
Semenjak Mendapatkan amukan sampai sedikit bentakan dari Len, Anya berubah diam hanya terkadang menjawab seadanya, membuat Len yang sedari tadi memeluk Anya di ranjangnya mulai cemas akan perubahan yang ia rasakan.
Apa lagi ia sadar sempat membentak Anya saat tak bisa ia bilangi, bukan tanpa sebab hanya saja ia sangat khawatir saat melihat tangan Anya yang terluka, ia kadang tak habis pikir dengan tingkah wanita yang bahkan belum genap 20 tahun itu yang selalu melakukan apa-apa sendiri apa lagi menyangkut tentang ia dan putranya yang padahal ada pak Pet yang selalu bertugas di lantai atas, ada chef profesional yang melakukan pekerjaan dapur, ada banyak pelayan yang akan siap membantu Anya saat melakukan aktifitasnya di rumah.
Tapi Anya tak pernah memanfaatkan itu seperti ratu yang bisa melakukan segala hal hanya dengan menyuruh, sedangkan Anya hanya sesekali meminta bantuan jika sangat di perlukan.
Sampai-sampai Len bingung bagaimana cara menjadikan Anya ratu di istananya ini, karena wanitanya itu begitu mandiri yang malah menimbulkan kekhawatiran pada dirinya hingga apa yang ia khawatirkan benar-benar terjadi tadi sore.
"Baby! " panggil Len yang memeluk Anya dari arah belakang tapi tak ada jawaban dari Anya. "Baby?? kamu marah? " tanya Len lagi-lagi tak ada jawaban. " Come on! aku hanya khawatir berlebihan tadi, aku tak benar-benar membentakmu tadi! maaf ya! " ucapnya lagi.
"Aku hanya mau masak untuk putraku! " ucap Anya pelan terdengar sedih.
"Ada chef dan ada pelayan juga!! biarkan mereka yang melakukannya! toh itu juga tugas mereka! " ucap Len yang tak membiarkan Anya di dapur lagi.
Setelah beberapa menit mengatakan ketidak se tujuannya, Anya kembali tak mengeluarkan suaranya, membuat Len berfikir keras untuk mengembalikan suasana hati gadisnya.
"Kau tak ingin belanja baby? tas atau make up mungkin? " tanya Len.
"Tidak! aku sudah punya segalanya di kamar ku! " jawab Anya.
"Bagaimana kalau kita main di kamar dante? " kata Len yang memiliki opsi lain untuk mengembalikan suasana hati Anya menjadi naik jika bersama putranya.
"Tidak, biarkan dia tidur dengan baik! dia lelah sudah bekerja begitu keras tadi di sekolahannya! " jawab Anya menolak dengan tegas.
"Hhhmmmm??? Kalau menelpon papa oscar? bukankah kau tak belum mendengar suara papa beberapa hari ini baby?? biar aku yang menelpon untukmu! " ucap Len yang berniat bangun dari tidurnya, tapi segera ia urungkan saat mendengar ucapan Anya.
"Di sana malam sekarang! pasti mereka sedang istirahat saat ini! " jawab Anya .
"Lalu aku harus apa agar membuat mood mu baik kembali! aku juga lelah sehari an ini bekerja dengan keras, jangan membuatku berfikir keras lagi saat ada di rumah! " ucap Len yang frustasi harus berbuat apa.
"Kau lelah? kalau begitu istirahatlah! aku akan pergi ke kamarku sendiri agar tak terganggu! " ucap Anya yang berniat bangun dari tidurnya, tapi tentu saja di tahan oleh Len yang tak mau jauh dari wanitanya saat sedang marah padanya.
__ADS_1
"Tidak! jangan tinggalkan aku, temani di sini saja! tapi kau jangan marah lagi! aku hanya khawatir baby! " ucap Len manja.
Cup, cup, cup..
Len menciumi leher belakang Anya yang sesekali ia hisap, dan mengeratkan pelukannya dari belakang seolah tak ada celah Anya untuk tak bisa menempel padanya.
"Ihhh!! itu bibir apa lintah sih!! " kesal Anya yang sedari tadi bibir Len tak bisa diam di belakangnya.
"Lintah? mana ada lintah seganteng dan sekaya aku!! jangan samakan aku dengan hewan menjijikkan itu! " kesal Len.
