
Di dalam bandara, Len terus mengejar langkah Anya yang ternyata cukuplah jauh, membutuhkan cukup banyak waktu untuk menyamai langkahny ditambah ia harus menggandeng tubuh kecil Dante yang mengharuskannya memperlambat langkahnya.
"Baby! tunggu, kasian Dante lelah lo! " ucap len menghentikan langkah Anya.
Anya yang tadinya kesal, berubah khawatir dan menatap putra kecilnya yang terlihat ngos-ngosan itu, tapi wajahnya kembali kesal saat menatap pria dewasa yang ada di depannya.
"Kau bisa menggendongnya, kau pasti menyeret tangannya kan, kebiasanmu itu memang tak berubah, kau tak sadar kakimu itu panjang, lihatlah!!! Tuhan, putraku capek karena mu! " omel Anya berniat menggendong Dante yang mengatur nafasnya, tapi dengan cepat di tahan oleh len.
"Biar aku saja! " ucap len langsung menggendong Dante yang tak protes di gendong oleh siapa, yang ternyata pria kecil itu cukup merasakan lelah.
"Kenapa baru sekarang? kenapa tidak dari tadi sih! harus nunggu aku marah-marah dulu baru mau gendong!! Kamu tuh peka sedikit, kalo gak sama pasangan setidaknya dengan anakmu, kasian tau!! masak nunggu di marahan mulu! " omel Anya sepanjang jalannya.
"Tuh kan, mommy mu kalau sudah marah ngomel nya ngeri, mirip singa betina! " ucap Len pada Dante dengan melangkah sedikit lamban dari Anya.
"Jangan coba-coba menjelekkan mommy cantikku, atau aku akan mengacaukan hari pernikahanmu nanti! " ancam Dante tak Terima mendengar perkataan daddy nya.
"Ck, aku lupa kalian memang Sekutu! " ucap len menatap kesal, ia selalu menjadi orang yang terbully jika Anya dan Dante bersatu.
"Tentu saja!! aku akan berfikir 1000 kali kalau mau bersekutu denganmu! " cibir Dante yang akan memulai perdebatan mereka lagi.
"Kalian bersekutu karena tak bisa melawan ku sendirian! aku cukup kuat untuk itu!! Hehe! " ucap len bangga.
"Dih, aku melakukannya bukan karena itu, tapi karena mommy bisa melakukan segala hal untukku dari pada kau yang hanya bisa merengek dan dan memerintah saja! " kata Dante memberikan lampu hijau untuk perang mulut mereka.
"Kalau kalian masih ingin adu mulut, lebih baik pulang! biar aku yang menjemput papa mama! " ucap tegas Anya lebih dulu sebelum Len sempat membuka mulutnya, yang tadinya sudah lampu hijau tiba-tiba lampu merah seketika saat kasta tertinggi di rumah tangga sudah berbicara serius.
"Mom!! " rengek Dante yang turun dari gendongan daddy saat melihat ibu sambungnya mulai marah dengannya, menhampiri wanita yang dia dikursi tunggu.
"Ck, baru saja mencibir ku hanya bisa merengek!! sekarang apa??? kalau ingat kau yang dulu, aku tak yakin kau adalah Dante yang sama! " cicit len yang hanya bisa ia dengar.
Tanpa berani mengucapkan sepatah katapun, len duduk di sebelah tunangannya dengan tatapan kesalnya pada sang anak yang bahkan tak peduli sedikitpun padanya.
"Mom, kau tau tadi daddy bilang mommy kalau marah... "
__ADS_1
"Itu grandma!!! " bohong Len menunjuk pintu keluar demi kelangsungan kehidupan mendatang.
"Mana, mana? " antusias Dante mencari orang ke arah yang di tunjuk Len yang ternyata ada orang di sana.
Beda halnya dengan Anya yang terlihat biasa saja karena memang tak melihat siapapun di pintu keluar.
Len yang melihat raut kesal Dante yang berhasil ia bohongi malah tertawa keras, yang tadinya hanya berniat mencegah Dante mangadu malah mendapatkan bonus membodohi pria kecil yang sebenarnya sangatlah pintar.
"Mommy! " ucap Dante mengadu dengan wajah yang mulai menangis, karena mendapatkan tawa ejekan dari daddy nya.
"Sini sayang! " ucap Anya merentangkan tangannya agar Dante berjalan ke dalam pelukannya, menenangkan anak tirinya yang menangis di pelukannya, lalu menatap pria yang terdiam karena sudah membuat Dante menangis. " Kau tau seberapa antusias Dante menunggu kepulangan grandpa grandma nya?? dia bahkan membangunkan ku lebih pagi dengan ia yang sudah rapi, kau bisa bayangkan seantuasias apa? sebahagia apa? dan kau dengan mudah membuat lelucon untuk menipunya?? lelucon mu sama sekali tidak lucu yang pada akhirnya membuatnya bersedih sekarang! kau tau itu! " ucap serius Anya yang membuat Len terdiam.
