
Len terus berjalan menjauh dengan apa yang di khawatirkan sudah ada di tangannya, jika Len menjauh dari mobil klasik itu lain halnya anak buah Len yang berlahan mendekat bersamaan dengan tuannya yang menjauh.
"Bawa Tyga saja, bunuh orang yang membantunya!! " ucap Len pada salah satu anak buahnya sebelum benar-benar menjauh dari mobil itu.
Yang tadinya optimis Anya dapat mengatasinya, papa Oscar mendadak khawatir juga saat melihat kondisi putrinya yang seolah tertidur di bahu calon menantunya.
"Kita kerumah sakit pa! " ucap Len memberiku kode untuk menyetir, karena ada Anya di gendongannya membuat Len tak bisa mengemudikan mobilnya, sedangkan ia sendiri tak mau melepaskan Anya dari pelukannya.
Papa Oscar yang sudah melihat kondisi anaknya dadi dekat langsung membuat dadanya berdetak lebih kencang melihat darah yang ada di kemeja calon menantunya, walau posisi Anya masih memunggunginya, papa Oscar sangat bisa tau kalau anak gadisnya itu sedang terluka.
Tanpa bertanya lebih dulu, papa Oscar bergegas masuk ke dalam kursi kemudi, dengan Len yang juga masuk dengan masih memeluk dan memangku Anya yang sedari tadi hanya diam.
"Baby! " panggil Len yang merasa khawatir dengan keterdiaman gadisnya, yang ia tau Anya tak lagi sedang pingsan.
"Sayang!!! " panggil papa Oscar yang juga ikut khawatir dengan kondisi sang putri tercinta.
Sedangkan yang di khawatirkan hanya diam dengan segala pikiran di kepalanya, bukan karena peristiwa penculikan yang baru ia alami, tapi ciuman pria bajingan itu yang seolah membuat Anya kotor sekarang apa lagi ia mulai begitu jijik dengan bibirnya sendiri.
Tak bisa menjaga apa yang di miliki calon suaminya nanti, tak hanya calon suaminya seorang sekarang yang merasakan bibir miliknya, ia khawatir Len tak bisa menerima apa yang terjadi pada dirinya, rasa takut di tinggalkan mulai mengelilingi pikirannya, ia tak mau itu terjadi, ia tak bisa jika di tinggalkan oleh cinta pertamanya itu.
Tanpa sadar Anya terjebak dalam pikirannya sendiri yang membuatnya tak merespon panggilan papa dan calon suaminya, yang bahkan tanpa di sadari ia masih terus menggenggam senapan milik rekan Tyga tadi dengan satu tangannya.
"Apa tadi termasuk berselingkuh? aku tidak berselingkuh, aku tak menginginkannya!! dia melakukannya tanpa ijin dariku, apa yang harus aku lakukan sekarang!!! " batin Anya dengan segala pemikirannya sendiri.
"Hey baby! " ucap Len lagi yang tak kunjung di jawab.
__ADS_1
Tapi kali ini ia menegakkan bahu yang tadinya terus bersandar di dada dan pundakknya, memberikan sedikit jarak untu Len dapat melihat wajah gadisnya dengan seksama.
Len dan Papa Oscar dapat melihat darah yang berasal dari kening dan kepala atas milik Anya bersumber cukup jelas, semakin membuat khawatir apa lagi wajah yang sudah di tutupi noda darah itu, dengan mata yang di genangi air mata di sela-sela lamunan wanita yang mereka lihat saat ini.
Saat Len memegang pipi Anya yang tak merespon ucapannya itu, Tiba-tiba Anya mengacungkan senapan di tangannya pada orang yang akan menyentuhnya yang ia lakukan dalam keadaan tak sadar.
"Jangan menyentuh ku! " ucap Anya mengacungkan senapannya tanpa sadar dengan air mata yang berlomba-lomba mengalir bersamaan dengan darah miliknya.
"Baby!! ini daddy!! ini daddy mu!! " ucap Len yang kaget dengan apa yang di lakukan Anya, ia tak tau apa yang di lakukan Tyga yang membuat gadisnya bisa sewaspada ini.
