
Diruang inap VIP, Carl dengan penuh ketelatenannya menyuapi kekasihnya sampai makanan di piring habis tak tersisa, walaupun sempat beberapa kali anak penolakan dari sang kekasih tercintanya.
Bersamaan dengan itu, masuk pasangan paruh baya yang sangat di kenal oleh mereka berdua, orang tua yang hanya memikirkan kesenangan dunia hingga melupakan anak yang begitu butuh sosok keluarga bahagia pada umumnya, terutama perhatian seorang orang tua pada anak, mereka tak pernah berfikir akan ke sana.
Seketika Senta bangun dari tidurnya, mencoba sekuat tenaga duduk di atas ranjangnya, yang juga di bantu oleh sang kekasih, ia menyambut orang tuanya karena merasa masih ada kepedulian di dalam hati mereka.
"Ya Tuhan!!! Apa yang terjadi padamu, kenapa sampai berbuat nekat seperti itu ha!!! " ucap mama Senta dengan menatap tajam sang anak, bagaimana tidak marah, karena tindakan anaknya akan membuatnya hampir tak jadi menjadi besan sosialita besar, dan pemilik brand mewah yang selama ini teman-temannya pamerkan jika bertemu, tanpa peduli hati sang anak yang butuh di kuatkan.
Kedua orang tua Senta sempat di beri tahu Carl walau hanya via pesan, karena bagaimanapun juga mereka adalah orang tua kekasihnya yang berhak tau, walau malas hanya untuk bertatap muka.
"Dia... dia memperkosa ku ma, dia merenggut kesucian ku!! " ucap Senta sebagai seorang anak yang mengadu pada orang tuanya, tempat berlindung menurutnya.
Carl hanya bisa menundukkan wajahnya saat sekilas melihat wajah kaget orang tua Senta, ia akan kembali mendapatkan ganjarannya setelah ini, karena bagaimanapun juga setidak pedulinya orang tua pasti tak akan Terima jika putrinya mereka mendapatkan pelecehan seksual seperti apa yang ia lakukan, menurut pendapatnya sendiri.
"Apa?? jadi kamu masih perawan Senta?? " kaget mama Senta, sebagai ibunya sendiri ia tak tau akan hal itu, ia juga tak menyangka anaknya akan mempertahankan hal hingga seusia sekarang, dengan lingkungan yang begitu melegalkan **** bebas, dan dirinya sendiri yang hampir setiap hari melakukannya dengan orang yang berbeda. " Lalu apa masalahnya? " bingung mama Senta, karena bukannya hubungan badan adalah hal biasa.
Carl malah di buat kaget dengan ucapan mama kekasihnya itu, bukannya kaget karena perlakuan nya tapi malah kaget dengan keperawanan sang anak, dan tak ada rasa khawatir di dalam hatinya sama halnya apa yang ia lihat di raut wajah papa Senta, dan itu yang membuatnya semakin ingin membawa Senta keluar dari keluarga yang hanya membuatnya sakit hati setiap harinya.
Sedangkan Senta sebagai anak yang lahir dari perut mamanya itu, hanya bisa terdiam tertegun, sangking tak menyangka jawaban itu keluar dari mulut mamanya.
"Kalian nikah saja! seperti yang di rencanakan Carl pada papa mama kemarin, dokumen yang di butuhkan sudah siap, tinggal kau dan Carl tanda tangan nanti!!! " ucap papa Senta yang begitu mudah, yang bahkan tak menanyakan anaknya baik-baik saja atau tidak.
"Maaf pa! tapi aku menolaknya!! " ucap Senta dengan tegas tapi kepalanya menunduk tak berani melihat reaksi orang tuanya.
__ADS_1
"Senta!!! " mama Senta menyebut nama sang anak penuh penekanan karena kesal mendengar sebuah penolakan.
"Kenapa? bukannya kesucian begitu berharga bagimu??? nikahi orang yang merenggut kesucian mu itu, jangan menolak niat baik orang!!! " ucap papa Senta yang semakin tak berperasaan jika di dengar.
