
Malam harinya setelah makan malam, Anya masuk ke kamarnya dan menguncinya dari dalam. Ia mulai menangisi, hampir setiap malam Anya menangisi nasib percintaannya.
Ingin mengubur dalam- dalam tapi sangat susah baginya, untuk tak menangis juga susah jika mengingat kejamnya Len meninggalkannya.
Tapi jika di pikir-pikir, Len dan anya belum memiliki hubungan khusus. Tapi rasa cinta begitu dalam seolah tak mempermasalahkan itu.
Hingga sekarang Anya yang merasa di rugikan sebagai orang yang di tinggalkan, tapi tak bisa apa-apa karena hubungan yang tak jelas sekarang.
Anya terus menangis mengingat kejadian demi kejadian tadi siang.
"Tangan besar itu bukan lagi memelukku, hatinya bukan lagi untukku, bahkan bibirnya mungkin juga bukan lagi milikku. " kata Anya menduga- duga.
"Apa tak ada sedikitpun rasa kasian untukku, dengan bangganya memamerkan wanitamu daddy! " kata anya pada diri sendiri
Pikiran khas anak remaja, dan tak memiliki pengalaman percintaan, sekalinya mencintai malah langsung di sakiti, tanpa ia bisa beradaptasi terlebih dahulu.
Membuatnya tak mau lagi membuka hatinya untuk siapapun, tak mau lagi merasakan luka yang sama.
Puas dengan tangisannya, anya membasuh mukanya di kamar mandi, lalu tidur dan begitu lelap.
Disisi lain, Len masih berada di markasnya menunggu laporan dari mike, dan tak lama yang di tunggu sampai.
"Bagaimana? " tanya Len dengan suara dingin.
"Geng dragon dalang menyerang kapal pengiriman amunisi kita tuan. " lapor mike.
"Mereka sedang mengantar nyawanya bukan!!! lacak markasnya sekarang juga!! bird, lacak markas mereka!! mike, siapkan pasukan!! dan bear, kita buat strategi sekarang. " perintah Len yang terkoordinir. " Kita serang malam ini juga. " kata Len dengan tatapan menyeramkan.
Selesai dengan tugas masing masing, mereka berempat berkumpul di depan markas.
"saya membawa 100 anggota tuan. " lapor mike sebelum berangkat.
"Cukup 20 anggota dan 5 penembak jitu saja. " kata Len dengan enteng.
"Bukankah kita akan menyerang markas mereka tuan? " kata mike bingung, karena akan membunuh besar-besaran juga butuh pembunuh yang banyak.
" Tidak, mereka hanya manusia sampah yang sudah bosan hidup saja. " kata Len, dengan mike hanya mengangguk patuh.
Mengkoordinir kembali anggota dengan cepat. Karena mike tak akan membiarkan tuannya menunggu terlalu lama.
"Berangkat sekarang! " perintah Len melihat sudah siap semua, dengan jam yang sudah menunjukkan pukul 1 pagi.
Mereka mulai bergerak hanya menggunakan 6 mobil menuju ke markas dragon, dengan persenjataan lengkap serta rompi anti peluru yang di kenakan Len beserta seluruh anak buahnya.
Meski kejam Len tetap akan menomor satukan keselamatan anggotanya, dia akan kejam pada orang yang salah atau mengusiknya. Hal itu yang membuat anak buahnya setia dan senang mengikuti ketua mereka.
__ADS_1
Cukup dengan waktu 1 jam mereka sampai di markas dragon yang terlihat seperti rumah susun yang terlihat kumuh, dengan tempat kasino tak layak di lantai paling bawah.
Anggota Len mulai berpencar dengan penembak jitu yang menyelinap ke rooftop gedung gedung besar yang ada sekeliling rusun, beberapa bahkan menyewa hotel di tetap di samping rusun.
20 anggota mengendap-endap melewati tangga pintu belakang rusun agar tak ketahuan.
Tersisa Len, Norbert, Noberto, dan Mike yang sengaja lewat pintu depan, dengan menyamar menjadi pengunjung kasino.
Mereka mulai bermain seolah-olah tak terjadi apapun, dengan sengaja Mike mengeraskan audio musik di kasino itu, agar tak mendengar keributan yang ada di atas, dengan Len yang terus memandangi ketua geng dragon yang tak memiliki kewaspadaan apapun.
Sedangkan di atas kasino, anggota Len mulai menyerang anggota dragon yang rata-rata sedang tidur. Dari kejauhan penembak jitu, menembaki tanpa suara. karena kecanggihan senjata milik Black B.
