
1 jam berlalu, tetapi Anya tak kunjung membuka matanya, tapi kedua sahabatnya tak pernah sedikit pun meninggalkan Anya.
Rica dan Senta menjadi khawatir karena Anya tak kunjung sadar, tapi tak lama terdengar suara lengkuhan anya.
"egh, aku di mana?" tanya Anya dengan suara pelannya, melihat kedua sahabatnya yang terlihat khawatir saat ini.
"Kamu ada UKS Anya! apa ada yang sakit? " kata Rica sekaligus bertanya.
"Tidak, hanya kepalaku sedikit pusing. " jawab Anya.
"Sebenarnya ada apa di kamar mandi tadi anya? kamar mandi di tempat itu di tutup tadi waktu kita cari kamu, tapi kenapa setelahnya kamu ada di situ Anya? " tanya Rica.
"its ok, cerita dengan kami. " kata Senta yang melihat sendu Anya.
Anya mulai teringat lagi dengan kejadian di kamar mandi tadi, pantas saja tak ada satupun siswi yang masuk ke dalam kamar mandi.
"Bahkan pria kejam itu sudah merencanakannya. " kata Anya dalam hati sambil melamun.
Lamunan itu mulai tersadar saat dua tangan sahabatnya memegangi tangannya satu-satu.
"Anya." kata keduanya dengan lembut.
"Aku akan menceritakannya. " kata Anya yang saat ini berbaring.
"Tidak jika belum siap. " kata Senta lembut.
Senta dan Rica takut jika Anya adalah korban pelecehan saat di kamar mandi, dan membebani mentalnya saat kembali menceritakan kepahitannya, pikir kedua sahabat Anya itu saat ini.
"Aku belum menceritakannya pada kalian, kalau baru-baru ini aku sedang jatuh cinta. " kata Anya menjeda.
"Cinta pertama! " tebak Rica, yang di angguki Anya.
" Ya, cinta pertama, kalian ingat pria pemilik sekolah ini yang baru, yang tadi naik ke podium? " tanya Anya.
"Jangan bilang dia orangnya! " Kata Senta bergantian menebak.
" ya, dia orangnya. satu bulan yang lalu kami 2 kali bertemu di restoran A, dia juga pernah mengantarku ke restoran A saat mobil jemputan ku mogok,entah kenapa jantungku berdebar cepat saat melihatnya, bahkan aku dengan sadar memanggilnya daddy, karena perbedaan umur kami, tapi aku tetap menyukainya, bahkan merindukannya saat itu. " kata Anya sambil menghela napas.
"Cukup kalau tidak sanggup Anya, kami tak akan memaksa, oke! " kata Rica mendengar helaan nafas berat Anya.
"Aku ingin menceritakan semua pada kalian. " kata Anya.
" Baiklah, jika sudah tak sanggup berhenti saja. " kata Senta di angguki Anya.
"Kami hampir setiap hari video call saat malam hari, saling memberikan kabar, mengatakan kata- kata manis padaku. " kata anya menceritakan masa-masa indahnya. "Puncaknya saat aku bermasalah dengan Berta waktu itu, setelah pergi dari sekolah, aku melihatnya di depan gerbang, dan membawaku ke mansion nya. " kata anya membuat kedua temannya syok.
"Mansion? kamu tidak di unboxing kan? " kata Rica spontan.
"Ngaco!!! " kata anya menyangkal dengan Rica yang mendapatkan pukulan kecil dari Senta.
"Kami hanya makan bersama, berenang bersama, dan tidur sebenar di kamarnya. " kata anya dengan enteng.
"Renang? Pakai apa? bikini?" tanya Rica beruntun.
__ADS_1
"Iya, tapi kita tidak melakukan apapun. " kata anya menyangkal pikiran buruk temannya.
"OMG." kata Rica dan Senta kaget bersamaan.
Meskipun negara mereka adalah negara bebas, tapi 3 sahabat itu tak pernah berpikir untuk melakukan pergaulan bebas seperti umumnya, sehingga mereka kaget mendengar cerita anya.
" Benar hanya ciuman? " tanya Senta memastikan.
"emmm, sebenarnya dia mencium bibirku. " kata anya pelan.
"Apa? " kata sahabat anya dengan kaget.
"Kau hebat anya! " cibir Rica.
"Bibirmu tak perawan lagi anya. " cibir Senta juga.
"Kenapa mencibirku? aku belum selesai cerita!! " rengek anya.
"Baiklah-baiklah." kata Rica
"Tapi setelah pulang dari mansion, dia tak ada kabar sampai sekarang... " kata anya terpotong sahabatnya.
"Setelah seenaknya mencium anak orang, eh malah ninggalin, brengsek banget sih. " cibir Rica
"Iya, ganteng-ganteng brengsek. " kata Senta setuju.
"Ck, aku belum selesai cerita guys!! " kata anya yang di balas dua bibir yang menunjukkan deretan gigi-gigi sahabatnya.
