Cinta Pria Kejam

Cinta Pria Kejam
Pergi


__ADS_3

Sedangkan papa Senta merasakan lidahnya terasa kelu saat mengucapkan ucapan perpisahan pada sang anak,ingin rasanya ia mengucapkan kata maaf pada sang anak tapi begitu susah untuk ia ucapkan, dan memilih memeluknya dengan erat sebelum kesempatan itu tak ada lagi sebagai ucapan perpisahan darinya.


Saat senta akan melepaskan pelukan papanya, pelukan itu tak bisa di lepas karena tangan sang papa masih mengikatnya begitu erat, dan itu bukanlah papanya yang biasanya.


"Pa!!! " panggil Senta untuk memberikan kode melepaskan pelukan mereka, tapi hal itu tak di hiraukan oleh sang papa yang masih memeluknya dengan begitu erat, yang pada akhirnya Senta mulai mengelus pelan punggul lebar papanya.


"Papa menyesal sayang!!! papa tak mau kehilanganmu, bisakah jangan pergi dari sini??? " ucap papa Senta yang hanya ia lakukan dalam hati, karena ia juga ragu untuk kehilangan segalanya jika membatalkan kepergiaan Senta.


"Setelah ini tak ada beban di hidup kalian!!!dan sebaliknya, anak yang kamu beli ini cukup menguntungkan untukmu bukan! jangan seolah-olah takut kehilangan pa!!! " ucap Senta dengan berbisik saat papanya tak mau melepaskan pelukan mereka.


Pada akhirnya pelukan itu terlepas saat papa Senta mendengar ucapan sang anak, untuk pertama kalinya juga hatinya terasa tercubit saat mendengar langsung dari mulut sang anak, tapi ia tak bisa berbuat apa-apa karena masih ada ego untuk takut kehilangan segala yang baru ia capai dari sang menantu.


"Tidak, kau bukan seperti itu, maafkan papa!!! " ucap papa Senta yang hanya bisa membatin, rasa penyesalan dan ego yang saling berperang di dalam dirinya yang masih membuatnya terdiam, bahakan ia tak mengucapkan perpisahan apapun untuk sang anak, malah terlihat seperti tak peduli akan kepergian anaknya.


Senta sendiri lebih memilih melangkah mundur sampai ia berada di belakang tubuh suaminya yang merasa terlindungi di sana, lalu menundukkan kepalanya sembari memainkan ujung mini dress yang ia kenakan hari ini, untuk menutupi rasa sedih dan mencoba menahan untuk tak menangis.


Melihat itu, Carl hanya bisa menghela nafas panjang, dengan berlahan menggenggam salah satu tangan istrinya untuk menyalurkan kekuatannya, dan berharap dukungannya dengan genggaman tangan itu dapat menguatkan sang istri walau hanya sedikit saja.


"Sudah pamitan nya? " tanya Carl di angguki Senta yang masih menundukkan kepalanya karena takut akan menangis nanti, lalu menatap kedua orang tua istrinya setelah mendapatkan jawabannya. "Seperti yang aku bilang tadi, dia istriku sekarang!! kalian tak berhak apapun lagi padanya, yang tentu saja dia akan baik-baik saja bersama suaminya!!! aku berjanji akan membahagiakannya dalam bentuk apapun, dan Terima kasih telah membesarkan dan merawat gadis cantik ini untuk menjadi jodohku sekarang!!! sekali lagi terimakasih!! kami permisi dulu!!! " ucap Carl berpamitan untuk meminta hak nya seorang suami.


"Ya!! hati-hati nak!!! " ucap mama Senta dengan ceria dan terdengar sangat perhatian saat sudah mendapatkan hadiah beberapa truk di depannya.

__ADS_1


Dengan pelan Carl menarik genggaman tangan sang istri untuk berjalan keluar dari rumah yang memiliki kenangan begitu banyak di masa lalunya, dan tak lupa satu tangan lainnya membawa koper yang sempat Senta siapkan tadi.


