
2 bulan kemudian.
Hubungan Len dan Anya berjalan dengan sangat baik, walau ada beberapa perdebatan kecil di antara mereka, ada perubahan begitu besar dalam kehidupan Len selama ini yang lebih monoton, begitu banyak warna yang ia dapatkan di kehidupannya setelah bersama wanita ceria itu.
Yang biasanya ia hidup untuk bekerja dan bekerja untuk hidup, sekarang ia hidup untuk banyak hal dan bekerja untuk orang yang ia cintai, bahkan beberapa waktu belakangan ia memiliki tujuan untuk pulang, ada orang-orang yang ia cintai yang selalu menantikan kepulangannya, memberikan pelukan hangat penuh cinta seolah sebuah bayaran atas kerja kerasnya selama seharian bekerja.
Sama halnya dengan Dante, pria kecil yang akan menginjak usia 9 tahun itu mulai menunjukkan sifat aslinya yang tak jauh dari sifat daddy nya, sikap dingin pada orang baru, irit bicara, dan bicara savage nya semakin hari semakin terlihat jelas, tapi anehnya itu tak berlaku jika sudah di hadapkan oleh mommy tercintanya.
Baru-baru ini pria kecil itu di juluki beruang kutub di sekolahannya, karena sifat alaminya yang tanpa di sadari keluar dengan sendirinya, tapi tak ada hal serius yang di hadapi Dante selama di sekolah maupun di rumahnya, menjadi anak penurut dan pintar adalah tujuannya dari awal.
2 hari belakangan Len mendapatkan kabar kalau mertuanya akan pulang untuk cuti kerjanya, yang memang selama 2 bulan ini pekerjaannya di Indonesia belum juga selesai, sebenarnya Len sempat menawarkan diri untuk membantu agar cepat selesai, tapi papa Oscar selalu menolak dengan alasan ia masih bisa mengatasinya.
Selama kepulangan sementara mertuanya, Len memanfaatkan waktu itu untuk berniat menikahi Anya walau di awal rencananya akan menikahi Anya setelah urusan papa Oscar selesai, dan sepertinya pria itu sudah tak bisa menunda untuk lebih lama mempersunting gadisnya.
Hal itu tentu saja di sambut baik oleh orang tua Anya, tak ada kebahagian orang tua melebihi kebahagian sang anak saat di persunting orang yang tepat bagi nya dan sang anak sendiri.
Sedangkan Anya yang juga di sibukkan dengan kegiatan kuliahnya, tak mempermasalahkan niat baik pria yang ia cintai itu, apa lagi kegiatan malam mereka yang semakin hari Len semakin meminta hal aneh-aneh padanya, yang lebih bagus di lakukan saat mereka memiliki hak masing-masing.
Siang harinya Anya yang baru saja selesai dengan perkuliahannya terpaksa harus di hadapkan dengan Cody yang menghadang jalan pulangnya.
"Ada apa? " tanya Anya menatap Cody.
"Bantu aku di materi tadi! banyak bagian yang belum aku pahami! hari ini kau ada waktu? " tanya Cody.
Sebenarnya Anya tak pernah keberatan membantu teman kuliahnya jika itu tentang mata kuliah itu sendiri baik wanita mau pun pria, tanpa pikir panjang Anya memberikan waktu luangnya untuk membantu pria di depannya.
"Ada! apa yang ingin kamu tanyakan? " tanya Anya.
"Ya gak di sini juga cantik! gimana kalau di cafe depan kampus? " pinta Cody.
"Oke! " ucap Anya. " kita ketemu di sana! " ucap Anya yang memang membawa mobil masing-masing.
Sampai di cafe yang bernuansa anak kampus itu, Cody dan Anya memilih kursi kosong tak jauh dari pintu masuk.
"Mau minum apa? " tanya Cody. " aku yang teraktir! " lanjutnya sebagai ucapan terimakasih untuk waktu luang yang di berikan Anya.
__ADS_1
"Apfelschorle sepertinya segar! " ucap senta menatap buku menu di tangannya.
"Sejak kapan kau suka soda? " bingung Cody seolah tau apa yang Anya suka dan tidak.
"Apa ada masalah? aku mencobanya karena terlihat segar! " ucap Anya yang ikut bingung dengan pertanyaan Cody.
"Bukannya kamu suka sekali coklat? " tanya Cody.
"Aku suka coklat bukan berarti aku tak mau mencoba soda! jangan tanyakan hal aneh seperti itu padaku! kembali ke awal tujuan kita ke sini! " kesal Anya pada pria di depannya.
