Cinta Pria Kejam

Cinta Pria Kejam
Memenuhi Panggilan Sekolah 2


__ADS_3

Di awal perkataan papa Oscar membuat Anya syok dan marah, tapi tindakannya tidak seperti papa Oscar yang biasanya, dan ternyata ada udang di balik bakwan. Yang membuat Anya mulai paham jalan pikiran Papa oscar. Papa Oscar akan selalu bertindak setelah menyelidiki permasalahan di hadapannya. Dengan papa Oscar yang hanya diam saja di awal pertemuan mereka, secara diam diam papa Oscar meretas CCTV sekolah Anya, dan membuat rencana yang akan menjadi boomerang bagi orang yang mengusik anak kesayangannya.


Didepan kepala sekolah dan orang tua Berta, dengan samar papa Oscar menganggukan kepalanya kepada sang anak saat mereka bertatapan, pertanda drama baru akan di mulai.


"Apa papa tidak percaya dengan anak sendiri, " kata Anya yang mulai menangis bombai. "Hati Anya sakit pa, papa lebih percaya orang lain dari pada anak papa sendiri, Anya kecewa pa, huhuhuuuhuuu, Anya punya buktinya kalau Anya hanya membela diri Anya papa, tolong beri kesempatan Anya untuk menjelaskannya lagi p. " kata Anya mulai mendrama.


Papa Oscar melihat drama anaknya itu meringis samar, "Sepertinya kau sedang curhat sayang! " kata papa Oscar dalam hati. " Bukti apa?tidak ada bukti lagi Anya! sudahlah, papa tidak mau memperpanjang masalah ini, papa capek dengan tingkahmu! " kata papa Oscar mendrama.


" Papa kok gitu, Anya bukan anak seng seperti dia ceritakan. Biarkan Anya menjelaskan sekali lagi pa, kasian anak mama pa! " kata mama dengan nada kecewa, yang tak tau menau tentang drama yang di buat ayah dan anak nya itu.


"Waduh, sepertinya malam ini tidak dapat jatah! " kata papa Oscar dalam hati. "Mama diam, biar semua cepat selesai. " kata papa oscar, membuat mama Rosa marah dan syok di buatnya.


"Anya anak mama, dan mama sangat percaya pada anak mama. " kata mama Rosa menyindir papa Oscar.


Papa Oscar meringis ngilu dalam hati mendengar kata-kata yang terlontarkan mama Rosa, dengan berat hati papa Oscar menyamping kan perasaan sang istri tercintanya, demi tujuan. "Berikan nomer rekening kalian. " kata papa Oscar sekali lagi.


Dengan sigap 2 pria setengah baya itu memberikan nomer rekeningnya dan di Terima langsung oleh papa Oscar.


"Pa! " kata Anya dan mama Rosa bersamaan memprotes papa Oscar.


"Dengan begini papa seolah olah membenarkan semua tuduhan pada Anya pa, Anya tidak jahat seperti mereka, mereka jahat sekali pa. " kata Anya menangis meraung, untuk mendukung dramanya. " Anya kecewa sama papa. " kata Anya langsung berlalu pergi keluar ruangan itu, sambil menangis tersedu-sedu.


Melihat sang anak menangis kecewa dan pergi atas tindakan papa Oscar. Membuat Mama Rosa beranjak menyusul sang anak, namun sebelum itu terjadi, papa Oscar mencekal tangan mama Rosa dan menyuruhnya duduk kembali, karena tugas Anya belum selesai. Jika mama Rosa menyusul kepergian Anya, malah akan menghancurkan rencana mereka berdua.


Berta dari tadi di buat sangat bahagia atas kekalahan lawannya, melihat Anya menangis tersedu-sedu karena fitnahnya membuat berta melambung tinggi sekarang ini, dengan bonus uang dari keluarga Waber. Sama hal nya dengan Ketiga orang setengah baya yang tamak itu, dengan bahagia mereka menanti-natikan uang yang cukup besar, yang sama sekali tak memikirkan drama keluarga di depannya. Yang penting adalah uang.


Papa Oscar mulai memfokuskan wajahnya di ponsel yang dia pegang dengan satu tangan, dan satu tangan lainnya untuk memegang tangan sang istri yang sedang marah saat ini.


Dan tak lama papa Oscar memberikan ponselnya pada papa Berta, yang menurutnya lebih berhak mengetahui. Sedangkan papa Berta yang mengartikan itu sebagai bukti transferan, langsung mengambilnya dengan senang.

__ADS_1


Saat ponsel itu sudah ada di depan matanya, bukannya bukti transferan, isinya malah bukti kelakuan sang putri yang terekam CCTV. Wajah yang semula senang, seketika berubah menjadi memerah karena sangat marah, mama Berta yang ada di samping sang suami menjadi ikut marah, yang juga melihat ke layar ponsel papa Oscar.


Kepala sekolah yang bingung dengan perubahan ekspresi papa dan mama Berta, langsung merebut ponsel yang di genggam papa Berta dan mulai melihat rekaman CCTV sekolahan nya. Membuatnya memucat seketika. "Dari mana dia mendapatkan rekaman CCTV ini, kenapa secepat ini mendapatkannya! " kata kepala sekolah sambil melihat orang yang sekarang menyeringai mengerikan.