Senta tanpa menoleh kebelakang, mengikuti langkah sang suami, terlalu menyedihkan jika ia harus menoleh pada orang-orang yang sebenarnya tak menyayanginya, mengharapkan hal-hal mustahil menurutnya.


Sedangkan papa Senta yang memiliki rasa kehilangan itu, tanpa sadar ikut melangkahkan kakinya mengikuti langkah sang anak yang tak jauh darinya.


"Papa mau kemana? " tanya mama Senta yang menyadarkan papa Senta akan langkahnya tadi.


"Emmm... papa hanya mau mengantarkan kepergian mereka di depan!!! " ucap papa Senta yang melangkahkan kakinya kembali.


Hal itu membuat mama Senta mengerutkan dahinya, ia bingung karena tadi sang suami terlihat tak peduli, tapi sekarang malah repot-repot mengantar kepergian anak mereka, yang membuatnya juga ikut mengantar kepergian mereka.


Di luar rumah, papa Senta menatap setiap langkah sang anak menuju mobil yang sudah menunggu dari beberapa jam lalu.


"Kau baik-baik saja pa? " tanya mama senta yang mendengar helaan nafas panjang tadi.


"Ya!!! " jawab singkat papa Senta dengan senyum kecil, tapi tidak dengan hatinya yang terasa hampa sekarang.


"Hehe, kita harus mengadakan party dengan apa yang kita dapat sekarang!! aku akan undang sugar ku, dan papa jangan pula undang sugar papa sebanyak-banyaknya, kita party malam ini, dan kita bisa party kapanpun tanpa peduli dengan kehadiran anak itu sekarang!!! yeeeee!!! " bahagia mama Senta sembari berlari masuk ke dalam rumah di akhir.


Papa Senta sendiri yang bisanya begitu semangat jika menyangkut daur muda, sekarang malah tak ada gairah atau kebahagiaan sedikitpun mendengar ucapan dari sang istri, rasa hampa yang begitu besar mungkin menjadi faktor di dalamnya, dengan mata yang masih menatap ke arah luar yang padahal objek utama yang ingin ia lihat sudah tak ada di jangkauan matanya.

__ADS_1


Sadar akan hal itu, papa Senta lagi-lagi menghela nafas panjang dan mulai berjalan masuk ke dalam, membawa rasa hampa dan sedih di dalam hatinya, yang padahal nanti ada party yang ia gemari selama ini.


*****


Sedangkan di dalam mobil tangisan Senta mulai pecah di dalam pelukan suaminya, setelah sekuat tenaga tadi menahan untuk tak menangis, apa lagi untuk berharap sang orang tua menahan kepergiannya terutama sang papa.


Hingga di akhir kepergiannya, Senta masih berharap papa nya memberikan ucapan sedikit saja untuknya atau menahannya untuk pergi, tapi sayangnya harapan tinggal lah harapan, karena semua tak terwujudkan, membuatnya berfikir papanya tak peduli ia akan pergi atau tidak, yang membuat hatinya semakin sedih.


Carl sebagai suami yang membawa istri keluar dari rumahnya dengan sigap memberikan pelukan hangat ataupun tempat keluh kesah sang istri yang sebagai tanggung jawabnya sekarang, memberikan segenap cinta di setiap pelukannya, dan kecupan kecupan kecil di pucuk kepalanya, membuatnya tau keberadaannya hingga membuatnya seolah tak sendiri menghadapi kenyataan hidupnya, dan berharap tangisan yang ia dengan jauh lebih baik.


Karena tak bisa di pungkiri, ia juga ikut sedih harus kembali mendengar tangisan itu berulang kali, hingga ia berjanji kembali untuk membahagiakan istrinya dalam bentuk apapun dan sekecil apapun, jika menangis pun itu harus tangisan kebahagiaan untuknya.


.


.


.


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2