
Audrey mulai ketakutan dengan perkataan Len, dia harus pergi yang jauh dulu setelah keluar dari mansion Backer, tak ada berantakan lagi dari Audrey, ia malah berharap cepat pergi, karena tau kekejaman pria di depannya.
Di tengah jalan keluar mansion Audrey sempat berpas-pasan dengan asisten noberto dan Bastian.
"Kenapa ada dia??? apa aku ketinggalan berita di sini! " pikir Bastian yang kaget melihat wanita ular telah kembali.
Tak ada sapaan di antara mereka, berlalu seperti orang asing yang tak saling mengenal.
Tok.. tok.. tok
Suara ketukan pintu yang di buas Bastian dari luar kamar, sudah ada Len dan pria kecil yang sangat mirip dengan temannya menunggunya untuk cepat mengobati.
Bastian syok melihatnya, tapi saat ia tau ada yang terluka, ia lebih mementingkan penanganannya dulu di banding kekepoannya.
"Kenapa bisa seperti ini? " tanya Bastian melihat luka di kaki pria kecil yang ia tak tau siapa.
"Entahlah!! Audrey bilang Anya yang melakukannya! " kata Len dengan raut cemas.
"Kau percaya?? jangan mudah percaya dengan wanita itu!! kau tua sendiri begitu manipulatif nya dia!! cari buktinya dulu!! Aku tak yakin Anya melakukan hal seperti ini!! " jelas Bastian yang membuat mata Len terbuka .
Len mengingat kembali kata Anya kalau ia sebenarnya tak mengenalnya selama ini, yang tadinya cemas malah bertambah khawatir, Anya pasti tak mungkin menyakiti anak kecil, tapi di sisi lain bukankah anya tak ingin melanjutkan hubungan mereka setelah ada Dante di antara hubungan mereka.
"Dia tak apa!! Lukanya sudah di jahit!! " kata Bastian lalu menatap lekat pria kecil yang tertidur karena obat bius itu. " Dia putramu dengan wanita tadi? " tebak Bastian.
"Ya! " jawab Len singkat.
" Sungguh rumit! " kata Bastian dengan menghela napas panjang, menanggapi kisah percintaan Len.
"Dia memutuskannya!! " Anya yang di maksud Len. " Entahlah, mungkin karena anakku!! tapi dia pernah mengatakan tak kehadiran Dante!! Aku bingung dengan pikiran dia!! " Curhat Len pada orang kepercayaan keluarganya.
"Kau tak akan mengerti!! karena setengah hidupmu tanpa keluarga di sisimu!! Dia masih kecil, tapi sudah bisa memikirkan hal terlalu jauh!! " kata Bastian yang membuat Len semakin bingung.
"Apa maksudmu? " kata Len bingung.
"Sebuah kehangatan keluarga yang akan menjadi kebahagiaan seorang anak!!! " kata Bastian yang Len masih tak mengerti.
__ADS_1
" Berkata dengan jelas! " perintah Len yang sudah tak sabar.
"Kau bodoh!!! " kata Bastian bukan menjelaskan.
"Kau!...." geram Len menatap tajam Bastian.
Belum selesai percakapan mereka, terdengar lengkuhan kecil dari Dante yang mulai sadar. Membuat dua pria dewasa itu menatap sumber suara, dengan Len langsung duduk di sisi ranjang yang di tiduri anaknya.
"Dante!! " kata Len lembut sambil mengelus lengan kecilnya.
"Papa!! " kata Dante menyambut panggilan papanya, tapi ia kembali teringat dengan hadiah kecilnya yang sudah tak ada di pelukannya, ia gelisah dengan mata sudah mulai berair.
"Kenapa sayang?? apa ada yang sakit? " tanya Len khawatir melihat raut wajah anaknya.
"Buku dante kemana?? tadi dante peluk!!! sekarang tak ada!! " kata Dante membuat Len lega ,Len ia berjalan di sebuah laci dan mengambil apa yang di cari anaknya.
"ini! kata Len memberikan beberapa buku yang terlihat baru.
Dante menerimanya dengan senang, memeluk buku itu seolah ia tak merasa sakit dengan lukanya. Sang papa juga ikut merasa bahagia melihat wajah anaknya saat ini, terlepas dari masalah yang menimpanya.
"Ya!! ini hadiah pertama Dante, nyanya yang memberikannya!! kata nyanya biar besok Dante lebih semangat belajarnya!! makanya Dante tak membiarkan mama mengambilnya!! Meski harus terluka tapi tidak apa-apa!! yang penting mama tak akan mengambil hadiah ku!! " kata Dante dengan bahagia. Tanpa sengaja memberikan fakta yang terjadi.
