Cinta Pria Kejam

Cinta Pria Kejam
Surprise di balik surprise


__ADS_3

" Bukan begitu baby! ayo cepat, aku meninggalkan dante di depan lift! " kata Len.


Mereka terus berjalan dengan Len menggandeng tangan Dante sampai didepan pria kecil yang menunggunya sedari tadi, dengan bersamaan mereka bertiga menaiki lift untuk menunjukkan kejutan yang Len berikan pada sang anak.


"Surprise!!!! " kata len yang sudah di depan pintu sebuah kamar.


"Surprise apa? " tanya dante yang hanya melihat sebuah pintu di depannya.


"Papa buatkan Dante kamar baru! " kata Len dengan senyumannya.


"Bukannya memang harus! dante sudah besar! " kata Dante yang mulai menunjukkan dirinya yang sebenarnya. Membuat Len mengerutkan dahinya sama seperti anya.


"Inikah kamu yang sebenarnya? sepertinya tak ada bedanya dengan ku! " batin Len yang sudah di ceritakan papa oscar tempo hari. "Sudah besar tapi nangis hari pertama sekolah. " cibir Len membungkam mulut Dante.


"Kenapa kalau nangis? itu kan hari pertama untuk Dante! wajar dong! bahkan dia sudah berfikir menjaga orang yang di sayangi, berarti memang sudah besar dong! kayak yang gak pernah nangis saja! " kata Anya membela Dante, yang berbalik membungkam Len.


Sedangkan pria kecil merasa puas ada yang membelanya, dengan sengaja ia menjulurkan lidahnya mengejek sang papa, sama seperti anya yang juga merasa puas dengan bungkamnya pria itu, Anya merasa memiliki partner untuk sedikit-sedikit membalas perbuatan Len selama ini.


"Kalian kompak sekali seperti ibu dan anak! " kata Len mengalihkan pembicaraan yang berujung bungkaman lagi untuknya.


"Bukan! tapi kakak dan adik! " kata Dante yang membuat Len tak berkutik.


"Kau seperti orang bodoh sekarang! dan menjadi semakin bodoh nantinya!! hihihihihiii! " batin Anya memperhatikan wajah Len.


"Sudah-sudah! papa ada surprise lain di dalam!" kata Len yang sedari tadi masih berdiri di depan pintu.


Di angguki kedua mahluk di samping Len, membuka berlahan seolah beradegan slow motion. Membuat Anya dan Dante menjadi jengah dengan keanehan pria itu.


"Dimana pria cool yang aku lihat dulu! " batin Anya melihat konyolnya Len.


"Kau aneh pa! " batin Dante juga.


"Surprise!!! " kata Len dengan gembira.


Krik.. krik.. krik..


Sangatlah garing dan tak ada respon apapun di wajah Dante, yang membuat Anya tertawa tertahan.


"Kenapa? Dante tak suka? " tanya Len.

__ADS_1


"Kekanakan! " jawaban tak terduga dari mulut sang anak.


Kamar dengan dinding penuh gambar serial cartoon transformer dan selimut yang senada, bahkan karena Dante juga senada, lumayan besar


untuk ukuran anak 8 tahun dan juga di fasilitasi kamar mandi dan ruang ganti sama seperti kamar yang lainnya.


"Kekanakan apanya?? ini bagus untuk anak usiamu! " kata Len yang sedikit frustasi dengan tingkah asli anaknya, jika ia boleh memilih, ia akan memiliki Dante nya yang dulu.


Anya kembali tertawa tertahan melihat interaksi keduanya, tapi ia mulai menyadari tingkah Dante yang berbeda dari sebelumnya.


"Ada apa dengan Dante!! apa ada yang membuatnya tak nyaman? " batin Anya bertanya-tanya.


"Dante sudah besar!! ini terlalu kekanakan!! tunggu!! itu komputer! " kata Dante berlari ke benda kesukaannya, menghidupkan nya sendiri.


Yang kembali membuat Anya dan Len terheran-heran dengan tingkah Dante yang semakin aneh, tapi tiba-tiba mereka melihat perubahan Dante yang cemberut saat komputer mulai menyala.


"Heheheee! " tawa garing Len yang paham dengan perubahan wajah Dante.


"Transformer lagi!!! Tuhan!! selera papa kekanakan sekali! " kata Dante yang melihat wallpaper komputer miliknya yang lagi-lagi transformer.


"Papa hanya menebak-nembak saja!! anak laki-laki biasanya suka seperti itu! " jelas Len.


"Bagaimana dia bisa melakukannya! kenapa dengan anak ini? " batin Anya bingung. " kamu bisa mengoprasikannya? " tanya Anya.


"Dante sering melihat mama memakai komputer nyanya! " kata Dante menjelaskan.


"Benarkah? " tanya Anya lagi merasa tak yakin, anak kecil yang belum pernah mengenyam pendidikan itu bisa mengoperasikan komputer dengan baik. "Apa ada yang di sembunyikan dariku? " batin Anya bertanya pada dirinya sendiri.


