Cinta Pria Kejam

Cinta Pria Kejam
Satu Mobil


__ADS_3

Mobil yang di tumpangi Len dan Anya melaju dengan kecepatan sedang, mengikuti mobil yang di tumpangi papa Oscar dan mama Rosa yang tak jauh dari depan.


Anya lebih memilih memandangi jalanan di sampingnya, tanpa sedikitpun mau menatap Len sedari tadi diam-diam memperhatikannya. Ia sangat merindukan pria di sampingnya, masih mencintainya, tapi rasa sakitnya jauh lebih besar membuat Anya tak begitu menghiraukan pria di sampingnya.


Sedangkan Len sebentar-sebentar memandangi gadis yang lebih tertarik melihat luar mobil, matanya tak ingin lepas memandangi gadis di sampingnya di sisi lain dia harus fokus menyetir untuk keselamatan bersama.


Rindu Len seolah terobati saat ini, bersamaan dengan rasa sakit di abaikan wanita di cintainya, mata yang dulu menatapnya penuh cinta berubah dingin sedingin es, sifat manja yang dulu yang Anya perlihatkan sudah tak ada lagi.


"Baby! " panggil Len dengan lembut di sela-sela mengemudi nya.


Tak ada jawaban dari sang baby, jangankan jawaban bergerak saja tidak sama sekali, gadis kecilnya masih betah dengan diamnya padahal dia tipe wanita cerewet.


"Apa kau tau, aku sangat merindukanmu! " Len mengatakan perasaannya selama ini.


"Bullshit! " kata Anya dalam hati.


Len mencoba menggenggam tangan kecil Anya berada di atas pahanya, tapi dengan cepat di tepis sang pemilik menatap tajam Len yang saat ini tersenyum hangat papa Anya.


"Rasa itu masih sama baby, aku masih sangat mencintaimu! " terang Len yang tidak tau situasi.


Anya tersenyum sumbang mendengarnya, lebih seperti mengejek.


"Maaf paman, kata papa Anya tidak boleh percaya omongan manis orang asing, karena itu belum tentu benar! " kata Anya dengan suara dingin.


deg.


Hati Len sakit mendengar jawaban Anya, apa lagi panggilan paman seolah ada benteng yang memisahkan mereka, Len sangat ingin memperbaiki semua.


"Tidak baby, Tidak ada kata asing di antara kita, ingat itu!! " tegas Len yang mulai hilang kesabaran.


Anya tak begitu menghiraukan perkataan terakhir Len, ia hanya fokus pada hidup dan orang tuannya saat ini, tak akan goyah dengan kata-kata manis pria manapun termasuk pria di sampingnya.


Sampai di depan bandara, Anya berbeda keluar mobil tanpa mengatakan apapun pada Len, terlalu sakit bila berlama dengan pria itu, Anya menghampiri papa oscar dan mama Rosa yang bahkan baru keluar mobil.


Len hanya bisa mengikuti langkah gadisnya dari belakang, ia tak masalah mendapatkan perlakuan dingin Anya, yang terpenting gadis berada dalam jangkauannya saat ini.


Keluarga kecil itu berjalan beriringan masuk ke dalam bandara dengan sang putri yang terus menggenggam tangan kedua orang tuanya, sangat berat melepaskan genggaman mereka, tapi mereka juga memiliki bertanggung jawab masing-masing, yang tak akan egois mementingkan perasaan mereka sendiri.

__ADS_1


"Papa berangkat dulu, jaga dirimu baik- baik oke, kalau ada apa-apa langsung kabari papa! " kata papa oscar sambil memeluk gadi kecilnya, lalu papa oscar menatap Len yang ada di belakang Anya. " Aku titip putri cengeng ku, dia harta yang sangat berharga untukku, jangan biarkan dia terluka sedikitpun. " kata papa oscar panjang lebar pada Len, yang di angguki len mantap.


Anya hanya bisa menangis saat ini, bukan hanya kepergian papa oscar, tapi rasa sakit kemunculan pria yang dulu pernah mencampakkan nya.


Papa oscar terus memeluk anaknya mendengar tangisannya yang menjadi jadi. Meningkatnya dengan menepuk-nepuk pelan punggung Anya, memberikan kata-kata cinta seorang Anya.


"Sayang! " panggil mama Rosa dengan air mata yang menggenang.


Anya yang mendengar langsung keluar dari pelukan papa oscar, beralih masuk ke dalam pelukan mama Rosa, kedua wanita itu menangis bersama.


