Cinta Pria Kejam

Cinta Pria Kejam
Cookies Untuk Dante


__ADS_3

Tengah malam di kamar Anya, sang pemilik merasakan sebuah pergerakan di sampingnya, dan samar-samar mendengar suara pria yang selalu mengganggunya.


"Baby!! " bisik Len sambil menciumi pipi Anya.


Anya belum menyadari sepenuhnya, yang malah mengira itu hanyalah sebuah mimpi, sampai kembali merasakan ciuman di pipinya lagi bersamaan dengan elusan di pipinya juga.


"Tunggu!! " batin Anya yang tersadar dengan membuka lebar-lebar matanya.


Dan benar saja, yang dia kira mimpi tadi ternyata bukan, menarik tubuhnya menjauh dan menatap tajam pria di depannya.


"Apa yang kamu lakukan di kamarku? " tanya Anya dengan marah.


"Kenapa tadi mengabaikanku? " Len yang malah bertanya balik.


" Apa sih!!! keluar dari kamarku!!! " Tapi Anya kembali menyadari sesuatu. " Gimana bisa kamu masuk ke kamarku? " marah Anya yang memang tadi malam sudah mengunci kamarnya, dan sekarang dengan mudahnya pria di depannya masuk ke kamarnya.


"Daddy tanya sekali lagi, kenapa tadi mengabaikanku? " tanya Len sekali lagi.


"Jawab pertanyaanku dulu! " kekeh Anya, ia marah waktu istirahatnya harus terganggu oleh Len.


"Masuk ya tinggal masuk aja! " kata Len santai.


"Jawab yang benar! " kesal Anya sedikit berteriak, yang sangking kesalnya sampai mau mengeluarkan air matanya.


"Hei, kenapa menangis baby!! daddy punya kunci cadangannya jadi tadi bisa masuk!! jangan nangis lagi oke!!! maafin daddy ya!! " kata Len yang panik melihat air mata yang mulai menggenang di kelopak mata cantik Anya.


"Kenapa harus menggangguku tengah malam seperti ini!! aku hanya ingin istirahat!!! " keluh Anya.


"Daddy tidak mengganggumu baby!! daddy hanya ingin bertanya kenapa tadi mengabaikan daddy!! hati daddy sakit rasanya!! " keluh manja Len yang hanya bisa di lihat oleh Anya seorang.


"Sakit??? bagaimana denganku?? di campakkan begitu saja!! di biarkan menunggu berjam-jam di cuaca dingin!! tau kalau kau memiliki anak dari wanita lain!! di tampar sebuah kenyataan!! dan satu lagi tamparan tanganmu saja masih berbekas!!! Apa kamu pernah memikirkan rasanya menjadi Anya?? Hanya di abaikan saja sudah mengeluh sakit?? iya??? LALU BAGAIMANA DENGAN KU! " teriak Anya di akhir.


Len langsung memeluk Anya yang rapuh karenanya, ia menyadari semua kesalahannya, tapi ia juga tak mau kehilangannya wanita yang ia cintai.


"Maaf!! tolong maafkan aku!! aku tak akan mengulanginya, aku akan memikirkan dua kali untuk bertindak, maafkan aku!!! maaf!! " kata Len penuh penyesalan, tak ada nada manja seperti tadi.


"Kau selalu meminta maaf lalu menyakitiku kembali!! dan mengulangi hal yang sama! Apa kau tak lelah mengatakan maaf, bahkan aku bosan mendengarnya. " kata Anya sambil mencoba mendorong Len yang masih betah memeluknya.


"Ini yang terakhir kalinya!! aku janji, maafkan aku!! aku tak akan menyakitimu lagi, aku sangat mencintaimu Anya. " kata Len menyesal.


Niatnya ingin bermanja-manja, malah berubah petaka baginya, apa lagi kembali melihat air mata Anya, yang sebenarnya sangatlah menyakiti hatinya juga, tapi ia mencoba tidak memperlihatkan rasa sakitnya.


"Keluarlah! aku tak ingin di ganggu saat istirahat! " kata Anya mengusir Len.

__ADS_1


"Daddy akan pergi setelah kamu tidur!! sekarang tidur oke! " kata Len melepaskan pelukannya, dan membaringkan tubuh kecil Anya di ranjang.


"Terserah! " jawab cuek Anya.


Len benar-benar menunggu Anya sampai tertidur, mencuri kecupan di kening dan pergi dari kamar Anya, tak lupa mengunci pintu kamar Anya kembali.


"Maaf baby!! aku tak akan melakukan hal bodoh itu kembali, dan aku akan membuktikannya dengan segera! I love you." yakin len sebelum beranjak menjauh dari pintu kamar anya.


