
Di sebuah ruangan terbuka rumah sakit, Len dan Carl duduk bersanding di sebuah kursi kayu, selama beberapa menit yang lalu dua pria dewasa itu sedikitpun tak ada yang akan memulai pembicaraan.
Terutama Len yang meminta untuk berbicara berdua di luar, pria dengan satu anak itu seolah sedang memberikan ruang untuk sahabatnya merenung akan kesalahannya.
Sebenarnya suami Anya itu bisa menebak apa penyebab Senta berusaha mengakhiri hidupnya, hanya saja ia ingin mendengar dari bibir sahabatnya secara langsung yang memang memiliki sifat sebelas dua belas dengannya, hanya saja ia tak akan menyangka kalau apa yang ia tebak itu benar adanya dan sepertinya teman baiknya ini memang harus di bawa ke psikiater nantinya.
"Kau memaksanya ha? " tanya Len begitu santai sembari menatap lagi yang begitu cerah dengan dominan biru muda di atas langit.
"Ya!!! " jawab Carl singkat tak terdengar merasa bersalah, tapi ada memperlihatkan wajah sedihnya.
"Kau tau itu salah? " tanya Len mulai serius.
"Tidak!! dia terus ingin pergi dari hidupku!!! " jawab Carl dengan singkat.
"Apa yang membuatmu kembali??? " tanya Len.
Pertanyaan Len yang barusan membuat Carl sedikit bingung dengan menatap lawan bicaranya dan memperlihatkan wajah kebingungan nya.
"Maksudmu? " Carl yang benar-benar bingung.
"Aku mendapatkan laporan kalau kau kemarin meminta dua kepala di markas!! " kata Len memberikan sedikit clue untuk sahabatnya.
"Oh itu!! aku membunuh dua orang kemarin!!! " jawab jujur Carl.
"apa penyebabnya? " tanya Len lagi penyebab sisi kejam yang selama ini di kubur dalam-dalam muncul kembali.
"Entah lah!! takut kehilangan, menyesal, dendam pada seseorang, aku merasakan hal itu secara bersamaan beberapa hari kemarin, mungkin itu!! " jawab Carl yang ia sendiri tak pasti tau apa yang terjadi padanya saat itu.
__ADS_1
"Kau harus ke psikiater secepatnya!! " ucap Len menatap temannya yang tak baik-baik saja.
"Aku akan pikirkan nanti! toh aku juga punya dokter pribadi untuk kejiwaan ku!!! " jawab Carl dengan santainya.
"Nanti?? apa yang aku tunggu?? kau tak belajar dengan apa yang terjadi sekarang?? apa harus menunggu semua menjadi parah dan tak bisa di perbaiki baru kau akan berobat?? setidaknya kontrol emosimu untuk tak menyakiti orang-orang yang kau sayangi Carl!! " ucap Len yang begitu peduli pada sahabatnya tak membiarkan salah langkah yang nantinya akan membuatnya menyesal, padahal dia tipe orang yang cuek walau ada orang yang bermasalah di depannya.
Dan ucapan Len itu membuat Carl tak bisa berbicara apapun, ia merasa ucapan sahabatnya itu ada benarnya, tapi rasa ingin memiliki dan menjerat wanita yang ia cintai itu lebih besar dan utama di banding kesehatannya sendiri, yang sepertinya ego nya masih jauh lebih besar dari pada mendengarkan nasehat yang sebenarnya sangat lah benar untuk di lakukan.
"Lihat lah Senta sekarang!! kau tak merasa kasihan pada gadis itu? yang di butuhkan wanita sepertinya adalah di lindungi, di berikan cinta berlimpah, bukan hanya emosi, emosi, dan emosi yang berujung kau tak bisa mengendalikan dirimu sendiri!! jangan terlalu lama berfikir!! atau kau akan semakin menyesal nantinya!!! " ucap Len lagi yang memberikan nasehat bertubi-tubi untuk Carl. " apa yang akan kau lakukan selanjutnya? " lanjutnya bertanya.
"Tentu saja bertanggung jawab akan semuanya, menikahinya dan pada akhirnya dia tak akan bisa pergi dari hidupku lagi! apa lagi jika ada bayi yang akan tubuh di rahimnya, aku menantikan hari itu tiba!!! " ucap Carl yang malah membuat Len kesal.