Sama halnya dengan papa oscar, ia sempat menghapus air matanya yang tak sengaja jatuh, mengembuskan nafas sesak memandang kedua bidadarinya menangis.


"Cukup pelukannya, kita bisa tertinggal pesawat nantinya. " kata papa oscar melerai pelukan ibu dan anak.


Otomatis pelukan meraka terlepas, dengan Anya yang masih sesenggukan.


"Jaga dirimu baik-baik, oke! " kata mama sekali lagi dengan menggenggam kedua Anya, yang di angguki Anya.


"I love you. " kata papa oscar mencium pipi anak gadisnya, di ikuti mama Rosa.


"ka..kalian ja.. jangan lu.. pa kabari a.. Anya! " kata Anya yang masih sesenggukan.


"Ya, papa mama kan kabari Anya! papa mama pergi dulu. " kata papa oscar sebelum berjalan menjauh.


"Huuuffffff!! " Anya menetralkan nafasnya yang begitu berat.


Tapi Anya mulai tersadar ada sebuah tangan bertengger manis di pundaknya, ia tau tangan besar siapa itu langsung menepis nya menatap tajam pemilik tangan dengan wajah imutnya.


"Jangan menatapku seperti itu baby!! ayo kita pulang? " ajak Len yang akan menggandeng tangan Anya, tapi lebih dulu di tepis sang pemilik.


"Jangan sentuh Anya! " kata Anya berjalan lebih dulu dari Len.


Membuat Len berjalan terus mengikuti arah langkah gadis kecilnya, hingga sampai di depan mobil mewah milik Len.


Saat akan membukakan pintu mobil, Lagi-lagi Anya menepis nya, dan membuka pintunya sendiri, Len tak terlalu memusingkan itu, karena menurutnya ini adalah proses perjuangannya saat ini.


Setelah mereka masuk, Len tak langsung menjalankan mobilnya, memperhatikan wajah gadis yang iya cintai. Dengan mata , hidung hingga bibirnya yang memerah bahkan masih ada jejak air mata di bulu mata lentiknya.

__ADS_1


Jiwa kelaki-lakiannya meronta-ronta melihat pemandangan yang menurutnya sangat lah seksi, ingin sekali dia melahap bibir manis yang dulu pernah ia cicipi.


"Baby! " panggil Len.


"Kenapa tidak jalan? " tanya Anya dengan suara dinginnya, yang bukannya menjawab malah berganti bertanya.


"Apa kau tak merindukanku baby? " tanya Len dengan sabar.


"Stop plis!! Anya lelah!! Anya ingin istirahat cepat! " kata Anya dengan suara pelan.


Mau tak mau Len menjalankan mobilnya meski belum dapat jawaban dari pertanyaannya, ia melakukan mobilnya dengan kecepatan sedang, agar bisa berlama-lama berdua dengan Anya.


"Bagaimana keadaanmu selama ini? " tanya Len basa basi mencari topik pembahasan, karena yang sebenarnya ia tau setiap kegiatan Anya selama ini.


Tapi karena pikiran sedihnya di tinggal orang tuanya, di tambah pertanyaan yang mengingatkan Anya pada kepedihannya selama ini, membuatnya lebih sensi, menatap tajam orang yang seolah tak memiliki kesalahan apapun terhadapnya.


"Kau masih bertanya dengan keadaanku selama ini ha?? Apa aku harus menceritakan kepedihan hatiku karena perbuatan mu ha? Apa aku harus menceritakan tangisanku setiap malam karena pria brengsek sepertimu ha?? Apa aku juga harus menceritakan betapa lelahnya memakai topeng bahagian setiap hari di depan orang tuaku ha?!!!" Marah Anya tak terbendung.


"Anya!! " kata Len lembut.


Len langsung menurunkan kecepatannya, dan menepikan mobilnya, ia harus menenangkan gadisnya saat ini.


"Mungkin menurutmu hal sepele waktu itu, bahkan hanya sebuah permainan bagimu, tapi tidak untukku sialan!!! Anya baru merasakan cinta, tapi kenapa seperti ini rasanya!! " sesak Anya yang kembali menangis.


Len langsung melepaskan seatbelt nya saat mobil sudah berhenti, dan langsung memeluk gadis kecilnya tapi tak semulus yang Len bayangkan, Anya terus memberontak di dalam pelukannya.


"Tenang baby!! jangan seperti ini, hati daddy juga sakit sayang!! maafkan daddy baby! " kata Len terus memeluk Anya.


.


.


.


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2