
Ia benar-benar akan memberikan pelajaran sesungguhnya pada sang suami nanti.
Sembari menunggu suaminya ganti baju, Senta sedikit memoles wajahnya dengan make up agar tampak lebih fresh, karena wajah cantik naturalnya tak memerlukan make up tebal untuk menyempurnakan.
Didalam ruang ganti bukannya cepat-cepat memakai baju, Carl malah asik menatap tatanan baju tersebut yang di siapkan istrinya sebelumnya, tak lupa senyum bahagia yang tak pernah pudar di bibirnya.
"Heh, sekarang aku punya istri yang akan menyiapkan segalanya untukku! pemandangan ini akan aku lihat setiap hari, apa lagi wajah cantiknya itu!!! ck, ck, ck.... anugrah mu terlalu indah Tuhan!!! " ucap Carl yang begitu bahagia.
Tak lama dari itu, ia mulai memakai pakainya karena rasa dingin yang mulai menggerogoti tubuhnya, apa lagi pastinya istrinya sedang menunggunya di luar ruangan itu.
"Kau sudah siap baby? " tanya Carl dengan senyum menggodanya menatap sang istri yang duduk di meja rias.
"Kau tanya aku sudah siap apa belum, tapi tak melihat sendiri penampilan mu!! " ucap Senta yang melihat rambut suaminya masih acak-acakan tapi sok sokan bertanya tentang kesiapannya. " Rapikan rambutmu dulu! " ucap Senta menunjuk sisir di meja rias nya, dan berjalan menjauh memberikan ruang Carl untuk mengaca.
Carl yang paham akan ucapan istrinya, berjalan ke arah benda yang di tunjuk Senta, lalu menyisir rambutnya agar terlihat lebih rapi.
"Siap!!! " ucap Carl menatap sang istri yang hanya cuek di hadapannya. "Sudah siap turun? " tanya Carl takutnya Senta belum siap untuk menghadapi orang tuanya, dan menengadahkan tangannya berharap di balas uluran tangan oleh senta, tapi sayangnya bukan tangan sang ia Terima, malah mendapatkan gagang koper yang di berikan senta.
Pria itu lupa keadaan pernikahannya seperti apa, apa lagi situasi hubungannya dengan sang istri yang tidak baik-baik saja.
"Turun ya turun saja!!! " jawab Senta dengan santai meninggal kan Carl dan satu koper nya untuk turun ke bawah.
Tapi apa yang di ucapkan tak sesuai dengan apa yang di hati, karena perasaannya begitu tak karuan saat harus bertemu kedua orang tua yang ternyata bukan orang tuanya, semua yang mengganjal di hatinya selama ini mulai terjawab dengan pernyataan mamanya kemarin.
__ADS_1
Saat di tangga terakhir Senta mulai menghela nafas panjang untuk menetralkan rasa sesaknya, melihat barang barang mewah yang begitu banyak sebagai ganti memberikannya pada sang suami, wajah bahagia mamanya tanpa melihat kearahnya yang begitu sakit merasakan siap nya, papanya yang tak berperasaan seolah tak terjadi apapun dengan membaca koran tanpa peduli.
Pemandangan yang begitu tak siap ia lihat, hingga ia merasakan genggaman tangan yang ia tau dari siapa.
"Kamu gak apa-apa? " tanya Carl yang begitu khawatir dengan keterdiaman sang istri, tapi sayangnya genggaman tangannya tak berlangsung lama saat sang istri melepaskan genggamannya.
"Apa peduli mu? kau tak jauh beda dengan mereka! hanya mementingkan ego kalian masing-masing!!! " ucap pedas Senta lalu mulai melangkahkan kakinya kembali.
Semakin dekat Senta ke arah kedua orang tuanya, hati nya juga ikut merasakan sesak begitu luar biasa, tapi dengan sekuat tenaga ia tak mengeluarkan air matanya pagi ini.
Dan saat Senta akan membuka mulutnya untuk berpamitan, Carl lebih dulu mengucapkannya sebagai seorang pria dan suami yang akan membawa pergi salah satu anggota keluarga itu.
"om, tan!! aku dan istriku mau berpamitan untuk pulang ke rumah kami sendiri!!! seperti perjanjian yang tertulis, kalau dia adalah istriku, wanitaku, milikku, dan kalian tak berhak apapun lagi padanya!! " ucap Carl mengingatkan perjanjian kemarin yang di tukar dengan harga dan popularitas yang mereka mau.
Sedangkan papa Senta sendiri hanya bisa diam, menatap sang anak yang tak menatap wajahnya sedikitpun, seketika rasa kehilangan seorang ayah mulai ia rasakan, mata yang dulu menatapnya penuh kekaguman walau tak pernah ia anggap, sekarang tak mau lagi menatapnya, bahkan sebelum kepergiannya bersama sang suami.
"Apa kau bahagia??? aku sangat ingin menanyakan ini padamu!! tapi seperti sangat konyol kalau aku mengatakannya, karena aku sendirilah yang memaksamu tanpa penolakan dan saat kau menerimanya dengan bodohnya aku bertanya kau bahagia sekarang??? putri kecil yang sudah kau besarkan sudah menjadi milik suaminya sekarang!! bukankah ini yang kau mau, tapi kenapa hatiku tak rela harus berpisah dengan putri kecilku ini!!! " batin papa Senta yang merasakan tak nyaman di dalam hatinya.
"Berpamitan lah!!! " perintah Carl dengan wajah tegas, tak seperti di kamar tadi yang begitu lemah lembut pada Senta, yang hal itu hanya di jawab anggukan oleh istrinya.
Dengan ragu Senta berjalan ke arah sang mama yang berdiri tak jauh dari nya.
"Senta pamit pulang ke rumah suami Senta ma!!! " pamit Senta dengan ragu memeluk tubuh mamanya yang untungnya di balas oleh wanita mata duitan itu.
__ADS_1
"Jangan banyak bertingkah di sana, karena tak ada lagi pria kaya sepertinya yang mau dengan wanita tanpa asal usul sepertimu, yang nanti juga pasti akan berpengaruh dengan perusahaan papamu, mengerti!!!! " bisik mama Senta yang adanya dapat di dengar oleh mereka berdua, dan gak lama pelukan mereka terlepas.
Senta hanya tersenyum miris di sana, tak ada pelukan erat sebagai perpisahan atau ucapan menyentuh untuk nya, hanya ada ucapan peringatan dan hinaan, yang membuat hatinya sangatlah sakit mendengar secara langsung dari bibir seorang ibu, apa lagi senyuman tanpa rasa bersalahnya yang malah membuatnya semakin muak berada di dalam keluarga itu.
Setelah berhadapan dengan mama nya, Senta harus di hadapkan lagi dengan papanya sekarang, tanpa berani menatap Senta mulai mengucapkan perpisahan dengan papanya.
"Senta pamit pa, jaga diri papa baik-baik!! Aku sudah membalas budi seperti yang kau mau!!! " ucap Senta lalu memeluk tubuh papanya.
Tapi pelukan itu begitu berbeda dengan pelukan mamanya tadi, Senta merasakan pelukan erat seolah tak membiarkannya pergi, yang bahkan lebih lama dari pelukan mamanya tadi.
Sedangkan papa Senta merasakan lidahnya terasa kelu saat mengucapkan ucapan perpisahan pada sang anak,ingin rasanya ia mengucapkan kata maaf pada sang anak tapi begitu susah untuk ia ucapkan, dan memilih memeluknya dengan erat sebelum kesempatan itu tak ada lagi sebagai ucapan perpisahan darinya.
.
.
.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...----------------...
__ADS_1