
Di perusahaan Becker Compeny Len benar-benar melakukan meeting dengan calon investornya, meeting itu terjadi cukup lama dari biasanya, karena kedua perusahaan itu tak menemukan titik terang untuk menyatukan perusahaannya.
Bagi perusahaan Len yang sangat besar, bukan masalah jika harus membatalkan rencana kerjasama mereka, karena pada akhirnya banyak perusahaan-perusahaan yang ingin bekerja sama dengannya.
Dan benar saja, sesuai prediksi si raja pebisnis itu, berbincang alot tadi tak mendapatkan kerja sama apapun, tanpa ada rasa sakit hati antar kedua perusahaan mereka saling berjabat tangan untuk menyelesaikan pertemuan mereka.
Setelah kembali ke ruangannya, Len terduduk di meja kerjanya dengan tubuh yang ia senderkan, menatap langit-langit ruang kantornya.
"Huffffttt, tau gitu aku lebih memilih berkumpul dengan kalian!!! " kesal Len.
Tok, tok, tok..
Suara ketukan pintu ruang Len, yang tak lama masuk asisten Noberto.
"Rapat sudah siap tuan! " ucap Asisten Noberto saat sudah di hadapan tuannya.
"Ke sana sekarang! " ucap Len melangkahkan kakinya keluar dari ruangannya yang di ikuti asisten Noberto dari belakang.
"Kepala defisi perencanaan baru juga akan ikut juga tuan! " ucap Asisten Noberto sambil berjalan ke arah ruang meeting.
"Kenapa tidak orang lama saja, tak masalah jika bukan bawahan nya dulu, aku tak ingin ada kesalahan hanya karena orang baru, atau hanya menonton seperti orang bodoh! " ucap pedas Len.
Tak lama ia sampai dan masuk ke dalam ruang rapat dan para pegawainya dari perwakilan devisi masing-masing berdiri untuk menyambutnya, tapi ada wanita baru dan tak asing baginya yang berdiri di antara para pegawainya.
Len marah melihat wanita itu kembali memperlihatkan batang hidungnya, padahal di perjanjian awal mereka tak boleh muncul di hadapannya lagi, dengan tatapan tajam penuh intimidasi Len memulai rapatnya.
Satu persatu dari perwakilan defisi menyampaikan laporan mereka masing-masing sampai selesai, tapi ada satu orang yang sedari tadi hanya diam dan menonton sesuai dugaan len, Len marah menatap wanita yang udah di pastikan adalah kepala devisi perencanaan yang di bicarakan tadi, yang sangat ia sadari beberapa kali wanita menjijikkan itu memperhatikan dirinya.
"Apa gunanya wanita itu! " ucap Len dingin menekan kemarahannya dan menunjuk ke arah devisi baru itu.
Tapi sayangnya tak ada jawaban dari mulut orang-orang di ruangan itu, apalagi wanita yang sedari tadi senyum-senyum menatap Len berubah tegang dengan lidah yang tiba-tiba kaku untuk menjawab.
"Jawab! " kesal Len sedikit meninggikan suaranya, tapi kembali tak ada jawaban dari orang-orang di sana karena sangking takutnya. " Jika tak ada yang mau menjawab, jangan harap kalian bisa keluar dari sini!! kalian paham dengan sifat ku kan??? " ucap Len penuh penekanan.
__ADS_1
Di tengah ketakutaknnya, defisi lain yang merasa tak terlibat menjadi kesal harus mendapatkan imbasnya juga, tanpa sadar menggunjingkan satu wanita yang malah membuat ruangan itu berisik.
Brak...
Gebrakan meja yang di lakukan Len sangat efektif untuk membuat pegawainya terdiam, tak peduli dengan ketakutan mereka.
"Mood mu sedang tak baik tuan! " batin asisten Noberto yang juga kesal melihat wanita menjijikkan itu ada di hadapannya.
"Sekali lagi berisik, tak akan ada yang bisa menikmati hari esok lagi! " ancam Len dengan kesal.
"Se.. sebenarnya ke.. kepala defisi perencanaan ya.. yang ngotot ingin ikut rapat tuan, dia bilang ingin lebih mengenal lingkungan tempat kerja barunya tuan! " ucap perwakilan defisi perencanaan memberanikan diri untuk buka suara yang berada di samping kepala defisi barunya sendiri.
"Cih, kau siapa di sini? hanya orang baru!! ini rapat bukan tempatmu berkenalan!! apa kau pikir kami badut yang kau tonton sedari tadi!!! " marah Len menatap satu wanita yang tentu saja di soraki dalam hati orang-orang yang tadi mendapatkan imbas dari satu orang itu. "Semua keluar kecuali wanita itu! " ucap Len menunjuk orang yang ia kecuali kan, lalu berpindah pada sang asisten yang berdiri tak jauh dari nya. " Panggil HRD ke sini! " ucap Len penuh penekanan. " Bubar! " ucap terakhir Len.
