
Saat Len, Anya, dan asisten Noberto beriringan berjalan menuju restoran. Tiba tiba Len memberhentikan jalannya pas di samping pintu masuk restoran. "Tunggu! ".kata Len ,sambil memegang pergelangan tangan Anya untuk berhenti. membuat Anya otomatis ikut berhenti,di ikuti asisten Noberto yang berada di belakang mereka.
"Mana ponselmu? " Minta Len pada Anya dengan menengadahkan tangannya.
"hah? No, no. Ini ponsel Anya. Beli ponsel sendiri! jangan minta ponsel Anya. " kata Anya salah mengira maksud Len. "Anya memang pelit! " terang Anya, padahal tidak ada yang menghakiminya.
Mendengar penuturan Anya membuat Len bedecak kesal di buatnya, sedangkan asisten Noberto terlihat melongo mendengar jawaban tak terduga dari gadis remaja di depannya itu.
Len yang melihat ponsel Anya berada di saku depan seragamnya, dengan tangan cepatnya mengambil ponsel Anya dari saku, membuat sesuatu yang menonjol tak sengaja bersentuhan dengan tangannya, hingga Len mematung sesaat di buatnya, dan menyadari sesuatu yang menentang di bawah sana.
" oh, **** boy. " kata Len dalam hati, yang tak habis pikir dengan si boy nya yang murahan saat bersentuhan fisik dengan Anya. Padahal Len banyak di kelilingi wanita seksi sebelumnya, dan tak bereaksi apapun padanya, malah semuanya membuat Len jijik untuk sekedar memandang sesaat.
"jangan pegang pengan Anya seenaknya! gak boleh kayak gitu! Anya bukan gadis kayak gitu! kembaliin ponsel Anya sekarang! " kata Anya penuh kemarahan, yang juga menyadari bagian sensitif nya pertama kali tersentuh lawan jenisnya, sembari memukul mukul badan besar Len, yang tak berarti apapun di tubuh kuatnya.
"Maaf baby, aku gak sengaja. Aku hanya mau ambil ponsel kamu! buat catat nomor ku. Tapi pikiranmu melenceng jauh baby. " kata Len penuh penyesalan, tak menduga hal ini akan terjadi.
"Tapi kan tinggal bilang Anya, jangan ambil barang milik orang lain seenaknya. " kata Anya kepada Len, memperingatkan pria dewasa di depannya itu untuk tidak seenaknya.
"ok aku salah, maaf baby. Tapi kamu bukan orang lain untuk ku." kata Len sambil mencatat nomernya pada ponsel Len. Dan dengan sengaja menelpon nomernya sendiri,menggunakan ponsel Anya, agar dapat memiliki nomer Anya juga, sambil menikmati wajah cemberut Anya yang masih marah dengan bibir mengerucut nya.
Saat akan mengembalikan ponsel Anya, tiba tiba muncul panggilan dengan nama papa dari layar ponsel Anya, membuat Len tau siapa yang menghubungi gadis kecilnya itu. Dengan cepat Anya mengambil ponselnya dari tangan Len, dengan cepat Anya menjawab panggilan sang papa, dan berlalu dari kedua pria dewasa itu. Jangan lupa asisten Noberto yang berdiri di belakang tuannya , tak di anggap sama sekali
Anya berlalu begitu saja, tanpa berpamitan, dan berterima kasih atas tumpangan yang di berikan Len.
"Awas kamu baby, tunggu hukuman nanti! " kata Len dalam hati, melihat Anya seenaknya memanggil daddy, dan seenaknya meninggalkannya begitu saja. Saat Anya berlalu menjauh, wayah Len yang penuh kelembutan di depan Anya, berubah dingin seperti es. Dan sedikit memandang sekitar.
__ADS_1
Len memutuskan masuk ke restoran A tanpa memusingkan sikap gadis kecilnya yang seenaknya itu, duduk di tempat yang telah asisten Noberto pesan sebelumnya.
"Pesan seperti biasa nob. " kata Len pada sang asisten.
"siap tuan. " jawab asisten Noberto, yang akhirnya di anggap sang tuan.
Di sisi lain, Anya yang pergi kedapur restoran, setelah berbincang dengan sang papa di telpon mengatakan apa yang terjadi padanya hari ini, kecuali ciuman yang ia dapat hari ini. Anya yang di salahkan atas tindakannya, membuatnya tak Terima, karena kesalahan papanya yang tak mengangkat telponnya berkali kali.
