
Anya juga menyadari status yang penting sebelum melakukan hal lebih, karena ia merasa di manapun dan bagaimanapun wanita lah yang rugi nantinya, walaupun negara bebas tempat ia di lahirkan tak terlalu memikirkan hal seperti itu.
Tapi ia tidak, terdengar seperti pikiran kolot bagi beberapa pihak, tapi itu sebuah kehormatan yang sebenarnya bagi setiap perempuan.
"Kau keluar lah, aku mau tidur! " usir Anya.
"Kau belum makan baby, makan dulu setelah itu bisa tidur! " kata Len sambil beranjak dari ranjang.
"Ya! " jawab singkat Anya membalikkan badannya hingga tengkurap, terlalu malas menatap pria kejam itu.
Plak..
"Daddy dan Dante akan menunggumu di meja makan! " kata Len setelah menampar pelan bokong sintal yang malah di suguhkan oleh sang pemilik.
"Kau! " marah Anya yang lagi-lagi mendapatkan serangan mesum dari Len.
Tapi sebelum Anya meluapkan amarahnya, Len lebih dulu berlari keluar dari kamar itu, tapi tak lama ia muncul kembali, yang membuat Anya menatap tajam pria itu.
"Kemeja daddy ketinggalan! " kata Len tak memiliki maksud mesum sekarang.
Mengambil kemejanya yang ada di lantai tak jauh dari ranjang, dan kembali keluar dengan berlari, karena sang banteng masih mengeluarkan asap di hidungnya.
Terdengar helaan nafas saat Len sudah pergi, Anya bingung mencegah perasaan yang timbul lagi dan lagi, setelah pria itu menyakitinya berulang kali, sebagai orang awam yang mengerti cinta, Anya tak mengerti cara menghindari pria itu, apa lagi di hadapkan pria pemaksa seperti Len.
"Aku harus apa! " batin Anya meratapi kisah cintanya dengan pria yang dengan mudahnya meminta maaf dan setelahnya seolah tak terjadi apapun.
Anya merasa kisah cintanya terlalu rumit untuknya yang malah menimbulkan masalah di dalam hidupnya, yang bahkan ia tak tau cara menyelesaikannya.
Ia tak ingin mengharapkan apapun pada pria itu, tapi kehadiran pria itu setiap saat di hidupnya yang malah menimbulkan harapan lama yang muncul kembali, tapi di sisi lain ia takut akan di patahkan harapan-harapannya lagi seperti sebelumnya.
"Huuuuuffftttt!! " helaan nafas kembali terdengar.
Memikirkan percintaannya membuat kepala Anya seperti meledak, ia lebih memilih memikirkan ulangan dadakan dari pada hal seperti ini, seolah tak ada ujungnya solusi pun tak muncul di otaknya.
Anya mulai teringat perkataan Len bahwa ayah dan anak itu sedang menunggunya di meja makan, dengan membenahi pakaian yang sempat berantakan oleh Len Anya berjalan keluar menuju ruang makan.
Dan ternyata benar, ayah dan anak itu sudah menunggunya tak luput juga dengan pria kembar.
"Apa sudah lama menunggu nyanya? " tanya Anya pada Dante yang sudah duduk manis.
"Tidak! Dante baru duduk! " jujur Dante.
__ADS_1
"Apa itu sakit? " tanya Anya mulai berjongkok mengajarkan tubuhnya pada tubuh kecil Dante, sambil menatap kaki yang di balut perban.
"Apa ini sakit? " kata Dante balik bertanya yang akan memegang bibir Anya yang bengkak, tapi di cegah oleh sang papa.
"Dante!! tidak boleh pegang nyanya sembarangan! " cegah Len yang cemburu pada sang anak sekalipun yang di jawab anggukan kepala.
"Apa ini juga sakit? " tanya Dante menempelkan tangannya pada salah satu pipi Anya yang memerah.
" Tidak!! tidak ada yang sakit kok! " kata Anya dengan tersenyum hangat.
"Dante juga tidak ada yang sakit! " kata Dante mengikuti jawaban Anya.
"Baiklah! kita makan dulu oke? " kata Anya yang di jawab anggukan Dante.
Anya mulai berjalan menuju kursi yang kosong, duduk dan menyiapkan makanannya sendiri, hingga ia menyadari bahwa bukan sisi yang melayani makan tuannya.
"Dimana wanita itu! " batin Anya yang tak melihat sisi melakukan tugasnya setiap hari. Tak ingin terlalu memikirkan hal yang penting, Anya lebih memilih milih makanan yang ingin ia makan saat ini.
