapan pria kejam itu.
Saling tenggelam dalam kerinduan masing-masing, hingga isakan kecil terdengar.
"Kenapa? " tanya Anya di iringi isakan kecilnya.
Tak ada jawaban dari sang pria, membuat anya dengan paksa melepaskan pelukan mereka, tapi tak semudah yang Anya kira, tangan besar Len terlalu kuat untuk gadis seukuran Anya.
"Lepas!!!" kata Anya tak menyerah begitu saja, dengan keras Anya memukul tangan besar yang memeluknya dengan dua kepalan tangannya, hingga pelukan mereka terlepas.
"Kenapa?? Bukankah kau sangat bahagia saat ini? " kata Anya penuh penekanan dengan air mata yang terus mengalir.
Dengan Len menatap mata Anya yang penuh luka itu, mata yang dulunya menatap penuh cinta. Mata yang di penuhi binar kebahagiaan berubah penuh dengan air mata karenanya.
"Kau bahagia telah berhasil mempermainkan ku bukan??? kau berhasil tuan, kau sukses besar sekarang!! Kau sedang pamer sekarang tuan???" kata Anya dengan sangat marah.
"baby." kata Len pelan, hatinya juga sakit mendengar tuduhan Anya, apa lagi dengan tangis pilu gadis di depannya.
"Oh, apa skors kemarin juga ulahmu tuan, bukan kah kau juga pemilik sekolahan itu tuan Manfred Len Becker yang terhormat!! Semua sudah terencana dengan baik tentunya bukan. " kata Anya meluapkan kesakitan nya, memegang dadanya yang begitu sakit saat ini.
Len terus menggeleng dengan semua tuduhan Anya untuknya tanpa berani menjawab gadis di depannya yang sedang berusaha mengeluarkan unek-unek yang selama ini ia pendam.
"Bagaimana rasanya mempermainkan perasaan dan hidup orang? bahagia kah? seru kah? hm?? Jawab sialan!! " kata Anya yang berani mengumpat karena sudah di ujung kemarahan, mulai memukul pelan dadanya yang semakin nyeri, tapi bukan sebuah penyakit.
__ADS_1
"Baby, jangan seperti ini!! tolong jangan menyakiti dirimu sendiri. " kata Len panik dan menahan tangan Anya yang terus memukul dadanya.
Tapi tak berlangsung lama, saat Anya langsung menepis tangan besarnya.
"Maaf, maafkan aku baby. Ini.. ini akan menjadi yang terakhir kalinya, a.. aku akan pergi dari hidupmu!! a.. aku janji!! ma.. maafkan aku!! " kata Len dengan berat dan sakit di hatinya.
"Kenapa?? Kenapa harus pergi?? " kata Anya pelan, yang sebenarnya tak rela di tinggalkan.
"Karena... karena... " jawab len bingung. Apa ia harus menceritakan kisah cinta menyakitkan masa lalunya, ketakutannya hingga saat ini, dan sosok papa Anya di kehidupannya.
Len menggeleng pelan, ia tak ingin menambah rasa sakit yang Anya rasakan sekarang.
"Ka.. karena aku tidak bisa!! " alasan Len tak jelas karena bingung, Membuat Anya tersenyum getir dengan air mata terus mengalir.
Menyedihkan sekali kisah cintanya. Baru pertama kali merasakan jatuh cinta, ia langsung di campakkan dengan alasan tak jelas.
Len tiba-tiba memeluk lagi tubuh kecil Anya dari depan, menciumi pucuk kepala kecilnya, dengan Anya yang tak bergerak atau menolak sama sekali, karena terlalu lelah menangis di barengi lelah merasakan sakit hatinya.
"Maaf, aku ingin memelukmu untuk terakhir kalinya, " kata Len di sela-sela pelukannya, tapi Anya sama sekali tak merespon. "Terima kasih, a.. aku a.. akan pergi. " kata Len dengan berat setelah melepaskan pelukannya.
Berjalan pergi melewati Anya, tapi langkahnya terhenti saat sang gadis lagi-lagi mengatakan hal menyakitkan.