"papa jahat. " kata Len dalam hati, memikirkan papanya yang mengomel terus terusan di ponselnya tadi.
Dengan mood yang berantakan, Anya hanya berdiam diri di pojokan dapur yang memang tersedia kursi kecil di sana, tanpa melakukan apapun, melihat karyawan lalu lalang di depannya, yang terlihat sangat sibuk. Karena mood Anya yang berantakan, pasti membuat cake dessert buatannya nanti ikut berantakan. Melayani pelanggan restoran pun, tak mungkin dengan mood nya yang sekarang. Alhasil ia hanya diam di pojokoan, padahal tadi Anya berangkat dengan semangat 45.
Len yang menikmati cake dessert di tempatnya, tiba tiba di hampiri tuan Oscar yang entah dari arah mana.
"Dilihat-lihat, kamu sepertinya jadi pelanggan tetap di sini Len. " kata tuan Oscar sambil berjabat tangan dengan Len dan asisten Noberto. lalu duduk di bangku yang masih kosong di samping Len.
"Kapan kalian menikah? " tanya kepada kedua pria matang itu, membuat mereka berdua tersedak secara bersamaan.
"Sepertinya Tuan Len lebih dulu tuan. " jawab asisten Noberto pada tuan Oscar, yang membuatnya di tatap tajam oleh Len. "Tuan Len sepertinya menyukai salah satu karyawan anda di sini tuan. " cerocos asisten Noberto ,yang tidak ada takutnya seperti biasa pada sang tuan, karena jika ada tuan Oscar, Len tak akan bisa menghajarnya .
"Stop, saya hanya tertarik! ".Kata Len, memberhentikan omongan asistennya.
" Jika isi kepalamu sudah di isi dengan perempuan itu, kejarlah dia, jangan sampai menyesal nantinya. " kata tuan Oscar yang tak tau putrinya lah yang di maksud, dan Len yang belum tau identitas Anya yang sebenarnya.
"Saya akan mengikuti saran anda tuan. " kata Len dengan senyum tipisnya.
__ADS_1
"ingat perkataanku, aku masuk pergi dulu. " kata tuan Oscar, sambil berdiri menepuk bahu len , dan tersenyum kepada asisten Noberto. diangguki dua pria matang itu. Tuan Oscar beranjak pergi meninggalkan Len dan asisten Noberto.
Sudah dari 4 jam lamanya, dua pria matang itu duduk di restoran A. Len yang menunggu kemunculan Anya, yang tak kunjung muncul-muncul. apa yang terjadi di dalam dapur restoran, yang membuat gadis kecilnya tak muncul melayani pelanggan seperti biasanya.
"Ini cake dessert yang ke 5 tuan. " kata asisten Noberto, yang kekenyangan karena kelakuan tuannya. "Mungkin nona kecil sudah pulang tuan. " kata asisten itu lagi, yang tau tujuan tuannya duduk di tempat itu selama 4 jam.
"Tidak mungkin, ini masih jam kerja. " kata Len yang masih optimis dengan tujuannya.
Tak berselang lama, keluarlah gadis yang di tunggu tunggu, tapi tetap menggunakan seragam saat mereka pertama kali masuk tadi.
Len langsung menghampirinya, dan menengah pergelangan tanggan kecil Anya. "mau pulang? ayo aku antar. " kata Len saat Anya sudah berhenti di depannya.
Dijawab celengan kepala oleh Anya. "Why? aku antar sekarang ok! " nego Len yang tak memikirkan apapun selain mengantarkan pulang gadis kecilnya itu.
"Anya pulang sama papa. " kata Anya yang membuat Len sedikit kecewa. Tapi tidak masalah, selagi itu keluarga Anya, Len memaklumi nya.
Len melepaskan tangan Anya yang iya genggam tadi, dan mengelus kepala Anya dengan lembut dan penuh kasih sayang. "Ok, hati-hati baby, besok belajar yang rajin. " kata Len yang diangguki lucu oleh Anya, dan Len beranjak pergi dengan asisten Noberto, setelah membayar bill mereka.
Tak berselang lama kepergian mobil yang di tumpangi Len. papa Oscar keluar dari ruangannya , menghampiri anak gadisnya itu yang sudah janjian pulang bareng via telpon tadi.
Anya berjalan mendahului papa Oscar, yang masih marah dengan insiden papanya yang mengomel tadi siang. tapi pada akhirnya mereka pulang bersama-sama.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
...----------------...