
Anya sudah di ambang batas rasa perihnya sekarang, ia sudah tidak kuat menerima rasa sakit yang sekali lagi di berikan pada pria di depannya.
Len tersadar akan tujuannya diawal, dan juga mulai sadar segala ucapannya, menatap nanar perempuan yang ia sakiti sekali lagi.
"Baby!! maaf baby!! aku.. aku akan jelaskan oke!! " kata Len memohon pada anya.
"Sudah lah, jangan buang-buang waktumu di sini!! urus saja anak dan wanitamu itu!! aku sadar posisiku sekarang!! keluar dari sini! " usir anya dengan mendorong kuat tubuh besar Len.
"Tidak!!! cukup baby!! aku akan menjelaskannya!! dia putraku dan kau juga wanitaku baby!! tidak ada wanita lain di antara kita!! aku mencintaimu!!".
" Kau pikir anakmu keluar dari mana ha?? sampai kapan kau akan mengatakan omong kosongnya itu!! pergi!! anggap tak ada cinta di antara kita!! pergi dari kamarku sekarang! " dorong anya lebih keras .
Membuat Len sedikit kewalahan, dan mengangkat tubuh kecil anya menjatuhkannya ke ranjang, menindih tubuh anya lalu mencium bibir anya secara paksa.
Anya tak tinggal diam, ia tak mau di permainkan lagi oleh Len, memberontak sampai ciuman mereka terlepas dengan paksa, dengan cepat bangun dari tidurnya berlari ke kamar mandi tak lupa menguncinya untuk menghindari Len.
Len yang tak sempat mengejar hanya bisa menggedor- gedor pintu kamar mandi.
"Anya baby!! buka pintunya kita bicara baik -baik oke. " kata Len yang tak ada jawaban dari dalam.
Terpaksa ia mengatakannya dari luar kamar mandi. "Dia wanita masa laluku, dia yang melahirkan putraku tanpa sepengetahuan ku, dia meninggalkanku bersama pria lain yang tak lain musuhku sendiri, dia pergi tak lama setelah ketahuan berselingkuh, tapi sungguh!! aku tak memiliki perasaan apapun pada wanita masa laluku, aku hanya ingin putraku saja!! Maaf meninggalkanmu kemarin tanpa perasan, maaf!! "
kata Len dengan sedih tapi tak ada jawaban apapun dari wanita di dalam.
"Aku akan keluar, jangan lama-lama di kamar mandi, kamu baru sembuh baby!! aku mencintaimu dan jangan harap pergi dariku! " kata Len sebelum beranjak keluar kamar anya.
Hening, tak ada suara apapun di kamar anya, berlahan anya membuka pintu kamar mandinya, ia tak melihat Len di sana.
Ia menghela napas panjang, menetralkan rasa sesaknya, ia bahkan sudah tak mau lagi menangis, ia tak akan mengharapkan orang yang berkali-kali menyakitinya.
Merebahkan tubuhnya ker ranjang empuk, mengisi energinya agar bisa menjalani kenyataan yang ada besok pagi.
Di kamar Len, sang pemilik kamar tak kunjung memejamkan matanya meski sudah merebahkan tubuhnya di ranjang, sambil memeluk anaknya, ia mengingat perkataan Anya satu demi satu, ia sangat takut gadis kecilnya meninggalkannya, hingga tanpa sadar rasa ngantuk mulai melanda.
Pagi hatinya, Len di bangunkan dengan towelan tangan kecil putranya, membuatnya terbangun dengan tersenyum tipis, meski ada terbesit rasa gelisah di hatinya.
__ADS_1
"Anak papa bangun!! " kata Len terduduk yang saat ini di tatap putranya.
"iya! " kata Dante mengangguk lucu.
"Dante mau sekolah? " tanya Len yang memang akan menyekolahkan anak dengan segera.
"Apa boleh? " kata Dante dengan mata berbinar.
Ada sebuah harapan besar di mata kecil itu, sebuah ambisi yang di miliki Len ada di diri sang putra, tapi ia seolah tak memiliki kesempatan untuk mewujudkannya.
"Apa selama ini kamu tidak bersekolah sayang? " tanya Len dengan lembut tapi ada rasa dongkol di hatinya.
