
Len malah melongo dengan sikap random anaknya, yang tiba-tiba memuji kecantikan wanitanya, tapi kalau di lihat Anya memang cantik dengan situasi apapun, apa lagi saat membuka matanya tadi, membayangkannya saja sudah membuat tubuh Len berdesir hebat.
Tok, tok, tok
Lamunan Len terhenti saat mendengar pintu kamarnya di ketuk, membukanya segera karena sudah tau siapa yang akan datang.
"Kenapa bisa sakit? " Ucap Bastian pertama kali menatap Len.
Menghampiri Anya dan mulai memeriksa keadaannya, yang sesekali menatap wajah cantik Anya walau dengan wajah pucat nya.
"Aku kira hamil! " ucap Bastian yang membuat Len dan Anya melongo.
"Jangan ngada-ngada! belum di unboxing! " ucap Len di angguki Bastian.
"Tidak ada sakit yang serius! hanya kelelahan dan kurang tidur saja, sebaiknya istirahat yang cukup nanti akan pulih kembali! dan selamat atas pertunangan kalian, maaf aku tak bisa ikut waktu itu, kalian tau lah pekerjaanku ini yang terkadang sangatlah mendadak! " ucap Bastian.
"Tak masalah! hanya saja nanti waktu nikah paman harus datang! " kata Anya.
"Itu pasti! aku permisi dulu! " pamit Bastian dengan tugas yang sudah selesai. " hei Dante! " sapa Bastian sebelum pergi.
"Terimakasih! " ucap langka Len.
"Ya! " jawab Bastian sebelum berjalan keluar dari kamar. "Dia bilang terimakasih? mimpi apa aku semalam! " kaget Bastian mendengar kata-kata keramat bagi Len.
*****
Esok paginya, Anya menjalani harinya dengan tubuh yang sudah sehat tak seperti sebelumnya, berniat mengantarkan Dante di hari pertamanya masuk sekolah selagi ia masih libur kuliah.
Begitu juga Len, walau pekerjaannya juga pasti menumpuk dengan seminggu ini ia tinggal, Len menyempatkan dirinya untuk mengantar putranya di hari pertama ia masuk sekolah.
Banyak nasehat-nasehat kecil yang Anya ajarkan pada Dante untuk ia bersikap nanti.
"Mommy antar ke kelas oke! " ucap Anya yang di angguki Dante, walau sebenarnya ia tak se penakut yang di bayangkan ibu sambungnya. "Pamit sama daddy! " ucapnya lagi.
"Aku sekolah dulu dad! " ucap Dante tak lupa mencium daddy nya.
__ADS_1
"Ya! belajar yang rajin! " jawab Len dengan tersenyum kecil.
Anya dan Dante keluar dari mobil lalu berjalan menyusuri lorong sekolah menuju kelas yang akan Dante tempati, sesekali melihat wajah-wajah baru yang nantinya akan menjadi teman putranya dengan senyum manisnya anya menyapa anak-anak yang sedang menatapnya.
"Mau mommy tunggu di luar? " tanya Anya yang di angguki Dante. " baiklah mommy tunggu di luar! " ucap Anya berjalan keluar kelas setelah mengantarkan Dante sampai di kursi miliknya.
Tak butuh waktu lama, suara bel masuk berbunyi dengan Anya yang bisa melihat anak-anak seumuran putranya berhamburan masuk ke kelas dan tak lama seorang guru pria berjalan menghampirinya yang sepertinya wali kelas dari kelas putranya.
"Tuhan, cantik sekali! bolehkah aku memilikinya!!" batin guru itu sempat terpesona dengan kecantikan Anya. "Halo! dengan wali murid Dante? " ucap guru itu menebak karena hanya Dante murid baru di kelasnya dan tentu saja berbicara dengan ramah karena melihat bidadari tak bersayap di hadapannya.
"Ya pak! mohon bantuannya untuk putra saya pak! " ucap Anya yang memudarkan senyum ramah pak guru itu.
"Punya anak belum tentu punya pasangan dong! " pikir pak guru itu yang mencoba memiliki harapan. " perkenalkan nama saya Riky, wali kelas di kelas putra Nona! " ucap guru yang bernama Riky dengan berjabat tangan.
