
Malam menjelang, Anya yang tertidur dari siang merasa terganggu dengan dering ponselnya yang berbunyi, dengan berlahan ia membuka matanya yang sebelumnya terpejam.
Hal pertama yang Anya lihat jam dinding mahal menempel cantik di tembok depan ranjangnya yang tertera pukul 20.03 di sana, ia tertidur cukup lama ternyata.
Anya kembali menyadari dering ponselnya masih berbunyi, ia bangun berjalan mengambil ponselnya dari dalam tas kecil yang ia lemar ke sofa tadi.
"Halo ca. " kata Anya yang sudah mengangkat telpon dari Rica.
"Kamu di mana?? Aku dari rumahmu barusan!! kata satpam rumahmu, kau sementara tak tinggal di sini!! kau di mana sekarang??? " Tanya Rica panjang lebar.
"Anya di titipkan teman papa!! papa mama tadi berangkat ke indonesia, ada masalah di sana?? ada apa mencari anya? " tanya Anya di sambungan telpon.
"Ada yang tidak aku mengerti dengan mata kuliahku, aku ingin meminta bantuanmu! " kata Rica.
Rica dan Senta sahabat Anya memang sudah mulai masuk perguruan tinggi yang sama dengan Anya hanya saja beda kurusan dan semester, otak Anya terlalu encer untuk dua temannya itu, hingga sering di mintai bantuan.
"Ck kau ini, padahal beda jauh jurusan kuliah dengan ku!! " kata Anya yang hanya pura-pura kesal untuk menggoda temannya itu.
"Ayolah, kau kan bisa segalanya! " Mohon Rica.
"Baiklah, kirim file nya Anya akan membacanya dulu, jika bisa kita bahas di video call saja! "
"Siap boss, thank you sahabatku yang paling cantik!! " puji Rica kalau ada maunya.
"cih, kalau ada maunya!! Anya mau makan dulu! jangan lupa kirim file nya, bye ca? " pamit Anya di sambungan telpon.
"bye, bye! " kata Rica yang tak lama sambungan telpon mereka terputus.
Anya menghela napas panjang melihat jam di samping kanan nya, ia sangat lapar saat ini dari siang belum ada makanan yang masuk ke dalam perutnya.
Melangkahkan kakinya menuju kamar mandi untuk menyegarkan tubuhnya setelah tidur cukup lama. Tak lama keluarlah gadis cantik itu setelah melakukan ritual mandinya.
Kembali melangkahkan kakinya ke ruang ganti tak jauh dari kamar mandi, mendekati 2 koper besar miliknya yang masih utuh di sana.
Membuka satu koper berwarna pink berisi banyak pakaiannya yang tertata rapi. Mengambil kaos putih oversize dan celana pendek berwarna hitam, cukup pendek sampai hampir tertutup kaos oversize nya.
Anya tak memikirkan seperti apa penampilannya jika sudah ada di rumah, yang terpenting kenyamanan tubuhnya setelah beraktifitas diluar.
__ADS_1
Dengan santai Anya berjalan menuju lift untuk turun ke bawah, yang membuat Anya bingung di sini kenapa tangga rumah di sini hanya sampai lantai dua, sedangkan lantai 3 dan 4 tak memiliki tangga, tapi ia tak terlalu memusingkan itu, toh bukan rumahnya juga.
Sampai di bawah, Anya mulai bingung di mana letak dapur rumah itu, tak jika melihat pelayan berlalu lalang, bahkan masih di jam setengah sembilan malam, tapi tak lama ia berpas - pasan dengan pak pet.
"Ada yang bisa saya bantu nona? " tanya pak pet yang melihat nona kecilnya sedang bingung.
"Anya mencari dapur, Anya mau masak! " kata Anya berhadapan dengan pak pet, tak jauh dari lift.
"Apa anda lapar? biar chef yang memasakkan untuk anda! " tawar pak pet.
"Tidak, tunjukkan saja di mana dapurnya, Anya mau masak sendiri! " kata Anya tak terbantahkan.
Pak pet hanya mengangguk dan mengarahkan nona kecilnya ke dapur bersih mansion.