Anya bisa melihat ekspresi Len yang tak kaget dengan perubahan sikap Dante, dan Len yang hari ini bersikap sedikit aneh.


"Apa jiwa mereka tertukar! " pikir tak masuk akal Anya yang merasa Len adalah Dante, dan Dante adalah Len. " Kalian baik-baik saja? " tanya Anya.


Membuat Len dan Dante menatap Anya bersamaan dengan heningnya di ruangan itu, perdebatan yang tak jauh dari konsep transformer tadi hilang seketika mendengar perkataan Anya yang tiba-tiba.


"Kami baik! apa yang salah? " Len yang ikut bingung.


"Dante juga baik-baik saja! " kata Dante bingung.


Jadilah bingung semua dengan tingkah orang yang sama-sama ada di depan mereka, sampai Anya mengatakan kalimat yang semakin membuat ayah dan anak itu bingung.

__ADS_1


"Kalian aneh! " kata Anya.


"Aneh?? tidak ada yang aneh dengan kami! " jawab len sambil memeriksa penampilannya dan penampilan anaknya.


"Sikap kalian aneh!Terutama Dante! " terang Anya lagi.


Dua pria beda generasi itu mulai paham dengan maksud kebingungan anya saat ini, yang memang belum mereka perlihatkan pada gadis yang mereka sayangi.


"Sebenarnya ini sifat Dante yang sebenarnya! " kata Dante mulai menjelaskan. " Dante sebenarnya di dewasakan dengan keadaan, tapi saat semua perhatian tertuju pada Dante saat ada di rumah ini, Dante tak mau kehilangan perhatian kalian apa lagi kasih sayang kalian akan berkurang saat Dante dewasa! Tapi grandpa menyadarkan Dante bahwa itu tidak benar, Dante harus menjadi diri sendiri, dan menjadi kuat agar bisa melindungi orang yang Dante sayangi, kata grandpa kasih sayang kalian tidak akan pernah berubah, hanya caranya saja yang berbeda, dan Dante mulai menjadi diri sendiri seperti sekarang! itu membuat Dante lebih baik juga saat ini! " terang Dante panjang lebar, membuat Anya terharu. Memeluk pria kecil itu dengan sayang.


"Kasih sayang semua nyanya dan papa tidak akan berubah sampai Dante dewasa sekalipun, jangan berfikir kami nanti tidak akan menyayangimu lagi, karena itu tidak akan mungkin, karena anak baik akan selalu di sayang semua orang, anak yang jujur anak banyak yang menyayangi, seperti grandma dan grandpa, baru ketemu saja sudah sayang sama kamu karena Dante selalu menjadi anak yang baik! " kata Anya panjang lebar yang terus memeluk Dante.


"Kenapa mamaku sendiri tidak seperti itu! " pikir Dante mengingat sikap ibu kandung nya selama ini. "Karena kau anak yang tidak di inginkan! " sadar Dante dengan wajah sedihnya, tapi tak berlangsung lama saat mendengar perkataan nyanya nya.


"Anya yang pertama selalu sayang Dante, terus papa, terus grandma, terus juga grandpa, paman kembar juga, pak pet apa lagi, dan seluruh pelayan juga sayang dengan Dante, banyak orang sayang anak baik seperti Dante dan tak akan pernah berubah, jadi dante harus selalu jadi anak yang baik! " kata Anya memberikan kalimat sayang pada Dante.


Menyadarkan Dante bahwa banyak sekali orang yang sangat menyayanginya, ia tak boleh terfokus pada ibunya saja yang jelas-jelas tak menginginkan keberadaannya, ia cukup fokus pada orang yang menyayanginya memberikan balasan kasih sayang juga ia dapatkan kembali nantinya.


"Dante juga sayang nyanya! " kata Dante memeluk erat Anya yang sedari tadi masih memeluknya.


"Papa juga sayang Dante, sampai mati pun akan sama! Dante akan menjadikan anak kebanggaan papa nanti, dan mengatakan kesemua orang kalau pria kecil ini anak kebanggaan papa anak kesayangan papa! " kata Len sambil memeluk Dante dan Anya yang masih berpelukan.


Menangkup kedua mahluk kecil itu di dalam dekapannya, yang sesekali mencuri ciuman di kepala Anya dan Dante.


"Sekarang Dante tidak menyusahkan mama lagi, banyak orang yang menyayangi Dante tanpa di minta, yang selama ini Dante minta pada mama yang malah menyusahkan bagi mama! Dante sudah bahagia sekarang dengan papa ma! semoga mama juga bahagia dengan pilihan mama! " batin Dante yang sangat dewasa menyikapi keadaannya.


Suasana di sana menjadi haru sesaat, saat Anya menyadari pelukan Len dan beberapa ciuman yang mendarat di kepalanya, membuat Anya dengan cepat melepas pelukan pada Dante, yang otomatis melepas pelukan Len juga.


.


.


.


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2