Cinta Pria Kejam

Cinta Pria Kejam
Pelampiasan


__ADS_3

Anya terdiam sebentar dengan wajah kembali sedih seperti semula, yang sebenarnya ia sangat menahannya tadi, lalu menatap pria kejam yang berlutut di sampingnya dengan wajah iba nya.


"Kenapa?? sangat menyedihkan bukan?? jangan khawatir, anya sudah belajar dari masa lalu kok! anya bisa mengatasinya!! " kata anya dingin penuh ketegaran.


"Baby!! maaf baby! daddy salah membentakmu tadi, dadi juga salah membiarkanmu menunggu terlalu lama sampai kamu sakit seperti ini baby!!" sesal Len yang juga sama-sama merasakan sesak sambil berlutut di samping ranjang anya.


"Keluar dari sini dan bawa makananmu pergi! " kata anya dengan tegas tapi di jawab gelengan kepala, "Tinggalkan anya sendiri!! " kesal anya yang lagi lagi dijawab gelengan kepala. "Baiklah, anya pulang saja ke rumah papa. " ancam anya.


"Tidak akan!! " kata Len sedikit membentak, ia tak suka anya pergi meninggalkannya.


"Makanya biarkan anya sendiri! " teriak anya dengan suara sangat serak karena sakit.


"Uuussssttttt!! jangan seperti ini baby! " kata Len lembut yang mulai sadar dengan nada bicaranya tadi.


" Kau yang membuatku seperti ini! " teriak anya lebih keras menambah serak suaranya.


Len langsung memeluk tubuh anya meski terus menolah, dan tentu bukan Len namanya jika tidak memaksa.


"jangan berteriak baby, nanti tenggorokanmu semakin sakit, maafin daddy ya!! " kata Len lembut di sela-sela pelukan mereka.


Dengan tubuh yang lemah di bandingkan kekuatan tubuh Len yang sangat tidak sebanding, membuat anya terus terusan mendapatkan pelukan dari Len.


" Tolong, tinggalkan anya sendiri!! anya mohon!! " kata anya dengan memelas.


Len yang tak tega dengan permohonan anya melepaskan pelukan itu, membersihkan sisa-sisa air mata di wajah anya, dan mencium kening anya dengan sayang.


"Daddy akan keluar, anya bisa sendiri, tapi jangan pernah tinggalkan daddy! daddy cinta kamu! "


kata Len .


Membaringkan tubuh anya yang sedari tadi duduk, Menyelimuti gadis yang masih menangis dalam diamnya, dengan selimut bersih yang baru ia ganti.


Dan beranjak pergi dari kamar anya dengan berat hati sambil membawa troli berisi makanannya yang tak tersentuh sampai saat ini.


Berjalan menuju ke kamarnya sendiri dengan perasaan kacau, dan juga marah, sampai di kamarnya Len menatap makanan yang belum ia sentuh.


Ia lapar tapi tak bernafsu untuk makan saat ini. Pikirannya mulai bercabang, putranya yang tak pernah ia tau atau anya wanita yang sangat ia cintai.


Dua-duanya orang yang sangat berarti baginya, meski belum menyelidiki putranya, tapi Len yakin pria kecil di foto tadi siang adalah putranya, karena sangatlah mirip dengannya.

__ADS_1


Ada rasa senang saat ia memiliki putra tapi ada rasa takut anya tak bisa menerimanya nanti dan meninggalkannya, apalagi ia sering menyakiti perasaan gadis kecil itu.


Len butuh pelampiasan kegelisahan nya saat ini, dengan segera ia mengambil ponsel di saku celananya dan menghubungi mike.


"Leo sudah di sana? " tanya Len to the poin pada mike di sebrang telpon.


"Ya tuan! " jawab mike yang langsung di matikan oleh Len.


Len mengganti pakaiannya dengan serba hitam dengan cepat, berjalan ke arah lift untuk ke bawah.


Tanpa Norbert dan Noberto , len mengendarai mobil sport nya seorang diri, menuju markas yang tak jauh dari mansion nya.


"Bawa leo ke ruang penyiksaan! " perintah len pada anak buahnya, sesaat sudah berada di markas Black B, dan berlalu pergi tanpa menunggu jawaban sang anak buah.


