
Hingga sebuah tepukan di bahunya mencoba memberikan ketegaran untuk Len, dokter keluarga yang sedari tadi hanya menonton drama ayah dan anak. Hatinya seakan ikut merasa sakit mendengar penuturan seorang anak kecil yang bahkan tak tau permasalahan dunia.
"Wanita itu sudah keterlaluan!! kau harus cepat membereskannya!! kau harus kuat, demi orang-orang yang kau sayangi!! dan satu lagi, jangan salah langkah!! " kata Bastian menasehati Len, yang di jawab anggukan kelapa.
"Papa menangis?? jangan menangis pa!! " kata Dante yang baru menyadari tangisan papanya.
"Tak apa!! Dante mau kan tinggal dengan papa saja!! tanpa mama!! mama jahat pada semua orang!! " kata Len mengadu pada sang anak.
"Apa tak apa?? bagaimana dengan mama? kalau marah nanti bagaimana? " kata Dante yang masih mengkhawatirkan sang ibunya, tapi juga ada rasa takut jika terus bersama ibunya.
"Mama sudah besar bukan?? apa yang harus di khawatirkan sayang! Apa Dante mau tinggal dengan mama lagi? " tanya Len yang langsung di jawab gelengan kepala oleh anaknya. "Kita hidup berdua saja oke, papa tidak mau dengan orang jahat? " kata Len yang sekarang di jawab anggukan kepala.
Setelahnya di jawab anggukan oleh Dante, ia mengakuai ibunya jahat, tapi ia juga tak ingin papa nya di jahati orang lain termasuk ibunya sendiri.
"Bagaimana dengan nyanya? " tanya Dante yang memiliki orang spesial yang baru ia dapatkan.
"Apa kamu juga mau nyanya hidup dengan kita? " kata Len bahagia jika itu terjadi.
"Ya, Dante kalau besar akan menikahi nyanya! " kata Dante dengan sumringah.
Tapi tidak dengan Len seolah sang anak menjadi saingannya saat ini, yang tadinya senang tiba-tiba cemberut mendengar sang anak akan menikahi wanita pujaannya.
Sedangkan Bastian hanya tersenyum samar, setidaknya walau bukan cinta ada hal lain yang bisa membuat Len memiliki hal berharga.
*****
Di sisi lain, Anya duduk sendiri di taman belakang mansion Len, yang tadinya ia ingin keluar saat keadaan di bawah sudah sepi, tapi ia tak di perbolehkan untuk keluar oleh penjaga.
Alhasil ia duduk termenung di taman, sebenarnya pipi bekas tamparan tadi masih terasa saat ini, tapi rasa sakit hatinya seolah mengabaikan rasa sakit di pipinya.
Tak ada lagi lelehan air mata setelah beberapa jam lalu jatuh tampa bisa di bendung, mungkin air matanya sudah habis atau terlalu lelah menangis, tapi hatinya tak merasakan kelegaan apapun meski lama menangis.
__ADS_1
Hingga seorang wanita dengan pakaian pelayan tiba-tiba berada di depannya menatap dengan wajah mengejeknya, meremehkan seolah lupa akan statusnya saat ini.
"Bagaimana rasanya di permainkan?? dipuja-puja dengan sayang dan di jatuhkan oleh kenyataan!! kenyataan bahwa nyonya yang sebenarnya sudah kembali! " kata sisi yang tak di balas apapun oleh Anya.
Anya lebih memilih berjalan pergi tapi di hadang oleh badan sisi saat sudah berbalik.
"Tunggu!!! kau harus sadar diri, nyonya Audrey adalah cinta pertama tuan Len, dia sangat mencintainya, bahkan selama 9 tahun ini tuan Len tak tersentuh oleh wanita manapun karena cintanya pada nyonya Audrey!! Apa lagi sekarang ada anak yang akan mengikat mereka!! Dan kau hanya selingan sesaat di hidup tuan Len! " kata sisi pedas.