Anya tiba-tiba menghentikan ceritanya, menetralkan rasa sesaknya dengan menarik nafas dalam-dalam.
Kedua sahabatnya yang peka, mengusap punggung tangan anya pelan.
"cukup, oke! " kata Senta yang di jawab gelengan anya.
"Saat aku berlari keluar aula, aku pergi ke kamar mandi saat itu karena aku sudah tak kuat untuk tak menangis, tapi entah bagaimana caranya pria itu ada di depan kamar mandi saat aku akan keluar. " kata anya terjeda karena mulai menangis.
Melihat anya yang menangis, Rica dan Senta memeluk sang sahabat dengan posisi anya masih berbaring, memberikan pelukan kehangatan, untuk mengurangi rasa sakit yang di rasakan ana saat ini.
"Dia datang hanya mengatakan perpisahan padaku, bahkan dia meninggalkanku tanpa ragu tadi, aku merasa di permainkan sekarang, hiks... hiks. " tangis anya melanjutkan ceritanya.
Rica dan Senta terus memeluk anya sampai tangisannya mereda, membersihkan sisa sisa air mata di wajah anya tanpa rasa jijik.
Anya tersenyum haru merasakan ketulusan sahabatnya. " thanks guys. " kata anya dengan senyum indahnya.
"Bukankah ini tugas seorang sahabat, kenapa harus berterima kasih, Sebenarnya aku ingin cerita sesuatu juga. " kata Senta setelah mereka bertiga melepaskan pelukannya.
"iya, kau sedikit terlihat galau saat ini. " kata Rica yang memang sempat menyadari sikap teman satunya itu.
" Aku putus dengan bobby. " kata Senta pelan
"What? " kata Anya dan Rica bersamaan karena kaget.
"Bukankah kalian saling mencintai? " tanya Anya.
__ADS_1
"Iya, tapi sebenarnya dia pernah mengajakku tidur dengannya, tapi aku menolak, sejak saat itu dia mulai berubah sikapnya, kemarin aku putusin, aku tak sempat cerita karena kalian masih sibuk ujian. " kata Senta panjang lebar.
"Uluh, uluh sahabatku satu ini juga lagi patah hati, kita sama- sama patah hati. " kata Anya lalu bangkit duduk dan berpelukan dengan Senta sambil dua pasang bola mata mereka melirik Rica .
"Kalau patah hati jangan ajak-ajak. " kata Rica sewot, karena percintaan ya sendiri yang baik-baik saya.
Anya dan Senta tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi Rica yang tak senasib dengan mereka.
*****
Di kantor perusahaan Becker company, carl masuk ke ruangan Len tanpa permisi, menghampiri Len yang saat ini berdiri tak jauh dari meja kerjanya berhadapan dengan asisten Noberto.
Bugh, bugh!!
Hanya dua pukulan mendarat di pipi mulus Len tanpa permisi sebelum Noberto menjauhkan tubuh Len dengan tubuh carl.
"Apa yang kau lakukan!! " kata Len marah, menodongkan pistol yang selalu ada di saku bajunya, menodongkan pada carl.
"Seharusnya aku yang bertanya, apa yang kamu lakukan pada vanya sampai dia pingsan di kamar mandi, setelah kau keluar dari sana ha? " kata carl marah.
Mendengar itu Len membulatkan matanya syok, dan mulai menurunkan todongan pistolnya. Asisten Noberto juga kaget tapi mencoba untuk netral di situasi saat ini.
" Anya pingsan? " tanya Len memastikan.
"Ya, kau tau penyebabnya? " tanya carl di jawab gelengan pelan Len yang memang tak tau. " Dia kelelahan dan terlalu lama menangis!!! Bukan lah itu ulahmu ha??? " kata carl .
"Apa dia tak apa? apa sudah di tangani dengan baik!! a.. aku akan kesana sekarang! " kata Len panik dan bersiap akan menemui anya, tapi di hentikan carl.
"Tunggu, dia sudah di tangani dengan baik, dia jauh lebih baik tak melihatmu, kau lupa!! kau sumber kesakitan nya sekarang!!Bagaimana jika tuan oscar tau, anak gadisnya di sakiti oleh mu?? " kata carl pedas tapi mulai menurunkan emosinya.
"Aku tak tau!! " jawab Len membuat carl emosi lagi.
bugh!!
Satu pukulan lagi mendarat pipi Len dari carl, lalu pergi tanpa mengatakan apapun, terlalu malas menyadarkan Len untuk memperjuangkan cintanya.
Sedangkan asisten Noberto yang melihat pertengkaran itu juga ikut kecewa dengan tindakan tuannya, tapi dia memilih bersikap profesional saat ini, yang memang masih jam kerja.
Len termenung di kursi kebesarannya setelah bangkit dari jatuhnya tadi. Mulai memikirkan keadaan anya saat ini, apa anya baik-baik saja atau ada luka serius saat anya pingsan.
Len langsung mencari informasi anya pada sang kepala sekolah sekaligus mata-matanya saat itu juga.
.
.
.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...----------------...
__ADS_1