
Len menatap tanpa iba, mengunci ruangan itu, dan mulai membuka ikatan di tubuh Sekertaris bruno. Sang wanita mulai ketakutan menatap wajah mengerikan di depannya.
Dan takut maut akan menantinya sebentar lagi.
"Goda aku! " perintah tak terduga Len.
Membuat Sekertaris yang sudah tak seksi lagi itu bingung di tempat.
"Goda aku sialan!! " Bentak Len dengan aura menyeramkan.
Wanita yang di bentak Len menjadi semakin takut bercampur senang, karena akan menikmati tubuh pria sempurna di depannya.
Wanita itu berjalan dengan menggoda menghampiri Len, berjongkok menghadap Len yang sedang duduk di kursi.
Saat wanita itu memegang pelan paha atas Len, yang tak bereaksi apapun pada Len, tapi saat tangannya naik ke atas akan memegang lobak hidupnya.
Dengan cepat Len mematahkan tangan wanita itu dengan begitu mudah.
"akkkkhhhhhhh!!!! sakit tuan!!!" jerit nya
" Menjijikkan!!! "
Dengan tanpa Perasaan Len memotong tangan yang patah tadi, dengan belati di sakunya. Menggorok sedikit lehernya.
"Kau tau!! hanya gadisku yang bisa memegangnya!!!"
Menatap nyalang wanita yang kesulitan berbicara saat ini, dengan leher bercucuran darah dan satu tangan terpotong.
"Kau tau aku tak bereaksi apapun saat kau memegangnya!! tapi gadisku, hanya dengan melihat bibirnya saja, rasanya aku ingin menerkam nya!!! apa kau tau, aku sangat merindukannya!! " curhat Len pada wanita yang berada di ujung maut itu.
Menunduk sedih, tapi tak berlangsung lama, len menatap nyalang dengan senyum mengerikannya, kembali mengarahkan belatinya pada dada kanan wanita itu.
Sedikit memutar belati yang tertancap di daging manusia saat ini.
"Akkkhhhhhh , a.. aampuunnn!! " jerit tertahan.
"ck, kau belum mati ternyata! "
Len membelah perut wanita itu seolah melakukan operasi cesar dan keadaan sadar, mengeluarkan rahim kosong itu dari tubuh sang pemilik.
Langsung membuat wanita itu mati seketika.
Len berjalan keluar dari ruang penyiksaan dengan tubuh di penuhi darah segar.
"Bereskan di dalam! " perintah Len pada anak buahnya berjaga di depan pintu.
Lalu kembali melangkahkan kakinya ke ruangannya yang di lengkapi kamar mandi, ruang ganti dan ranjang tidur, yang sudah mirip seperti tempat tinggalnya.
Len mulai berbaring di ranjang memejamkan matanya setelah membersihkan tubuhnya, dengan setelan piyama hitam melekat di tubuhnya saat ini. Ia baru tidur di waktu subuh mulai datang.
Pukul 6 pagi, Len mulai membuka matanya untuk berangkat ke kantor, hal biasa baginya hanya tidur 3 atau 4 jam .
Terdengar suara gemericik dari dalam kamar mandi, yang tak lama keluar sang boss tanpa mengenakan apapun selain handuk yang melingkar di pinggangnya.
__ADS_1
Berjalan menuju ke ruang ganti dengan di dominasi warna hitam di sana. Memakai setelan jas hitam seperti biasa hari ini.
"Daddy akan berangkat kerja hari ini baby!! I love you!! "
Kata Len yang selalu terucap di setiap pagi sambil menatap foto cantik Anya di wallpaper ponselnya.
Tak ada sedikitpun niat untuk menghapus rasa cintanya selama ini, meski sedikit menyiksa, tapi karena cintanya ini bisa memberikan semangat lebih di dalam hidupnya.
Keluar dari markas, Len sudah di sambut asisten Noberto di samping pintu mobil jok belakang, bersiap membukakan pintu. Mobil mulai melaju ke arah kantor setelah penghuninya masuk tadi.
"Agenda ku apa hari ini?? " tanya Len papa asisten Noberto sambil berjalan menuju lift khusus.
"Hanya rapat bulanan dan beberapa berkas yang perlu di tanda tangani. " jawab asisten Noberto.
"Tuan!! " hadang manager menor yang dulu pernah ikut di acara kelulusan Anya.
"Ck, mengganggu!! " karena membuat jalan Len terhenti.
"Minggir!!! tuan tak bisa di ganggu!! " kata Noberto yang paham gelagat tuannya sambil mendorong sang manager menjauh.
"tunggu!! tunggu tuan. " sang manager yang terus memaksa, padahal ia tau rumor kejamnya pria di depannya.
