
"Kau keterlaluan Anya!!! " ucap Len yang tak sengaja meninggikan suaranya sangking kesalnya. " kita pulang sekarang!!! " ucap Len yang merasa suasana tak kondusif lagi.
"Lepas! aku bisa pulang sendiri! hiks, hiks!!! " kata Anya dengan hati yang dongkol.
"Tidak, kau akan bertindak lebih lagi nanti!!! " ucap Len tak melepaskan dekapannya, yang sepertinya tindakan yang di lakukan Carl akan berimbas pada rumah tangganya juga, terlebih lagi ia terlihat lebih condong pada orang yang salah.
"Aku hanya ingin berpamitan pada sahabatku yang di sakiti oleh sahabat brengsek mu!! tolong lepaskan aku!!! " ucap Anya dengan memohon di akhir.
Len sendiri yang tak bisa melihat wajah memelas istrinya itu berlahan melepas dekapannya, tapi tetap saja ia akan selalu berada di sisi istrinya saat Anya bergerak.
"Aku pulang sen!! maaf tak bisa menemanimu karena aku muak melihat wajahnya di sini, kabari aku jika dia tak ada di ruangan ini! aku akan dengan cepat ke sini dan menemanimu!! satu lagi, jangan mudah memaafkan pria bajingan sepertinya!! " pamit Anya dengan memeluk sementara tubuh sahabatnya.
"Terimakasih Anya!!! Hati-hati di jalan, aku akan selalu baik-baik saja, tak perlu khawatir hm!!! " ucap senta tersenyum kecil pada sang sahabat.
Saat Anya akan melewati pria yang sudah babak belur karenanya, sepertinya ia belum merasakan puas sampai tangannya kembali mengayun untuk memberikan pukulan nya kembali.
Tapi sayangnya hal itu tak akan terjadi, karena Len yang selalu berada di samping istrinya itu dengan cepat menahan pergelangan tangan yang sudah siap memukul target.
"Anya!!! " ucap Len penuh penekanan yang cukup geram karena sang istri begitu susah di bilangi.
"Lepas!! " ucap Anya dengan menghempaskan tangan yang Len genggam tadi, dan menatap nyalang sang suami. " Bela saja sahabat mu yang jelas-jelas salah itu!!! " lanjutnya sebelum berjalan menjauh ke arah sang anak sembari menghapus air mata yang tersisa. " mau ikut mom apa dad?? " tanya Anya pada Dante yang terlihat khawatir dengan mom nya.
"Mom!!! " jawab Dante.
Dengan cepat Anya menggendong sang anak begitu erat, dan membawanya keluar ruang perawatan Senta tanpa menunggu sang suami di belakangnya.
__ADS_1
Sedangkan Dante yang selalu di pihak mom nya itu, masih sempat-sempatnya menatap tajam dad yang membuat mom nya semakin marah.
"Sorry!! " ucap Carl untuk pertama kali setelah mendapatkan pukulan bertubi-tubi tadi, ia juga menyadari hubungan sahabatnya dengan sang istri terkena imbas dari perbuatannya.
"Aku yang harusnya minta maaf! karena istriku cukup kuat untuk membuatmu seperti ini sekarang!! " kata Len lalu menatap wanita yang sedang berbaring. " Aku tau betul sahabatku ini, dia mati-matian berubah untukmu, dia sangat mencintaimu, banyak perjuangan yang tak kau ketahui hanya untuk memantaskan diri untuk wanita baik-baik sepertimu! dia akan jadi pria baik dan sangat baik jika berada di tanganmu!! dan aku sebagai sahabatnya meminta maaf atas perilakunya yang tak pantas untukmu, aku akan mendoakan yang terbaik untuk hubungan kalian kedepannya, pikirkan baik-baik, keputusan sepenuhnya ada di tanganmu hm!!! aku harus pergi menyusul istriku dulu!! semoga cepat sembuh!!! " kata Len sebelum pergi mengejar istrinya yang sudah keluar tadi.