"Memang sama! " ucap Anya pelan tapi masih dapat di dengar oleh Len yang begitu dekat dengannya.
"Katakan lagi? " tantang Len dengan kesal tapi tak ada jawaban dari Anya yang memang tak berani. " ayo katakan lagi? kenapa diam? " ucap Len semakin kesal dengan keterdiaman Anya.
"Ti... tidak! aku ti....! "
Ucapan Anya terpotong saat Len memaksa kepalanya untuk menghadap ke atas yang sudah ada wajahnya dengan siap melahap bibir kecilnya ke dalam bibir miliknya, memberikan ******* sedikit kasar untuk meredakan rasa kesalnya, saat di rasa Anya mulai ke kehabisan nafas, Len menyudahi ciuman berdasarkan rasa kesalnya tadi.
"Kau merasakannya? " ucap Len tiba-tiba yang membuat Anya bingung.
"Di belakang? " jawab Len.
Anya mengerti sekarang, yang memang merasakan sebuah ganjalan besar di bokongnya, hingga terlintas ide jahil di otaknya.
"Itu terasa sangat besar yang sepertinya tak akan muat jika dengan ku nanti!" ucap Anya yang semakin membuat otak mesum Len melayang tinggi.
"Seberapa besar pasti akan tetap muat Anya, Anya saja akan lumayan sakit di awal!! " ucap Len yang memang tau betul dengan bentuk sarangnya.
Yang semakin membuat Len merem melek, padahal Anya tak melakukan apapun, hanya pikiran gila Len yang berlebihan.
"Boleh aku melihatnya? " ucap Anya dengan wajah menggodanya. " Hehehehe!! akan ku balas perbuatanmu yang membentak ku tadi! " batin Anya yakin bisa memancing ikan besar di depannya.
__ADS_1
"Te.. tentu bo.. boleh!! " gugup Len untuk pertama kalinya Anya melihat si boy benda ajaib miliknya yang bisa menghasilkan sebuah nyawa.
Anya menyibakkan selimut yang sempat mereka pakai tadi, dan duduk menatap tubuh bagian bawah Len, Anya bisa melihat dengan jelas sebuah tonjolan di balik resleting yang masih tertutup, menatap cukup lama untuk meyakinkan niatnya.
"Jadi lihat tidak? " tanya Len yang di angguki Anya dan Tiba-tiba....
Bukkkkkkkkk...
"Aakkkkkkkhhhhhh!!!! " teriak Len kaget bercampur sakit menggelegar.
Yang ternyata si boy benda ajaibnya mendapatkan serangan pukulan dari kelima jari kecil gadisnya, yang benar-benar tidak sesuai ekspektasinya di awal, apa lagi dengan tingkat birahi tinggi tiba-tiba berubah serendah mungkin sangking syoknya.
"Ups!!! maaf! apa sesakit itu? " tanya Anya dengan senyum garingnya karena memang tak memukul dengan sekuat tenaga.
Sedangkan Len yang di tanya menatap tajam Anya sambil memegang aset berharganya itu, walau tak sesakit teriakannya yang heboh tadi, Len tetap saja jengkel se jengkel-jengkelnya pada wanita yang malah tersenyum tanpa dosa padanya.
"Apa yang kau lakukan! kau mau merusak masa depanku ha?" ucap Len dengan serius.
"Ma.. maaf! apa akan separah itu? maaf aku hanya bercanda tadi!! lagian tadi juga habis bentak-bentak!" ucap lirih Anya yang tak tau akan seserius sekarang.
"Oh, jadi mau balas dendam pada ku hm?? jangan seperti ini bisa gak sih! bagaimana kalau nanti aku tak bisa memberikanmu keturunan? atau malah tak bisa melayani mu dengan baik di atas ranjang sebagai istri nanti?? ini bahaya kau tau hm? " ucap Len marah-marah sembari menahan sakit yang di buat-buat, yang sebenarnya hanya merasakan sakit sedikit di awal, hanya saja melihat wajah Anya yang panik membuat Len ingin membalas dendam juga.
"Maaf! apa masih sakit? " tanya lirih Anya yang merasa bersalah itu.
.
.
.
...****************...
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...----------------...