Cinta Pria Kejam

Cinta Pria Kejam
Rindu


__ADS_3

Tepat pukul 10 malam, Anya dan papa Oscar tiba di kediaman Waber, berjalan sambil tertawa bersama karena candaan Anya.


Tapi tawa itu tak berlangsung lama, saat membuka pintu utama, terlihat sang ratu berdiri di sana dengan melipat kedua tangannya di pinggang, mata tajamnya menatap ayah dan anak yang ada di ambang pintu.


"Apa papa tidak berpamitan tadi? " bisik Anya .


"Tidak, tadi mama tidur, papa tidak tega membangunkan!! "


"Salah papa sih!! papa duluan masuk sana!! " Anya mendorong pelan papa Oscar.


"Enggak!! Anya dulu sana!! " suruh papa yang takut mendekati singa betina di depan sana.


Saat ayah dan anak itu sedang berdebat siapa yang duluan maju, Tiba-tiba mama Rosa berjalan menghampiri mereka. Membuat papa Oscar dan Anya menjadi tegang.


"Kenapa masih di situ!! cepat masuk!!" kata mama tidak ada halus-halusnya.


Tanpa memprotes ayah dan anak itu masuk dengan kepala menunduk, berharap cepat sampai di kamar masing-masing.


"Tunggu!! mau kemana kalian? " kata mama Rosa yang melihat suami dan anaknya berjalan melewati ruang tamu. "Duduk dulu!! mama mau bicara!! tunjuk mama pada sofa ruang tamu.


Anya dan papa Oscar terus menurut , lalu duduk berdampingan di sofa, dengan mama Rosa yang ada di depan mereka.


" Dari mana? " tanya mama.


"Jaga Anya kencan ma? " kata papa sambil menunduk, dengan Anya melotot kan matanya.


"Kencan? Dengan siapa? "


"Kencan apanya!! emangnya nonton kencan apa! " kata Anya polos.


"Kalau pria ngajak nonton, apa lagi berpakaian rapi bawa bunga lagi, itu namanya kencan Anya! " terang papa Oscar yang malah kesal sekarang.


"Anya kan tidak tau! " kata Anya dengan mengerucutkan bibirnya.


"Astaga!! polos banget anak papa ini!!! "


"Kenapa gak bangunin mama, mama juga pengen tau pria seperti apa yang berani ajak putri mama keluar. "


"Ck, pria itu bahkan tak berani menjemput dari rumah!! " kata papa Oscar.


"Apa?? " kaget mama Rosa.


"Papa!!! " protes Anya.


"Bahkan makan minum saja tidak di belikan! " lanjut papa Oscar.


"Apa??? tidak, tidak!!! Jangan dekat-dekat pria itu!! tak bermodal!! " cibir mama Rosa.


"Anya tidak ada pikiran sejauh itu kok!! Anya capek, mau tidur!! malam pa, ma!! " pamit Anya sambil mencium pipi papa Oscar dan mama Rosa.

__ADS_1


Berjalan menaiki tangga hingga tak terlihat lagi dari pandangan mama Rosa dan papa Oscar.


Mama Rosa kembali menatap tajam papa Oscar yang ada di depannya.


"Ma!! " kata papa dengan memelas.


"Mama masih marah!! jangan tidur sama mama!! tidur di kamar tamu, atau tidur sama Anya sana!! " usir mama lalu berjalan ke kamar mereka.


"Ma, jangan gitu dong!! papa ga bisa tidur tanpa mama!!! maaf tadi papa tidak izin , tadi mama tidur, tidak tega bangunin mama!!! ma?? mamaaaa!! "


Kata papa Oscar yang tidak di hiraukan mama Rosa, menutup pintu kamarnya, dan mengunci dari dalam agar papa Oscar tidak bisa masuk.


Di kamar Anya, ia sedang melamun memikirkan pria yang masih ada di hatinya , duduk di tepi ranjang, dengan menatap bintang-bintang di balik kacar besar.


"Anya rindu daddy!! kenapa rasa cinta Anya tidak hilang-hilang, ini sangat menyiksa daddy!! Anya ingin memulai hubungan baru, tapi kenapa selalu daddy yang ada di pikiran Anya!! tidak bisakah pergi dari pikiran Anya!! Anya lelah daddy!! Anya lelah harus rindu pada orang yang bahkan tak merindukan Anya!! Anya benci dengan perasaan ini!! "


Saat hanyut dalam lamunannya, Anya tak menyadari ada dua pasang kaki besar yang masuk ke dalam kamar, yang memang lupa Anya kunci, suara pintu terbuka pun tidak di sadari nya.


Melihat sang anak melamun dengan tatapan sedih, membuat papa Oscar terdiam di ambang pintu.