"Kenapa harus datang jika hanya untuk pergi? Kau pria yang sangat kejam tuan! " kata Anya dengan kepiluan nya.
"Hiks... hiks... hikss!!!" Tangis Anya semakin pilu, merosot kan tubuhnya hingga terduduk dilantai yang dingin. Memukuli dadanya yang sakit dengan pelan semakin lama semakin keras.
Tak di sangka-sangka, datanglah dua sahabat Anya yang sedari tadi mengkhawatirkan Anya saat ia berlari dengan keadaan menangis.
Rica dan Senta cepat-cepat berlari menghampiri sahabatnya yang terlihat memprihatinkan dengan menangis pilu terduduk dilantai.
"Anya." kata Rica dan Senta bersamaan dan merangkul sembari menenangkannya.
Meskipun penasaran dengan apa yang terjadi pada Anya , mereka tak akan bertanya dengan kondisi Anya yang terguncang saat ini.
Meredakan tangisan dan memulihkan kondisi Anya yang lebih utama, memberikan pelukan hangat dan puk-pukan pelan di punggung Anya meraka terus lakukan.
"Anya." kata mereka panik, saat merakan pelukan Anya melemas dengan wajah terpejam.
"Anya pingsan, cari bantuan siapapun!!! cepatt!!! " kata Senta pada Rica yang di angguki.
Rica berlari keluar koridor kamar mandi, mencari bantuan siapapun yang lewat.
Beruntungnya ada seorang dosen pengawas yang lewat saat ini.
__ADS_1
"Sir, tolong bantu saya, teman saya pingsan di sana. " kata Rica menghentikan dosen pengawas dan menunjuk tempat Anya pingsan.
Dosen pengawas yang tak lain adalah carl langsung mengangguk dan mengikuti langkah gadis di depannya.
"Vanya! " kata carl melihat dari kejauhan siapa yang tergeletak di Koridor kamar mandi.
Tanpa basa-basi carl berlari mendahului Rica dan mulai membopong tubuh kecil berisi Anya.
"Tunjukan ruang UKSnya. " kata carl pada kedua sahabat Anya.
Mereka berdua mengangguk, dan berjalan di depan carl yang membopong tubuh Anya.
"Kenapa samai bisa pingsan? " tanya carl panik, sambil terus berjalan.
"Kami tidak tau sir, Tiba-tiba kami melihat Anya sudah terduduk di lantai dengan menangis, kami tidak berani bertanya saat itu. " kata Rica mewakili.
"Apa ini ulahmu Len? jika iya, aku yang akan pertama kali memukulmu mewakili tuan Oscar!! " kata carl dalam hati , tak Terima putri tuan Oscar di sakiti sampai seperti ini.
Carl menaruh tubuh pingsan Anya ke brankas khusus pasien yang ada di UKS. Menatap gadis pingsan di depannya yang saat diperiksa petugas UKS.
"Apa Anya tidak apa-apa ?" Tanya bersamaan dua sahabat yang mengkhawatirkan anya.
Membuat carl tersenyum melihat persahabatan mereka. "Kau beruntung memiliki sahabat seperti mereka, memiliki tuan Oscar dan nyonya Rosa sebagai orang tuamu, mereka tak akan membiarkanmu sendiri dalam kesedihanmu, kau akan bahagia tanpa pria brengsek itu. " kata carl dalam hati, yang dapat menilai persahabatan mereka dengan mudah.
"Anya hanya kelelahan dan terlalu lama menangis, sepertinya dia sedang tidak baik- baik saja, hibur dia saat bangun nanti. " kata petugas UKS.
Kedua sahabat itu mengangguk, dan mulai menatap pria yang menolongnya tadi.
"Terima kasih sir. " kata Rica dengan sopan, yang di angguki carl.
Sedangkan Senta hanya diam saja. Malas berbicara karena baru patah hati.
"Cih, sombong sekali dia. " kata carl dalam hati melihat senta. "Jaga baik-baik teman kalian. " kata carl sebelum berlalu pergi.
.
.
.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
...----------------...