Anya mulai membuka kulkas mencari apa saja yang bisa ia masak hari ini. Mengambil daging untuk ia buat steak nanti, dan beberapa sayuran untuk salad pendamping nanti.
"Tinggalkan Anya sendiri pak pet, Anya sudah biasa masak kok, tak akan merusak dapur ini, tenang saja! " kata Anya yang masih melihat pak pet di sana dengan wajah khawatirnya.
Tapi masalahnya kekhawatirannya bukan hanya itu, bagaimana tuannya jika tau gadis kecilnya masak sendiri, sedangkan ia sudah memperkerjakan chef profesional di sini, apa lagi pisau atau panci panas yang bisa melukai wanita di depannya.
"Biar saya bantu nona? " tawar pak pet yang masih khawatir. Tapi di tolak mentah- mentah oleh Anya.
"Tentu saja tidak nona, saya akan pergi, jaga diri anda baik-baik, jangan sampai terluka sedikitpun! " kata pak pet sebelum pergi.
Anya bingung mendengar perkataan pak pet, ia hanya akan memasak bukan berperang, kenapa harus jangan terluka.
Kembali dengan daging dan sayuran nya,Anya mulai membumbui daging yang berukuran tak terlalu besar itu sebelum ia panggang pada panji panasnya, tak lupa beberapa sayur segar yang ia jadikan salad.
"Apa yang kau lakukan! " kata pria tubuh atletis dan besar mengagetkan Anya.
"Oh Tuhan!!! Akkkhhhh!! " kaget Anya yang tak sengaja mengiris sedikit jarinya saat memotong sayur barusan.
Len panik melihat darah keluar dari jari Anya, menangkap tangan itu membawanya ke arah wastafel dapur.
"Akkkhhhh!! sakit, sakit!! " kata Anya saat lukanya bertemu dengan air.
"Kau itu ceroboh sekali, di mana chef nya, kenapa kamu masak sendiri seperti ini! " marah Len sambil terus membersihkan luka jari Anya.
__ADS_1
"Ck, Anya yang minta masak sendiri!! lagian juga semua gara-gara kamu!! " marah balik Anya.
"Kalau lapar tinggal panggil chef, jangan masak sendiri, bahaya untukmu!! " kekeh Len.
"Apanya yang bahaya?? bahkan hampir setiap hari Anya memegang pisau, wajan panas, bahkan bawang yang pedas di mata!! apanya yang bahaya?? " kata menarik tangannya dari genggaman Len setelah sudah di bersihkan lukanya.
"Buktinya kau terluka sekarang!! ini bahaya untukmu!! " Len masih tak mau kalah.
"Itu karena kamu paman!! kamu yang mengagetkan Anya!! " kata Anya menjelaskan penyebab masalah saat ini.
"Kau menyalahkanku? " kata Len menatap tajam Anya
"Ya memang itu salahmu, " cicit Anya tak berani memandang wajah garang di depannya. " Anya perlu plester luka sekarang!! tapi tidak tau kotak p3k nya di mana!! " kata Anya lagi pada Len.
"Tunggu sini aku akan ambilkan! " kata Len lalu mengambil p3k di dekat dapur.
Sambil menunggu Len mengambilkan nya plester, Anya kembali dengan kegiatan masaknya, yang menurutnya lebih efesien waktu, toh luka jarinya tidak terlalu parah. Tapi suara teriakan menghentikan kegiatannya.
"Anya!! kau!!! ck!! Mana tanganmu!! " kata Len yang kesal melihat Anya kembali memotong sayuran dengan tangan terluka.
Tanpa memprotes Anya memberikan tangan pada jarinya yang terluka.
"Jangan seperti orang susah! di sini banyak pelayan, sudah tau masih sakit tapi masih di teruskan! " cerewet pria yang biasanya dingin dan tak banyak bicara.
Dengan terus mendumel, Len mulai memasangkan plester di jari Anya yang terluka, dengan sang pemilik jari yang terus memandang makanan yang ia buat sendiri.
Len tersenyum samar melihat wajah Anya yang penuh harap menatap makanannya.
.
.
.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
...----------------...