Cinta Pria Kejam

Cinta Pria Kejam
Makan


__ADS_3

Dengan terus mendumel, Len mulai memasangkan plester di jari Anya yang terluka, dengan sang pemilik jari yang terus memandang makanan yang ia buat sendiri.


Len tersenyum samar melihat wajah Anya yang penuh harap menatap makanannya.


Wajah imut dengan bibir kecil sedikit menganga, mata bulat penuh damba, membuat Len ingin melahap habis tak tersisa gadis di depannya, tapi pikiran warasnya masih berjalan, tak mungkin ia melakukan hal yang membuat tuan oscar kecewa nantinya.


"Kau lapar? " tanya Len melihat ekspresi di wajah Anya.


"Sangat! " Jawab Anya yang masih tak mengalihkan perhatiannya pada makannya.


" Diam di sini, biar pelayan yang menyelesaikannya! " kata Len dengan senyum manisnya.


"Tidak, tinggal mencuci sayurnya saja kok. " kata Anya sambil berjalan ke kitchen sink dengan tangan membawa wadah berisi beberapa macam sayur.


"Tunggu! lukamu baru di padang plester, tidak boleh terkena air!! biar aku panggilkan pelayan! " kata Len mencegah Anya mencuci sayur.


"Ck, tidak usah!! hanya mencuci sayur Anya masih bisa! " kekeh Anya.


Tak membiarkan Anya mencuci sayur sendiri dengan jari terluka, akhirnya Len sendiri yang turun tangan.


"Biar aku saja. " kata Len , akhir dari permasalah cuci mencuci.


"Kenapa gak dari tadi. " kata Anya dalam hati.


Len mulai mencuci sayur itu sampai mendarat di piring yang sudah di sediakan Anya tadi.


"Akhirnya makan! " kata Anya sambil membawa kedua menu makanannya.


Menenteng kedua piring sekaligus menuju ruang makan yang sepi, lalu duduk manis sambil menikmati dua hidangan itu.


Belum selesai dengan makanannya, Anya melihat pria yang ia tinggal di dapur tadi berjalan menghampiri dengan membawa segelas susu hangat.


Menaruhnya di depan Anya, dan ikut duduk di samping Anya, tapi ia tak memperdulikan itu, yang terpenting sekarang makan.


Sedangkan Len terus memandangi wajah yang mirip chipmunk saat makan itu dengan berpangku tangan.


Pipi cubi nya semakin mengembang saat satu persatu makanan mulai masuk, bahkan potongan-potongan steak cukup kecil untuk Len, sekecil itu kah rongga mulut Anya.


Tapi bukankah Len pernah menjamah rongga mulut Anya, pikiran kotor mulai merasuki otak Len, membayangkan si boy masuk ke mulut Anya, setengahnya saja pasti tidak cukup.


"Apa yang kau pikirkan sialan! " kata Len menyalahkan otak kotornya.


"Enak? " tanya Len menatap bibir yang bergerak gerak milik Anya, yang hanya di jawab anggukan olehnya. "Daddy mau satu potong" kata Len mendapat tatapan garang Anya.

__ADS_1


Di takdirkan memiliki wajah imut malah terlihat lucu dengan wajah garangnya, tak ada seramnya sama sekali, dengan mulut penuh daging walau hanya beberapa potong kecil Anya merangkuh dua menu makanannya, seolah tak membiarkan Len menyomot kecil apapun.


Karena kebiasaan dari kecil yang papa oscar ajarkan, membuat Anya tak akan membicarakan apapun saat makan, ia sedikit rakus hari ini karena sangat lapar dan menghindari pria di sampingnya saat ini.


Len terus setia menunggu Anya selesai makan, dengan beraninya ia mengambil satu helai salad milik Anya, yang lagi-lagi mendapatkan pelototan dari sang pemilik.


Cepat-cepat Anya menghabiskan makanannya setelah tragedi satu helai salad nya raib di ambil sang pencuri, meski mulut Anya sudah penuh dengan sayur, ia tetap menyuapkan salad itu ke dalam mulutnya, karena ia sangat tak ingin berbagi dengan pria di sampingnya.


"Pelan-pelan baby, daddy tidak akan mengambilnya lagi darimu! " kata Len dengan senyuman manisnya yang sangat langka.


Tanpa mempedulikan ucapan Len, Anya terus menyuapi salad nya hingga akhir suapan, yang membuatnya tak lagi merasakan lapar sekarang


"Kenyangnya! " kata Anya menyenderkan kepalanya pada kursi yang ia duduki, sambil mengelus- elus perut ratanya.


"Sudah kenyang baby! " kata Len.


Tersadar jika masih ada pria kejam di sampingnya, Anya menolehkan wajahnya menatap tajam pri yang ada di sampingnya persis.


