
Pagi hari di kediaman Becker, sudah di sibukkan sang pemilik rumah yang akan berangkat bekerja, sudah dua hari ia meliburkan diri yang sangat yakin ada pekerjaan menumpuk yang menunggunya.
Dengan langkah teratur Len berjalan ke kamar sang anak sebelum turun ke bawah, yang sayangnya tak ada pemilik kamar saat Len membuka pintu kamar Dante, tak terlalu ambil pusing karena dia tau di mana anaknya sekarang, Len kembali melangkahkan kakinya menuju lantai bawah.
Dan benar saja, saat di lantai bawah Len sudah melihat sang anak sudah duduk manis di kursi meja makan di temani gadis tercinta tentu nya, bisa Len lihat Anya yang begitu sibuk menyiapkan sarapan pagi mereka, mondar-mandir dengan sesekali mengelus sayang putranya.
Pemandangan indah pagi ini tentu saja tak akan di lewatkan oleh Len, apa lagi senyum bahagia yang terlintas di bibir dua orang yang ia sayangi menambah semangat melewati hari panjangnya, apalagi berkas menumpuk yang menantinya.
Tapi bunyi deringan ponsel di sakunya membuat langkahnya terhenti saat akan mendekat ke meja makan, yang otomatis membuat Anya dan Dante menatap Pemilik ponsel yang mereka tak sadari tadi keberadaannya.
"Katakan! " kata Len pada orang yang menelponnya pagi-pagi.
"Dia mulai bergerak tuan! " kata Noberto asisten Len yang ternyata si penelpon.
"Lalu? " tanya Len santai karena ia yakin orang yang di maksud tak sepanjang dengannya.
"Ia mencoba meretas keamanan perusahaan tuan tapi gagal, tapi yang membuat kaget peretas dari perusahaan MJ , salah satu perusahaan yang bekerja sama dengan perusahaan kita, saya bingung kenapa dia mencoba berperang diam-diam dengan kita, sedangkan dia mendapatkan keuntungan dari kerjasama kita! " kata asisten Noberto yang bingung.
"Kita bicarakan di kantor saja. " kata Len lalu mematikan panggilan telponnya.
"Kenapa? apa ada masalah di perusahaan? " tanya Anya melihat raut wajah Len yang berubah tak enak di pandang.
"Sedikit, sepertinya aku tak bisa sarapan bersama pagi ini! Tunggu! kamu tak ada kuliah pagi hari ini? " tanya Len melihat pakaian rumahkan anya.
"Aku kuliah sore! " jawab anya.
" Ya sudah, aku berangkat dulu! " kata Len sambil mencium kening anya.
"Tunggu sebentar! " kata anya menghentikan pergerakan Len yang mengarah pada sang anak.
Anya pergi ke dapur tanpa mendengar jawaban Len tapi tak lama ia kembali dengan sebuah kotak bekal di tangannya, dan memasukkan beberapa sandwich buatannya.
"Bawa ini! Kau bisa sarapan di mana saja! dan jangan lupa dengan sarapannya! " kata anya sambil memberikan kotak bekal berwarna pink miliknya yang sudah berisi sandwich.
"Kau seperti istri yang baik baby! " kata Len tanpa ragu menerima bekal pink itu lalu beralih pada sang putra yang menatapnya jengah sedari tadi. " Papa berangkat dulu, sekolah yang benar! " kata Len sambil mencium kening Dante dengan sayang.
"Ya! " kata Dante dengan memutar dua bola matanya malas.
"Papa sayang kalian, dan jangan tunjukkan wajah seperti itu, karena kamu akan melihatnya setiap hari, apalagi nyanya akan jadi mamamu nanti! " kata Len dengan senyum bahagianya dan berlalu pergi untuk pekerjaannya pagi ini.
Dante termenung mendengar penuturan papanya, ia teringat pada mama kandungnya yang entah bagaimana nasibnya sekarang, walau ia yakin mamanya baik-baik saja seperti biasanya.
"Apa aku harus memanggil nyanya mama juga nantinya?? bagaimana dengan mama( ibu kandung)??? " pikir Dante yang bimbang harus memanggil anya dengan panggilan mama juga.
__ADS_1
"Jangan terlalu di pikirkan perkataan papamu!! Apapun status nyanya dan papa kamu nanti, kamu tetap bisa memanggil nyanya! atau panggilan lain! jangan terlalu di pikirkan! " kata anya tau apa yang Dante pikirkan.
"Walaupun di ganti Dante tetap ada mana mama Dante di sana? " tanya Dante dengan hati-hati.
"tentu saja itu harus! " kata anya dengan berat hati. " bagaimanapun sifat mama Dante dia tetaplah mama yang melahirkan dante bukan! Pasti tidak akan tergantikan! " lanjut anya, yang sejatinya tak ada wanita yang mau terbagi cintanya.
"Terimakasih nyanya! " kata Dante dengan senyum bahagianya.
" Iya, kita makan sekarang! bukankah kamu akan sekolah lebih pagi hari ini! " kata anya dengan wajah ceria yang sebenarnya menutupi kesedihan di hatinya.
"Oke! " kata dante memulai sarapan paginya.
