Cinta Pria Kejam

Cinta Pria Kejam
Semakin sakit


__ADS_3

Siang telah berlalu, berganti dengan kegelapan yang menyelimuti langit, dengan suara hujan yang masih betah membasahi bumi.


Pria dengan posisi tidur memeluk gadis tercintanya sedari siang berlahan membuka matanya, merasakan merasakan perut laparnya sedari siang belum di isi.


Len tersenyum memandang wajah pucat anya yang masih sangat terlihat cantik saat tidur, menempelkan punggung tangan besarnya pada dahi anya. Dahinya masih panas tapi tidak separah tadi siang.


Memindahkan tidur Anya yang berada di pelukannya berlahan. Len mulai merasakan kebas pada tangan yang di tindih anya sekarang, tapi tak masalah baginya.


Mengambil telpon rumah untuk menelpon pak pet dari kamar anya, karena perutnya sudah mulai lapar dan ia juga menyadari perut anya belum terisi sedari siang.


"Ada yang bisa saya bantu nona? " tanya pak pet dari sembarang yang mengira adalah nona kecil saat sambungan telpon mereka sudah terhubung.


"Bawakan 2 menu makanan, 1 bubur hangat, segelas susu coklat nona kecil, dan segelas air hangat!!! bawa ke kamar nona kecil!! " perintah Len.


"Ba.. baik tuan!! " gugup pak pet salah mengira.


Len mematikan sambungan telponnya, ia beranjak ke kamar mandi milik anya, mencuci wajahnya agar lebih segar.


Keluar dari kamar mandi, Len di suguhkan pemandangan di ranjang, Anya yang menggeliat sambil menggercap-gercapkan matanya juga terdengar suara erangan kecil seperti bayi.


Dengan bersendekap dada Len tersenyum gemas yang ujung-ujung nya ingin melahap gadis imut itu.


Sedangkan Anya yang baru menyadari ada Len di sana, ia langsung terduduk tapi rasa sakit kepalanya mulai menjalar sekarang, ia ingat sudah 1 jam ia menunggu pria di depannya sampai kehujanan. Ia memegangi kepalanya yang terasa sangat sakit.


Anya juga mulai tersadar jika bukan hanya kepalanya yang sakit, badannya sangat sakit seperti habis lari maraton, hatinya juga ada rasa nyeri mengingat 1 jam ia bertahan di halte kecil itu, yang sangat yakin daddy Len akan segara menjemputnya.


Entahlah anya tak ingin mengingat-ngingatnya, tapi ia merasakan ada sesuatu yang mengalir di hidungnya, bukan darah hanya ingus yang menandakan anya akan flu nanti.


Senyuman Len memudar saat rasa khawatir melanda melihat Anya yang memegangi kepalanya sambil mendongakkan kepalanya bersamaan.


"Pusing baby?? " tanya Len sudah duduk di sisi ranjang samping anya.


"Ingus ku keluar!! Anya butuh tisu!! " pinta anya dengan suara mirip kodok.


Len tersenyum lucu dengan perubahan suara anya dan hidung yang beringus sekarang, ia ingat gadis di depannya juga masih ingusan, mengambilkan dua helai tisu di tangannya, dan membersihkan hidung anya tanpa rasa jijik.


"Ayo keluarkan! " pinta Len saat tisu itu sudah bertengger cantik di hidung anya.


"Biar anya saja. " kata anya takut Len jijik.


"Tidak, ayo cepat keluarkan! " perintah Len tak terbantahkan.


Dengan segala paksaan anya mengeluarkan ingusnya dari tisu yang di pegang Len, dengan telaten Len membersihkan sisa- sisa ingus yang tertinggal.


Tok, tok, tok..


Suara ketukan pintu kamar Anya terdengar, Len yang tau siapa yang akan datang langsung membukakan pintu kamar anya, membiarkan pak pet masuk mendorong troli berisi makanan yang sudah di pesan tuannya.

__ADS_1


Membungkukkan tubuhnya sedikit tanda hormat lalu berlalu pergi setelah tugasnya selesai.


"Ayo makan, daddy suapi! " kata Len sambil menyendokkan bubur hangat milik anya.


"Anya bisa sendiri! " kata anya dengan wajah datar. "Apa tidak ada yang ingin daddy jelaskan pada anya? Apa anya tak sepenting itu? " pikiran anya menaham agar tak menangis.


"Kenapa? ayo makan? " kata Len dengan menyodorkan sesendok bubur di depan mulut anya, ia pun juga merasakan lapar saat ini.


"Anya bilang bisa makan sendi... " ucapnya terhenti karena tak sengaja menyenggol sendok yang masih menggantung di depan mulutnya saat akan mengambil mangkuk di tangan Len yang lain.


Alhasil membuat suapan itu terjatuh beserta sendoknya di atas selimut yang anya pakai.