Bugh...
Satu pukulan mendarat manis di pipi kanan Carl, walau tak sampai terpental, tapi cukup untuk di rasa-rasa, karena Len terlalu kesal akan jawaban tanpa penyesalannya, begitu mudah berucap yang padahal ada gadis yang berbaring rapuh dan sakit hati karena ulah sahabatnya.
Carl sendiri hanya diam walau sudah mendapatkan pukulan yang tak seberapa untuknya, sebenarnya ia sendiri cukup sadar dengan apa yang ia ucapkan barusan, tapi memang itu adalah rencananya setelah apa yang terjadi tadi siang bersama kekasihnya.
"Hhuuuuuffffftttttt!!! aku sudah berjanji untuk tak menyakitinya, ini yang terakhir kalinya, aku akan memperbaiki segalanya, tapi aku ingin mengikatnya lebih dulu, aku tak ingin kehilangannya, karena aku sangat-sangat mencintainya kau tau itu!!! " ucap Carl dengan suara yang sedikit bergetar menahan tangisnya. " Aku sangat mencintainya!!! " lanjutnya dengan suara yang semakin lirih.
Akhirnya, otak waras Carl kembali bekerja, dengan mengakui kesalahan dan memperbaiki semua kesalahan yang ia perbuat, itu jauh lebih baik bagi Len dari pada sikap egoisnya tadi.
"Bagaimana dengan psikiater? " tanya Len mengalihkan pembicaraan, karena ia sedikit jijik harus melihat pria menangis di depannya, sekalipun itu sahabatnya sendiri.
"Aku akan menemui dokter pribadiku setelah menikahinya!! " jawab Carl sembari menghapus air matanya yang sempat jatuh.
"Kapan? " tanya Len menatap jijik temannya yang sedang menghapus air matanya itu.
__ADS_1
"Besok!!!! " jawab Carl.
"Apa??? " kaget Len, "Jangan bilang kau kembali memaksanya? " tanya Len yang di angguki Carl, " Ck, semua tindakan yang di lakukan berdasarkan paksaan akan tak baik nantinya, tanyakan baik-baik dulu, kalau tidak, tanpa sadar kau akan kembali membuat luka baru padanya!!! " kata Len yang kembali dengan kata bijaknya.
"Aku sudah tau jawabannya, yang pada akhirnya membuatku harus memaksanya!! " ucap Carl yang memang tak punya pilihan lain.
"Beri dia waktu!! mungkin sebenarnya bukan menolak, tapi hanya perlu waktu!! " ucap Len memberikan jalan tengah untuk masalah temannya.
"Waktu?? sampai kapan? sampai ada nyawa yang tubuh di rahimnya!! atau sampai dia benar-benar pergi dari hidupku??? Aku tak akan membiarkan itu terjadi bung!! " ucap Carl yang tak mau kalah.
"Bagaimana dengan keluarga kalian? ada yang perlu aku lakukan? " tanya Len yang pada akhirnya menyerah dengan ego sahabatnya.
"Kau cukup mendoakan semua lancar saja, karena aku sudah mengatakan niatku pada kedua keluarga kami!!! apa lagi mama, aku sudah mengatakannya jauh jauh hari!!!" jawab carl dengan santai.
"Dengan rencana mu yang seperti ini? " tanya Len yang membuat Carl terdiam sebentar.
"Ini di luar rencanaku! " ucap Carl dengan lirih, ia sadar semua terjadi karena emosinya yang tak bisa ia tahan, dan juga mulai sadar kalau dia butuh penanganan setelah ini. " Aku akan benar-benar berobat setelah menikahinya, yang terpenting mengikatnya lebih dulu!!! " ucap Carl yang tetap pada niat awalnya.
"Huufffttttt!!!! aku akan mendukung semua yang terbaik untukmu, kau juga sangat harus mempertanggung jawabkan perbuatanmu, dan cepat obati penyakit emosional mu sebelum dia mendapatkan banyak luka nantinya!!! " ucap Len dengan menepuk bahu temannya untuk menguatkan. " dan jangan membalas apapun jika istriku menghajar mu nanti! karena dia begitu peduli akan sahabatnya!! kalau bisa menghindar saja!!! " kata Len di akhir yang sepertinya mendapatkan masalah baru sebentar lagi.
.
.
.
...****************...
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...----------------...