
Hari di mana kelulusan Anya sudah ada di depan mata, tepat 7 hari setelah Anya melaksanakan Ujian akselerasinya.
"Cukup ma, jangan tebel-tebel bedaknya!! " jerit Anya pada mama Rosa
Pagi ini di kediaman Waber sudah di hebohkan dengan dua bidadari papa Oscar yang saling berdebat.
Sedangkan satu-satunya pria di keluarga itu hanya tersenyum melipatkan kedua tangannya di dada sambil menyenderkan tubuhnya di pintu kamar Anya yang terbuka, menyimak perdebatan di didepannya.
"Diam dulu sayang, kamu harus dandan cantik di hari kelulusanmu!! diam, nurut sama mama!! " kata mama Rosa yang terus mendandani putrinya.
"Cukup ma!!! lama-lama Anya kayak badut, Anya tidak.... " Suara Anya terhenti karena tergores lipstik cukup panjang di samping bibirnya karena terlalu banyak bicara.
"Ck, kau ini!! di suruh diam sebentar susah sekali, rusak kan jadinya!! " kesal mama Rosa.
Hahahahahhaha
Tawa papa Oscar tak bisa di bendung karena kelakuan 2 wanita beda generasi di sana, apalagi saat Anya menoleh ke sumber suara tawanya, papa Oscar tertawa semangkin kencang.
Sebenarnya Anya terlihat sangat cantik di dandani sang mama, apa lagi Anya tak pernah memakai make up sedikit tebal, hanya saja coretan di samping bibir Anya dan perdebatan yang membuat sangat lucu.
Mama Rosa yang melihat suaminya tertawa sambil melihat Anya, mulai mengikuti arah mata sang suami.
"Hahahahhahaaa!!! kalau di lihat-lihat kamu lucu sekali sayang!!! hahahahahaa. " tawa mama Rosa ikut sang suami.
"Tuh kan Anya jadi badut, Anya ga mau!!! Anya cuci muka Anya. " kata Anya sebal.
"Eh, eh. Tidak!!! enak aja, hasil karya mama mau di hapus!!! kamu cantik banget Anya, hanya lipstikmu ini perlu di benerin. " kata mama Rosa mulai menghapus coretan lipstik. " Sekarang diam!! " perintah mama Rosa yang akan memoles bibir kecil Anya dengan lipstik sedikit merah.
"Putri papa cantik sekali, dari mana badutnya? " kata papa Oscar.
"Emmm, tapi Anya malu!! " kata Anya pelan.
"Malu??? malu sama siapa?? cuma 2 orang ini yang merayakan kelulusan!! Coba ganti dengan gaunnya. " kata mama yang memang Anya masih memakai piyama nya.
Anya menurut mulai mengambil gaun nya dan berjalan ke kamar mandi.
Tak lama suara pintu kamar mandi kembali terdengar, keluarlah anya yang sudah memakai gaunnya.
"Ya Tuhan anak mama cantik sekali!!!" puji mama.
Papa Oscar melongo melihat kecantikan anak gadisnya, tapi dia tersadar dengan kaki jenjang anya yang terekspos .
"Ma, ini belahannya terlalu ke atas!!! " Kata papa Oscar protes.
"Diam!!! kita berangkat sekarang oke!! " kata mama Rosa tak terbantahkan.
Ayah dan anak itu mengangguk patuh jika sang ratu sudah berbicara tegas, berjalan beriringan di belakang sang ratu.
__ADS_1
"Hari ini mama aneh, marah-marah mulu!! " Bisik Anya pada sang papa yang ada di sampingnya.
"Mamamu hari pertama datang bulan mungkin. " bisik papa Oscar juga, sambil terus berjalan beriringan.
"Ck, Anya kira bakal punya adik! " kata anya asal.
"Sembarangan!! Harusnya papa menimang cucu, bukan anak lagi. "
"Berarti anya boleh pacarnya dong! ".
" Tidak!!! Nikah bukan pacaran, kalo pacar papa gak akan dapat cucu!! "
"Mah, papa minta cucu sama Anya. " kata Anya lantang yang sedari tadi berbisik-bisik.
Mendengar penuturan Anya, membuat mama Rosa menoleh ke belakang dan menatap tajam suaminya yang berada di samping Anya.
"Kaburrrrr!!!!!! " kata Anya berlari pelan ke mobil, yang tak jauh darinya.
