
Tiba dimana acara kelulusan mereka berlangsung, tepatnya hanya Anya dan Riky.
Di tengah-tengah sambutan berlangsung, muncul lah pemilik sekolahan, yang memang harus hadir di setiap acara penting seperti sekarang. Sang pemilik berjalan menuju kursi yang di sediakan, dengan menggandeng seorang wanita seksi dengan make up menor nya.
Len saat ini memang membawa seorang wanita yang merupakan seorang manager di perusahaannya, Len terpaksa membawa wanita itu karena Noberto dan norbert tak dapat mendampingi, karena masalah kantor dan markas.
Len sebenarnya terpaksa menggandeng tangan wanita menjijikan di sampingnya yang tadi beralasan kakinya sakit karena menggunakan sepatu hak tinggi.
Ingin rasanya Len mencekik wanita di sampingnya, tapi di sisi lain ia tak ingin merusak hari bahagia gadis kecilnya.
Tau seperti ini, Len lebih memilih berangkat sendiri. Yang seharusnya memudahkan aktifitasnya, malah sekarang menambah bebannya saja.
Segala gerak-gerik Len tak luput dari pandangan Anya, yang memang sudah melihat pria itu dari kejauhan, ia mencoba tak menangis sekarang, memandang ke arah lain untuk menetralkan rasa sesaknya.
"Dia sudah mendapatkan yang baru Anya, lupakan pria itu! " kata Anya dalam hati menatap lurus ke depan.
"Tuan Oscar. " sapa Len sebelum duduk di kursinya.
"Oh, Len!! ini putri kecilku Vanya Waber, anak berumur 2 tahun yang pertama kali kita bertemu dulu. " kata papa Oscar memperkenalkan.
"Jadi dia sudah kenal papa? ck, kebetulan yang di buat-buat! " kata Anya dalam hati, terlihat malas untuk berhadapan pria kejam itu.
Len memandang Anya memuja. "cantik sekali kamu baby. " kata Len dalam hati.
"Anak kecil yang berceloteh tak jelas dulu tuan? " tanya memastikan Len dan terus memandang Anya.
"Dengan mudah kamu melupakanku daddy! " kata Anya dalam hati.
"Iya. Anya kenalkan dia Manfred Len Becker, teman papa. " kata papa Oscar memperkenalkan.
"Len!!" kata Len dengan berjabat tangan.
"Anya paman!! " kata Anya berjabat tangan sebentar dengan menekankan kata paman.
" Saya permisi dulu tuan! " kata Len berpamitan, karena melihat raut wajah tak nyaman sang gadis.
Papa Oscar mengangguk sebelum Len pergi ke tempat duduknya di ikuti wanita menor yang sedari tadi tidak di anggap olehnya.
Setelah duduk di kursi yang di sediakan, Len lagi-lagi memandangi Anya bahkan tak mempedulikan rangkaian acara yang berlangsung.
"Paman? kenapa sakit sekali Tuhan!!! Tapi hari ini kamu cantik sekali baby, tunggu!!! kenapa belahannya tinggi sekali. " kata Len dalam hati kesal. "kenapa juga tuan Oscar mengijinkannya sih. " kata Len semakin kesal dan menyalahkan tuan Oscar.
"Kenapa tuan Len memandang gadis itu terus sih, pada lah aku sudah berdandan cantik, malah tak di anggap sedari tadi. " kata manager menor itu dalam hati, kesal dengan sikap tuannya.
Tak berlangsung lama, rangkaian acara inti selesai, dengan di akhiri penerimaan ijazah dan rapot yang di wakili pemilik sekolahan.
Len otomatis berjalan ke tas panggung kecil untuk melaksanakan tugasnya.
Sedangkan Anya dan Riky selaku penerima, malah saling menggerutu dan saling dorong pelan.
" Kamu dulu. " kata Anya pelan pada riky.
"Kamu lah!! kamu yang juara satu kan!! " kata Riky mencari alasan.
"Tapi kamu laki-laki, yang gentle dong! " kata Anya.
__ADS_1
" ladies first. " kata riky singkat.
"Tapi... " kata Anya terpotong papa Oscar.
"Anya!! " kata pap Oscar penuh penekanan.
Semua itu tak luput dari pandangan Len, yang saat ini mulai terbakar cemburu.
Anya langsung dengan cepat berjalan lebih dulu menaiki panggung yang sudah ada Len di sana.
Anya menerima rapot dan ijazahnya dari tangan Len, dan sekali lagi berjabat tangan dengan tangan besar dan dingin milik Len.
" Selamat Vanya Waber. " kata Len dengan suara sedikit keras.
Memandangi wajah ayu itu yang sedikit memerah karena akan menangis.
"Plis, jangan menangis di hari bahagiamu baby, maafkan aku, aku mencintaimu baby. " Kata Len dalam hati.
" Terimakasih tuan. " kata Anya dengan wajah dinginnya.
Melepaskan tangan mereka dan Anya turun dari atas panggung kembali ketempat duduknya. Yang setelahnya bergantian dengan riky.
Setelah acara inti berakhir, tiba di mana acara lebih santai, dengan para wali dan guru sekaligus staff berbincang dan makan- makan.
