Cinta Pria Kejam

Cinta Pria Kejam
Bunuh diri


__ADS_3

Dia sebuah kamar megah, terdapat 3 pria dengan salah satunya pria kecil dengan luka di kakinya, meminum susu yang baru di bawa khusus secara langsung oleh papanya.


Sedangkan dokter yang sedari tadi belum pulang, menatap papa pria kecil itu dengan heran, karena ia bisa melihat raut kekhawatiran di wajahnya, hingga ia mengucapkan kata-kata untuk memecahkan keheningan di kamar itu.


"Aku akan menuliskan resep obat untuk Dante, lukanya juga tak boleh kena air dulu dan untuk perban di ganti sehari sekali!! " kata Bastian membuat ayah dan anak itu menatapnya.


"Perikan pada pak Pet! " perintah Len, yang di angguki Bastian.


"Baiklah, aku pulang dulu!!! Dante harus cepat sembuh oke??" kata Bastian sambil mengusap pipi cabi Dante.


Yang hanya di jawab anggukan karena masih fokus pada susunya yang belum habis, hingga pastian berjalan pergi ke dari sana, menyisakan ayah dan anak di kamar itu.


"Dante tidur ya! papa mau ke kamar nyanya, papa mau meminta maaf karena sempat menuduhnya tadi! " kata Len meminta izin pada sang anak.


"Iya!! papa harus meminta maaf, kasian nyanya pa! " kata Dante tiba-tiba menjadi sedih.


"Hey!!! jangan sedih dong!! papa mau meminta maaf dan menghibur nyanya!! Dante tidur ya! " kata Len sambil membenahi selimut Dante yang sudah berbaring.


"Iya!! Dante tidur cepat! " kata Dante seketika memejamkan matanya.


"Doakan papa biar mendapat maaf itu Dante! " kata Len dalam hati sambil mencium kening kecil Dante sebelum ia beranjak pergi dari kamarnya.


Dengan langkah cepat Len berjalan menuju makar Anya yang tak jauh dari kamarnya, membuka pelan tanpa mengetuk yang beruntungnya kamar Anya tak terkunci.


Tapi tak ada sang pemilik di marahnya, yang Len tau sudah pasti ada di kamar mandi saat ini, berlahan ia menutup kembali pintu kamar dan menguncinya, dan menghampiri sofa kamar Anya untuk menunggu.


10 menit berlalu tak ada tanda-tanda Anya keluar dari kamar mandi, hingga 30 menit berlalu pun tak ada juga tanda-tanda Anya keluar dari maaf mandi, Len menatap pintu kamar mandi Anya dengan khawatir, ia bergegas membuka pintu kamar mandi yang lagi-lagi tak terkunci.


"Ceroboh!! " kesal Len mendapati pintu kamar mandi juga tak terkunci.


Kekesalanya berubah khawatir dalam sekejap saat melihat keadaan Anya dengan wajah yang mulai akan tenggelam di dalam bathtub penuh air bisa, dengan segera menangkap tubuh telanjang Anya yang akan tenggelam, mengangkat tubuh Anya keluar dari bathtub.


"Apa yang kau lakukan! aku mau mengakhiri hidupmu ha!! " teriak Len marah bercampur khawatir.


Membuat Anya yang sedari tadi hanya tidur langsung membuka matanya mendengar teriakan orang yang ia kenal, menatap pria yang menggendongnya saat ini, Len marah yang membuat Anya bingung, hingga ia menyadari sesuatu.

__ADS_1


"Bukannya aku mandi tadi!! tapi memang ini di kamar mandi! " kata Anya yang mulai tersadar sedikit-sedikit karena di paksa bangun, hinggaaaa. "Akkkkkkhhhhhhhh!!! " jerit anya yang menyadari keadaannya saat ini. " Turunkan aku!!! " kata Anya lagi meronta-ronta ingin di turunkan.


Len yang tadinya marah malah terangsang dengan gerakan Anya yang secara tak sengaja menggesekkan gunungnya pada dada Len, ia hanya memejamkan matanya merasakan benda kenyal itu terus bergoyang. Dengan berlahan ia menurunkan Anya tapi tidak untuk melepaskannya.


Memojokkan gadis yang terus meronta itu di dinding kamar mandi, menempelkan tubuhnya pada tubuh kecil Anya karena hasratnya yang muncul tiba-tiba, sedikit mengunci tubuh Anya yang terus-terusan menolaknya.


"Ap.. apa yang mau paman lakukan! " kata Anya dengan gugup dengan posisi mereka saat ini.


Tanpa mengatakan apapun, Len memegang tengkuk Anya dan mencium bibir kecil ranum dengan bibirnya yang sedikit tebal.


Sedangkan Anya yang mendapatkan serangan tiba-tiba hanya bisa melotot dengan sesekali memberikan penolakan, cukup lama mereka berciuman dengan Anya yang terus menutup rapat bibirnya, akhirnya Len menyudahi kegiatan menyenangkannya.


