
Saat rambut Anya hampir kering, Len dapat melihat dengan jelas ada satu helai uban di kepala Anya. Membuat Len membulatkan matanya teringat dengan alasan Anya tak menurutnya tak masuk akal tadi, tapi sekarang ia melihat sendiri memang alasan Anya benar adanya.
Hatinya semakin nyeri melihat kenyataan kalau Anya tak pernah berbohong padanya, tapi ia tetap membela dirinya dengan rasa cemburunya saat Anya tanpa izin keluar bersama pria lain, meski ada rasa sesal di hatinya Len memeluk erat tubuh Anya dari balik selimut yang mereka kenakan, ikut memejamkan matanya mengarungi mimpi masing-masing.
Dengan mentari yang mulai menyembunyikan sinarnya, Anya terbangun dari tidur lelahnya sembari merasakan pelukan pria yang menyakitinya tadi.
Mengusap pelan wajah damai Len dengan air matanya yang tak sengaja jatuh, Anya kembali di ingatkan bagaimana pria di depannya itu menghukum dengan kesalahan yang sebenarnya tidak ia buat, bahkan sebenarnya bisa di bicarakan dengan baik-baik.
Puas menatap wajah Len yang masih tidur, Anya beranjak keluar dari kamar Len dengan satu kimono yang sudah terpasang rapi menutupi tubuh telanjangnya tadi, meninggalkan Len yang sama sekali tak terganggu dengan kepergiannya.
Baru saja Anya memakaikan baju di tubuh yang, Tiba-tiba pintu kamarnya di buka dengan cukup keras, memperlihatkan pria yang sedari tadi tidur menatapnya dengan wajah panik yang bahkan tak memakai alas kaki.
"Baby! " ucap Len berjalan menghampiri Anya lalu menariknya kedalam pelukannya. "Aku bangun kau sudah tidak ada di sampingmu! aku takut! jangan pergi, jangan tinggalkan aku Anya!! aku sangat mencintaimu! sangat! " ucap Len dengan suara sedihnya.
"Aku hanya ingin memakai pakaianku!" ucap Anya dengan suara dinginnya, tapi mata Anya tertuju pada kaki Len yang tak memakai alas kaki, dan tiba-tiba Anya melepas pelukan mereka dengan pelan.
Len hanya bisa mengikuti apa yang Anya lakukan tanpa memaksa sedikitpun, menatap gadisnya yang berjalan menjauhinya mengambil sepasang sandal rumahan dan menaruhnya tepat di depan kedua kaki telanjangnya.
"Pakailah! lantainya pasti dingin! " ucap Anya yang sama dinginnya dengan lantai tapi masih penuh perhatian.
"Kau masih peduli di tengah kemarahan mu baby?? tapi aku bahkan tak peduli keadaanmu saat aku marah!! kenapa kau sebaik itu, se cinta itukah kau dengan pria kejam ini?? bodoh sudah meragukan mu tadi!! kau bahkan tak pernah bohong padaku!! kenapa aku selalu bodoh saat bersamamu!! " batin Len menatap sedih wanita yang bahkan tak menatapnya sedikitpun.
"Kenapa?? kau tak mau memakainya? " tanya Anya karena Len tak kunjung memakai alas kaki yang ia berikan tadi. " aku akan ambilkan yang biasa kamu pakai! " ucap Anya yang akan beranjak keluar kamar.
"Tidak! aku memaki ini saja baby! " ucap Len menghentikan langkah Anya.
"Ya! pakailah! " ucap Anya tetap beranjak pergi dari kamarnya.
__ADS_1
Sedangkan Len hanya menatap kepergian gadisnya tanpa berniat mengejarnya, bukan karena tak peduli dengan kesedihan gadisnya malah ia tak ingin memaksakan kehendaknya saat hati Anya tak baik-baik saja.
Len mencoba memperbaikinya dengan pelan-pelan dan juga memperbaiki sikap yang tak baik bagi hubungannya.
Malam harinya pun di meja makan Anya sama sekali tak memandang ke arahnya, walau senyumnya terlihat saat bersama putranya tapi Len tau Anya sengaja melakukannya untuk menyembunyikan rasa sakitnya.
Melihat sikap Anya rasa bersalah Len semakin menjadi-jadi, karena semua yang terjadi pada gadisnya itu karena ulahnya, hanya bisa sesekali menatap wanita di sampingnya yang fokus pada makanan di piringnya.
Malam hari sebelum tidur Anya selalu menyempatkan mengucapkan selamat malam pada putranya yang di ikuti Len tentunya, dan setelah keluar dari kamar sang anak sepertinya Len dan Anya masing-masing memiliki kesadaran untuk menyelesaikan masalah di antara mereka.