Deg.
Jantung Len sakit bersamaan berdetak dengan cepat mendengar fakta yang baru ia dapat, ia menatap tangan yang menampar Anya dengan keras tadi, ia juga masih ingat bekas tamparan nya sebelum Anya pergi tapi.
"Apa yang telah aku lakukan!!! Tuhan!!! aku menyakitinya lagi dan lagi!! kau tak tau diri sialan!! begitu besar hutang budimu pada papanya, tapi kau malah menyakitinya!! dan sekarang ia berusaha membahagiakan anakmu, tapi kau juga menyakitinya!! pria macam apa kamu sialan!!! " kata Len menjerit dalam hati.
"Sebisa mungkin meminta maaf lah!! Dan urus lebih cepat wanita itu! " kata Bastian. Membuat Len menatap anaknya sekarang.
"Apa Dante sayang mama? " tanya Len pada putranya yang masih sibuk memeluk hadiahnya.
"Iya, walau.... " kata Dante terhenti, takut sang mama menghukumnya kalau mengatakan perlakuannya selama ini.
"Walau apa? " tanya Len yang melihat anaknya tak berani melanjutkan perkataannya, tapi hanya di jawab gelengan kepala sambil menunduk. " Bukankah Dante sudah punya papa? papa akan selalu melindungi Dante dari bahaya apapun! Dan tidak boleh ada rahasia di antara ayah dan anak!! Ayo katakan pada papa! " kata Len lagi dengan lembut menyakinkan pikiran polos anaknya.
__ADS_1
Yang tadinya menundukkan kepalanya mulai mengangkat kepalanya menatap papanya, masih ada keraguan di diri Dante.
"Apa Dante tau, tadi nyanya di tuduh yang melukai Dante sama mama! apa Dante tidak kasian dengan nyanya! " kata Len menyakinkan Dante.
"Benarkah??? nyanya tidak salah pa! bahkan nyanya tadi menyambut mama dengan baik!! nyanya tidak salah apapun! Jangan salahkan nyanya! mama mau merebut hadiah Dante yang di berikan nyanya tadi! Dante tidak mau, Dante di dorong mama sampai seperti ini bukan nyanya pa! " kata Dante dengan menangis, orang yang baik padanya malah di tuduh seperti demikian.
Len langsung memangku sang anak dengan pelan agar tidak menyenggol luka kakinya, memeluknya dengan sayang sambil mengelus kepala dan punggung kecilnya.
"Aku harus apa sekarang!! Aku menyesal baby!! aku sangat menyesal!! aku bingung mulai dari mana untuk memperbaiki semuanya!!! maaf! Maafkan aku baby!! " jerit Len dalam hari sambil merasakan tangisan sang anak.
Dengan berlahan Len menangkup wajah sang anak yang ada di dadanya, mengusap air mata yang berjatuhan di pipi Dante lalu menatap dalam sang anak.
"Dante harus katakan apa yang mama lakukan sama Dante selama ini, Agar orang yang tidak bersalah seperti nyanya tidak di tuduh lagi nantinya? " kata Len meyakinkan sang anak sekali lagi.
Penuh dengan keyakinan Dante mengangguk, ia tak akan membiarkan mamanya jahat pada orang lain, yang ia pikir mamanya akan jahat padanya saja.
"Mama sering memukul Dante kalau sedang marah padahal Dante tidak melakukan apapun kok, Dante tidak boleh sekolah nanti menyusahkan mama, Dan Dante boleh makan saat sudah melakukan pekerjaan rumah, pernah Dante sehari tidak makan karena mama tidak pulang dan mengunci Dante di rumah. " kata Dante tanpa menutupi apapun.
"Tuhan!! " tangis Len pecah mendengar nasib anaknya selama ini, hatinya sakit mendengar anaknya di sakiti separah itu bersamaan rasa penyesalan menyakiti wanita yang ia cintai.
Ia tak bisa berkata apapun, memeluk anaknya kembali dengan begitu erat, pria yang biasanya kejam tanpa ampun menangis sekarang.
Hingga sebuah tepukan di bahunya mencoba memberikan ketegaran untuk Len, dokter keluarga yang sedari tadi hanya menonton drama ayah dan anak. Hatinya seakan ikut merasa sakit mendengar penuturan seorang anak kecil yang bahkan tak tau permasalahan dunia.
.
.
.
lanjut
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
...----------------...