Cinta Pria Kejam

Cinta Pria Kejam
Malu


__ADS_3

Di sebuah kamar wanita cantik dengan kondisi lumayan berantakan, sang pemilik mulai membuka matanya dari malam melelahkan baginya saat matahari masih malu-malu mengeluarkan sinarnya.


Pertama kali yang Anya rasakan saat membuka matanya, ada tubuh besar yang mendekap nya cukup erat, yang tentunya ia tau itu ulang siapa, tapi mengingat orang yang memeluknya, pikirannya melayang tentang kejadian semalam yang membuatnya tersadar dengan keadaannya saat ini, bergegas melihat tubuhnya dari balik selimut.


"Hufffttt! " lega Anya yang ternyata sudah memakai baju


Tapi tetap saja, jika mengingat kejadian tadi malam membuatnya sangat malu, ia tak habis pikir dengan dirinya sendiri yang melakukan hal begitu jauh tadi malam, apalagi mengingat desahannya sendiri yang membuatnya geli seketika.


Memukul-mukul pelan kepalanya yang selalu mengingat kelakuan memalukan nya, menimbulkan pergerakan yang membuat pria yang tadi terus memeluknya ikut terbangun, menatap kaget Anya yang memukuli kepalanya walau dengan pelan.


"Kenapa baby? " tanya Len dengan suara serak sambil menangkap tangan kecil Anya yang sedari tadi memukul kepalanya sendiri.


"Ti... tidak! " gugup Anya bercampur malu berhadapan dengan orang yang menjadi saksi desahannya semalam.


"Kenapa pukul-pukul kepala tadi? " tanya Len mencoba membalikkan badan Anya agar berhadapan dengannya.


Mengusap bagian kepala yang Anya pukul tadi, tapi alangkah terkejutnya Len saat Anya tiba-tiba memeluknya dengan wajah yang ia sembunyikan di dada bidang yang tak tertutup apapun.


"Kenapa hm? " tanya Len lagi sambil mendekap tubuh Anya yang memeluknya saat ini.


"Malu! " cicit Anya yang masih dapat di dengar, menimbulkan tawa kecil di bibir Len.


"Malu?? tadi malam saja menikmatinya tanpa ada rasa malu!! kenapa sekarang malu? " Len menggoda gadis yang bersembunyi di dekapannya, tapi Anya ada jawaban gelengan kepalanya, yang menimbulkan sedikit desiran di tubuh Len.


Apalagi pagi hari adalah waktu dimana si boy menegakkan tombaknya tanpa ada rangsangan apapun, apalagi gesekan di dada bidangnya dan beberapa bagian tubuh Anya yang menempel padanya menambah ketenangan si boy.


Len memejamkan matanya menetralkan desiran tubuhnya agar kejadian tadi malam tak terulang kembali di pagi ini, dan lagi ia melihat Anya yang sangat malu padanya pasti tidak akan terjadi enak-enak seperti semalam, yang nantinya malah akan membuatnya pening sendiri.


"Hari ini Dante akan tes untuk masuk sekolah! " kata Len mencoba menjauhkan tubuh Anya dari tubuhnya.


"Benarkah???" kaget Anya mendongak menatap pria yang ia cintai. " kenapa baru bilang sekarang! " kata Anya lagi bergegas bangun dari tidurnya, melupakan rasa malunya.

__ADS_1


Memunguti baju-bajunya yang berserakan di lantai dan meletakkan ke tempat yang semestinya, Anya membalikkan badannya menatap ranjang karena tersadar Len yang masih rebahan di atas ranjangnya, melipat tangannya di dada dan menatap intens pria yang juga asik menatapnya.


"Turun!! mandi sana!! luangkan waktumu sedikit saja hari ini untuk menemani Dante tes!!! " perintah Anya yang begitu peduli pada calon anak sambungnya itu.


"Kenapa harus seperti itu!! Dante pasti mengerti kesibukan papanya! " kata Len berniat menggoda seberapa besar kepedulian Anya pada putranya sembari menikmati keindahan ciptaan tuhan yang ada di depan ranjang.


