
Malam hari di ruang TV keluarga Waber, keluarga itu selalu meluangkan waktu mereka untuk kumpul bersama seperti sekarang ini.
Dengan kedua kepala bidadari papa oscar yang
memenuhi bahu lebarnya, sembari menonton film pilihan sang putri.
"Anya! " panggil papa oscar.
"hm! " sahut anya dengan deheman karena terlalu fokus dengan filmnya.
"Anya! " panggil papa oscar lebih tegas.
"Apa?? " jawab anya sambil menatap wajah papa oscar dengan kesal.
"Bagaimana dengan kuliah kamu hari ini? " tanya basa-basi papa oscar.
"Seperti biasa, tidak ada hambatan apapun! " terang anya.
"Apa tidak semakin berat?? kalau tidak kuat jangan di paksa? " khawatir papa oscar.
Khawatir papa oscar sangat lah beralasan, karena di usianya yang baru menginjak 18 tahun, sang putri sudah akan menyelesaikan pendidikan S1 nya, karena Anya terus ikut akselerasi sampai di bangku kuliahnya.
Entah apa yang di kejar gadis itu, tapi yang pasti ia hanya tak ingin membuang-buang waktunya.
"Tidak berat kok! itu mah kecil untuk Anya! " kata Anya bangga sambil meyakinkan papa oscar.
"Baiklah-baiklah!!! emm, papa mau bicara sesuatu pada Anya. " kata papa oscar di inti yang sebenarnya.
"Bicara apa? sepertinya serius!" kata Anya yang merubah posisinya duduk tegak menghadap papa oscar.
"Papa akan ke Indonesia besok, restoran yang papa dirikan di sana ada masalah, hampir semuanya, mungkin papa lumayan lama di sana, " kata papa oscar menjeda karena melihat wajah Anya yang murung.
"Lalu? " tanya Anya dengan suara pelan.
"Papa akan membawa mama! untuk sementara waktu papa menitipkan kamu sama teman papa. " kata papa oscar sambil merangkul dengan satu tangan pundak putrinya.
"Kenapa mama di bawa? " kata Anya dengan wajah sedihnya.
"Karena papa tidak bisa tanpa mama! " kata papa menatap sang anak.
"Berarti papa bisa tanpa Anya! " dengan suara semakin pelan, seperti menahan tangisannya.
"Tentu saja tidak sayang, papa tidak bisa hidup tanpa kalian berdua, tapi Anya ada kuliah yang tidak bisa di tinggalkan bukan! " kata papa oscar membuat Anya mengangguk. "Jadi putri papa yang sangat berharga ini akan papa titipkan sama teman kepercayaan papa. " terang papa.
"Tapi Anya berani tinggal di rumah ini sendiri kok, kadang juga ada bibi sama pak buf, pak satpam juga ada! tidak usah di titipkan! " kata Anya memohon.
Karena bagi Anya lebih nyaman berada di rumah sendiri, meskipun rumah orang lain jauh lebih besar atau lebih mewah sekalipun.
"Tapi papa tidak akan tenang nantinya sayang!! nurut papa ya? " kata papa dengan lembut.
Anya hanya mengangguk dengan kepala menunduk, memilin ujung bajunya. Ia sedih saat ini, untuk pertama kalinya dia di tinggal sendiri oleh orang tuanya.
__ADS_1
Melihat anaknya yang akan menangis membuatnya tak tega, dengan pelan papa oscar menarik Anya masuk dalam dekapannya, menenggelamkan wajahnya di dada bidangnya, hingga terdengar suara isakan kecil dari mulut anaknya.
"Cup, cup, cup!! papa akan mengunjungi Anya jika ada waktu luang. "
hiks hiks. Hanya ada isakan kecil tanpa ada jawaban.
Membangunkan wanita paruh baya yang sedari tadi tidur di bahu papa oscar.
"Eh, kalian kenapa?? kenapa Anya menangis sayang? " kata mama Rosa yang baru tersadar dari tidurnya.
Memindahkan duduknya yang tadinya papa oscar yang di tengah, berubah Anya yang di tengah, menarik pelan tubuh Anya ke dalam pelukannya.
"Anya kenapa sayang? " khawatir mama Rosa menatap suaminya seolah meminta kejelasan.
"Tak apa, Anya hanya sedih akan di tinggal kalian berdua! " kata Anya di sela-sela pelukan mama Rosa.
"Baiklah, sekarang boleh bersedih, tapi tidak untuk besok oke? " kata mama Rosa menentukan sang anak.
Anya hanya menganggukkan kepalanya, dan kembali menangis di dekapan mama Rosa, di rasa sudah cukup menangisnya, Anya mengeluarkan kepalanya dari dalam pelukan sang mama.
"Sudah!!" kata Anya dengan suara serak khas orang menangis.
"Cengeng! " canda papa oscar di sertai senyuman di akhir.
Membuat Anya kesal dan memukul lengan papa oscar pelan. "ih, papa!! " kesal Anya dengan sisa-sisa air mata yang masih menempel di pipinya, dengan iseng Anya mengelap dengan baju yang papa oscar pakai.