"Tidak!! kata mama Dante tidak boleh menyusahkan mama? " kata Dante yang menyayangi ibunya.
"Sialan kau!! seperti ini kah kamu memperlakukan anak ku Audrey, aku akan membunuhmu wanita ular! " kata Len marah dalam hati.
"Sayang, Dante baik, tidak ada kata anak menyusahkan orang tuanya!! tapi anak adalah cinta untuk orang tuanya, seperti papa! papa akan memberikan apapun kalau Dante jadi anak yang baik, dan jangan berfikir papa seperti mama oke? " kata Len memberi pengertian, agar tak kebiasaan sebelumnya tidak terbawa di sini.
"Benarkah?? Dante tidak menyusahkan seperti kata mama?? Dante akan meminta apapun pada papa!! Dante akan menjadi anak yang baik pa!! " kata Dante dengan semangat.
"Oke pa? " kata Dante dengan bahagia.
"Hari ini Dante di rumah dengan pelayan oke? papa akan kerja dulu, Dante harus jadi anak yang baik! "
"Tapi Dante takut! " kata Dante menundukkan kepalanya.
"Hei, kenapa harus takut, di rumah papa tidak ada yang jahat, kau adalah laki-laki!!! laki-laki tidak boleh takut, seperti papa ini!! bahkan ada kakak cantik di sini! " kata Len merayu sang anak.
"Baiklah! " kata Dante yang menurut.
"Kita mandi okeh. " kata Len sambil mengendong putranya ke kamar mandi.
Dua pria beda generasi itu melakukan ritual mandi bersamanya untuk pertama kali, sama halnya dengan wanita di kamar sebelah yang juga melakukan ritual mandinya, yang satu dengan raut wajah bahagia dan satunya sendiri dengan rasa hampa nya.
Cukup lama Dante dan Len mandi bersama, dan sibuk dengan pakaian ganti sang anak , yang akhirnya mereka turun ke bawah dengan bergandengan .
__ADS_1
Dengan ditunggu pria kembar dan anya di meja makan, anya yang duduk di samping meja kebesaran Len, langsung berpindah tempat ke sisi lain, karena sang pemilik sebenarnya sudah ada, yaitu anak dari boss di sana.
Len hanya bisa menatap gerak gerik anya, ia tak akan membahas masalah mereka di depan anaknya.
"Dante, kenalkan dia Vanya kakak cantik yang papa bicarakan tadi! " kata Len yang sudah mendudukkan anaknya.
Sedangkan anya yang bukan tipe orang membenci orang tak bersalah pun, tersenyum hangat pada pria kecil yang sangat mirip dengan pria yang ia cintai.
"Hai pria kecil!!! nama kakak Vanya!! kakak anak sahabat papa kamu! " kata anya dengan ceria, membuat hati Len menghangat.
"Wahhh, kakak cantik sekali!! nanti kalau Dante besar boleh menikahi kakak nyanya?? " kata Dante dengan mata berbinar .
"Wahhhh!!! putramu imut sekali tuan kejam, nyanya???kenapa terlihat lucu saat keluar dari mulutnya!! " batin anya tak mempermasalahkan panggilan barunya.
Len yang tadinya tersenyum hangat seketika memudar mendengar perkataan putranya, dan merasa tercubit hatinya saat mendengar jawaban anya.
"Sebenarnya kakak suka pria matang!! tapi ternyata pria matang suka jahat sama kakak!! jadi kakak mau sama Dante saja! " kata anya sedikit menyindir.
"Benarkah?? siapa pria matang itu kak?? biar Dante pukul nanti! " kata Dante seolah sudah kenal lama dengan anya.
Mungkin karena suasana di tempat itu yang membuat Dante nyaman berinteraksi dengan siapapun, atau anya yang memang menyukai anak kecil, hingga mereka sama-sama nyaman.
"Sudah cukup, kita makan sekarang! " kata Len gerah melihat interaksi anya dan Dante yang menurutnya kelewatan.
Jika sang boss berbicara tidak akan ada yang bisa membantah, sekalipun itu putranya yang baru ia temui. Makan dengan tenang, meski ada satu dua kata yang terucap untuk pria kecil anggota baru di sana, memberikan pengertian agar terbiasa di kemudian hari.
.
.
.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
...----------------...