Anya melakukan perannya dengan baik pagi ini, walau ada kesedihan yang ia rasa akan, bukan anya namanya jika tak bisa membuat topeng kebahagiaan di wajahnya.
Sore harinya anya bersiap menuju kampus dengan pakaian tapinya terus melangkahkan kakinya, tapi di depan teras anya tak sengaja berpas-pasan dengan guru Dante yang jika baru keluar di mansion.
"Hai! " sapa guru tampan itu.
"Oh, Hai Pak, apa bapak perlu bantuan? " tanya anya dengan ramah.
"Tidak ada! mau berangkat kuliah? " tanya guru tampan itu.
"iya Pak!" jawab anya yang mulai tau modus pria di depannya.
"Biar saya antar nona! " ajaknya mengantar.
"Sial! " pikir guru tampan itu yang mendapatkan penolakan oleh wanita cantik, dengan body wow nya.
"Jangan coba-coba mendekati nona kami kalau kau sayang dengan nyawamu, karena nona kami milik tuan kami seorang! jangan dekati nona kami lagi jess! " kata pak pet yang sedari tadi melihat mereka di kejauhan.
"eh, pak pet!! siapa yang mendekati nona kalian, saya hanya memberi tumpangan saja! " jawab jess guru tampan Dante dengan gelagapan. " Saya permisi pulang dulu! " lanjutnya yang tak ingin berlama-lama di sana.
Pak pet hanya menatap kepergian pria tampan itu dengan aura mengintimidasi sampai mobil jess tak terlihat lagi, pak pet memang merasa pasangan pria itu berbeda jika dengan nona nya, ia yakin jess memiliki perasaan lebih pada nona nya, dan tentu saja dia tak akan membiarkan itu terjadi.
*****
Malam hari anya baru menyelesaikan kuliahnya, gadis cantik itu bergegas menuju parkiran mobilnya, anya ingin segera pulang dan bertemu dengan pria kecil yang ia rindukan beberapa jam yang lalu.
Saat akan menyalakan mesin mobilnya, anya di hentikan dengan suara dering ponselnya, segera ia mengangkat panggilan telpon yang ternyata dari sahabatnya.
"Halo! " kata anya saat mengangkat panggilan telponnya.
"Anya tolong aku! " kata senta dengan panik.
__ADS_1
"Ada apa? kenapa? " sela anya yang juga panik apa lagi anya mendengar suara musik begitu kenceng, membuatnya tau posisi sang sahabat saat ini.
" aku lupa bawa uang!! aku gak bisa bayar pesanan ku sekarang!! tolong aku anya!! plissss!!!" mohon senta yang memang dalam ke adaan genting.
"Gimana bisa pergi gak bawa uang!! manusia aneh! " sebal anya. " ya udah, di mana kamu sekarang? " tanya anya walau kesal ia tak akan membiarkan sahabatnya kesusahan.
"Di club rose!! aku tunggu!!! makasih anya sayang yang baik dan cantik! " puji sang sahabat kalau ada maunya.
"Lebay! " kata anya sebelum mematikan panggilan telponnya, lalu menatap layar ponselnya yang tertera jam 19.45. " huuuuffffttt, sepertinya akan pulang malam hari ini! " kata anya dengan dirinya sendiri di dalam mobil.
Anya mulai menjalankan mobilnya menuju tempat temannya yang membutuhkan pertolongannya, dengan jarak tempuh 30 menit anya sampai ke tempat tujuannya.
Dari parkiran saja anya sudah menjadi pusat perhatian apa lagi saat ia masuk, seolah semua mata tertuju padanya, Anya masa bodo dengan pandangan orang -orang, yang terpenting sekarang menyelesaikan masalah sang teman dan pulang secepatnya.
Lama Anya mencari sahabatnya, sampai ia melihat Senta yang duduk dengan dua pria yang tak Anya kenal.
"Wah, wah!! jadi ratu dugem ternyata!! " pikir anya yang melihat kelakuan sahabat satunya itu, tanpa pikir panjang ia berjalan menghampiri sang sahabat yang tak menyadari kehadirannya.
"Ayo pulang! " ajak Anya yang melihat raut tak nyaman sang sahabat, yang sepertinya tak mengenal dua pria yang ikut duduk di meja Senta.
"Wow!!! dia temanmu!! mari gabung! " kata salah satu pemuda yang memandangi anya dengan lapar.
"Maaf!! tidak untuk hari ini! " kata Anya tanpa berniat menyinggung orang. " ayo pulang! " kata Anya lagi pada Senta.
"Permisi tuan-tuan, temanku menjemput!!! bye!!! " kata Senta dengan centil yang membuat Anya muak melihatnya.
"Besok kalian kesini lagi? " tanya mereka.
" Tentu! " jawab Senta yang mendapatkan plototan anya.
" ayo pergi! " bisik anya sambil menarik tangan sang sahabat.
Mereka berdua pergi setelah membayar pesanan Senta, dengan anya yang menatap sebal sang sahabat.
" Kenapa pergi ketempat seperti ini sih!! tidak baik sering-sering ke sini tau! " omel Anya. " lihat pria tadi, tatapannya menjijikkan!! kau betah sekali bersama pria asing yang menatapmu seperti itu. " lanjut omel Anya.
.
.
.
...****************...
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...----------------...