Di parkiran rumah sakit, Len kebingungan saat tak mendapati sang istri dan anaknya di mana mana, di sepanjang jalan keluar nya tadi pun tak melihat Anya dan Dante di manapun, sampai ia berjalan di area luar rumah sakit, matanya tak sengaja melihat siluet yang begitu mirip dengan istrinya, apa lagi dengan anak yang cukup besar untuk di gendongnya.
Dengan cepat ia berlari ke arah wanita yang berdiri tadi, dengan wajah yang di penuhi kekhawatiran, apa lagi sang istri pergi dengan suasana hati yang tak baik-baik saja.
"Baby!!! " panggil Len yang dengan pede karena memang istrinya saat di lihat semakin dekat.
"Anya!! bukan baby!! dan selamanya akan seperti itu!! " jawab Anya tanpa menatap orang yang memanggilnya karena ia tau siapa yang berada di sampingnya saat ini.
"Kenapa ada di sini!! kita pulang sekarang!!! " ajak Len dengan mendorong pelan tubuh istrinya untuk ikut masuk ke mobil mereka.
"Huuufffttttt!!!! " Len menarik nafasnya cukup panjang, untuk menambah kesabaran ekstra di dalam dirinya saat menghadapi istri yang sedang marah. "Lihatlah langit sudah mulai gelap!! tak baik angin malam untuk putra kita, apalagi kau perempuan sendirian di sini!!! kita pulang dulu, dan lanjutkan marahnya di rumah, di tempat yang lebih aman!!! " nego Len dengan suara selembut mungkin.
Tapi negosiasinya terasa sia-sia saat tak lama ada sebuah mobil berhenti di hadapan mereka, yang ternyata adalah taxi online yang sempat Anya pesan.
Tanpa berucap apapun, Anya masuk kedalam mobil itu, walau sempat di tahan oleh suami.
Sedangkan Len yang tak bisa mencegah istrinya untuk tak masuk kedalam mobil, pria jenius itu memiliki ribuan cara untuk menggagalkan aksi sang istri yang akan pulang sendiri.
Dengan mengeluarkan beberapa lembar uang yang cukup besar, Len berjalan ke arah pintu kemudi dan menatap sang sopir yang bertugas menjadi taxi online hari ini.
__ADS_1
"Bisa bantu saya!! dia istri dan anakku, istriku saat ini marah padaku, bisakah kau mengusirnya dari mobilmu, dan kau akan mendapatkan uang ini sebagai imbalannya!! " ucap Len meminta tolong pada driver mobil itu.
"Baiklah!! "jawab driver itu, tanpa berfikir panjang karena imbalannya yang lebih besar berkali-kali lipat di banding upahnya setelah ini. " Bisa kalian keluar, ini permintaan suami anda!!! " ucap driver pada Anya yang sudah berada di kursi kemudi .
"Tidak bisa!!! saya sudah memesannya kok!!! " ucap anya.
"Tapi sudah saya cancel!! silahkan turun!!! " jawab driver itu.
Yang membuat Anya tak bisa berkutik lagi, dengan penuh amarah ia turun dari taxi online itu, lalu masuk kedalam mobil suaminya tanpa di minta, karena menurutnya percuma untuk memesan taxi online lagi karena pasti suaminya akan kembali meninggalkan aksinya.
"Terimakasih pak!!! " ucap Len sebelum berjalan ke arah mobilnya sendiri, dan masuk dengan senyum mengembang karena merasa menang dengan ke ngeyelan istrinya sendiri. "lets go, kita pulang!!! " ucap Len dengan menatap dia orang yang ia cintai dari spion tengah mobil.
Len sendiri bisa melihat dengan jelas wajah marah istrinya dan wajah kesal anaknya, tapi dengan santainya ia mengemudikan mobilnya seolah tak peduli dengan apa yang terjadi, padahal hatinya sudah dah dig dug tak karuan saat sampai di rumah nanti.
*****
Sedangkan di ruang perawatan Senta, gadis yang sedang tak baik-baik saja itu justru begitu mengkhawatirkan keadaan mantan kekasih nya dengan wajah yang hampir di penuhi oleh darah, tapi anehnya mantannya itu tak terlihat kesakitan sama sekali membuat Senta semakin khawatir dibuatnya.
.
.
.
...****************...
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...----------------...