"Anyaaaaaa!! " teriak papa oscar.
"Biarin, wleeekk!! " ledek Anya dengan menjulurkan lidahnya.
"Tapi besok Anya mau antar papa mama dulu ke bandara!! " protes anya.
"Iya Anya sayang, besok jemput sekalian antar oke? " kata mama Rosa.
"oke, malam pa, ma!! " pamit Anya yang akan berlalu ke kamarnya, tak lupa mencium pipi kedua orang tuanya.
Menjelang pagi hari, Anya sudah di sibukkan dengan 2 koper berisi beberapa kebutuhan yang akan ia bawa tak lupa buku-buku mata kuliahnya juga, mulai mengeceknya ulang agar tak ada yang tertinggal.
"Pak buf, koper Anya sudah siap!! " teriak Anya dari dalam kamarnya.
Tak lama masuklah pak buf yang akan membawakan koper Anya ke bawah.
"huffft, gerahnya. " kata Anya sambil berjalan menuju kamar mandi, untuk menyegarkan badannya.
Selesai dengan ritual mandinya, Anya berlahan menuruni anak tanggal hingga sampai di lantai bawah, menghampiri papa dan mama yang yang sedang mengobrol dengan pria tak asing untuk Anya.
Deg.
Hati Anya sakit melihat pria dengan senyum lebarnya berbincang dengan papa oscar, pria yang tak pernah ia lupakan sampai sekarang, sekaligus pria yang menorehkan luka cukup membekas.
"Anya sayang! " panggil mama Rosa yang melihat sang anak hanya diam mematung tak jauh darinya.
__ADS_1
Membuat dua pria di sama memandang ke arahnya, tak di pungkiri ada rasa bahagia saat bisa melihat pria kejam itu kembali, tapi cukup melihatnya, sekarang Anya lah yang tak ingin berharap lebih pada pria itu.
"Anya sini sayang! jangan diam di situ terus! " panggil papa oscar.
Anya berjalan lebih dekat, hingga sangat dekat duduk di ruang kosong samping papa oscar tanpa berani menatap terlalu lama pria di depannya.
"Kau ingat dia sayang!! Dia pemilik sekolahan mu dulu, Len ini teman papa yang akan menjaga kamu saat papa tidak ada. " terang papa oscar
Anya melotot kan matanya mendengar penuturan papa oscar, sedangkan yang di plototi hanya tersenyum semanis mungkin.
Papa oscar bingung melihat reaksi berlebihan anaknya. " Ada apa sayang? " tanya papa oscar.
"emm.. ti... tidak pa!! emm, aku kira teman papa tua seperti papa. " kata Anya mulai menetralkan ekspresinya.
"Ck, Anya tak ingin menyapa teman papa? dia yang akan menjagamu nanti lo!! " kata papa oscar mengingatkan Anya.
"Hai paman! " kata Anya mengulurkan tangannya dengan senyum paksa nya.
"Hai baby!! " Len keceplosan sangking senangnya bisa bersentuhan dengan gadis kecilnya lagi.
Mama Rosa dan papa oscar melongo mendengar panggilan mesra Len untuk Anya, Anya sendiri hanya bisa melotot dengan wajah lucunya, membuat Len tersadar dengan ucapannya.
"emmmm, wa.. wajah putri anda seperti bayi tuan, saya jadi tidak tahan memanggilnya ba.. baby tuan! " ralat Len dengan gugup.
"Oke! " kata papa oscar santai, tapi berbunga- bunga di hati.
"Apa impianku akan tercapai, memiliki menantu yang bisa di andalkan seperti Len. " kata papa oscar dengan bahagia.
"Kita berangkat sekarang! " kata papa oscar melihat koper-kopernya sudah masuk ke mobil sedangkan koper Anya masuk ke mobil Len.
"Tunggu!! bukannya masih nanti siang? " kata Anya bingung.
"Jadwalnya di majukan sayang! ayo cepat berangkat! " kata papa oscar menggandeng mama Rosa.
Di ikuti Anya dan Len yang terakhir, saat Anya akan berjalan menuju mobil yang di tumpangi papa oscar, tiba tiba papa oscar menghentikannya.
"Anya semobil dengan Len, mobil papa sudah penuh. " kata papa oscar.
Dengan cemberut Anya mengarahkan langkahnya menuju mobil Len yang terparkir di samping mobil papa oscar, sedangkan sang pemilik mobil tersenyum lebar mendengar ia semobil dengan pujaan hatinya.
"Silahkan taun putri. " kata Len membukakan pintu jok depan di samping kemudi, ia sengaja tak membawa sang asisten hari ini, khusus berdua dengan gadis kecilnya.
Dengan tatapan dingin nya dan tak mengatakan sepatah kata pun, Anya masuk ke dalam mobil Len, duduk di samping Len yang sedang mengemudi saat ini.
.
.
.
...****************...
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...----------------...