"Kau mau yang mana baby? " tanya len pada Anya.
"Bird ambilkan lauk di depanmu! " kata Anya yang malah mengabaikan tawaran Len.
Terdengar kejam tapi menurut Anya itu adalah cara untuk menghindari pria itu untuk sementara ini. Ia tak akan mau hanyut dalam perlakuan pria itu tapi ujungnya di tenggelamkan dengan bertubi-tubi.
Tak ada kegaduhan yang terjadi, karena sumber masalahnya menahan marahnya, makan dengan tenang hingga suapan terakhir.
"Bear, besok jemput tuan Oscar dan nyonya Rosa di bandara, dan biarkan mereka tinggal di sini 2 hari! " perintah Len pada Noberto.
"Baik tuan! " jawab Noberto cepat.
"Tidak bisa! " kata Anya tak setuju. "Aku mau pulang ke rumahku! " kata Anya lagi.
"Anya mau pulang? " tanya Dante dengan wajah murungnya, yang membuat Len tersenyum tipis.
"Iya tapi hanya dua hari kok! " kata Anya menatap wajah murung Pria kecil.
"Kenapa? apa karena ada Dante? "
"Tentu saja tidak pria kecil, orang tua nyanya pulang besok! "
"Iya! " kata Dante singkat, ada terbesit rasa tak rela di hatinya, tapi tak berani mengungkapkannya.
__ADS_1
Anya yang peka akan situasi yang di hadapi Dante, mulai berjalan mendekati pria kecil itu, berjongkok kembali mengajarkan tubuh kecil Dante, dan memegang kedua jari kecilnya.
"Apa Dante tidak ingin mengatakan sesuatu? " tanya Anya dengan penuh kasih sayang.
Tapi hanya ada gelengan dari kepala kecilnya, bukan tak ada tapi lebih tak berani mengungkapkan isi hatinya, yang membuat Anya sedih, Anya tau anak seperti Dante memiliki harapan-harapan besar, tapi terenggut paksa oleh keadaan.
"Tak apa nyanya besok pergi? " tanya Anya lagi yang tak ada jawaban dari Dante, hanya tak menyerah untuk membangkitkan harapan- harapan Dante lagi. " Apa nyanya harus pergi selamanya saja, agar Dante mau bicara! " kata Anya dengan lembut.
Mendengar nyanya akan pergi selamanya, membuat Dante mendongakkan kepalanya yang sedari tadi menunduk, memeluk leher Anya dengan lelehan air di matanya.
"Tidak!! jangan pergi!! Dante tak mau Anya pergi, sehari pun tidak mau!! Anya akan tetap di sini huhuhuuuhuuu! " tangis Dante khas anak kecil.
Bukannya panik Anya malah tersenyum senang, setidaknya rencananya berhasil tadi.
"Lain kali apapun yang ada di hati Dante katakan saja pada papa atau nyanya, pada om kembar juga tidak papa! " kata Anya di angguki Dante yang masih menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Anya. "Pasti harapan Dante akan di kabulkan oleh nyanya dan papa jika itu baik untuk Dante sendiri, tapi jika Dante berbohong tanpa sepengetahuan papa dan nyanya, masih ada Tuhan yang akan selalu tahu apa yang di lakukan manusia, apa Dante tau!! dengan sekali jentikan jari Tuhan bisa merobohkan rumah mewah papa Len tadi. " kata Anya memberikan pengertian yang baik.
"Benarkah? " kata Dante, yang mulai tertarik.
"Ia dong! " yakin Anya.
"Dante akan jadi anak yang baik, dan tidak akan pernah berbohong agar rumah papa tidak roboh! kasian nanti papa! " kata Dante dengan semangat.
"Yups!! itu harus! " kata Anya dengan senyuman cerahnya.
"Jadi, apa besok nyanya tidak jadi pulang? " kata Dante dengan hati-hati.
"Apa Dante berharap nyanya tidak pulang? " tanya Anya yang di jawab anggukan Dante. " Baiklah, nyanya tak jadi pulang!! besok papa mama nyanya saja yang ke sini! " kata Anya yang tak ingin mematahkan harapan Dante yang baru mulai tumbuh lagi.
"Yyeeeeeee! " bahagia Dante.
Di sela-sela pembicaraan Dante dan Anya, ada hati seorang ayah yang menghangat melihat interaksi mereka sedari tadi, tak lama mereka bertemu tapi sudah saling menyayangi satu sama lain.
.
.
.......
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
...----------------...