Dengan menyilangkan kedua kakinya, len duduk dengan santainya di kursi yang ada di ruang penyiksaan, meminum wine langsung pada botolnya, sembari menunggu pria yang akan ia siksa malam ini.


Hampir habis 1 botol, leo dan satu anak buahnya masuk ke dalam dengan leo yang sudah terikat. Berlutut di depannya, yang tak lama anak buahnya meninggalkan mereka berdua saja di ruangan.


Len beranjak dari duduknya mengunci ruangan itu dan memilih beberapa pisau kecil yang mirip pisan bedah.


"Tu.. tuan!! " takut leo yang sedari tadi hanya diam.


Len menaruh kembali pisau yang ia pengang, lalu dengan mudah mengangkat tubuh leo ke atas brangkas, mengikat leo dengan mudah, walau sempat memberontak.


" Aammpunn tu.. tuan! " kata leo dengan deraian air mata ketakutan.


"Bukankah kita akan bermain dokter-dokteran!!! kau akan menjadi pasien pertamaku sekarang!! " kata len dengan halus tapi menyeramkan.


Dengan langkah kaki pelan, Len mengambil beberapa pisau bedah yang ia miliki, menaruhnya di meja samping brangkas.


"Ammpuunn tuan!! maaf!!! tolong jangan lakukan apapun pada saya! " kata leo yang melihat pisau pisau kecil di sampingnya.


"Bukankah kau sakit jantung tuan! " kata Len seolah leo pasiennya.


Mulai membedah dada leo di bagian jantungnya dalam keadaan sadar tanpa obat penghilang rasa.


"Aakkkkkkkhhhhhhh!!!!! " teriak leo saat pisau berlahan membelah kulitnya hingga darah berceceran di mana-mana


Membuka lebar sayatan besar di dada leo, sampai memperlihatkan jantungnya yang masih memompa dengan baik.

__ADS_1


"Saa.. kkiiitttt!! lirih leo dengan mata melotot pada Len dengan rasa sakit luar biasa.


" Maaf tuan, jantung anda bekerja dengan baik ternyata, saya akan memperbaikinya sekarang! " kata Len enteng saat ini berprofesi jadi dokter.


Len mengambil jarum beserta benang kain yang akan dia gunakan untuk menutup kembali luka leo.


" Saya jahit dulu tuan! " kata Len menyeringai iblis.


" ampun, ti.. tidak tuan!! sa... sakit!!? su... sudah tuan!aaaakkkkkhhhhj." kata leo di sela-sela kesakitannya.


Teriakan di akhir leo menandakan tertancap nya jarum yang Len gunakan untuk menjahit luka leo. Len yang bukan dokter profesional, tentunya membuat jahitannya tidak beraturan di kulit leo, bahkan jahitan itu melampaui batas luka leo.


Len kembali membuat sayatan pada tubuh leo dan menjahitnya kembali dan ia lakukan secara berulang ulang sampai leo mati dengan kehabisan darah, sangking terlalu banyak luka yang Len buat.


Ia duduk kembali di kursi yang semula ia tempati, menatap maha karyanya yang di penuhi darah, meminum satu teguk wine sebelum ia berlalu keluar ruangan.


"Bereskan mayatnya! " perintah Len pada anak buahnya yang selalu menunggu di luar pintu saat ia melakukan penyiksaan.


Perasaannya sedikit lega saat setelah melampiaskan dengan menyiksa, meski tak bisa menyelesaikan masalah, tetapi setidaknya ia bisa berfikir logis sekarang.


Yang pertama ia harus mencari tau lebih dalam pria kecil itu putranya atau bukan, dan setelahnya ia akan menjelaskan semuanya pada gadis kecilnya sebelum ia meminta izin mempersunting gadis kecilnya pada sang pemilik saat ini.


Kalau pun anya menolaknya nanti, ia bisa memaksa sampai ia mau, karena ia tau sangat besar rasa cinta anya padanya.


Memikirkan itu, Len menjadi lebih semangat lagi, membersihkan tubuhnya dari noda darah, dan berganti pakaian dengan warna yang sama. setelah menghilangkan jejak apapun pada diri Len.


Dengan semangat membara ia melakukan mobilnya ke kediamannya kembali yang terdapat gadis kecilnya yang saat ini mungkin sudah mengarungi mimpinya.


.


.


.


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2