Sudah pasti kembali meremukkan hatinya, setelah di tampar dengan tangan orang yang ia cintai, sekarang kembali di tampar dengan sebuah fakta yang ia baru tahu.
"Hanya selingan?? " Kata Anya dalam hati. Menatap nanar pria yang tak jauh berada di belakang sisi.
Pria yang tak lama mendengar perkataan pelayannya, Anya dapat melihat ada raut wajah kemarahan pada pria itu, tapi ia tak perduli menatap pelayan yang sedari tadi mengoceh di depannya.
"Tenang saja, aku akan sadar diri, hanya menjadi orang di titipkan di sini, dan aku akan dengan senang hati pergi dari rumah ini jika urusan papaku sudah selesai!! bye!! " kata Anya dengan santai tak lupa sebuah tepukan pelan di bahu sisi dengan tersenyum tipis.
Berlalu pergi dengan melewati dua orang sekaligus, tapi yang terakhir seolah tak melihat kehadirannya, meninggalkan dua orang yang masih berdiri di tempat.
Len marah dengan pelayannya itu yang lancang mengatakan masa lalunya pada Anya, sampai saat Anya mengatakan hal yang membuatnya khawatir sekarang, ia akan meninggalkannya dengan senang hati, ia tak mau jika di tinggalkan anya.
Ada rasa sakit saat Anya tak menatapnya sama sekali saat melewatinya, di abaikan saja Len sudah merasakan sakit, apa lagi kejadian bertubi-tubi yang Anya rasakan karena ulahnya.
Bahkan Len tak bisa membayangkan itu. Tak ada niat Len menghentikan langkah Anya saat melewatinya, karena ia akan menyelesaikan masalah pelayannya yang lancang saat ini.
Sisi juga mulai gugup saat membalikkan badannya sudah ada tuan Len yang menatapnya tajam.
"Tau apa kau tentang hidupku sekarang! " kata Len yang marah.
"Tu.. tuan! " kata sisi takut.
"Apa perlu ku potong mulutmu itu agar tak bicara sembarangan ha!! " kata Len dengan berteriak. "Penjaga!! " panggil Len.
__ADS_1
Semakin membuat takut sisi, ia bukan orang baru yang tak tau kekejaman tuannya, ia berlutut memohon pada Len.
"Tu.. tuan!! maaf tuann!! saya tak akan lancang lagi!! beri saya kesempatan tuan!! " kata sisi dengan menangis.
Tak ada kata yang keluar dari mulut Len, hingga tak butuh waktu lama dua penjaga menghampirinya.
"Bawa langsung ke markas! " kata len yang murka, tak ada penyiksaan mansion lagi, tapi sudah menuju markas yang artinya tak ada kesempatan lagi.
Sisi memilih waktu yang tidak tepat untuk menjatuhkan Anya, karena dengan situasi sekarang menambah murkanya Len.
"Lepaskan aku!! maaf kan aku tuan, tolong beri saya kesempatan, saya melakukan ini untuk anda agar tak terjerat oleh benalu itu! " kata sisi yang meronta- ronta tapi tak di hiraukan oleh Len. " Aku mencintaimu Len!! " kata sisi lebih kurang ajar yang di dengar oleh pelayan lain yang sedari tadi ada di sana.
"Kau akan mati malam ini! " kata Len dengan senyum mengejeknya.
Sisi membulatkan matanya menyadari apa yang ia katakan, bukannya meringankan malah berakibat fatal untuknya, tak ada apun untuk susi yang terus di seret menuju markas.
Len berlalu pergi dan tak lupa dengan segelas susu milik anaknya, lagi pula Bastian masih ada di kamarnya dengan Dante yang rencananya hanya ia tinggal sebentar, setelah itu akan membicarakan masalahnya dengan anya,
Walau ia tak yakin akan mendapatkan maaf di Anya secepat ia menghilang dulu, ia akan mencoba, dan kembali berjuang dari nol lagi untuk mendapatkan gadis kecilnya.
.
.
.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...----------------...
__ADS_1