Berlahan gadis yang menjadi seorang ibu memangku buah hatinya dengan wajah mengarah ke ceruk lehernya memberikan usapan sayang di punggung kecilnya untuk memberikan ketenangan.
"Sepertinya kau jauh lebih menyayanginya dibanding denganku baby!! bolehkah aku marah? boleh kah aku cemburu melihatnya ?? " Len hanya bisa membatin sedikit tersinggung dan kesal dengan ucapan Anya barusan.
Ditambah lagi semakin kesal saat tiba-tiba wajah Dante menghadap ke arahnya dengan menjulurkan lidahnya di barengi tawa kecil tanpa suaranya dan tak lama kembali menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Anya.
Len sangat kesal kebohongannya langsung mendapatkan karma seketika, tapi bagaimanapun Len memilih diam setelah mendengar ucapan Anya tadi.
Di dalam mobil pun Len tetap diam dengan menatap luar mobil, dengan hanya ada Anya dan pak Pet di dalam, karena Dante lebih memilih satu mobil dengan grandpa grandma nya.
"Daddy marah? " tanya Anya yang sebenrnya merasa tak nyaman dengan keterdiaman tunangannya.
Sedangkan pak Pet sedikit bingung yang padahal saat keluar tadi nona nya yang terlihat marah pada tuannya, tapi saat mereka masuk malah berbalik tuannya yang terlihat marah dengan nona nya, tak terlalu mengambil pusing itu, pak Pet memilih menjadi pendengar dengan berfokus pada mobil yang ia kemudikan.
"Tidak, untuk apa marah! " ucap Len seadanya tanpa memandang ke arah Anya.
"Kau marah dengan ucapanku tadi kan? " tebak Anya.
"Kau peduli itu?? bukan kah yang kau pedulikan hanya Dante dan Dante, kau tak pernah memikirkan perasaanku, selalu membelanya apapun yang terjadi, menyalahkanku terus-terusan!! tak boleh kah aku marah??aku juga punya perasaan untuk kau jaga! kau jauh menyayanginya dari pada aku, itu terlihat dengan jelas!!!" ucap Len sedikit menggebu-gebu.
"Daddy!! maaf, maafkan aku kalau tanpa sadar mengabaikan perasaanmu, tapi jujur aku sama sekali tak bermaksud melakukannya, aku sangat menyayangi Dante dan aku juga sangat mencintaimu, itu hal yang berbeda daddy, aku melakukan itu karena aku pikir kau jauh lebih dewasa menyikapi segala hal di bandingkan Dante yang masih kecil tak bisa berfikir seperti orang dewasa, maaf daddy!!! " ucap Anya dengan wajah bersalahnya.
__ADS_1
"Kau cemburu dengan putramu sendiri tuan?? bukannya itu jauh lebih bagus, wanita pilihamnu mau menerima putramu dari wanita lain apa lagi begitu menyayanginya seperti putranya sendiri!! cemburumu sangat lucu tuan!!! " batin pak Pet yang paham saat mendengar perdebatan tuan nona nya, terlihat lucu saat sang ayah tak Terima ibunya begitu menyayangi putranya melebihi dirinya.
"Kau tak tau seberapa liciknya pria kecil itu, dia bahkan bisa bersikap dewasa lebih dari orang dewasa! kau mungkin akan pingsan melihat kelicikan nya itu! " batin Len kesal karena Anya yang terlalu polos.
"Daddy!! maaf oke!! jangan marah, jangan diam-diam lagi, aku tak bisa harus menerima sikapmu itu, aku tak nyaman!! Maafkan aku ya? " ucap Anya lagi karena Len hanya diam tanpa menjawab ucapannya.
"Ya! " jawab singkat masih ada dongkol di hatinya.
"Boleh kiss? " ucap Anya berniat merayu pria yang sedang marah dengannya.
Len walau dengan sedikit dongkol, menyodorkan bibirnya lebih dekat dengan Anya untuk membiarkan sang gadis menciumnya.
cup, cup, cup
"Terimakasih daddy! I love you! " ucap Anya setelah memberikan 3 kecupan di bibir.
Len yang sebenarnya bahagia tapi gengsi memperlihatkannya memilih memalingkan wajahnya ke arah luar jendela, pemandangan itu sempat pak Pet lihat dari kaca sepion mobil sebelum tuannya benar-benar memalingkan wajahnya.
Diam-diam pak Pet tertawa melihat tingkah lucu tuannya, tapi hal itu tak berlangsung lama saat mode cenanyang tuannya mulai aktif.
"Ck, apa yang kau tertawakan? " tanya Len yang padahal beras di belakang kursi kemudi..
"Tidak tuan! " ucap Pak pet yang kembali memfokuskan laju kemudi nya.
.
.
.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
...----------------...