"Ada yang ingin aku bicarakan! " ucap Anya dengan serius.
"Ya! aku juga baby! " setuju Len. "Kita bicara di kamarku! " ucapnya lagi.
"Tidak! kita bicara di sana! " ucap Anya menunjuk pintu keluar balkon yang berlapis kaca tak jauh dari mereka, yang sepertinya Anya takut kejadian tadi siang terulang saat ia mengatakan keputusannya nanti.
"Kau dulu! " ucap Anya pada Len.
"Aku minta maaf telah menyakitimu tadi! dan maaf telah meragukan cintamu untukku! aku tau yang kau ucapkan tadi benar, tapi tetap saja kecemburuan ku dan kau yang pergi tanpa izin tadi membuatku cukup marah! " kata Len yang masih membela diri di akhir.
Anya hanya bisa menghela nafas mendengar perkataan Len yang masih ada ego di dalam ucapannya, ia sendiri tak habis pikir mencintai pria kejam seperti ini.
"Sepertinya kita harus menunda pernikahan kita! sebelum kau memperbaiki sikapmu itu, kau sepenuhnya belum berubah! apapun masalahnya bukankah kita bisa menyelesaikannya dengan baik-baik! " ucap Anya yang membuat Len syok.
"Apa yang kau bicarakan baby! aku sudah mempersiapkan segalanya! kita hanya perlu fitting baju dan selesai!! aku tak setuju dengan keputusanmu! apa kau berniat meninggalkanku baby?? " tanya Len yang mulai panik dengan ucapan Anya, dan tiba-tiba berlutut di hadapan Anya. " Ja.. jangan tinggalkan aku! aku sangat mencintaimu! tolong maafkan perbuatanku tadi! maaf! tapi jangan tinggalkan aku!! maaf!!" ucap Len mulai mengeluarkan air matanya.
"Bangun dad!! " ucap Anya yang mendapatkan gelengan dari Len. " Pernikahan bukan hanya dua orang yang sama-sama mencintai, tapi juga sama-sama memahami, aku tak mungkin terus-terusan memahami mu tapi kau sama sekali tak bisa memahami ku dad! aku bisa memahami segala keposesifan mu, tapi bisa kau memahami sikapmu yang kasar itu untuk tak menyakitiku! kau belum berubah dad! " ucap Anya menatap pria yang duduk bersujud di kakinya.
__ADS_1
"Aku.. aku akan memahaminya untukmu! aku akan berubah untukmu! aku akan melakukan segalanya untukmu! jangan... jangan batalkan pernikahan kita oke!! aku sangat mencintaimu baby! " mohon Len.
"Aku akan menundanya sampai kau benar-benae berubah dad! " ucap Anya kekeh dengan pendiriannya.
"Ti.. tidak! aku mohon jangan! aku sangat mencintaimu!! aku hanya ingin kau jadi milikku, maaf kan aku karena sikapku tadi! aku terlalu takut kehilanganmu baby!! maaf oke, tarik kata-katamu tadi!!! " pinta Len yang tadi nya berlutut sekarang berdiri menatap intens mata gadisnya.
"Maaf sepertinya keputusanku lebih baik saat ini!aku tak membatalkannya hanya menunda! manfaatkan itu untuk berubah dad! aku tak meninggalkanmu kok! " ucap Anya.
Len terdiam dengan penjelasan Anya, menatap gadisnya yang berjalan membuka pintu kaca itu dan berjalan menuju balkon berniat mendinginkan kepala mereka, yang tak lama di ikuti Len dari belakang.
"Hanya menunda?? kau sudah mantap dengan keputusan mu baby? " tanya Len mencoba mengalah walau hatinya sebenarnya tak rela.
Yang terpenting Anya tak meninggalkannya walau ia berharap cepat meresmikan hubungan mereka, tapi saat melihat cincin di jari manis Anya, Len sadar ia lah pemiliknya yang akan datang, dengan cincin itu saja orang akan berfikir ulang untuk mendekati gadisnya, ia mulai tak berfikir memaksakan segalanya pada gadisnya, mencoba memberikan kenyamanan untuk Anya walau sebelumnya ia telah gagal.
"Tentu saja tidak dad! " ucap Anya dengan senyum lebar Anya, membuat Len benar-benar bingung dengan wanita di depannya.
Sampai sebuah kembang api meluncur tak jauh dari arah balkon, yang tadinya bingung sekarang malah membuat Len benar-benar syok dengan apa yang ia lihat.
.
.
.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
...----------------...