Hanya terdengar kekacauan sedikit, tapi teralihkan dengan audio yang sengaja di keraskan.
" Bukankah mereka bodoh. " kata Len pelan pada ke 3 anggotanya.
"Ckckck, ini terlalu mudah tuan. " kata mike dengan wajah senangnya.
"Tapi tak asik. " kata Norbert menimpali.
"Mau yang seru!! kita tanding di ring besok bagaimana?? " kata Len menawarkan Norbert.
"Tidak tuan, terimakasih!! " kata Norbert takut, karena tuannya yang sangat kuat.
Mike tertawa melihat ketakutan Norbert, sedangkan Noberto yang memang pendiam hanya diam, memilih melihat situasi di sekitar.
"Jatuhkan satu mayat di depan kasino. " kata mike pada anggota atas perintah Len.
Hingga terdengar suara benda jatuh dari ketinggian, membuat orang yang di depan kasino menjerit kaget.
Semua orang menghentikan kegiatan mereka, dengan serentak mereka memandang ke arah Len, Norbert, Noberto, dan mike. Karena mereka berempat patut di curigai.
dor dor dor dor...
Suara tembakan Len tak membiarkan mereka semua melawan. Di bantu Norbert, Noberto, dan mike Len memusnahkan manusia sampah yang ada di depannya.
Setelah semua beres, anggota Black B yang terlibat langsung berkumpul, membereskan manusia-manusia yang tak bernyawa di rusun itu.
Kecuali Len, Norbert, dan Noberto yang langsung pulang, karena besok mereka bertiga masih harus berkerja di kantor.
*****
Menjelang pagi, Anya terbangun setelah alarmnya berbunyi, meski sudah lulus sekolah, Anya tetap bangun pagi, meski hanya sekedar menemani makan dan mengantar kepergian papa Oscar , bersama mama Rosa.
"Pagi wahai manusia!!!! " teriak Anya yang masih di samping tangga. Wajah Anya yang kembali bahagia di pagi hari, tak seperti tadi malam
__ADS_1
"Cih, yang sedang bahagia !! " cibir papa Oscar sambil merangkul sang istri menuju ruang makan.
"Tentu, Anya bukan anak SMA lagi, Anya sudah besar tau! " kata Anya bangga.
" Ck, sudah besar tapi masih bernyanyi Twinkle twinkle!! Besar dari mananya?!! " ejek papa Oscar.
"Sudah tau masih kecil, tapi sudah di mintai cucu sama papa!! " cibir Anya juga.
Papa Oscar melotot mendengar penuturan Anya, sedangkan dirinya mendapatkan pelototan balik tapi dari mama Rosa.
"Papa hanya bercanda waktu itu Anya, " sangkal papa yang takut juga mendapatkan tatapan tajam mama Rosa. " Anya akan tetap jadi gadis kecil papa sampai kapanpun, tidak ada kata besar. " kata papa Oscar haru.
"Iya, karena papamu paling suka anak kecil sayang. " kata mama Rosa menimpali dengan haru.
Tapi haru itu tak berlangsung lama karena celetukan nyeleneh Anya.
"Kenapa gak buat dedek bayi aja kalau suka anak kecil. " kata Anya dengan berkedip lucu.
"Kalau buatnya sudah tiap hari Anya. " kata papa Oscar jauh lebih nyeleneh.
"Kalau setiap hari, kenapa tidak jadi-jadi? " tanya anak jenius itu yang kadang bodoh seperti sekarang.
"Makan sekarang, tidak jadi makan kalau ngobrol terus. " kata mama Rosa tegas, menyembunyikan rasa malunya karena ucapan papa Oscar dan mengalihkan pembicaraan yang sudah tidak kondusif itu.
"Siap boss!! " kata papa Oscar dan Anya bersamaan.
Mereka makan tanpa ada yang berbicara seperti biasanya, hingga habis tak tersisa.
" Papa berangkat dulu. " pamit papa, sambil mencium kening kedua bidadarinya.
"bye pa!!!" lambaian tangan Anya mengiringi kepergian sang papa.
" Kita buat brownis coklat sayang, kita sudah lama tak buat cake bareng!" ajak mama Rosa.
"Siap!!! " kata Anya bersemangat yang mulai masuk ke dalam rumahnya. Memulai harinya dengan brownis yang akan dia buat.
.
.
.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
...----------------...