"Ck, apa? " kata Len tak bersahabat.
"Apa nanti bisa makan siang bersama? " tanyanya dengan tak tau malu.
Membuat darah Len mendidih di buatnya, apa-apa an perempuan di depannya ini, pagi-pagi sudah membuat moodnya buruk.
"Kau membuang waktuku hanya untuk mengatakan ini ! apa kau pikir kau sepenting itu sialan!!" Bentak len.
"Menyingkir!! " kata asisten Noberto penuh penekanan, dengan tatapan tajamnya.
Membuat manager menor itu mulai menyerah setelah mendapatkan bentakan dan tekanan 2 orang menyeramkan di depannya.
"Tunggu!! Kau mau menyenangkan ku? " tanya Len dengan menyeringai mengerikan.
"Ya tuan! " katanya dengan yakin.
"Kapan jadwal rapatnya? " tanya Len pada asisten Noberto.
"15 menit lagi. " jawab asisten Noberto.
"Undur 1 jam!! dan kau ikut aku. " kata Len menunjuk manager menor.
Len berjalan beriringan dengan manager menor itu dan masuk ke dalam lift khusus.
Jantung manager berdetak dengan cepat saat berduaan di dalam lift, tak bisa ia bayangkan nantinya saat bersenang senang dengan tuannya.
Hanya butuh waktu 2 menti, sudah sampai di lantai paling atas gedung perusahaan Becker. Mereka berdua terus berjalan sampai di kamar khusus yang ada di ruang kerjanya.
Manager menor itu semakin sumringah saat tau ia di bawa ke kamar, mulai memikirkan hal-hal kotor yang akan ia lakukan dengan sang boss.
"Buka bajumu!! " kata Len setelah mengunci pintu.
__ADS_1
"Baik tuan! " dengan suara yang menggoda ia mulai menanggalkan pakaiannya, sampai tak tersisa apapun.
"cih, jauh bagusan tubuh gadisku!! bahkan milik gadisku jauh lebih kencang!! "
Len mulai menatap semua yang ada di tubuh wanita di depannya, payudara besar buatan, dan beberapa ditubuh wanita itu yang memang buatan.
"Berbalik! " kata Len dengan dingin.
Manager menor itu membalikkan badannya, memperlihatkan punggung mulus dan bokong besar yang lagi-lagi buatan.
Saat wanita itu masih hadap ke belakang, Len mendekatinya dengan belati yang selalu di saku bajunya.
Merobek salah satu bokong besarnya membuat luka menganga.
"Akkkkhhh.... tu.. tuan!! " jerit takut manager.
Membalikkan badan nya, menatap Len dengan pisau yang berlumuran darah ditangannya. Ia mulai menyesal sekarang, tak mempedulikan rumor kejam pria di depannya.
"Cih, inplan!! " kata Len singkat.
Len menggulung lengannya agar tak terkena darah karena dia ada meeting sebentar lagi, lalu kembali menebas salah satu pepaya gantung di depannya, tanpa sedikitpun menyentuh tubuh wanita itu.
"Akkhhhhhhh!!!!hiks..hiks...aa.. ampun tu.. tuan!! ja.. jangan tuan!! " tangis takut manager.
"Ck, bukankah kau ingin menyenangkan ku!!! sekarang waktunya!! ".
" Ti.. tidak tuan!! maafkan saya tuan!! "
Mohon manager itu dengan wajah yang sudah pucat karena darah yang mengalir banyak di kedua sisi. Ia tak bisa lari ke mana -mana dengan tubuh telanjangnya saat ini.
"Bukankah kita bersenang- senang sekarang!!! hhahahaaa!!!! tawa mengerikan Len menggelegar.
Wanita telanjang itu menggelengkan kepala. Yang dengan tak berperasaan nya Len melemparkan pisaunya hingga mencap di kepala wanita itu.
" Akkkkhhhhh, ampun tuan!!! jerit wanita itu sambil melangkah menjauhi pria di depannya.
"Berani sekali kau menggelengkan kepalamu pelacur!!! " teriak Len.
Len membiarkan wanita itu berkeliaran semaunya, ia berjalan ke sebuah laci yang terdapat satu set pisau kecil- kecil.
Mengambilnya, dan mulai melemparkan satu persatu ke arah wanita yang sedang berjalan tak beraturan saat ini, dengan santai seolah olah sedang melakukan permainan dart board.
12 pisau menancap di tubuhnya, membuat manager itu tumbang, tapi terlihat masih bernafas, dengan cucuran air mata dan darah secara beriringan, bahkan tak sanggup berbicara merasakan sakit luar biasa.
.
.
.
Lanjut
...****************...
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...----------------...