Dengan senang hati semua keluar dari banyak yang mengintai mereka, kecuali wanita yang masih duduk dengan menunduk takut.
Hingga tersisa Len dan wanita itu karena sang asisten yang selalu menemaninya itu ia tugaskan untuk memanggil kepala HRD, dengan perlahan Len mencoba menetralkan kemarahannya, dan menatap penuh intimidasi wanita itu.
"Lupa dengan perjanjian kita dulu? *****! " ucap Len kejam.
"Tak ada yang tak tau kalau aku pemilik perusahaan ini!! apa kau lupa dengan ucapanku kalau kau menapakkan dirimu di hadapanmu lagi?? apa perlu aku ingatkan lagi hm? " tanya Len dengan menatap tajam wanita itu.
Walau meraka duduk sangat berjauhan, wanita itu masih bisa merasakan hawa mencekap di sekitarnya, yang sepertinya ini rencana buruk untuk menggaet pria kaya seperti Len.
"Sepertinya kau perlu di ingatkan!! KAU AKAN MATI SETELAH PERTEMUAN KEDUA KITA! " ucap Len saat tak ada jawaban dari wanita itu.
Sangking ketakutannya wanita itu tak bisa berucap sama sekali, jika ia mengganggap ucapan Len di masa lalu hanya gertakan belaka sangat lah salah besar, karena setelah ini Len akan menepati janjinya. Tak berselang lama masuk kepala HRD dan sang asisten.
"Anda memanggil saya tuan? " tanya kepala HRD.
"Alasanmu menerima orang bodoh ini? " tanya Len menunjuk wanita menjijikkan itu yang membuat kepala HRD bingung.
"Saya memilih sesuai kompetisinya tuan!! dia lulusan terbaik di kampus ternama, meski belum memiliki pengalaman bekerja tapi saya yakin dia orang yang kompeten! " jawab kepala HRD sedikit ragu di wajahnya.
__ADS_1
"Apa yang kau dapat darinya hm? Kalau hanya wanita aku bisa berikan lebih bagus dari ini! tapi tidak untuk di bawa ke perusahaan!! " ucap Len penuh penekanan.
Logikanya saja orang di depannya adalah seorang pekerja yang sama sekali tak memiliki pengalaman apapun dan malahan tiba-tiba masuk menduduki kursi kepala defisi, padahal orang yang bekerja pada perusahaan Len adalah orang berkompeten dengan pengalaman kerja sangat tinggi sebelum masuk ke perusahaannya karena sepadan dengan imbalan yang mereka dapat tentunya.
Bisa di simpulkan ada udang di balik batu atas penerimaan pekerja yang tak sesuai dengan standar perusahaan.
"Ma.. maaf tuan saya hanya tergiur karena di.. dia... "
"Bekas ku? " tebak Len tersenyum sinis, Len sangat paham dengan tabiat ****** yang suka sekali membanggakan kejelekannya, apalagi jika sudah mendapatkan bayaran fantastin dan orang penting sepertinya. "Aku akan memaafkanmu kalau kau bisa mencari kepala defisi baru yang sesuai standar persusahaan! " ucap Len yang tentu saja di angguki setuju kepala HRD. " keluar! " usir Len pada kepala HRD.
Tinggal wanita menjijikkan itu dengan Len, asisten Noberto, dan 3 bawahan Len bertubuh sangat besar, dengan sang wanita yang berdiri dengan ketakutannya.
"Bawa dia ke markas! " perintah Len pada anak buahnya
"Ja.. jangan bunuh aku!!! aa... ku punya pu.. putri di rumah!!! tolong maafkan aku!! aku akan pergi menjauh setelah ini!! tolong!!! " ucap wanita itu entah benar atau tidak.
"Apa aku akan punya anak lagi dari wanita berbeda lagi, yang bahkan aku tak tau namanya!! tapi itu tak akan mungkin!! aku harus tanyakan pada bastian!! Tuhan, aku mau menikah!! jangan berikan cobaan gila lagi untukku!!! " batin Len terdiam.
Len jadi was-was saat mendengar kata anak, karena satu dari dua wanita yang pernah ia tiduri dulu muncul dengan mengatakan memiliki anak, ia tak ingin menngulangi kesalahan yang sama dengan Audrey yang menghasil kan Dante, apa lagi wanita di sampingnya hanyalah wanita malam yang bahkan tak ada cinta di antara mereka.
Tapi jika di pikir-pikir lagi, Bastian sudah menangani 2 wanita itu sebelum benar-benar tak mengandung anaknya dulu, jika terjadi kesalahan bastian lah orang pertama yang akan ia salahkan.
"Kurung dia! tunggu aku bertindak sendiri! " ucap Len pada anak buahnya sebelum benar-benar menyeret wanita itu pergi.
.
.
.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
...----------------...