"Anya!!!!! " bentak Len yang marah.


Pikiran kalutnya tentang masa lalunya, rasa takut kehilangan anya, dan rasa laparnya membuat Len kelepasan membentak anya.


Anya kaget mendengar bentakan Len, air matanya akhirnya menetes setelah ia tahan dari tadi, mencengkram kuat selimut yang menutupi paha dan kakinya, mencoba menetralkan rasa sesak dan ketakutannya.


"An.. nya makan se.. sendiri!! " tangis anya sambil merebut mangkuk yang masih Len pegang yang masih terdiam mematung, mengambil sendok yang terjatuh di atas pangkuannya.


Dengan air mata yang terus berjatuhan, anya melahap buburnya yang sama sekali tak enak di mulutnya dengan sangat lahap. Anya sudah mencoba menghapusnya, tapi air matanya tetap akan kembali keluar, dan terus seperti itu.


Len diam melihat itu, dengan tangan terkepal ia menahan amarahnya, ia marah pada dirinya sendiri, masalah yang tadi saja belum selesai, dan baru saja ia membentak gadis yang ia cintai.


Len tak berani mengatakan apapun, hanya bisa menatap iba anya yang memprihatinkan, anya masih sakit karena perbuatannya, sekarang kembali sakit karena bentakan nya.


Tanpa membantah, anya menerima beberapa obat dari tangan Len, meminumnya dengan susah payah.


"Susunya juga baby! " ucap Len memberikan susu coklat kesukaan anya, dan diterima langsung tanpa berkata apapun.


"Makanlah! " kata anya dengan wajah dingin yang sebelumnya melihat 2 menu makanan di atas troli, ia yakin itu milik Len.


"Ti.. tidak baby!! Daddy ma.. mau minta ma... " kata Len terpotong.


Deringan ponsel anya berdering , membuat dua insan itu menoleh ke sumber suara. Dengan bergerak anya bangun mengambil ponselnya, tapi di tahan Len.


"Biar daddy saja baby. " ucap Len lebih dulu beranjak mengambil ponsel anya.


Len bisa melihat nama papa oscar di panggilan telpon itu, memberikan ponsel anya dengan segera, dengan rasa kekhawatirannya.


Anya menghembuskan nafasnya pelan sebelum menerima panggilan dari papa oscar.


"Halo pa! " suara anya di buat seceria mungkin tapi tidak dengan matanya.


"Tuhan!! " jerit Len dalam hati dengan rasa sesak semakin dalam melihat perubahan gadisnya yang sebisa mungkin menyembunyikan kesedihannya pada orang yang di cintai.


"Ada apa dengan suaramu sayang? " tanya papa oscar mendengar suara anak yang yang seperti kodok.

__ADS_1


"Anya flu pa? " ucap anya dengan suara manjanya.


"Kenapa bisa? " tanya papa oscar khawatir di sebrang.


"Anya sempat kehujanan di kampus!! kemarin udah terasa, cuman parahnya sekarang!! " jelas anya berbohong demi kebaikan bersama.


"Kenapa harus hujan-hujanan sih, papa tidak ada di sampingmu!! jangan sakit- sakit sayang!! " kata papa oscar tulus.


"Papa!!! Papa pria terbaik di dunia. " kata anya dengan suara cerianya.


"Tentu saja papa pria terbaik!! bangga papa oscar.


" Mama mana pa? " tanya anya yang belum mendengar suara mama Rosa.


"Mamamu tidur!! kau tau, kerjaan mamamu di sini hanya makan dan tidur, jangan kaget pulang nanti mamamu berubah jadi sapi!! " bisik papa dengan candaan tepi jurang baginya.


"Hahahhaahaaa!!! anya adukan ke mama nanti!! " ancam anya di sela tawanya.


"Jangan dong!! tunggu! anya sudah beli obat sayang? " tanya papa oscar.


" sudah, bahkan anya meminumnya dengan lancar pa!! " bangga anya.


"Wow!!! hebat sayang!!! cepat sembuh, jangan sakit-sakit!! papa tak ada di samping anya sekarang oke!! " nego papa oscar dengan sakitnya anya.


"oke pa! " jawab anya.


"Anya istirahat sekarang!! papa ada pekerjaan lagi sayang! " pamit papa oscar.


"Baik papa sayang, I love you!! " kata anya.


"Love you to sayang! " jawab papa oscar sebelum sambungan telpon mereka terputus.


Anya terdiam sebentar dengan wajah kembali sedih seperti semula, yang sebenarnya ia sangat menahannya tadi, lalu menatap pria kejam yang berlutut di sampingnya dengan wajah iba nya.


"Kenapa?? sangat menyedihkan bukan?? jangan khawatir, anya sudah belajar dari masa lalu kok! anya bisa mengatasinya!! " kata anya dingin penuh ketegaran.


.


.


.


lanjut


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2