Cinta Pria Kejam

Cinta Pria Kejam
Cemburu


__ADS_3

Setelah jengkel dengan calon menantunya yang memerintah nya itu, tapi papa Oscar melajukan kecepatan sangat tinggi untuk cepat sampai di rumah sakit, yang tadi sedikit ada perdebatan di antara Anya dan Len, karena Anya yang lebih memilih di rawat di rumah dan Len yang tak mau menyetujuinya, dan papa Oscar yang hanya menjadi pendengar saja.


Orang rumah juga belum ada yang tau tentang peristiwa yang di alami Anya, selain tak ingin membuat mama Rosa dan Dante khawatir, papa Oscar dan Len lebih memfokuskan pada Anya yang sedang terluka.


"Sudah sampai, bayar sesuai aplikasi nona!! " ucap papa Oscar saat sudah di depan rumah sakit dengan nada bercandanya.


"Pa!! " ucap yang hanya yang menegur, karena Len tak akan berani melakukannya. " Aku sakit ini, bisa tidak jangan bercanda dulu!! tidak ada khawatir-khawatirnya!!! " ucapnya lagi.


"Tau apa kamu!! ayo keluar! " ucap papa Oscar lebih dulu keluar.


Dan Len juga keluar dari mobil dengan menggendong Anya bak koala itu, tanpa peduli penampilannya yang kotor karena darah milik gadisnya, tanpa mempedulikan orang yang berlaku lalang memperhatikan keadaan mereka.


Saat di petugas rumah sakit tau pemilik rumah sakit tempat mereka bekerja datang dengan ke adaan berlumuran darah, mereka langsung mengantarkan Len ke ruangan VVAP lengkap dengan dokter yang menangani Anya.


"Ja.. jangan dekat-dekat!! " ucap reflek Anya mendorong sedikit kasar saat dokter pria itu mendekatkan wajah nya untuk melihat luka yang ada di pelipis nya.


"Sa.. saya hanya mau memeriksa luka anda nona!! " ucap dokter yang takut melakukan kesalahan di depan pemilik rumah sakit itu.


"Maaf!! " cicit Anya yang entah kenapa ia sensitif dengan pria yang mencoba mendekat ke wajahnya, mengingatkannya pada kejadian sebelumnya, dan dokter pria itu kembali melakukan tugasnya.


Len dan papa Oscar yang melihat itu mulai mengernyitkan dahinya, apa lagi Len yang tak tau ciuman orang asing itu cukup membekas di pikiran anya membuat sebuah trauma tersendiri untuk AnyaAnya.


Papa Oscar sendiri dengan berlahan berjalan ke rangkas rumah sakit yang ditiduri Anya dan menggenggam tangan nya, memberikan rasa aman untuk sang anak yang sepertinya mendapatkan trauma yang cukup serius baginya.


"Cukup!! panggil dokter perempuan saja!! " ucap len yang melihat ketidak nyaman Anya dan terselip rasa takut di matanya.


"Baik sir! " ucap dokter pria itu yang sebenarnya juga merasakan gadis di depannya takut saat ia mendekat, bersamaan dengan ras penasaran siapa wanita yang di bawa tuannya karena tak pernah sekalipun tuannya membawa wanita ke rumah sakit seperti sekarang.


Tak ingin berfikir terlalu jauh, dokter itu mulai beranjak untuk menghubungi dokter wanita yang bisa menggantikan tugasnya, walau sebenarnya ia sempat terpesona dengan wajah cantik yang baru ia bersihkan dari noda darah itu dan tak ingin di gantikan, hanya saja demi kenyamanan sang pasien dokter itu terpaksa mencari dokter wanita yang di inginkan.

__ADS_1


"Kenapa hm? " tanya papa Oscar yang mendekat dengan mengelus pipi sang anak, sekaligus mengetes apa yang ia lihat tadi, tapi di mata Anya tak ada ketakutan padanya.


"Tidak apa-apa! " ucap Anya dengan cepat, ia juga menyadarinya, hanya saja menurutnya bukanlah hal besar.


"Kau takut tadi! " ucap papa Oscar.


"Bagaimana denganku? " tanya Len yang mendekat saat papa Oscar sedikit menjauh, yang lagi-lagi tak ada respon takut seperti tadi di mata Anya.


