
Di mansion keluarga Becker, Anya berada di dapur membuatkan cemilan sehat untuk putranya, tapi entah kenapa pikirannya selalu tertuju pada sang sahabat, ia merasa ragu pada Carl saat melihat sendiri pria yang mencintai sahabatnya itu bergandengan tangan dengan wanita malam, apa lagi wanita malam yang pernah Anya lihat itu selalu menempel pada Riky.
Masih dalam lamunannya, Anya tanpa sadari memegang panci panas dengan menggunakan tangan kosong.
"Akkkkhhhh! " teriak kecil Anya yang tentunya mengundang para penjaga untuk melihat situasi yang terjadi, yang di takutkan ada serangan dari musuh tuannya. " Ti.. tidak apa-apa, hanya terkena panas panci saja! " ucap Anya dengan cepat menjelaskan.
Para penjaga yang tadinya sudah mengeluarkan senapannya, dengan berlahan menurunkannya kembali, lalu membungkuk sedikit sebelum meninggalkan Anya di dapur yang bahkan tak mengatakan sepatah kata pun.
"Huuufffttt! sakit kan! ngelamun mulu sih! " ucap Anya menyalahkan dirinya sendiri sambil menatap jempol dan jari telunjuknya sebelah kiri yang sedikit terbakar dengan sesekali meringis sakit karena masih merasakan rasa panas bercampur perih.
"Kenapa? " ucap Len yang tiba-tiba berada tak jauh dari Anya.
Anya yang kaget langsung menyembunyikan luka bakar itu di balik tubuhnya, menatap gugup tunangannya.
"Kenapa? " tanya Len sekali lagi yang curiga dengan gerak-gerik Anya.
"Ti.. tidak!! emmm...!!! kenapa sudah pulang? ini bukan jam pulang kantor kan! sepertinya masih kurang satu jam lagi! " ucap Anya tersenyum menutupi rasa perih di jarinya sembari menghilangkan kecurigaan tunangannya.
"Aku mau pulang lebih awal saja! di mana Dante? " tanya Len sambil memeluk tubuh kecil Anya sesekali mencium kening dan rambut gadisnya yang selalu wangi.
Dengan terpaksa Anya meninggalkan pekerjaannya di dapur, dan membalas pelukan prianya dengan kehangatan yang ia miliki.
"Hari ini Dante ada pelajaran olahraga dan tadi dia bercerita sepulang sekolah kalau dia bekerja keras di sekolahan, alhasil dia capek dan tidur tapi tak mau di temani!" ucap Anya
Membuat Len tersenyum bahagia, bagaimana tak bahagia kalau wanita pilihannya begitu memahami anaknya yang bahkan memperhatikan setiap perilaku sang anak dengan begitu baik jauh darinya yang seorang ayah kandung.
"Selelah itu? " tanya Len tersenyum hangat menatap wanita yang masih ada di jangkauannya.
"Dia pulang dengan penuh keringat di bajunya, yang pada akhirnya aku suruh mandi sebelum tidur, Tapi saat aku berniat membantu menyiapkan baju untuknya ia selalu menolaknya apalagi tidur juga di tolak dan selalu bilang Aku sudah besar mom, Aku bukan bayi lagi mom!! Ck, apa dia lupa saat sakit dulu, dia selalu merengek seperti anak kecil! " cibir Anya bercampur kesal dengan kelakuan putranya.
Len hanya tertawa kecil mendengar omelan Anya yang sudah seperti ibu-ibu komplek saat merasakan sifat anaknya yang terkadang dewasa sebelum waktunya, lalu bagaimana anya kalau tau dirinya sering di buat mati kutu dengan ucapan Dante yang lebih parah darinya, yang tak seperti Dante pertama kali masuk di rumah ini.
"Jangan terlalu di pikirkan, putramu itu sudah beranjak dewasa! canda Len.
" Dewasa apanya, diam masih anak-anak, lagian prosesnya dari anak-anak ke remaja dulu bukan langsung dewasa! pokoknya dia masih anak-anak! " kesal Anya di buat Len.
__ADS_1
"Hahahhaa, aku hanya bercanda, lagian Dante langsung dewasa kok setelah di lahirkan!! " ucap Len.
Yang malah membuat Anya terdiam, memikirkan perkataan Len yang ada benarnya sedikit, sikap Dante yang ia lihat sejauh ini karena bentukan dari lingkungan sebelumnya, yang mengharuskannya menjadi pria kecil yang kuat .