Sama halnya dengan papa Oscar, ia tau anaknya terlatih dengan melihat darah, terlatih dengan senjata, bahkan terlatih dalam situasi apapun, tapi saat ini ia bisa melihat ada ketakutan dan rasa was-was yang sepertinya masih terjebak dalam pikirannya sendiri yang membuatnya bingung dengan sikap anaknya.
"Apa karena itu? " batin papa Oscar yang baru sadar saat mendengar ucapan kewaspadaan anaknya tadi, ia tak berani menyimpulkan sebelum Anya sendiri yang mengatakannya, walau dalam hatinya ia menyimpulkan hal yang besar kemungkinannya untuk benar.
"Ke.. kenapa seperti itu!! ada apa hm? " ucap Len dengan lembut penuh kekhawatiran yang tampak jelas di matanya, sembari mengelap air mata sang gadis yang bercampur darah dengan tangannya. " kenapa dengan bibirnya baby? " tanya Len yang tak ada jawaban selain gerakan Anya yang terus mengelap bibirnya.
"Hiks, hiks!!! " Anya yang hanya bisa menangis dengan terus mengelap bibirnya menatap pria yang begitu khawatir padanya. "Kalau tau bibirku bekas pria lain bagaimana!! jangan tinggalkan aku!!! " batin Anya yang lupa kalau pria didepannya juga bekas.
"Harusnya aku saja yang terluka, aku tak bisa melihatmu seperti ini baby!! kenapa tidak aku saja yang terluka kenapa harus kamu!! pasti sakit bukan!!! maaf tak bisa menjagamu dengan baik!! maafkan aku baby!!! " batin Len tak tega melihat pemandangan menyedihkan didepannya.
"Jadi benar!!! " ucap papa Oscar yang hanya bisa membatin, menatap sedih bercampur marah saat ingat orang menculik anaknya.
Hati ayah mana yang tak marah jika sang anak yang sangat ia jaga itu harus dengan mudah dilecehkan oleh orang yang tak di kenal, tapi papa Oscar hanya bisa diam tapi pikirannya penuh dengan siksa an untuk orang yang berani melakukan hal demikian pada putrinya, ia benar-benar tak akan membuat pria itu mati dengan mudah, sebelum mendapatkan rasa sakit dari tangannya sendiri.
"Baby!! cerita dengan daddy!! jangan takut ada daddy di sini, kamu aman sekarang!! jangan seperti ini baby!!! " ucap Len sedih bercampur khawatir, gadis cerianya sekarang seolah tak. berdaya dengan ke adaanya.
__ADS_1
Cukup lama Len menunggu jawaban dari Anya, tapi tetap saja gadisnya tak kunjung berucap yang malah masih mengelap bibirnya yang semakin lama semakin kasar, Len yang tak tahan langsung mengelap tangan kecil Anya yang tersemat cincin tunangan mereka dengan berubah warna sama dengan cairan yang mengalir di wajah Anya.
"Kenapa? " tanya Len dengan tegas.
"Hiks!!! jangan tinggalkan aku!! apapun yang terjadi jangan tinggalkan aku!! aku kotor, hiks!! aku tak bisa menjaganya untukmu, dia menyentuhnya!! aku jijik dengan bibir ini!! hiks, hiks!! " tangis Anya yang semakin menjadi-jadi dengan kembali memeluk tubuh calon suaminya yang takut meninggalkannya.
Len yang mendengarnya membulatkan matanya, menatap pria paruh baya yang ada di kursi kemudi dengan menggeleng pelan ke arahnya, seolah berkata untuk memahami hati putrinya yang terguncang sekarang.
"Apa yang di sentuh hm? " tanya Len mencoba memahami gadisnya walau di hatinya bergerumuh rasa kemarahan di hatinya sendiri.
Pikirannya mulai ke mana-mana saat menyimpulkan ucapan gadisnya, yang sebenarnya tak sepenuhnya benar, tapi Anya yang tak menjelaskan dengan benar membuat Len berasumsi yang menurutnya benar.
Len tak menyangka hal gila ini terjadi sebelum acara pernikahan mereka, kejadian bertubi-tubi menimpa mereka tanpa ada hentinya, bahkan luka tembak di lengannya saja belum kering sudah kembali mendapatkan kejadian tak terduga.
.
.
.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...----------------...
__ADS_1