"Aku bilang tidak apa-apa kok! " jawab Anya menatap pria yang ia cintai.


"Ck, aku tau ada yang kau tutupi baby, jika itu untuk tak membuat khawatir papa tak masalah, tapi tidak denganku!! " batin Len yang tau sifat gadisnya jika dengan papanya itu.


"Kalau tak nyaman lagi, katakan pada papa! " ucap papa Oscar.


"Iya pa! " jawab Anya.


Yang tak lama masuk dokter cantik yang tak secantik Anya tentunya masuk ke dalam ruang perawatannya, bukannya memperhatikan yang sakit, dokter wanita itu malah memperhatikan Len yang berada di sebelah Anya.


"Aku yang sakit, bukan suamiku!! yang profesional dong!!! " ucap sewot Anya yang membuat Len sadar kalau dokter yang menangani Anya sudah datang, tapi di sini ia merasa lucu saat melihat Anya yang cemburu untuk pertama kalinya.


"Suami?? sir cocok jadi pamanmu! " cicit dokter wanita itu yang masih di dengar semua orang di sana berniat mencibir Anya.


Anya yang mendengarnya langsung menunjukkan tangannya yang tersemat cincin tunangan mereka, menatap penuh ejekan pada dokter yang sepertinya tertarik dengan calon suami nya.


Len sendiri hanya menikmati hal langka saat Anya cemburu padanya, walau dia sedikit kesal dengan ucapan lancang wanita di depannya.


"maaf aku akan obati sekarang! " ucap dokter itu yang tak merasa bersalah sedikitpun, yang malah mencuri-curi pandang pada calon suaminya saat mengobati luka di wajahnya.


"Ck, kalau mau tebar pesona di club saja, tak cocok di rumah sakit!! aku jadi heran, rumah sakit ternama seperti ini kok memperkerjakan orang tak profesional seperti itu!! kalau aku sudahku pecat, karena sangat mengganggu kenyamanan istri-istri di rumah sakit itu!! " sindir Anya yang tak kenapa pada muka tebal wanita itu.

__ADS_1


Membuat Anya semakin kesal karena sikap dokter itu yang menjadi-jadi, apa lagi Len yang malah tersenyum kearahnya yang menurut pandangannya calon prianya bahagia di pandangi wanita gatel itu.


Lain halnya dengan Len, yang sebenarnya tersenyum karena melihat kecemburuan Anya yang terlihat lucu, ngedumel tak jelas yang bahkan ia sama sekali tak menghiraukan wanita yang membuat calon istrinya cemburu itu, jangankan menghiraukan, melihat sekilas pun tidak ia lakukan.


"Niat gak sih bersihin lukanya!! lihat lukanya bukan suami saya! " omel Anya pada marah dengan perlakuan dokter yang tak mengobatinya dengan. benar hanya karena pria tampan di sampinya. " Aku mau bertemu meneger sini, aku mau komplen dengan pelayanan ngawur di sini!!! " ucap Anya.


Tapi dokter wanita itu hanya menganggap biasa ucapan Anya seolah tak takut dan tak akan bisa wanita seperti Anya mengeluarkannya dari rumah sakit ini, bahkan ia tak menangani luka Anya dengan benar.


"Pa! " ucap Anya memberikan kode pada papa Oscar.


"Sesuai yang kamu mau sayang! " ucap papa Oscar yang langsung keluar dari ruangan Anya.


Sedari tadi Len hanya jadi penonton dengan senyum kecil yang tak pernah pudar, tapi itu tak berlangsung lama saat mendengar sapaan dokter centil itu dan bersamaan tatapan tajam Anya dengan nafas naik turun sangking marahnya.


"Hai sir! " sapa dokter centil itu.


Len tak menggubris sapaan itu, lebih memilih menatap wanitanya yang membuatnya tak baik-baik saja, apa lagi dengan kasar Anya melepaskan genggaman tangan mereka.


"I hate you!! " ucap Anya dengan tatapan tajam penuh kemarahannya.


Len yang mendengar ucapan tak terduga Anya, melotot kan matanya dengan wajah panik, ia tak menduga Anya akan ikut marah juga padanya.


.


.


.


...****************...

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...----------------...


__ADS_2