"Hei, kenapa? " tanya Len melihat keterdiaman Anya, dan berlahan menggenggam kedua tangan Anya.
"Akkhhh! " teriak kecil Anya dan reflek menarik jemarinya yang terbakar dan tersentuh tangan Len barusan.
"Kenapa? " tanya Len khawatir menarik pergelangan tangan Anya kembali dan membalikkan telapak tangannya.
Len terkejut dengan dua luka bakar di kedua jemari Anya yang cukup besar di jemarinya yang kecil, dengan marah Len menatap wajah ayu gadisnya.
"Apa ini? kenapa bisa seperti ini! jangan pernah kedapur lagi kalau seperti ini jadinya! " ucap Len marah.
Menyeret pergelangan Anya untuk pergi menjauh dari dapur dengan langkah lebarnya yang begitu cepat.
"Pelan! " ucap Anya memperingati Len.
Len yang mendengar itu pun teringat dengan kejadian Terakhir ia menyeret Anya sama seperti yang ia lakukan sekarang dan berujung membuat anya tersungkur, Len mulai memelankan jalannya tapi dengan terus menggenggam tangan Anya.
Len dengan teliti menatap luka bakar yang tak begitu parah, dan tak terlalu besar, hanya saja di tempatkan di tangan kecil Anya, yang membuat luka bakar itu terlihat besar.
"Jangan di tatap begitu!! I.. ini sudah tidak apa-apa! " ucap Anya yang malah di hadiahi tatapan sangat tajam dari Len yang begitu menyeramkan.
Bersamaan dengan kotak p3k permintaan Len ada di depannya, dengan hati-hati Len mulai mengobati luka Anya, dengan di akhiri balutan perban agar tak sakit saat bersentuhan dengan benda-benda di sekitar dan terinfeksi.
"Sudah! aku kembali kedapur dulu! " ucap Anya tanpa rasa bersalah berniat mencium pipi Len untuk berpamitan.
"Siapa yang mengijinkanmu ke dapur lagi? " ucap Len yang menghindar dari ciuman sang gadis tak seperti biasanya, dan menatap wanita dengan dua balutan perban di jarinya.
"Emmm!! itu.. itu, be.. belum selesai pekerjaanku di dapur! " ucap Anya gugup.
"Aku bilang siapa yang mengijinkanmu kedapur lagi ha? " marah Len sedikit meninggikan suaranya, " kau tak boleh ke dapur kalau harus terluka seperti ini! " ucapnya lagi.
"Ha.. hanya sa.. tu me.. menu oke?? Putraku ta.. di mau puding ma.. mangga! " ucap Anya terbata-bata karena takut dengan teriakan Len.
__ADS_1
"Masuk ke kamarmu! " ucap tegas Len yang kembali menarik pergelangan tangan Anya untuk naik ke atas.
"Tunggu! pudingnya habis selesai tadi!! tu.. tunggu sebenar! " ucap Anya yang tak di hiraukan Len, terus menyerat gadisnya karena ingin menjauhkan Anya dari hal-hal yang akan menyakitinya.
Sedangkan Anya mengepalkan tangannya yang tak terluka, mengekspresikan kemarahannya di perlakukan berlebihan hanya karena luka yang biasa ia dapat dan bahkan harus mendapatkan bentak tadi.
"Lepas! aku bisa jalan sendiri! " ucap Anya yang juga ikut menatap marah Len.
"Tidak, sebelum kau masuk ke kamar! " ucap Len yang tak mau mengalah.
Saat lift terbuka di lantai paling atas, Anya malah melangkahkan kakinya lebih dulu, berbalik Len yang di seret Anya dengan tangan Anya yang masih Len genggam.
Sampai didepan pintu kamar Len, pria itu tiba-tiba berhenti yang membuat Anya tak bisa melangkahkan kakinya kembali.
"Masuk! " ucap Len yang sudah membuka pintu kamarnya.
"Kamarku masih di sana! " ucap Anya menunjuk kamarnya dengan dagu dengan wajah yang memperlihatkan kemarahannya.
"Dia marah! " batin Len yang sedikit was-was sekarang. "Ini juga kamarmu! ayo masuk! " ucap Len lagi.
"Tidak , Kamarku ad....! "
Ucapan Anya terpotong dengan tarik kan Len yang memaksa Anya untuk masuk ke dalam kamarnya, dan segera mengunci kamarnya kembali dari dalam.
.
.
.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...----------------...
__ADS_1