Yang tak lama langsung mendapatkan dorongan dari tangan kecil Anya, sambil menatap marah pada Len.


"Kenapa harus melakukan hal seperti itu tadi?? kau bosan hidup?? " kata Len lebih dulu yang mengingat kelakuan Anya tadi.


"Keluar!!! " kata Anya yang masih telanjang bulat.


"Aku tanya kenapa?? kau tak memikirkan keluargamu nanti saat tau apa yang kamu lakukan tadi?? mereka akan sedih baby!! mereka menyayangimu lebih dari nyawanya sendiri!! tapi kamu dengan segampang mau mengakhiri hidupmu sendiri!!! kau keterlaluan!! " kata Len yang malah marah-marah.


"Mau kemana?? aku belum selesai bicara!! " kata Len mencekal tangan Anya yang akan melewatinya.


"Biarkan aku memakai baju dulu! " kata Anya dengan singkat.


Menyadarkan Len yang tak tau waktu saat mengomeli Anya tadi, ia menatap tubuh polos Anya dari atas sampai bawah, hingga si boy kembali bereaksi, tapi tidak ia hiraukan.


Len permas pelan bokong sinyal Anya yang tak tertutup apapun, sebelum ia melepas cekalan tangannya.


"Kau!! " kata Anya marah dengan tangan nakal Len.


Malah membuat Len gemas dengan memukul pelan bokong sinyal Anya pelan, tak ada protes seperti tadi, karena sang pemilik lebih memilih cepat menutupi tubuh polosnya yang akan mengundang kenakalan Len.


"Bisa aku mengatakan sesuatu paman? " tanya Anya setelah memakai kimono nya, yang di angguki Len. " Aku tak berfikir untuk bunuh diri seperti persepsimu, aku hanya ketiduran tadi!! dan satu lagi, biarkan aku menyelesaikan mandi ku dengan benar setelah itu membicarakan tujuanmu ke kamarku! " kata Anya dengan nada dingin.


Sebenarnya ada rasa tercubit di hati Len mendengar suara dingin itu kembali bahkan lebih dingin dari sebelum-sebelumnya, tapi ia tak biasa mengubahnya saat ini, Len hanya bisa mengangguk patuh dengan semua perkataan Anya. Tapi tak ada niat sedikit pun ia beranjak dari kamar mandi.

__ADS_1


"Kenapa masih ada di sini, keluar sekarang!! " usir Anya karena Len tak kunjung beranjak.


Dengan berat hati Len melangkahkan kakinya keluar dari kamar mandi, hingga tak lama di ikuti Anya dengan keadaan bersih, saling menatap satu sama lain, sampai terputus oleh Anya yang memalingkan wajahnya ke arah lain, yang memperjelas pipi lebamnya


"Ada apa? " tanya Anya tak jauh dari sofa yang di duduki Len.


"Daddy mau minta maaf! " kata Len dengan lembut penuh penyesalan, berdiri yang akan menghampiri Anya, tapi di berhentikan oleh kata-kata Anya.


"Stop!! jangan mendekat!! "


Memuat Len berhenti sambil menatap Anya dengan mata sendunya, tapi kembali melangkahkan kakinya lebih dekat dengan Anya.


"Aku bilang stopppp!!! Bukannya cinta pertamamu sudah kembali ha?? kenapa masih melakukan ini semua padaku? jika hanya ingin mendapatkan omong kosongmu lagi!! lebih baik kau keluar!! " kata Anya yang tertahan selama ini.


"Dia memang cinta pertamaku, tapi bukan berarti aku masih mencintainya baby!! " kata Len sambil memegang jemari Anya tapi dengan cepat di tepis sang pemilik.


"Apa kau pikir aku akan percaya dengan omong kosongmu lagi? tidak akan lagi!!! " kata Anya dengan menatap marah Len.


"Tidak baby!! daddy tidak pernah mengatakan omong kosong!! daddy mengatakan sebenarnya!! aku sangat mencintaimu!! sangat!! tolong maafkan aku baby!! " kata Len memelas agar sedikit mendapatkan belas kasihan gadisnya.


"Kau berkata mencintaimu!! tapi kau percaya sepenuhnya dengan perkataan wanita itu, tanpa mencari bukti atau mendengar penjelasanku, apa tak cukup membenarkan omong kosongmu itu, renungkan kembali, siapa sebenarnya yang kau cintai!! "


"Tanpa harus merenung aku tau siapa yang aku cintai yaitu kamu!! maafkan aku, aku menyesal!! aku hanya marah saat anakku terluka, sampai tak bisa berfikir logis saat itu. " kata Len kembali memelas.


Tak ada jawaban dari anak, tapi bukankah bagus jika Len mengkhawatirkan anaknya, tapi bukan berarti juga membenarkan tindakannya, sampai tak lama terdengar dering telpon milik Anya.


.


.


.


lanjut


"

__ADS_1


__ADS_2