"Apa biasanya kamu seperti ini juga sayang?? baru tadi kamu tersenyum bahagia, kenapa sekarang sedih seperti itu??? apa yang sebenarnya terjadi??apa selama ini kamu menutupi kesedihanku sayang?? "


Papa Oscar baru ingat, selama ini Anya tak pernah menunjukkan wajah sedihnya kecuali saat bermasalah dengan Berta dulu. Ia mulai berjalan mendekati sang putri dan duduk di sebelahnya.


Membuat anya kaget tersadar dari lamunannya.


"Are you oke? " tanya papa sebelum anya membuka mulutnya.


Papa oscar menghela napas melihat perubahan mimik wajah anaknya, ia tau anya sedang menutupi kesedihannya. Ia mengulurkan tangannya mengusap pelan kepala anya.


"Apa ada masalah?? kamu melamun tadi, cerita sama papa. " kata papa dengan lembut.


"Tidak apa-apa pa, " anya mencoba meyakinkan sang papa. " Anya hanya merasa kasian dengan Cody tadi, hanya memikirkan itu. " anya beralasan.


Dengan pelan papa oscar membawa anya dalam pelukannya, ia merasa bahwa anya tak mengatakan yang sebenarnya, hanya saja masih belum mau menceritakannya.


"Benar hanya itu?? "


Anya menganggukkan kepalanya dalam dekapan sang papa, sang sangat menenangkan hati anya saat ini.


"Anya rindu pria brengsek itu pa!! " Jerit anya dalam hati.


"Tapi kenapa malam-malam papa ada di kamar anya? " tanya Anya yang baru sadar .


"mama marah! tak mengijinkan papa tidur di kamar!! " kata papa berganti sedih saat ini.


"Tidur di sini aja sama Anya!!! ayo pa!! "


Anya mengajak sang papa untuk naik ke atas ranjangnya, untuk tidur bersama, dengan senang hati papa oscar menuruti Anya, karena memang itu tujuannya saat ini.

__ADS_1


Dengan saling berpelukan, ayah dan anak itu mulai memejamkan mata mereka masing-masing, tak lama sang papa mulai hanyut dalam tidurnya, tapi tidak dengan anya.


Anya membuka matanya kembali saat mendengar dengkuran halus papa oscar, menatapnya sesaat lalu meletakkan kepalanya di dada papanya.


"Anya sangat mencintainya pa!! anya bahkan belum bisa menghilangkan rasa ini pa!! dan saat ini anya sangat merindukan pria itu pa!! " curhat anya dalam hati. Lalu tertidur dengan perlahan.


*****


Di markas Black B, Len duduk di meja kebesarannya dengan melamun, yang saat ini juga merindukan gadis kecilnya, meski sudah larut malam, ia tak pulang ke mansion nya, karena di sana akan mengingatkannya pada gadis kecilnya, apa lagi di kolam renang atas.


Bahkan selama 6 bulan ini, len jarang sekali pulang ke mansion nya. Hidupnya hanya untuk bekerja dan markas.


Lain halnya dengan Anya, Len masih bisa melihat Anya dari kejauhan untuk mengobati rindunya. Tapi malam ini entah kenapa Rindunya seolah tak terbendung, memandang wajah cantik Anya yang ada di ponselnya pun tak bisa mengobatinya.


Dia ingin mendengar suara manis gadis kecilnya, tapi dia tak pernah berani menghubungi Anya, bahkan nomernya masih ada sampai saat ini, semenjak pembicaraan mereka di kamar mandi sekolah dulu, anya sudah berhenti mengabarkan aktifitasnya pada Len.


Semakin membuat Len tak berani menghubungi anya.


tok tok tok


Terdengar suara pintu di ketuk membuyarkan lamunan Len, mempersilahkan masuk orang di balik pintu.


"Bruno dan sekertaris nya sudah terlalu lama di tahan tuan, apa tidak di bunuh saja? " tanya mike.


Len yang saat ini rindu berat, mulai tersenyum karena merasa menemukan sesuatu yang bisa mengalihkan rasa rindunya.


"Bawa sekertaris nya keruang penyiksaan, Bruno bagianmu. " perintah Len pada mike untuk membunuh bruno.


"Baik tuan. " kata mike sebelum berlalu pergi.


Len mengambil sebatang rokok untuk ia hisap sebenar, menikmati nikotin yang terkandung dengan segelas wine di mejanya yang tak akan membuatnya mabuk.


Hingga hisapan terakhir dan satu teguk wine, seolah asap di mulutnya bercampur dengan wine yang ia minum mengakhiri kesenangannya


Berjalan ke ruang penyiksaan untuk memulai kesenangannya yang lain. Sesampainya di dalam, Len melihat seorang wanita yang sudah tak secantik permata di tahan, mungkin sudah lama tak perawatan.


Len menatap tanpa iba, mengunci ruangan itu, dan mulai membuka ikatan di tubuh Sekertaris bruno. Sang wanita mulai ketakutan menatap wajah mengerikan di depannya.


Dan takut maut akan menantinya sebentar lagi.


.


.


.


lanjut


...****************...

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...----------------...


__ADS_2