"Iya, iya! jangan marah Oke! "
Setelah drama memesan minum tadi, mereka benar-benar melakukan tujuan mereka di awal, Cody mulai mendekat di samping anya untuk memudahkannya memahami apa yang di jelaskan nanti, dan benar saja, Cody tak lama mengangguk anggukkan kepalanya paham saat Anya satu persatu menjelaskan materi yang menurutnya tak masuk di otaknya.
Hampir satu jam mereka membahas hal serius, Cody tiba-tiba terfokus di kepala Anya yang sedang menunduk menatap buku di hadapan mereka, pria yang satu tahun lebih tua dari Anya itu gagal fokus dengan satu helai rambut Anya yang berwarna putih.
"Berapa umurmu? " tanya Cody tiba-tiba tapi tak melepaskan pandangannya dari arah kepala Anya.
"Apa? " ucap Anya tak mengerti.
"19! " jawab Anya dengan kebingungan nya.
"Kau punya uban di umurmu yang muda ini cantik! " ucap Cody menahan tawanya.
"Jangan ngaco! ada materi yang di tanyakan lagi? " tanya Anya.
"Aku mengatakan yang sebenarnya! mau aku ambilkan? " tanya Cody yang menghiraukan pertamanya Anya.
"Ck, kau pikir aku percaya! " kesal Anya karena sehelai uban karangan Cody.
"Aku ambilkan kalau tak percaya! diam di tempatmu! " ucap Cody yang lebih mendekat ke tubuh Anya.
Belum sempat mendapatkan sehelai uban Anya, Tiba-tiba terdengar teriakan pria yang menjadi tunangan Anya, yang sepertinya akan terjadi kesalahpahaman di antara mereka.
"Anya! " panggil Len marah, sampai tak ada panggilan baby yang lebay seperti biasanya.
__ADS_1
Sebenarnya Len yang mendapatkan laporan dari anak buahnya kalau Anya bersama teman kuliah prianya di sebuah cafe, ia bergegas mendatangi cafe itu yang bahkan meninggalkan rapat pentingnya begitu saja.
Hatinya sangat dongkol mendengar laporan itu dan semakin dongkol saat ia menyadari laporan itu 30 menit yang kalau dari ponselnya, dengan kecepatan tinggi Len mengendarai mobilnya sendiri, dan hatinya semakin, semakin, semakin dongkol melihat hanya yang begitu dekat dengan Cody bahkan terlihat sengaja memegang kepala tunangannya.
Tanpa babibu Len berlari ke arah Anya dengan suara menggelegar nya tanpa malu menjadi pusat perhatian para pengunjung di sana.
Sedangkan Anya mulai was-was melihat kemarahan Len apa lagi baru sadar kalau ia begitu dekat posisinya dengan Cody.
"Dad! " panggil Anya dengan nada halus.
"Dad? bukan papa? papamu juga tak seperti itu! " ucap Cody bingung dengan situasi sekarang.
"Dia tunangan ku! " ucap Anya yang masih menatap pria yang berjalan ke arahnya.
"What? " Syok Cody, ia memang tau kalau Anya bertunangan tapi tak tau siapa yang menjadi tunangannya, dan sekarang ia tau walau di situasi tak menyenangkan. " Sepertinya dia salah paham tadi! " ucapnya lagi dalam keadaan syoknya.
Bagaimana tak syok, ternyata temannya bertunangan dengan orang tak sembarangan, apa lagi di bidang bisnis, pria di depannya adalah idolanya walaupun memiliki kehidupan misterius untuk sekelas bisnis man yang sangat terkenal, yang Cody tak tau kehidupan wanita di depannya juga sangat misterius untuk orang yang berusaha mencari tau siapa gadis di depannya.
"Pulang! " ucap dingin Len dengan menatap sang gadis yang mulai mengemasi barang-barangya.
"Bo.. boleh minta fotonya dulu tuan! " ucap Cody yang tak tau situasi, bagaimanapun juga sangat langka untuk bertemu pria misterius di depannya, banyak hal yang ingin ia cari tentang idolanya di depan, tapi tak ada yang lebih dari bisnis saja.
Len yang marah hanya menatap tajam Cody tanpa berniat menjawab pertanyaannya, lalu kembali menatap sang gadis dengan kecemburuan yang tak terbatas.
.
.
.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...----------------...
__ADS_1