Sedangkan papa Oscar mati kutu di buat sang putri. "Kau tak asik Anya! " kata papa Oscar dalam hati, lalu memberikan senyum terbaiknya pada wanita yang menatapnya tajam.
"Jangan ajari hal aneh-aneh pada putriku!! " tekan mama.
"Siap komandan. " hormat papa Oscar seperti seorang prajurit, dan berlalu cepat masuk ke dalam pintu kemudi, di ikuti mama Rosa yang duduk di samping kemudi.
Di perjalanan menuju gedung kelulusan , Anya terus bernyanyi dengan ceria seolah suaranya enak di dengar, padahal tidak.
Tersenyum ceria dan terkadang sedikit bersikap konyol hanyalah tameng untuk Anya saat ini, karena ia tau, dialah sumber kebahagiaan kedua orang tuanya, dan Anya tak akan membiarkan kedua orang tuanya juga merasakan kesedihannya.
"Twinkle, twinkle little star, How I wonder what you are, Up above the world so high, like a.... " nyanyi Anya terpotong sang papa.
"stoppp!!! udah mau lulus juga!! masih Twinkle Twinkle aja!!" protes papa Oscar.
"We wish you a merry Christmas, We wish you a merry Christmas We wish you a merry Christmas, And a Happy New Year! Yeeeeee!!!! " nyanyi Anya sampai akhir.
"Ck, Natal masih lama! " kata papa yang sebenarnya malas menanggapi Anya.
"ih, papa ga asik! " kata Anya yang selalu di komentari papa Oscar.
"Anya sangat cantik kalau diam, jadi duduk manis saja ya, gadis cantik! " cibir papa Oscar.
Anya hanya cemberut saja sampai ke tujuan mereka. Sebuah gedung mewah yang sudah di sepakati sekolah dan kedua keluarga siswa siswi yang mengadakan kelulusan.
Tergolong privat karena hanya dua pelajar dan dari kalangan atas.
Berjalan masuk ke lobi gedung, dengan di sambut resepsionis pria yang tak fokus karena kecantikan gadis di samping papa Oscar.
Karena posisi papa Oscar berada di tengah menggandeng kedua bidadarinya.
"ehmm." Dehem papa Oscar pada pria resepsionis itu.
__ADS_1
" Eh, maaf tuan! keluarga Waber dari SMA tunas bangsa? " tanya resepsionis.
Papa Oscar mengangguk membenarkan perkataan resepsionis di depannya.
"Baiklah, mari saya antar tuan. " kata resepsionis dengan sopan.
Keluarga Waber itu kembali melangkahkan kakinya mengikuti resepsionis hingga sampai di sebuah ruangan yang sangat mewah dan cukup besar.
Anya takjub dengan tangannya yang terus di gandeng sang papa.
Berjalan menuju kursi di depan sebuah panggung kecil yang bahkan tak sampai sepuluh buah kursi mewah yang menjadi dua baris.
Keluarga Waber memilih duduk di barisan depan dengan Anya yang duduk paling ujung.
Tak berselang lama sampai lah keluarga Riky yang memang sama-sama lulus akselerasi. Berjalan ke kursi belakang Anya.
" Halo tuan Waber. " sapa Adrian, papa Riky dengan berjabat tangan saling menyapa.
" Halo tuan Edmund. "jawab papa Oscar, yang memang memanggil marga jika bicara formal.
" Halo nyonya Edmund. " sapa mama Rosa juga.
"Halo nyonya. " jawab lusi, mama Riky
Mereka saling berbincang hingga pembicaraan mereka tidak terlalu kaku meski masih bicara formal.
"Sepertinya mereka cocok tuan. " kata papa Adrian melihat Anya dan Riky berbincang kecil.
"Benarkah? " tanya papa Oscar yang malah menatap tajam Riky.
"Ya, apa tak ingin menjodohkan mereka? " tanya papa Adrian
Papa Oscar yang semula menatap tajam Riky, langsung memindahkan pandangannya pada pria yang seumuran dengannya itu.
"Aku membebaskan putriku, aku membiarkan dia mencari cintanya sendiri. " kata papa Oscar yang tak menginginkan perjodohan untuk anaknya.
Menurut papa Oscar, yang terpenting adalah kenyamanan sang putri, apapun keputusan putrinya ia akan selalu mendukung, selagi di jalan yang benar. Dan berkata tidak dengan tegas jika itu salah untuk sang putri.
.
.
.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...----------------...
__ADS_1