*****


Pagi menjelang, Anya dengan pakaian santainya sudah bersiap menyambut kedatangan papa mamanya dari subuh-subuh. Rasa kangennya membuat kejadian tadi malam ia lupakan untuk sementara waktu.


"Pagi! " kata Anya pada beberapa pelayan yang ada di dapur.


"Pagi nona! " jawab serempak beberapa orang yang ada di sana.


"Apa bahan-bahan yang aku minta kemarin sudah ada? " tanya Anya yang sempat memesan pada pak Pet.


"Ada!! biar saya ambilkan! " kata salah satu pelayan, yang tak lama membawa dua kantong keresek cukup besar.


"Dapur bersihnya boleh aku pakai! agar tak mengganggu pekerjaan kalian? " tanya Anya yang membuat para pelayang bingung, karena itu bukan wewenang mereka.


"Tentu saja boleh nona! " jawab pak Pet yang tiba-tiba ada di sana.


Yang membuat pelayan yang masih memegang dua konyol plastik milik Anya menjadi bingung, sekali lagi itu bukan kewenangannya.


"Boleh nona! dia juga yang akan membantu nona nanti! " kata pak Pet sekaligus memberikan perintah sang pelayan secara tak langsung.


"Terima kasih pak Pet!! ayo kita ke dapur! " ajak Anya dengan senyum bahagianya.


"Sama-sama nona! " jawab pak Pet sambil melihat punggung nona nya yang mulai menjauh.


Kemarin tuannya memang sudah berpesan untuk memperbolehkan nona Anya memasak atau membuat cake, yang sebelumnya sempat tak di perbolehkan.


"Bisakah kocok kan telur dan gula! " kata Anya saat sudah siap untuk kegiatannya.


"Baik nona! " jawab sang pelayan.


Mereka mulai melaksanakan tugas masing-masing dengan sang pelayan yang membuat adonan black Forest dan Anya membuat cookies untuk pria kecilnya. Anya akan membuat beberapa cake hari ini, di bantu pelayan yang semangkin memudahkan pekerjaannya.


"Namamu siapa? " tanya Anya.


"Timi nona! " jawab Timi pelayan yang membantu Anya sedari tadi. "Sudah nona! " kata Timi lagi.

__ADS_1


"Masukkan tepung itu, dan coklatnya! " kata Anya menunjuk bahan-bahan yang sudah Anya siapkan tadi.


Timi melakukan setiap apa yang nona nya katakan, saling bahu membahu yang menghasilkan cake yang Anya inginkan.


" Jadi!!! " kata Anya melihat hasil karyanya dengan Timi yang juga tersenyum senang. " Masih ada dua cake lagi!!! lets go!!! " kata Anya semangat yang di ikuti Timi.


Mereka melakukan step demi step agar menghasilkan cake yang sempurna seperti yang pertama, hingga suara pria kecil mengalihkan pikiran Anya.


"Nyanya memasak? " tanya Dante tak jauh dari dapur.


" Nyanya buat cake bukan memasak! " jawab Anya.


" Ada yang bisa Dante bantu nyanya? " tanya Dante menawarkan bantuan.


"Tidak perlu! " kata Anya sambil mencuci tangannya dan mengeringkannya dengan tisu. " Dante duduk di sini saja ya! " kata Anya lagi sambil mengangkat tubuh kecil Dante di kursi depan dapur.


"Benar tidak butuh bantuan Dante! " tanyanya sekali lagi.


" Tidak, nyanya buat cookies untuk Dante, cukup duduk manis dan temani nyanya! " kata Anya sambil memberikan Toples berisi Cookies khusus untuk Dante.


" Wahhhh!!! pasti enak! " kata Dante dengan mata berbinar.


"Dante tidak turun sendiri kan? " tanya Anya karena hanya melihat Dante di sana sambil melakukan pekerjaannya kembali.


" Dante bersama papanya!! kenapa?? kangen?? " kata Len yang tiba-tiba datang.


Sebenarnya Len sudah ada tak jauh dari dapur sedari tadi, tapi ia ingin melihat interaksi sang anak dan Anya jika tak ada dirinya, dari lubuk hati paling dalam ada rasa hangat di hatinya melihat kasih sayang yang di berikan Anya.


Tak ada sedikit rasa kebencian untuk putranya dari wanita lain, padahal Anya merasakan rasa sakit melihat kenyataan yang ada saat ini, rasa mempertahankan Anya semakin hari semakin kuat, tapi ada rasa khawatir kehadiran Dante akan menghambat restu orang tua Anya.


Tapi Len tak se pengecut dulu, ia akan memastikan terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan, dan dia akan terus memperjuangkan jika itu pantas di perjuangkan.


.


.


.


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2