"Bukan anak kecil yang harus mengerti, tapi orang dewasa yang harus mengerti tentangnya, luangkan waktumu di hari-hari penting sekecil apapun, karena itulah nantinya yang akan memupuk kasih sayang yang kalian miliki, dan akan selalu subur jika kamu tidak lupa memupuk kasih sayangmu untuknya bahkan akan bertumbuh se iring waktu, yang nantinya akan menjadi sumber kebahagian dan kekuatan untuk putra tercintamu! " kata Anya yang begitu bijak tak seperti Anya 6 bulan yang lalu.


"I love you! " kata len yang bahagia Anya menerima putranya dengan tangan terbuka, bahkan begitu hari saat gadis di depannya melimpahkan seluruh kasih sayangnya untuk putranya yang malang itu.


"Ck, ga nyambung!! " cibir Anya yang memilih melangkahkan kakinya ke kamar mandi, melakukan ritualnya setiap pagi.


Cukup lama Anya berada di kamar mandi, ia keluar dengan kimono di tubuhnya, menatap bingung pria yang masih rebahan di atas ranjangnya, tapi ia tak begitu mempedulikannya memilih memakai pakaiannya dulu, tak ingin mempertaruhkan tubuh polosnya berhadapan dengan pria mesum itu.


"Kenapa masih di sini!! sana mandi!! " usir Anya pada pria yang kembali menatapnya saat mendengar suaranya.


"Mandikan baby! " manja Len yang sangat tidak cocok dengan wajah garangnya.


Membuat Len cemberut seketika, yang tadi di hiraukan oleh wanitanya, yang malah lebih memilih merapikan penampilannya di depan meja rias.


"Masih tidak mau turun dari ranjang? " tanya Anya yang sudah rapi pagi ini. " ya sudah, aku mau menemui pria kecilku yang akan melakukan tes hari ini! " kata Anya lagi sembari berjalan keluar membuka pintu kamar.


"Tunggu!!! jangan tinggalkan aku sendi.... "


Brakk.


Suara pintu tertutup sedikit keras sebelum Len menyelesaikan ucapannya.


"****!! " kesal Len yang di tinggal sendiri di kamar Anya.


Ia sangat berterima kasih saat Anya begitu peduli pada putranya, tapi jika seperti ini ia juga merasakan dirugikan saat kasih sayang Anya terbagi oleh anaknya sendiri.

__ADS_1


"Kau menduakan ku baby! " keluh Len . " Morning kiss juga tidak ada!! Kau sebenarnya setengah-setengah mencintaiku kan? " tanya Len yang bahkan tak ada siapapun di sekitarnya.


Tapi secara tak terduga, Anya kembali masuk ke dalam kamar, dan berlari menuju pria yang sudah berdiri dari ranjang.


Cup...


Satu kecupan di bibir yang Len harapkan di pagi hari, dengan susah payah Anya melakukannya karena harus berjinjit untuk bisa menjangkau bibir sedikit tebal milik pria yang ia cintai.


"Morning! " kata Anya dengan suara lembutnya dan kembali berlari keluar dari kamar nya.


Len tersenyum lucu dengan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, karena salah tingkah dengan perbuatan Anya yang tak ia duga, mirip sekali dengan ABG yang baru merasakan cinta. Jika para sahabatnya melihat tingkahnya saat ini pasti akan di cibir habis-habisan, dan tak ada lagi sebutan pria kejam seperti sebelum-sebelumnya.


Karena sebenarnya monster kejam ini sudah mulai menjadi manusia normal saat menemukan pawang yang sebenarnya.


Len memegangi bibirnya yang baru saja di cium oleh Anya, karena ini kali pertama Anya berinisiatif mencium nya terlebih dahulu karena sebelumnya ia yang selalu nyosor duluan. Bahkan raut wajah cemberut yang merasa di duakan tadi hilang seketika berganti dengan senyum bahagianya.


"Kau tidak menduakan ku!! kau juga sepenuhnya memberikan cintamu untukku baby!! untuk Dante, itu beda lagi!! " ralat Len dengan perkataannya tadi saat kesal. " I love you baby!!! I love you babay!!! I love you so much!!!! " kata Len berkali -kali mengatakan kata cinta yang menggambarkan rasa bahagianya pagi ini.


Pria dewasa itu bergegas berjalan menuju kamarnya sendiri untuk melakukan ritual paginya sebelum melakukan aktifitasnya hati ini bersama orang-orang yang ia sayangi. Dan tak lupa mengikuti perkataan Anya untuk meluangkan waktunya untuk hari penting sang anak.


.


.


.


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2