"Jangan pernah gantung Anya saat makan!! dan jangan pernah membicarakan apapun saat waktunya makan!! Anya tidak suka! " kata Anya tegas dengan wajah berusaha serius itu.


Len mencoba tak tertawa saat menatap wajah yang mencoba serius saat ini. " Baiklah, maafkan daddy oke!! di minum dulu susunya! daddy buatkan untukmu? " kata Len mendorong pelan susu yang ada di dekat Anya agar semakin dekat.


Dengan tatapan sedikit tak suka Anya melihat susu putih buatan Len, bukan karena yang buat tapi memang Anya tak suka susu yang berwarna putih.


"Tidak, hanya saja Anya lebih suka susu coklat paman! " kata Anya agak tak menyinggung perasaan Len, meskipun pria itu sudah menyakiti perasaannya, tetapi Anya tak ingin memiliki permusuhan pada siapapun termasuk orang yang menyakitinya sekalipun.


Sebenarnya Len tau Anya tak menyukai susu putih, tapi pria itu hanya mengetes reaksi gadis kecilnya tersebut yang sebelumnya mengatakan kebencian padanya, tapi ia tak yakin dengan perkataan gadis kecilnya.


"Tak apa, sekarang minum susu ini dulu, besok baru di ganti susu coklat!! daddy membuatnya dengan susah payah lo!! " kata Len dengan memelas.


Bukannya menatap wajah garang yang sedang memelas saat ini, Anya lebih memilih memandang susu itu, dia sangat tak suka, tapi dia adalah orang yang sangat menghargai makanan.


"Bagaimana kalau susunya nangis kalau di buang nanti! " pikir polos Anya yang kadang melintas di otak cerdasnya.


Berlahan ia mengambil susu itu dengan terpaksa, meminumnya hingga setengah gelas dengan dahi yang mengerut sangking tak sukanya.


"Kau tak membenciku baby, kau masih peduli padaku, bahkan susu yang tak kau suka saja masih mau kau minum demi aku baby! " kata Len dalam hati yang menyalah artikan tindakan Anya.


Memang sejatinya Anya mencintai Len, tapi rasa bencinya lebih besar dari rasa cintanya, membuatnya membentengi hatinya untuk pria kejam di sampingnya.


"Cukup, Anya tak kuat! " kata Anya menyudahi minum susunya meski masih tersisa sedikit.


Tanpa basa-basi Len meminum susu yang tersisa milik Anya, di tempat yang sama, membuat Anya melebarkan matanya.

__ADS_1


"Itu bekas Anya paman! " kata Anya dengan kesal.


"Tak apa, ini jauh lebih lezat baby! " kata Len dengan tersenyum cerah.


"Bisakah paman berhenti memanggil Anya baby! Anya risih mendengarnya! " kata Anya yang menyampaikan ketidaksukaannya.


"Bisakah berhenti memanggilku paman, dan memanggil seperti dulu. "


"Bisakah tidak membahas yang dulu-dulu. " kata Anya yang mulai marah.


Tapi perdebatan mereka terhenti karena kemunculan saudara kembar yang kompak dari luar rumah, yang tadinya Anya akan marah berubah terkejut melihat 2 pria kembar berjalan mendekat ke meja makan.


"Kalian beneran kembar? " kata Anya takjub. "Mana bear dan mana bird, haduhhhh!! Anya tak bisa membedakannya!!" Heboh anya melihat pria dewasa kembar.


"Bear alisnya lebih tegas sedangkan bird biasa saja. " kata Len menunjukkan cara dia membedakan pria kembar itu.


"Hai nona! " sapa Norbert, sedangkan kembarannya hanya diam saja


Anya mulai berjalan mendekat pada dua pria kembar berdiri sejajar saat ini, Menatap intens alis mereka berdua, membuat Nobert dan Noberto was- was dengan tuannya.


"Kau sudah membuat tuan Len merubah panggilanku menjadi bird, dan sekarang kau membawaku ke tepi jurang nona!! wajah mu imut, tapi kenapa kejam sekali. " kata Norbert yang takut dengan tatapan tajam tuannya.


"Stop Anya!! " cegah Len. "Jangan memandang mereka seperti itu, daddy tak suka! " kata Len menarik Anya menjauh.


"Tidak bisa, Anya hanya ingin bisa membedakan mereka. " kata Anya yang kekeh.


"kau bisa tanya pada daddy jika tidak bisa membedakan mereka, jangan menatap mereka lagi!!! " cegah Len karena Anya masih menatap intens pria kembar itu.


"Astaga, sejak kapan tuan bisa banyak bicara seperti ini!! " Kata Norbert yang melihat perdebatan tuan dan nona nya.


Sedangkan saudaranya malah stay cool masih melihat perdebatan yang sebenarnya tak penting.


.


.


.


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2