Melihat itu Berta menjadi bingung yang sebenarnya terjadi, karena tak sempat melihat yang ada di ponsel papa Oscar, karena sudah berpindah tangan pada sang kepal sekolah, dan kembali kepada si pemilik ponsel. "Bukankah hanya bukti transferan. " kata Berta dalam hati dalam kebingungan nya.


"Bagaimana, kalian suka? " kata papa Oscar kepada orang didepannya yang sedang marah itu.


"Kau mempermainkan kami! " kata papa Berta mentap tajam papa Oscar.


"Semiskin itukah keluarga yang katanya terpandang di depanku ini, hingga harus memeras orang tak bersalah! " kata papa Oscar dengan menohok.


"Kau, kau, kau sialan! Anak murahanmu itu tetap saja telah melukai anakku. Anak murahanmu itu harus bertanggung jawab! " kata mama Berta dengan berteriak marah.


"Jaga ucapan anda nyonya. " bentak mama rosa, tak Terima anak anaknya di hina.


Membuat papa Oscar menggenggam lebih kuat tangan sang istri yang dari tadi sudah ia genggam, karena kemarahan sang istri. "Melakukan segala cara untuk mendapatkan laki-laki yang di inginkan nya adalah wanita murahan yang sebenarnya. " kata papa Oscar menyindir Berta, yang saat ini menunduk takut.


"Saya pastikan Anya Waber akan keluar dari sekolah ini, kalau itu terjadi, karena saya tidak mau nama sekolah Tunas Bangsa tercemar karena kelakuan putri anda. " kata kepala sekolah yang belum Terima di permainkan oleh papa Oscar.


Mama Rosa mulai menangis mendengar orang-orang di depannya mulai memojokkan sang putri, yang ia pikirkan bagaiman perasaan anaknya nanti.


Papa Oscar melihat sang istri menangis, langsung memeluk menenangkan mama Rosa. " its ok ma, papa dan anak gadis mama tak selemah itu. " bisik papa Oscar pada sang istri, yang hanya di angguki samar.


"Bagaimana jika anda yang keluar dari sekolah ini! " kata papa Oscar dengan menatap tajam pada kepala sekolah.


"Cih, kau pikir kau siapa bisa mengeluarkan ku dari sini. " kata kepala sekolah meremehkan papa Oscar .


Papa Oscar hanya tersenyum menyeringai kepada sang kepala sekolah karena meremehkannya. Papa Oscar mengambil ponselnya kembali dan menelpon seseorang.

__ADS_1


" Halo Manfed Lan Backer, " kata papa Oscar saat panggilannya sudah tersambung. Membuat kepala sekolah mulai ketar-ketir dengan nama pemilik sekolahan yang baru tadi malam berganti pemilik. " Pecat kepala sekolahmu sekarang! " kata papa Oscar memelpon pemilik sekolahan itu. " Dia mencoba bermain main padaku. " kata papa Oscar di akhir, yang memang memiliki nomer ponsel Len saat mereka pertama kali bertemu.


"Sepertinya dia sedang mengantar nyawa mereka tuan," kata len di sebrang. "Sepertinya terlalu berbaik hati jika hanya memecatnya tuan. " kata len di sebrang lagi.


"Ya, memang itu yang aku harapkan, lakukan sekarang! " kata papa Oscar.


"Baik tuan, apapun untukmu. " kata len


"Terima kasih len. " kata papa Oscar di akhir sebelum panggilan mereka terputus.


Tak lama sambungan telpon papa Oscar berakhir, kepala sekolah juga mendapatkan panggilan telepon yang membuatnya bergetar mengangkatnya, dan ternyata benar dugaan kepala sekolah, itu merupakan sambungan telepon pemberitahuan pemecatan tak hormat dari asisten pemilik sekolah Tunas bangsa. Membuatnya berlari bersujud di dengan papa Oscar.


" Tolong maafkan saya, saya salah telah mendapatkan uang suap dari keluarga Berta, tolong kasih sayang kesempatan tuan, jangan pecat saya. " kata kepala sekolah memohon, tapi tak di dengar oleh papa Oscar.


Papa Oscar lalu beranjak akan pergi, tapi di tahan oleh keluarga Berta yang sedari tadi melihat kejadian di depannya. " Tunggu, kalian harus tanggungjawab atau saya akan melaporkannya ke pihak berwajib. " kata papa Berta yang masih tak Terima.


" Lakukan yang kalian mau, atau kau yang akan hancur! " Kata papa Oscar langsung berlalu pergi dengan menggandeng tangan sang istri, tak menghiraukan manusia tak bermutu di belakangnya.


Papa Berta lalu melihat kepala sekolah menangis tersedu- sedu itu mendengus sebal dan berlalu pergi meninggalkan anak dan istrinya karena rencananya mendapatkan uang gagal sudah, tapi dengan segera menyusul sang suami di belakang.


Berta yang melihat kejadian itu, menjadi takut karena ulahnya sendiri. Rencana jahat yang ia buat untuk anya, malah membuat boomerang untuk dirinya sendiri. Dengan pikiran kalut, Berta berjalan keluar menyusul papa dan mamanya.


.


.


.


...****************...

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...----------------...


__ADS_2