Tapi tidak dengan Anya yang tetap berdiam diri di tempat duduknya, sedangkan papa dan mamanya sedang berbincang dengan Len yang saat ini kemana saja selalu di ikuti wanita menor itu.
"Anya! " sapa Riky yang sudah duduk di samping Anya yang sendirian.
"Apa? " tanya anya malas lalu memandang ke wajah tampan Riky.
"Anya gak mau apa-apa. "
"Bagaimana dengan es cream coklat? " tawar Riky yang memang tau kesukaan Anya.
"Emm, boleh-boleh. " jawab Anya dengan mata berbinar mendengar kata coklat.
Dengan mengusap pelan kepala Anya, Riky berlalu pergi mengambilkan pesanan Anya.
Di kejauhan terlihat 2 pasang mata yang memperhatikan interaksi Anya dan Riky, yang satu menatap cemburu dan satunya lagi menatap posesif.
Mereka adalah Len dan papa Oscar yang sedari tadi berbincang bersama, sedangkan mama Rosa lebih memilih bergabung dengan kelompok ibu-ibu.
"Lihat pria kecil itu, dari tadi mencoba dekan dengan putri cantik. " kata papa Oscar mencibir.
"Dia bukan laki-laki yang baik, " kata Len menimpali. "Dia terkenal playboy di sekolahan. " kata Len lagi, membuat papa Oscar menoleh menatap wajah Len. "Kasian sekali anya di dekati pria playboy cap teri itu. " kata Len mulai mengompori.
"Tidak, tidak!! Haduh anya sayang, kenapa harus cantik sekali sih, jadi banyak yang deketin kan!! " kata papa Oscar berlalu pergi menghampiri anya yang sedang berdua dengan Riky.
Len tersenyum mendengar penuturan tuan Oscar, meski sempat cemburu, tapi untungnya dia bisa menjauhkan Anya dari pria playboy itu. Len mengikuti langkah tuan Oscar yang mendekat ke arah Anya.
"Anya, sini sama papa! " kata papa Oscar di angguki Anya dan mendekat.
Karena terlalu fokus dengan es cream coklatnya, anya tak menyadari di samping papanya juga ada Len.
"Om! " sapa Riky.
__ADS_1
"Ya, terimakasih sudah mengambilkan makanan anak saya!!! sepertinya kamu di cari mamamu!! " kata papa Oscar yang memang tadi Riky sedang di cari.
"Baik om, saya permisi!!" pamit Riky. "Awas belepotan anya. " kata perhatian Riky setelah benar-benar pergi.
Len yang di suguhkan perhatian pria lain untuk gadis kecilnya, merasa sangat cemburu karena saat ini ia telah jauh dari sang gadis.
"Duduk kalau makan Anya sayang! " kata papa Oscar menggiring Anya ke tempat duduk karena sedati tadi sedang berdiri.
Mereka bertiga duduk di kursi dengan Anya berada di tengah-tengah papa Oscar dan Len, lebih tepatnya Len yang nyelonong duduk di sebelah sang gadis, seolah takut ada yang mendekati anya
Membuat Anya menyadari bukan hanya ada papanya di sana, Anya mulai menatap pria matang yang pernah menyakitinya, tapi tatapan itu sangatlah dingin, hingga yang di tatap menatap sendu mata dingin Anya.
"Hai paman. " sapa Anya agar papa Oscar tak curiga. Di balas senyuman oleh Len
Anya melanjutkan makan es cream nya tanpa merasa terganggu.
"Anya memang seperti itu, jika sudah ketemu coklat, dia akan lupa segalanya. " kata papa Oscar yang melihat Len memandangi putri kecilnya.
"Dia terlihat lucu kalau sedang makan. " kata Len.
"Ya, bibir dan pipinya mirip dengan chipmunk kalau makan, hihihihi. " kata papa Oscar sambil tertawa kecil.
"Yah, habis! " kata Anya tiba-tiba.
Membuat kedua pria itu tersenyum.
"Mau lagi? " tawar Len, di jawab gelengan kepala.
"Pa, Anya mau pulang. " rengek Anya yang memang sudah bebas pulang atau tidak.
Papa Oscar menganggukkan kepalanya. " Panggil mamamu kita pulang sekarang! " kata papa Oscar, di angguki anya dan beranjak menuju sang mama.
Bahkan tak berpamitan atau sekedar menatap Len yang ada di sampingnya. Membuat Len hanya bisa menghela napas panjang, ia tau gadis kecilnya mulai menjauhinya.
Tak lama datang anya bersama mama Rosa yang memang kan pulang.
" pa! " panggil anya mengkode sang papa segara pulang.
" Aku pulang dulu, putriku sepertinya sudah lelah. " kata papa Oscar berpamitan pada Len sambil menepuk bahu lebarnya.
"Ya, Hati-hati tuan. " kata Len yang di jawab anggukan kepala papa Oscar.
Dan berlalu pergi menyusul anak istrinya, yang tak lama di ikuti Len yang memang juga akan pulang. Len pulang sendiri, karena ia sudah mengusir manager menor itu sedari tadi, yang menurutnya sangat menggangu.
.
.
.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...----------------...
__ADS_1