"Niat baik? " tanya Senta menatap kedua orang tuanya penuh kekecewaan. " aku akan menolak niat baik menurut papa itu!!! " jawab Senta dengan tegas begitu berani menatap mata papanya.
Di sela sela perdebatan ayah dan anak itu, Carl mencoba menggenggam tangan beringus itu berniat memberikan kekuatan pada sang kekasih, tapi sayangnya hal itu langsung di tepis oleh Senta yang membuat Carl tak berani lagi menggenggamnya.
"Kau tak berhak menolak di sini, dia menantu idaman Senta, ia bisa mengangkat derajat mertuanya, membantu menambah perekonomian papa mu, apa lagi perusahaan, dari kau tak memiliki wewenang untuk menolak!!! " ucap papa Senta menatap lebih tajam pada sang anak.
Kata demi kata yang papa nya lontarkan membuat Senta hanya bisa tersenyum miris, menatap mantan kekasihnya dengan keputusasaan di matanya, dia begitu pasrah mendengar kembali hal yang begitu menyayat hatinya, ia terlihat hanya se onggok barang yang begitu mudah di tawarkan dengan sebuah nominal.
"Udahlah, kenapa harus menolak sih, dia pria bertanggung jawab dan pastinya sangat mencintaimu, orang tuanya juga orang sangat penting, tak ada ruginya untukmu!!! " ucap mama Senta yang mendukung ucapan suaminya.
"Aku tau kau anak yang berbakti pada orang tua!! setidaknya balas budi lah dengan apa yang kami berikan selama ini padamu!!! " ucap papa Senta tak memiliki hati nurani sedikitpun.
"Betul sekali!!! " jawab mama Senta dengan mudahnya mendukung sang suami.
"Aku jadi tak sabar membawamu pergi dari keluargamu yang bahan tak pantas di sebut keluarga!!! " batin Carl yang begitu jengkel dengan setiap ucapan yang terlontarkan di bibir dia pasangan paruh baya itu.
"Papa dan mama masih ada keperluan penting setelah ini, cepatlah sembuh, papa yakin kau adalah orang yang tau bagaimana berbalas budi!!! kami pamit dulu!! " ucap papa Senta yang tak ada niat untuk menjaga sang anak yang sedang terluka.
"Ya, mama pergi dulu ya mantu kesayangan!!! " kata mama Senta yang malah berpamitan pada Carl, tak begitu peduli dengan sang anak yang terluka luar dan dalam.
__ADS_1
"Ya!! Hati-hati di jalan!! " jawab Carl menatap kedua pasangan paruh baya itu yang keluar ruangan Senta dengan wajah mereka yang biasa-biasa saja setelah menjenguk anaknya sendiri.
Senta sendiri hanya bisa menunduk dan terus menunduk dengan memilih perban di tangannya, mencari kesibukan untuk tak memandang orang yang berkali kali menyakitinya, seperti pria yang di sampingnya, selalu setia menemaninya dan merawatnya.
Setidaknya ia jauh lebih peduli di banding kedua orang tuanya, terlepas kesetiaannya yang sangat di ragukan.
"Sayang!! " panggil Carl dengan lembut mencoba mengelus bahu kekasihnya yang semakin rapuh itu, tapi dengan cepat kekasihnya menghindar membuat tangannya menggantung di udara.
Tak lama dari itu Senta membaringkan tubuhnya membelakangi Carl, tak ada kata yang terucap dan tak ada air mata yang jatuh, hanya tatapan kosong di matanya.
Melihat pemandangan itu di depannya, hati Carl juga merasakan sakit yang kekasihnya rasakan, lalu dengan berlahan ia membaringkan tubuhnya dari belakang Senta, karena ranjang VIP yang lebih besar dapat menampung tubuh mereka, tak ada gerakan penolakan dari kekasihnya, hingga Carl mencoba memeluk nya dan memberikan usapan halus untuk memberikan sedikit ketenangan di hatinya.
.
.
.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...----------------...
__ADS_1