"Saya Vanya ibunya Dante pak! " ucap Anya menerima jabatan tangan guru itu. "Jadi inget Riky si playboy itu! " batin Anya yang mendengar nama yang sama dengan pria yang pernah mengejarnya dulu.
"Bisakah saya mendapatkan nomor ibu, agar lebih mudah mengubungi wali Dante kalau terjadi apa-apa di sekolah! " ucap guru Riky sedikit modus dengan tangannya yang masih menggenggam tangan Anya.
" Baby! " panggil Len.
"Kenapa lama sekali! " ucap Len dengan wajah dinginnya.
"Maaf, tadi Dante memintaku menunggu sampai bel bunyi, terus aku juga bertemu wali kelas putraku lalu berkenalan sebentar, dan dia juga meminta nomor ku agar mudah menghubungi kita kalau terjadi sesuatu dengan Dante di kelas! " ucap Anya jujur.
" Benarkah! perkenalkan saya daddy nya Dante! " ucap Len dengan mata tajamnya meminta berjabat tangan, yang tak lama di Terima oleh guru pria yang berniat merayu tunangannya.
"RI.. riky! " gugup guru Riky melihat mata pria mengerikan di depannya, sembari merasakan remasan di tangannya yang cukup membuatnya ngilu.
"Tenang saja kalau masalah nomer telpon, aku sudah memberikan nomer telpon ku ke kepala sekolah, jika ada apa-apa pada putraku mintalah ke padanya, bukan pada istriku! " ucap Len penuh penekanan dan melepaskan genggamannya dengan berlahan.
"Ayo pulang baby! " ajak Len.
"Oke! kami permisi dulu pak! " ucap Anya sebelum melangkahkan kakinya menjauh dari area sekolah.
"Beruntung sekali mendapatkan yang muda-muda! tidak! tidak! tidak akan lagi mencari kesempatan dengan istri orang lain! " ucap guru Riky dalam hati yang anti dengan perebut istri orang. " Tapi tadi cantik sekali! Tuhan tolong berikan aku jodoh seperti itu! " batinnya lagi.
__ADS_1
Di sisi lain Len terus melangkah cepat menuju parkiran mobilnya dengan tangan yang menggenggam tangan tunangannya, ia terlalu kesal sampai tak sadar Anya yang berada di belakangnya kewalahan mengimbangi langkahnya.
"Dad pelan! " ucap Anya yang tak di hiraukan oleh Len.
Bugh....
Akhirnya yang di takutkan Anya terjadi, ia terjatuh pelan karena benar-benar tak bisa mengimbangi langkah Len yang lebar dan cepat walau dengan sedikit lari sekalipun, sampai hal yang sudah ia prediksikan terjadi sekarang.
"Baby! " kaget Len melihat Anya jatuh hampir tersungkur malah.
"Sudah ku bilang pelan-pelan! " ucap Anya dengan suara kesalnya.
Berdiri sendiri dari jatuhnya setelah ia menepis bantuan dari Len, lalu melangkahkan kakinya lebih dulu tanpa sedikit pun menoleh pada pria yang membuatnya marah sepagi ini.
"Baby! maaf baby! " ucap Len sambil mengejar langkah Anya yang tak jauh darinya.
Anya terus menghiraukan Len sampai di dalam mobil pun juga sama, melipat kedua tangannya di dada dan menatap lurus kedepan.
"Baby! maaf aku tadi cemburu melihat kamu dengan pria lain berpegangan tangan seperti itu! " ucap Len membuat Anya menatap wajahnya dengan garang, yang menurutnya lebih mirip anak kucing sang sedang mencoba menunjukkan taringnya.
"Aku sudah menjelaskannya tadi kan! jangan sampai aku menjelaskannya kembali dan akan semakin membuatku marah padamu! " ucap Anya marah.
"Ya tetap saja, aku tak suka kamu dekat-dekat dengan pria lain apa lagi berjabat tangan dengan pria lain seperti tadi, apa kau tak melihat betapa ia tertarik dengan kecantikanmu ini hm! aku tak suka itu! sangat tidak suka! " ucap Len marah-marah juga.
"Terserah! antarkan aku pulang sekarang! " ucap Anya yang malas meladeni kecemburuan tak berdasar pria di depannya.
.
.
.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
...----------------...